DDI 17: Puncak Bogor

" Jadi, kita mau kemana Pak?"

" Puncak, nyari tempat yang adem."

Ran tersenyum, dia suka dengan tujuan mereka itu. Bagi Raga yang tinggal di kota Magelang dan memang dikelilingi banyak gunung, tempat yang memiliki suhu rendah memanglah pilihan yang tepat untuk menikmati hari. Terlebih kota Jakarta itu memiliki suhu yang lumayan panas. Polusi udara yang ada disekitarnya juga membuat angin yang dihirup kurang segar, maka dari itu Raga membawa Ran untuk pergi ke puncak.

" Pak Raga, kampung halaman Ummi kan sama tuh sama Bapak. Di sana banyak gunung kan, apa Bapak juga suka mendaki? Kami dulu juga sering diajak Abi, ya walaupun hanya ke gunung-gunung yang memiliki ketinggian rendah."

Ran membuka obrolan, rasanya sedikit canggung jika hanya saling diam saat berada di dalam mobil begini. Karena biasanya Ran ujung-ujungnya akan tidur kalau tidak ada yang dibicarakan.

" Iya, dulu saat SMA ikut ekskul PA ( pecinta alam) dan setelah kuliah juga masih suka. Sampai sekarang juga masih suka kok. Kalau pulang ke Magelang, sama di sini juga. Biasanya aku ngajak Tito, guru matematika DIS. Apa mau sekali-kali naik gunung sama aku?"

" Waah boleh tuh. Nanti Ran ajak temen juga."

Raga tersenyum, rupanya Ran juga menyukai olahraga outdoor seperti itu. Dan ia juga tidak menyangka bahwa seorang Kai Bhumi Abinawa menyukai kegiatan outdoor dan bahkan mengajak serta anak-anaknya.

Setelah itu Ran menceritakan bagaimana pengalaman naik gunung di daerah Dieng Wonosobo. Cerita yang begitu antusias itu membuat Raga senang. Ia merasa benar-benar bisa menjadi dirinya saat bersama dengan Ran. Mungkin karena ada kesamaan kegemaran yang membuat pembicaraan mereka terhubung.

" Ran, haah tidur rupanya."

Pria itu melihat ke arah samping, terlihat Ran sudah tertidur pulas. Padahal belum lama mereka bicara dengan sangat seru. Raga tersenyum, dan ketika berada di lampu merah, ia sedikit mengatur kursi Ran agar lebih nyaman. Raga juga mengambil jaket miliknya untuk menutupi tubuh Ran. Lampu hijau menyala dan Raga kembali mengemudikan mobilnya menuju ke tempat tujuan.

Memasuki kawasan puncak Bogor, udara mulai terasa dingin. Dan Raga tidak berkeinginan untuk membangunkan Ran. Ia akan membangunkan wanita itu setelah mereka sampai tujuan.

" Ughhh, eeh maaf Pak. Huh, aku ketiduran."

" Nggak apa, pas banget udah nyampe ini."

Ran merasa sangat malu, dia tidak menyangka bahwa akan berakhir tidur juga. Padahal dirinya sudah berusaha kuat untuk mengobrol agar tidak tertidur selama perjalanan.

" Apa selalu gitu? Maksudku setiap naik mobil, kamu langsung tidur?"

" Eh, iya Pak. Sama temen-temen aku sering dipanggil pelor alias nempel molor. Ya karena setiap udah ketemu tempat yang epik buat tidur langsung molor hahahaha." Ran menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh rasanya begitu malu, tapi ya apa mau dikatakan karena memang dia seperti itu.

" Berarti jangan pergi dengan pria berdua saja, bahaya."

" Eh?"

Raga tersenyum setelah mengatakan hal tersebut membuat Ran tidak mengerti. Jangankan Ran, Raga sendiri yang baru saja mengatakan hal itu saja dia tidak mengerti. Bagaimana bisa dia tiba-tiba memikirkan hal tidak tidak.

Raga membuang nafasnya kasar, rasa-rasanya ia ingin sekali menutupi wajahnya sekarang juga. Entahlah apa yang dirasakan pria itu, tapi sesaat terlintas bayangan dimana Ran tidur di mobil bersama pria lain membuat Raga menjadi khawatir.

Udara yang dingin tapi segar membuat keduanya sama-sama menikmatinya, hamparan perkebunan teh menjadi pemandangan yang menyejukkan mata.

" Brrrr, lumayan juga anginnya," ucap Ran sambil menggosok kedua lengannya dengan tangannya sendiri.

