DDI 16: Menjemput Gadis Cantik

Akhir pekan yang cerah, angin berhembus begitu menyegarkan dan sinar mentari menerpa tubuh menjadikan terasa hangat. Raga tersenyum menyambut paginya yang menurutnya begitu menyenangkan. Ia merasa bebas dan beban yang kemarin begitu menyumpal hati dan pikirannya hilang sepenuhnya.

" Mari kita jemput gadis cantik buat diajak jalan-jalan," ucap Raga penuh semangat. Sebuah bingkisan sudah disiapkan untuk diberikan kepada Ummi nya Ran sebagai ucapan terimakasih atas pemberian sambel teri yang kemarin diberikan.

Sungguh Raga terlihat sangat bersemangat dan antusias. Bahkan sepanjang jalan dia terus bersenandung mengikuti lagi yang diputar di radio. Lagu dengan judul " Selamat Pagi" milik grup musik RAN sangat pas menggembirakan suasana hati Raga.

Akan tetapi sepertinya perasaan itu tidak berlangsung lama. Semangatnya yang begitu menggebu tadi hilang sirna saat dirinya duduk di depan seorang Kai Bhumi Abinawa. Pria yang sudah berusia 54 tahun ( oh no, Kai udah tua hahaha) itu memiliki karisma yang tidak pernah hilang. Bahkan malah semakin kuat, atmosfir yang ada di ruangan itu begitu menekan, membuat Raga seperti kesulitan untuk bernafas. Padahal saat di depan pintu kediaman Abinawa tadi dia masih bisa tersenyum cerah.

" Jadi, bagaimana Pak Raga. Ada keperluan apa Pak Guru datang kemari?"

Gluph!

Raga menelan saliva nya dengan susah payah. Ia tidak pernah menyangka berhadapan dengan Kai lebih menegangkan ketimbang dengan dosen penguji saat sudah disertasi dirinya dulu. Ya meskipun Raga merupakan guru SMA di DIS tapi dia sudah mengantongi gelar magister beberapa tahun yang lalu.

" Saya kemari untuk mengucapkan terimakasih kepada Ran dan juga Nyonya Kirana karena pemberian sambel teri beberapa hari yang lalu."

Shaaaah

Kai langsung mengerutkan alisnya mendengar nama istrinya di sebut. Ia mengalihkan pandangannya dari Raga ke Kirana yang saat ini duduk di ruang makan. Kirana mengangkat bahu nya tanda ia tidak tahu.

" Bi, yang ngasih aku. Katanya Pak Raga suka sambel, jadi aku minta dibuatin Ummi."

Ran datang tepat pada waktunya, sebuah kelegaan terlihat pada wajah Raga. " Huuft, untung kamu cepet Dateng Ran," batin Raga. Ia merasa terselamatkan dari sebuah bahaya yang seperti akan terjadi di depan mata.

" Iya Tuan Kai, saya menyukai sambel. Dan ternyata sambel buatan Nyonya Kirana hampir mirip dengan buatan ibu saya di kampung."

" Oh begitu, jadi Pak Guru tidak asli sini ya. Lalu dari mana asal Pak Guru."

" Magelang Tuan Kai."

Sraak

Tap tap tap

Kirana yang awalnya duduk di meja makan kini berjalan dan duduk di samping suaminya saat nama kota tempat kelahirannya di sebut. Ya, Kirana juga berasal dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Magelang, kota kecil namun berusia cukup tua. Kota ini merupakan salah satu kota tertua di Indonesia. Magelang menempati urutan nomor 4 setelah Palembang, Salatiga, dan Kediri dan saat ini berusia 1118 tahun.

" Lho Pak Guru, saya juga dari Magelang. Pak Guru Magelang nya mana?"

Pertanyaan Kirana membuat pembicaraan yang awalnya kaku menjadi mencair. Mungkin karena ummi dari Ran itu merindukan kampung halamannya, jadi membuat wanita berusia 48 tahun itu sangat antusias. Pun dengan Ran, ia tidak pernah menyangka bahwa kampung halaman sang ibu sama dengan gurunya.

Setelah setidaknya satu jam lebih berbincang, kini Raga memiliki keberanian untuk meminta izin membawa Ran pergi. Kai mengizinkan dengan catatan bahwa mereka tidak kembali larut malam. Kai menyadari bahwa anak gadisnya ini sudah dewasa tapi bagi Kai tetaplah seperti anak kecil dimatanya.

