Ran merasa Raga menghindari pembicaraan perihal Rena. Jadi dia pun juga menghentikan membahas tenang mantan istri dari Raga tersebut. Lagi pula urusan perceraian ini sudah selesai jadi dia pun juga sudah tidak ada ha lagi untuk bertanya-tanya atau ikut campur mengenai urusan Raga dan Rena.
Di luar persidangan dan juga kasus perceraian, Ran tidak perlu tahu tentang apa yang terjadi dengan mantan suami dan istri itu. Walaupun ia masih merasa penasaran tentang Rena yang tidak gigih memperjuangkan ganti rugi yang ia cetuskan.
" Nah Pak, urusan kita sudah selesai sampai di sini. Ah iya lupa, ini sambel ter yang Ran janjikan waktu itu. Buatan Ummi, pedesnya dijamin nampol. Lalu sekali lagi Ran ucapin, selamat sudah menjadi duda dan selamat menempuh hidup baru dengan status baru. Kalau mau married jangan lupa kabari Ran, oke."
" Hahaha, panjang amat Ran ucapannya. Tapi makasih ya buat sambelnya. Next time aku bakal mampir ke rumah buat langsung ngucapin makasih ke Ummi."
" Ya?"
Ran terkejut dengan keinginan Raga untuk mendatangi rumahnya. Tapi sesaat kemudian ia hanya menganggukkan kepala. Tentu saja tidak jadi masalah jika Raga mau bersilaturahmi ke rumah, bagaimanapun mereka sudah mengenal sebagai guru dan murid sepuluh tahun yang lalu, dan belum lama berubah hubungan menjadi pengacara dan klien.
" Datang aja pak, Kemal dan Kamil nanti juga bakal jadi murid Pa raga kalau mereka masuk jurusan IPS hehehe."
Raga mengerutkan alisnya mendengan nama Kemal dan Kamil. Dia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Dan Ran paham akan wajah penuh tanya dari Raga. Ran lalu mengatakan bahwa Kemal dan Kamil adalah adik kembarnya yang lahir dengan jarak umur 17 tahun.
" Wuihh jadi mereka lahir pas kamu SMA dulu ya?"
" Yups, betul sekali. Sekarang mereka usianya 10 tahun, kelas 4 sekarang pak di DIS juga."
Raga mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia mengerti. Ia tidak tahu kalau Ran masih ada adik lagi. Ia pikir Ran dan kaivan sudah tidak memiliki adik dan hanya berdua saja.
Pembicaraan mereka berlangsung lumayan lama. Hanya bicara basa-basi tapi entah mengapa bagi Raga itu adalah hal yang menyenangkan. Tanpa terasa waktu berputar dengan cepat, sudah satu jam lebih Raga dan Ran saling berbicara.
" Udah ashar Ran, mau langsung pulang apa balik ke kantor kamu nya?"
" Pulang aja Pak, bentar mau pesen ojol."
" Aku anterin aja."
Dan mereka berakhir duduk semobil berdua. Hari ini Ran tidak membawa mobil karena mobilnya sedang jatah servis masuk ke bengkel. Maka dari itu tadi dia ke Soul Restoran pun menggunakan ojek online. Suasana canggung memenuhi ruangan mobil yang tidak luas itu. Padahal beberapa kali mereka bicara berdua tapi entah mengapa saat ini terasa berbeda.
Mungkin karena mereka duduk bersampingan dan juga deka sehingga membuat keduanya hanya saling diam tanpa mengeluarkan suara barang sekecil pun. Raga fokus melihat ke depan dan Ran untuk mengurangi rasa canggungnya ia melhat ponselnya. Iseng-iseng membuka media sosial dan menyasar ke akun milik Rena. Tidak ada unggahan baru di sana. Akun Rena benar-benar sepi tidak sepeti sebelumnya.
Tapi Ran masih betah scrolling akun milik Rena itu hingga jauh ke bawah dan dia menemukan sesuatu yang membuat dirinya bertanya-tanya. " Pak, ini pacar mantan pa Raga?" tanya Ran sambil menunjuk sebuah foto yang memperlihatkan Rena tengah mencium seorang pria.
" Mungkin kali Ran, aku nggak tahu juga," jawab Raga acuh.
