DDI 18: Pesona DuRen MaTeng

" Kayaknya ada yang nglihatin kita deh Ren. Kita lanjutin nanti lagi, mau hujan ini. Masuk dulu aja ke resto, rapihin dulu baju mu."

Rena mengerutkan alisnya lalu melihat ke luar jendela, tidak ada satu orang pun disana. tapi melihat ke langit memang benar apa yang dikatakan Jerez. Langit mulai gelap dan bahkan tetesan air mulai turun.

" Ayo Jer, nanti baju basah. Kayaknya bakalan deres deh ini."

Kedua pasangan yang baru saja selesai bercumbu itu keluar dari mobil dan berlari masuk ke restoran. Mereka mengibaskan baju mereka yang basah dengan tangan.

Merasa mood nya sungguh buruk dan juga gelisah di hati, Rena mengajak Jerez untuk pergi menepi dari keramaian ibu kota. Setelah putusan cerai dikeluarkan dari Pengadilan Negeri Agama setempat dikeluarkan, Rena merasa bahwa dia tidak senang. Padahal jelas sekali dia yang sangat berambisi untuk bisa pisah dengan Raga. Tapi setelah dinyatakan pisah oleh PNA, bukannya lega dia malah merasa resah begini.

" Ayo duduk dulu, mau makan apa? Oh iya, tumbenan kamu ngajak keluar yang lumayan jauh gini. Ada apa emangnya, trus gimana hasil sidangnya? dapet nggak uang ganti rugi yang kamu rencanain itu?" tanya Jerez secara beruntun. Pria itu sedari tadi merasa aneh dengan Rena. Pandangan Rena sering kali kosong dan bahkan ketika saling menyentuh, ia merasa Rena tidak fokus. Pokoknya Jerez merasa Rena tidak seperti biasanya.

" Haah, nggak usah ngomongin itu lah Jer, pusing gue. Pesen makan dulu a~"

Degh!

Jantung Rena berdegup kencang ketika matanya menatap seseorang yang ia sangat kenal di meja lain dalam restoran itu. Orang yang sedari kemarin menganggu pikiran dan juga hatinya. Dada semakin bergemuruh saat melihat orang itu bisa tertawa lepas, dan percayalah di mata Rena orang yang diihatnya itu semakin tampan.

Sraak

Tap! Tap! tap!

" Raga, kamu ngapain di sini?"

Rupanya Rena langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri meja dimana Raga duduk bersama Ran tanpa pikir panjang. Entahlah apa yang wanita itu pikirkan, tapi yang jelas dia begitu ingin menghampiri Raga ketika sudah melihatnya. Yang pasti ada dorongan dalam diri Rena untuk melakukan itu.

" Oh Ren, halo. Aku di sini lagi makan nih sama seseorang," jawab Raga santai. Dia yang sudah tahu Rena ada di tempat yang sama dengannya hanya bereaksi biasa saja. Pun dengan Ran, namun Ran sedikit berbeda. Melihat Rena saat ini berdiri di depannya, ia jadi teringat bagaimana wania itu tadi bercumbu di dalam mobil. Ran merasa amat sangat kesal dengan wanita itu yang ia anggap sudah berkhianat kepada Raga. Ya, Ran tidak mentolerir segala hal yang berbau pengkhianatan.

Seketika dia punya sebuah ide. Satu sudut bibirnya terangkat. Ran memandang lurus kepada Raga, sedangkan Raga tidak tahu apa maksud dari seringai Ran itu hingga dia terkejut saat Ran tiba-tiba menggenggam tangannya.

" Mas, katanya di belakang resto ini ada taman. Kesana yuk, nikmati hujan pasti seger deh buat mata dan pikiran ikut seger juga."

" Hah? Oh kalau kamu mau sih ayok. Aku bayar dulu ya," sahut Raga. Sesaat ia sungguh terkejut dengan ulah Ran dan juga sebutan 'mas' yang tiba-tiba. Namun sedetik kemudian ia paham bahwa Ran sedang melakukan sesuatu.

" No, aku ngga mau ditinggal. Aku ikut, nanti langsung aja kita ke taman belakang," tukas Ran cepat sambil melayangkan sebuah senyuman manis dan tingkah yang sedikit manja.