Raga membalikan tubuhnya untuk kembali ke mobil dan mengambil sesuatu, tak berselang lama pria itu kembali lalu memasangkan jaket ke badan Ran. " Maaf ya, seharusnya aku bilang kalau kita mau pergi ke sini. Kamu pakai jaketku aja."

" Eeh tapi Bapak gimana?"

" Aman, aku pakai sweater kan jadi nggak bakal kedinginan. Masuk yuk pesan makan sudah waktunya jam makan siang juga."

Ran mengangguk, ia merasa senang ketika melihat ekspresi wajah Raga yang jauh lebih baik dari pada kemarin. Ran beranggapan bahwa keputusannya untuk menerima ajakan pergi dari Raga adalah sesuatu yang tepat, ini sungguh membantu pria itu untuk menyembuhkan luka hati akibat pengkhianatan.

Namun sepertinya ketenangan saat ini tidak berlangsung lama. Saat mereka hendak masuk ke dalam tempat makan dan melewati sebuah mobil, Ran melihat sesuatu yang membuatnya sangat terkejut. Di dalam mobil itu, dimana kaca mobilnya adalah kaca bening transparan, dia melihat dua orang yang sedang bercumbu dimana salah satunya adalah orang yang ia kenal.

Langkah Ran benar-benar terhenti di sana dan ia berdiri kaku mematung. Terlebih dua orang yang bercumbu di dalam mobil itu bukan hanya sekedar berciuman semata.

" Astagfirullah," ucap Ran spontan. Raga yang berjalan lebih dulu mengerutkan alisnya melihat Ran yang berhenti di belakangnya. Tanpa memanggil, Raga kembali berjalan ke belakang dan menghampiri Ran.

" Ran, kok diem di sini? Ayo masuk, kayaknya mau hujan deh. Kabutnya udah mulai turun juga. Kamu lihat ap~"

Shaaaah

Raga melihat ke arah mata Ran melihat. Sebuah hembusan nafas kasar keluar dari bibir Raga. Dan hal selanjutnya yang ia lakukan adalah menutup mata Ran dengan telapak tangannya. Raga juga mendekatkan bibirnya tepat di telinga Ran lalu mengucapkan sesuatu.

" Jangan dilihat, perlakuan mesum seperti itu nggak pantes buat dilihat sama mata kamu."

Ran mengangguk, Raga lalu menuntun Ran masih sambil menutup mata Ran. Raga tahu agaknya Ran syok melihat pemandangan itu.

Sungguh tidak tahu malu, Raga terlihat sangat murka. Bukan karena siapa yang ada di dalam mobil itu, tapi dia marah karena kedua orang itu melakukan hal bejat dan terlihat oleh Ran.

Sraak

Bruk

Ran duduk di kursi. Dadanya masih bergemuruh mengingat apa yang baru saja ia lihat tadi. Dan tidak terasa air matanya keluar bahkan sampai terisak. Raga yang melihat amat sangat bingung, dengan Ran yang seperti ini sekarang.

" Sttt, Ran kok nangis. Kamu kenapa?"

" Pak, pasti Bapak sakit hati banget sama perempuan itu. Iih dia jahat banget sih, itu pasti cowok yang sama dengan yang di foto IG. Itu pasti pacar sekaligus selingkuhan. Bener-bener deh tuh perempuan. Baru juga cerai."

" Buahahhaha."

Raga tertawa terbahak-bahak mendengar semua yang baru saja Ran katakan. Apa yang dilakukan Ran hingga menangis itu ternyata karena mengkhawatirkan dirinya, sungguh Raga tidak menyangka begitu.

" Kok Pak Raga ketawa sih?"

" Ran, aku udah nggak apa-apa. Rasaku ke wanita itu udah ilang dari kapan tahu. Dan apa yang dia lakukan sekarang itu aku udah nggak peduli. Jadi tenang aja, aku nggak ada rasa sakit hati sama sekali. Aku malah bersyukur bisa pisah sama dia. Sungguh aku nggak bohong, jadi dia mau kayak gimana aja, udah nggak ada urusannya sama aku."

Ran awalnya tidak percaya ucapan Raga, tapi setelah melihat sorot mata pria itu, ia pun yakin bahwa Raga memang sudah tidak merasa apapun. Ran sangat bersyukur jika itu memang benar. Tapi dia tetap masih tidak habis pikir dengan kulakukan Rena yang seperti itu. Bagaimana bisa wanita itu melakukan hal seperti itu ditempat umum. Ran bergidik mengingat apa yang tadi dia lihat.

TBC

Sedikit curhat, hahhaha gara-gara nulis ini, Othor jadi baca ulang kisah Kai dan Kirana. Setelah dipikir-pikir, Kai kan dapat janda kembang yak. Apakah akan menurun nanti, Ran dapat duda kembang? Eh apa yang sebutannya hahaha.