Ran lalu berhenti bertanya tapi dia tetap melihat unggahan-unggahan Rena dengan seroang pria yang ternyata tidak hanya satu. Dan anehnya ketika melihat tanggal dan bulan Rena mengunggah itu sekitar 2 bulan sebelum wanita itu dan Raga menikah. Satu hal yang Ran simpulkan bahwa wanita itu adalah wanita yang tidak benar.
" Maaf pak kalau Ran kesannya kepo, tapi apakah dulu pas kenalan sama Rena dan memutuskan menikah, Bapak sudah tahu betul siapa dia. Mengapa ran ngerasa kalau Rena ini agak nggak bener."
Ckiiit
Raga menepikan mobilnya. Ia berhenti sejenak di samping jalan lalu memandang wajah Ran. Tatapan mata Rega yang beradu dengan Ran seolah mengatakan segala hal resah yang ada di dalam hatinya.
" Maaf Pak, bukan maksud Ran un~"
" Nggak masalah Ran, nggak perlu minta maaf karena memang semuanya seperti itu. Aku yang bodoh, dan jika semua orang ngatain aku bodoh pun aku baal terima karena memang seperti itu kenyataannya. Aku terlalu mudah percaya dengan orang, dan tanpa sadar dia membohongi ku seperti itu. Aku pikir dia wanita yang beneran tulus karena memang bersikap baik."
Cerita Raga mengalir dengan sendirinya. Ia menceritakan bagaimana dia mengenal Rena dan akhirnya memutuskan untuk menikah. ternyata foto-foto Rena yang bersama pria lain yang ternyata adalah Jerez itu disembunyikan sehingga tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Rena yang datang berkenalan dengan Raga waktu itu memang terlihat seperti wanita yang manis dan polos. Tutur katanya juga lembut dan sangat meyakinkan untuk dijadikan istri. Tapi siapa sangka bahwa ternyata wanita itu hanya mengenakan topeng untuk memalsukan dirinya yang sebenarnya.
Semua sikap asli Rena terbuka setelah menikah. Cara bicara yang kasar dan banyak sekali menuntut. Sebenarnya raga tidak masalah dengan itu karena bisa diperbaiki secara perlahan, hanya saja memang yang satu itu tidak bisa dipaksakan. Junior Raga sungguh menolak Rena meskipun Rena bahkan sudah telanjangg bulat dihadapannya.
" Jadi, yang Bapak impoten tuh bener apa ngga?" tanya Ran penasaran. Pasalnya dia punya keyakinan bahwa Raga tidak mengalami kean seperti itu.
" Kamu beneran penasaran ya, gimana kalau kamu buktiin sendiri," gurau Raga. Ia mengedipkan sebelah matanya kepada Ran.
Plak!
Reflek tangan Ran melayang menepuk lengan kiri raga membuat Raga mengaduh kesakitan. Pria itu tidak pernah menyangka bahwa tangan Ran yang mengeplaknya itu terasa begitu panas dan tentunya sakit.
" Buset deh Ran, sakit juga ternyata. Keplakan mu keras amat," ucap Raga sambil mengusap lengannya yang terasa pana.
" Hahaha, pak gini-gini Ran tuh murid Ummi dan Abi. Ummi pemegang sabuk hitam dan juga tingkat karate tinggi aah apa ya namanya lupa. Dan Abi euhmmm ... "
Ran tidak melanjutkan ucapannya. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Abi nya ahli dalam menggunakan senjata api bahkan saat usianya masih 13 tahun dulu. (Yang udah baca soal Mr. Sun pasti paham hehehe).
" Tuan Kai Abinawa, semua tahu tentang beliau. Aku aja ngefans Ran sama beliau."
" Oh ya?"
Raga kembali menyalakan mobilnya dan melanjutkan perjalanan. Suasana yang awalnya canggung kini sudah mencair karena pembicaraan mereka tentang Abi nya Ran, siapa lagi kalau bukan Kai Bhumi Abinawa. Pendiri ADIS yang terkenal seantero negri.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Hmmmmm.... jadi ingat dengan masa lalu....Rama...Sita...dan anak22 juga temen2nya....
2024-12-07
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒋𝒅 𝒓𝒊𝒏𝒅𝒖 𝒎𝒐𝒎 𝑺𝒊𝒕𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒂𝒃𝒂𝒏𝒈 𝑲𝒂𝒊 😘😘💕💕
2024-10-17
0
SR.Yuni
Thor dapat ide darimana sih nama2 tokohmu ini keren2 dari dulu...
2024-08-25
1