Raga hanya mengangguk, agaknya Ran tengah bermain dan ia akan mengikuti permainan yang mantan muridnya buat itu. Tanpa mengatakan permisi kepada Rena, Raga melenggang pergi bersama Ran yang menggamit lengannya. Keduanya terlihat mesra di mata Rena dan entah mengapa membuat Rena merasa begitu kesal. Bahkan wanita itu sampai mengepalkan tangannya dengan erat. Ia juga menghentakkan kakinya dengan kuat saat kembali ke mejanya.

" Brengsek tuh cewek, gue inget dia. Cewek itu bukannya pengacaranya Raga ya. Arghhh, brengsek!"

" Ren, udah ah malu dilihat orang kamu marah-marah nggak jelas gitu. Lagian, Raga mau deket sama siapa aja ya itu hak dia. Sekarang doi free, dia menjadi single lagi setelah cerai dari kamu. Dan dia mau deket sama siapa aja itu sah-saha aja. Kamu yang aneh Ren, orang kamu yang minta cerai kok kamu yang kesel lihat dia sama cewek."

Jleb!

Kata-kata Jerez langsung mengenai relung terdalam hati Rena karena semuanya benar adanya. Dialah yang meminta untuk berpisah tapi entah mengapa dia seperti tidak rela melihat Raga bersama orang lain. Apalagi jika boleh jujur, wanita yang bersama Raga tadi, wanita yang menggenggam tangan Raga itu tadi lebih cantik dari dirinya. Itu adalah penilaian sepintas Rena ketika melihat Ran.

Di sisi lain, Ran tertawa puas. Saat ini dia bersama dengan Raga sedang berada di taman belakang milik Restoran tersebut. Ada sebuah sofa, dan Ran memilih duduk di sana. Ia mengajak Raga untuk duduk juga. Dan tanpa sadar tangan mereka masih saling bertaut.

" Eh maaf pak," ucap Ran sambil melepaskan tangannya secara perlahan.

" Nggak apa, aku tahu kamu tadi lagi bantu aku. Makasih ya," sahut Raga cepat.

Ran hanya tersenyum simpul, ia merasa sangat puas bisa melihat wajah Rena yang pucat pasi tadi. " Pak, jangan-jangan mantan Pak Raga tadi tuh nyesel udah nyerein bapak. Lihat aja wajahnya, dia kayak mau makan aku tadi. Hahaha tapi asli puas banget lihat wajahnya yang kayak gitu. Bukan hanya itu, reaksinya juga sesuai dengan apa yang aku bayangin."

Raga tidak banyak menanggapi perkataan Ran, dia hanya tersenyum sambil terus memandangi wajah Ran yang begitu antusias dalam berbicara. Bukan hanya itu, rupanya Raga menyukai cara Ran bercerita. Tangan gadis itu akan ikut bergerak saat berbicara. Dan bagi Raga, itu sangat menyenangkan.

" Ehhh, maaf ya Pak jadi banyak omong," ucap Ran saat sadar bahwa dirinya sendiri yang sedari tadi heboh berbicara.

" Nggak apa-apa, lanjutin aja. Aku seneng kok lihat kamu ngomong gitu, asik dilihatnya."

Degh!

Blusssh

Wajah Ran terasa panas ketika Raga mengatakan hal tersebut, terlebih pria itu memandangi dirinya. Sesaat Ran menatap wajah Raga dengan seksama, dan dia baru sepenuhnya sadar bahwa duda di depannya itu begitu tampan. Dulu juga tampan, tapi menurut Ran sekarang Raga lebih tampan padahal usianya sudah kepala tiga.

" Apa ini yang namanya pesona duda dan pria matang, ups!"

" Hahahahah."

Raga tertawa lepas mendengar gumaman Ran. Meskipun pelan tapi sungguh sangat jelas di telinga Raga. Sedangkan Ran, ia sungguh malu. Ia tidak sadar dalam mengatakan ha tersebut. Rasanya saat ini ia ingin menyembunyikan dirinya di baik gunung agar tidak terlihat ole Raga.

" Jadi, apakah aku Duren Mateng. Duda keren mapan dan ganteng?"

TBC

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Ialah Resah karena 500 juta dan mobil mahal dia gak bisa dapatin dari Raga..Jangan bilang nanti saat Raga udah bahagia dengan pasangan barunya,Nih mantan jadi PELAKOR nya..