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Ya Ampun....g punya malu belassss...ulet bulu itu selalu gatel dimanapun dan kapanpun.... menjijikkan.....😏😏😏

2024-12-07

0

Lies Atikah

Lies Atikah

duda bantat thor nanggung wkwk

2024-12-06

0

Baper kusut

Baper kusut

baru baca novel author satu ini,,, seruuu, jadi pingin baca novel author yg lainnya

2024-11-28

2

lihat semua
Episodes
1 DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2 DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3 DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4 DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5 DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6 DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7 DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8 DDI 08: Cantik
9 DDI 09: Kegilaan
10 DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11 DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12 DDI 12: Selesai
13 DDI 13: Semangat Ketemuan
14 DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15 DDI 15: Curhat Bareng Abi
16 DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17 DDI 17: Puncak Bogor
18 DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19 DDI 19: Ada Yang Panas
20 DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21 DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22 DDI 22: Tamu Menyebalkan
23 DDI 23: Ternyata
24 DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25 DDI 25: Maafin Aku, Ga
26 DDI 26: Benzy Danurwendra
27 DDI 27: Aku Nggak Mau
28 DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29 DDI 29: Gue Ditembak?
30 DDI 30: Dua Lawan Enam
31 DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32 DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33 DDI 33: Nengokin Korban
34 DDI 34: Kabar Buruk
35 DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36 DDI 36: Perjuangin Ga!
37 DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38 DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39 DDI 39: Awas Bangun!
40 DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41 DDI 41: Tertangkap
42 DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43 DDI 43: Minta Doanya Ya
44 DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45 DDI 45: Siapa Dia
46 DDI 46: Saingan Ran Kah?
47 DDI 47: Anakmu Pulang
48 DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49 DDI 49: Kegalauan
50 DDI 50: Sebuah Keputusan
51 DDI 51: Rencana Balik Ran
52 DDI 52: Joni Aman Banget
53 DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54 DDI 54: Mari Selesaikan
55 DDI 55: Ultimatum Ran
56 DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57 DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58 DDI 58: Duda Masih Perjaka
59 DDI 59: Yang Sederhana Saja
60 DDI 60: Semoga Bahagia
61 DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62 DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63 DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64 DDI 64: Mancing
65 DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66 DDI 66: Sedikit Ricuh
67 DDI 67: Keminderan Raga
68 DDI 68: Mencari Bukti
69 DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70 DDI 70: Grebek
71 DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72 DDI 72: Pak Guru Suamiku
Episodes

Updated 72 Episodes

1
DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2
DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3
DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4
DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5
DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6
DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7
DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8
DDI 08: Cantik
9
DDI 09: Kegilaan
10
DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11
DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12
DDI 12: Selesai
13
DDI 13: Semangat Ketemuan
14
DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15
DDI 15: Curhat Bareng Abi
16
DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17
DDI 17: Puncak Bogor
18
DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19
DDI 19: Ada Yang Panas
20
DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21
DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22
DDI 22: Tamu Menyebalkan
23
DDI 23: Ternyata
24
DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25
DDI 25: Maafin Aku, Ga
26
DDI 26: Benzy Danurwendra
27
DDI 27: Aku Nggak Mau
28
DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29
DDI 29: Gue Ditembak?
30
DDI 30: Dua Lawan Enam
31
DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32
DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33
DDI 33: Nengokin Korban
34
DDI 34: Kabar Buruk
35
DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36
DDI 36: Perjuangin Ga!
37
DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38
DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39
DDI 39: Awas Bangun!
40
DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41
DDI 41: Tertangkap
42
DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43
DDI 43: Minta Doanya Ya
44
DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45
DDI 45: Siapa Dia
46
DDI 46: Saingan Ran Kah?
47
DDI 47: Anakmu Pulang
48
DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49
DDI 49: Kegalauan
50
DDI 50: Sebuah Keputusan
51
DDI 51: Rencana Balik Ran
52
DDI 52: Joni Aman Banget
53
DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54
DDI 54: Mari Selesaikan
55
DDI 55: Ultimatum Ran
56
DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57
DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58
DDI 58: Duda Masih Perjaka
59
DDI 59: Yang Sederhana Saja
60
DDI 60: Semoga Bahagia
61
DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62
DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63
DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64
DDI 64: Mancing
65
DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66
DDI 66: Sedikit Ricuh
67
DDI 67: Keminderan Raga
68
DDI 68: Mencari Bukti
69
DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70
DDI 70: Grebek
71
DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72
DDI 72: Pak Guru Suamiku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!