" Terimakasih untuk izinnya Tuan dan Nyonya, saya akan mengantarkan Ran kembali dengan baik tanpa kurang."

" Abi, Ummi, kami pergi dulu ya. Assalamu'alaikum."

" Waalaikumsalam."

Raga dan Ran masuk mobil lalu pergi meninggalkan kediaman. Kai tampak menghela nafasnya, dan hal itu tidak lepas dari penglihatan sang istri. Kai masih melihat ke arah jalan padahal mobil milik Raga sudah tidak tampak lagi.

" Bang, anakmu itu cuma mau main bukannya menempuh hidup baru," gurau Kirana sambil mengusap punggung sang suami.

" Haah, padahal usianya udah 27 tahun tapi kok ya kayak nggak rela ya kalau dia pergi dari rumah nanti jika udah nikah. Hmmm, kapan kira-kira kita akan sampai di tahap itu. Melepaskan anak perempuan kita untuk menjalani hidupnya."

Wajah sendu Kai membuat Kirana gemas sekaligus ikut haru juga. Ia tahu bahwa suaminya itu adalah tipe pria yang begitu mencintai keluarga. Dia akan melakukan hal terbaik bagi keluarganya dan akan melindungi keluarganya dari hal apapun yang buruk. Kepada adik-adik nya saja pria itu begitu sayang dan melindungi, jadi dengan anak-anaknya dia bisa berlaku lebih.

" Bang, tugas kita selama ini menjadi orang tua insyaaAllah sudah baik, dan jika Ran menemukan jodohnya nanti maka tugas kita sudah selesai. Kita sudah banyak memberi bekal kepada anak kita, jadi aku yakin Ran akan bisa menjalani kehidupan keluarganya sendiri dengan baik pula. Semoga dia mendapatkan pria yang begitu menyayanginya. Seperti Abang, yang menyayangi dan mencintaiku hingga saat ini."

Greb

Kai memeluk sang istri dengan erat. Ia juga mencium pucuk kepala Kirana yang berbalut hijab sambil mengangguk kecil. Ya, Kai berharap bahwa suatu hari nanti jika jodoh Ran muncul, pria itu bisa memperlakukan Ran seperti dia memperlakukan sang istri. Ia ingin pria itu mencintai dan menyayangi serta melindungi Ran.

" Ohoo Abi Ummi, please lah jangan mesra-mesraan di depan pintu!" Kamal mengucapkan hal tersebut sambil menyusup di antara Kai dan Kirana.

" Ho oh tuh, Abi dan Ummi itu memancing keributan tahu," sahut Kamil. Ucapan yang baru saja cukup membuat Kai dan Kirana terkejut, mereka langsung memandang putra kembar mereka bergantian yang berarti meminta penjelasan dari ucapan yang baru saja dikeluarkan.

" Gini Bi, Mi, ibu-ibu di komplek tuh sering banget ngomongin Ummi dan Abi, katanya keluarga Ummi dan Abi harmonis dan mesra terus. Mereka juga pengen begitu. Nah protes lah ke suami mereka tapi malah katanya nggak digubris. Mereka bilang mesra-mesraan cuma buat orang yang duitnya banyak."

Kirana tentu terhenyak mendengar ucapan dari Kamil. Usia Kamil sudah 10 tahun jadi dia sudah bisa menyerap informasi dengan baik. Dan mungkin putranya itu mendengar para tetangga yang berbicara ketika tengah main di luar.

" Sayang, harmonis itu tidak selamanya karena materi yang dimiliki seseorang. Meskipun terkadang ada faktor itu juga yang memengaruhi. Tapi yang utama adalah bersyukur dan terus berusaha, itu kunci dari harmonisnya dalam sebuah keluarga. Bersyukur dengan apa yang dimiliki dan berusaha untuk memenuhi setiap kebutuhan yang ada di dalamnya."

Kamil dan Kemal mengangguk, kedua putra nya itu juga cerdas seperti kedua kakaknya jadi Kirana yakin Kamil dan Kemal pasti akan mengerti apa yang diucapkan oleh dirinya tadi.

" Jadi apakah Abi dan Ummi merasa begini," ucap Kai sambil mendekap erat istrinya."

" Tidak! Ummi punya kami." Kamil dan Kemal mengucapkan secara bersamaan sambil menarik tangan ibu mereka dan membawanya masuk ke dalam. Kai hanya terkekeh geli melihat tingkah putra kembarnya itu. Dia bersyukur bahwa anak-anak nya selalu dekat dengan Kirana dan juga dirinya.