2024-12-15

0

💞mom'snya devadhamian💞

💞mom'snya devadhamian💞

iya bener duren mateng...aku mah dong 1 duren mateng kaya gtu thor.. kira kira di keranjang oren ada yang jual ga ya /Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2024-11-24

1

Nanik Kusno

Nanik Kusno

🤣🤣🤣🤣🤣 iya bangeet.....☺️☺️☺️☺️

2024-12-07

0

lihat semua
Episodes
1 DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2 DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3 DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4 DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5 DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6 DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7 DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8 DDI 08: Cantik
9 DDI 09: Kegilaan
10 DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11 DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12 DDI 12: Selesai
13 DDI 13: Semangat Ketemuan
14 DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15 DDI 15: Curhat Bareng Abi
16 DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17 DDI 17: Puncak Bogor
18 DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19 DDI 19: Ada Yang Panas
20 DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21 DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22 DDI 22: Tamu Menyebalkan
23 DDI 23: Ternyata
24 DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25 DDI 25: Maafin Aku, Ga
26 DDI 26: Benzy Danurwendra
27 DDI 27: Aku Nggak Mau
28 DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29 DDI 29: Gue Ditembak?
30 DDI 30: Dua Lawan Enam
31 DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32 DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33 DDI 33: Nengokin Korban
34 DDI 34: Kabar Buruk
35 DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36 DDI 36: Perjuangin Ga!
37 DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38 DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39 DDI 39: Awas Bangun!
40 DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41 DDI 41: Tertangkap
42 DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43 DDI 43: Minta Doanya Ya
44 DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45 DDI 45: Siapa Dia
46 DDI 46: Saingan Ran Kah?
47 DDI 47: Anakmu Pulang
48 DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49 DDI 49: Kegalauan
50 DDI 50: Sebuah Keputusan
51 DDI 51: Rencana Balik Ran
52 DDI 52: Joni Aman Banget
53 DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54 DDI 54: Mari Selesaikan
55 DDI 55: Ultimatum Ran
56 DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57 DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58 DDI 58: Duda Masih Perjaka
59 DDI 59: Yang Sederhana Saja
60 DDI 60: Semoga Bahagia
61 DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62 DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63 DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64 DDI 64: Mancing
65 DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66 DDI 66: Sedikit Ricuh
67 DDI 67: Keminderan Raga
68 DDI 68: Mencari Bukti
69 DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70 DDI 70: Grebek
71 DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72 DDI 72: Pak Guru Suamiku
Episodes

Updated 72 Episodes

1
DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2
DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3
DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4
DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5
DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6
DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7
DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8
DDI 08: Cantik
9
DDI 09: Kegilaan
10
DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11
DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12
DDI 12: Selesai
13
DDI 13: Semangat Ketemuan
14
DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15
DDI 15: Curhat Bareng Abi
16
DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17
DDI 17: Puncak Bogor
18
DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19
DDI 19: Ada Yang Panas
20
DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21
DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22
DDI 22: Tamu Menyebalkan
23
DDI 23: Ternyata
24
DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25
DDI 25: Maafin Aku, Ga
26
DDI 26: Benzy Danurwendra
27
DDI 27: Aku Nggak Mau
28
DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29
DDI 29: Gue Ditembak?
30
DDI 30: Dua Lawan Enam
31
DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32
DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33
DDI 33: Nengokin Korban
34
DDI 34: Kabar Buruk
35
DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36
DDI 36: Perjuangin Ga!
37
DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38
DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39
DDI 39: Awas Bangun!
40
DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41
DDI 41: Tertangkap
42
DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43
DDI 43: Minta Doanya Ya
44
DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45
DDI 45: Siapa Dia
46
DDI 46: Saingan Ran Kah?
47
DDI 47: Anakmu Pulang
48
DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49
DDI 49: Kegalauan
50
DDI 50: Sebuah Keputusan
51
DDI 51: Rencana Balik Ran
52
DDI 52: Joni Aman Banget
53
DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54
DDI 54: Mari Selesaikan
55
DDI 55: Ultimatum Ran
56
DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57
DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58
DDI 58: Duda Masih Perjaka
59
DDI 59: Yang Sederhana Saja
60
DDI 60: Semoga Bahagia
61
DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62
DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63
DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64
DDI 64: Mancing
65
DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66
DDI 66: Sedikit Ricuh
67
DDI 67: Keminderan Raga
68
DDI 68: Mencari Bukti
69
DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70
DDI 70: Grebek
71
DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72
DDI 72: Pak Guru Suamiku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!