TBC

Terpopuler

Comments

Evi

Evi

bener itu

2025-02-17

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Lanjuuut Kak Othor

2024-12-07

0

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝑲𝒂𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝑲𝒊𝒓𝒂𝒏𝒂 𝒔𝒐 𝒔𝒘𝒆𝒆𝒕 😘😘💕💕

2024-10-17

0

lihat semua
Episodes
1 DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2 DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3 DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4 DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5 DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6 DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7 DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8 DDI 08: Cantik
9 DDI 09: Kegilaan
10 DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11 DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12 DDI 12: Selesai
13 DDI 13: Semangat Ketemuan
14 DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15 DDI 15: Curhat Bareng Abi
16 DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17 DDI 17: Puncak Bogor
18 DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19 DDI 19: Ada Yang Panas
20 DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21 DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22 DDI 22: Tamu Menyebalkan
23 DDI 23: Ternyata
24 DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25 DDI 25: Maafin Aku, Ga
26 DDI 26: Benzy Danurwendra
27 DDI 27: Aku Nggak Mau
28 DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29 DDI 29: Gue Ditembak?
30 DDI 30: Dua Lawan Enam
31 DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32 DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33 DDI 33: Nengokin Korban
34 DDI 34: Kabar Buruk
35 DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36 DDI 36: Perjuangin Ga!
37 DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38 DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39 DDI 39: Awas Bangun!
40 DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41 DDI 41: Tertangkap
42 DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43 DDI 43: Minta Doanya Ya
44 DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45 DDI 45: Siapa Dia
46 DDI 46: Saingan Ran Kah?
47 DDI 47: Anakmu Pulang
48 DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49 DDI 49: Kegalauan
50 DDI 50: Sebuah Keputusan
51 DDI 51: Rencana Balik Ran
52 DDI 52: Joni Aman Banget
53 DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54 DDI 54: Mari Selesaikan
55 DDI 55: Ultimatum Ran
56 DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57 DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58 DDI 58: Duda Masih Perjaka
59 DDI 59: Yang Sederhana Saja
60 DDI 60: Semoga Bahagia
61 DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62 DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63 DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64 DDI 64: Mancing
65 DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66 DDI 66: Sedikit Ricuh
67 DDI 67: Keminderan Raga
68 DDI 68: Mencari Bukti
69 DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70 DDI 70: Grebek
71 DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72 DDI 72: Pak Guru Suamiku
Episodes

Updated 72 Episodes

1
DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2
DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3
DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4
DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5
DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6
DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7
DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8
DDI 08: Cantik
9
DDI 09: Kegilaan
10
DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11
DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12
DDI 12: Selesai
13
DDI 13: Semangat Ketemuan
14
DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15
DDI 15: Curhat Bareng Abi
16
DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17
DDI 17: Puncak Bogor
18
DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19
DDI 19: Ada Yang Panas
20
DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21
DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22
DDI 22: Tamu Menyebalkan
23
DDI 23: Ternyata
24
DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25
DDI 25: Maafin Aku, Ga
26
DDI 26: Benzy Danurwendra
27
DDI 27: Aku Nggak Mau
28
DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29
DDI 29: Gue Ditembak?
30
DDI 30: Dua Lawan Enam
31
DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32
DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33
DDI 33: Nengokin Korban
34
DDI 34: Kabar Buruk
35
DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36
DDI 36: Perjuangin Ga!
37
DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38
DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39
DDI 39: Awas Bangun!
40
DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41
DDI 41: Tertangkap
42
DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43
DDI 43: Minta Doanya Ya
44
DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45
DDI 45: Siapa Dia
46
DDI 46: Saingan Ran Kah?
47
DDI 47: Anakmu Pulang
48
DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49
DDI 49: Kegalauan
50
DDI 50: Sebuah Keputusan
51
DDI 51: Rencana Balik Ran
52
DDI 52: Joni Aman Banget
53
DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54
DDI 54: Mari Selesaikan
55
DDI 55: Ultimatum Ran
56
DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57
DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58
DDI 58: Duda Masih Perjaka
59
DDI 59: Yang Sederhana Saja
60
DDI 60: Semoga Bahagia
61
DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62
DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63
DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64
DDI 64: Mancing
65
DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66
DDI 66: Sedikit Ricuh
67
DDI 67: Keminderan Raga
68
DDI 68: Mencari Bukti
69
DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70
DDI 70: Grebek
71
DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72
DDI 72: Pak Guru Suamiku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!