DDI 15: Curhat Bareng Abi

Raga mengantarkan Ran sampai di depan rumah. Ran menawari Raga untuk mampir, tapi Raga menolak karena harus cepat untuk pulang. Ada hal yang harus disiapkan untuk anak muridnya besok.

" Sekali lagi terimakasih Ran, untuk pembayaran aku sudah transfer ke rekening perusahaan. Kalau gitu aku pamit, ah iya apa kapan-kapan boleh ngajak kamu keluar?"

" Sama-sama Pak terimakasih juga sudah menggunakan jasa dari kantor firma hukum kami. Eiii boleh aja dong yang penting waktunya nggak bentrok sama kerjaan ya Pak, insyaaAllah kapan aja kalau diajak main mah siap-siap aja."

Raga tersenyum cerah, ia pun berpamitan tapi sebelumnya ia mengusap kepala Ran. Hal yang sangat biasa tapi entah mengapa raga malah salah tingkah sendiri. Pria tersebut langsung membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam mobil lalu mengemudikan mobilnya dengan cepat, meninggalkan kediaman Abinawa.

" Pria tadi siapa Ran?"

" Eh Ummi, itu Pak Raga. Mantan guru SMA Ran dan baru aja jadi mantan klien."

Kirana hanya ber-oh ria. Ia tidak banyak tanya memang soal pekerjaan Ran tapi ia selalu bertanya tentang orang-orang yang dekat dengan sang putri. Maka dari itu ketika ada pria yang mengantar putrinya, Kirana langsung keluar dar rumah untuk melihat siapa pria itu.

Selama ini, Ran belum pernah pulang diantar oleh seorang pria. Seandainya pun iya maka tidak berdua, biasanya akan bertiga sepeti prita dan Doni atau saat masih SMA dulu akan datang berlima, dan itu pun salah satunya adalah Kaivan--kembaran dari Ran.

" Gimana Ran, sudah beres semuanya yang tentang gurumu itu?" tanya Kai

Saat ini Ran sedang berada di ruang keluarga bersama semua anggota keluarga minus Kaivan, karena Kaivan berada di Surabaya.

" Udah Bi, aman. Dan tuntutan ganti rugi yang diminta si penggugat pun ngga jadi. Keputusan cerai didapat dengan mudah," papar Ran.

" Tadi juga dianterin tuh Bang," sahut Kirana.

" Maksud Ummi, gurunya Ran nganter ke rumah gitu?" tanya Kai menegaskan ucapan sang istri.

Kirana mengangguk, dan Kai mengerutkan kedua alisnya. Belum pernah Ran diantar seorang pria hingga ke rumah seperti ini. Maka dari itu Kai merasa sedikit terkejut.

" Abi, kalau itu gurunya Kak Kiran berarti dia gur di DIS dong. Kamil berarti tau lah ya." Kamil, adik bungsu dari Kiran itu iku berkomentar.

" Nggak juga kali Mil, kan DIS gede, luas pula. Kita di SD itu lumayan jauh juga dari SMA. Kecuali kalau lagi halal bi halal tuh baru lah kita tahu. Tapi mungkin kalau doi terkenal kita pasti juga tahu." Kamal ternyata tidak mau kalah untuk ikut berkomentar. Ran hanya menghela nafasnya melihat kedua adik kembarnya itu saling menganalisa perihal Raga.

" Heh bocil-bocil, jangan pada kepo deh. Udah belajar sana," sergah Ran. Saat berkumpul seperti ini memang suasana menjadi ramai. Jara usia antara Ran dengan Kamal dan Kamil yang lumayan jauh tidak membuat hubungan ketiganya ikut jauh juga. Malah terkadang Ran bisa bersikap seperti seumuran dengan Kamal dan Kamil. Tak jarang juga Ran suka mengganggu adik kembarnya itu yang berujung pada teriakan Kirana karena mereka begitu ribut.

" Sudah-sudah, sudah malam. Kamal, Kamil, masuk ke kamar. Waktunya kalian untuk tidur."

" Siap Abi."

Kedua bocah itu langsung menuruti perintah Kai karena memang jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Ini adalah jam untuk keduanya untuk tidur. Dan Kirana mengikuti keduanya untuk mengantarkan keduanya tidur. Sedangkan Ran masih berada di sana bersama Kai.

" Kenapa?" tanya Kai kepada sang putri karena wajah Ran terlihat penuh hal yang seperti ingin ditanyakan.

" Nggak ada apa-apa sih Bi. Hanya saja Ran kasihan sama Pak Raga. Ternyata mantan istrinya itu termasuk wanita yang bermasalah. Dia masih berhubungan dengan laki-laki lain saat proses dirinya akan menikah dengan Pak Raga. Dan kayaknya sekarang Ran sedikit paham, mungkin wanita itu nggak jadi nuntut ganti rugi karena Pak Raga tahu sesuatu yang membuat wanita itu nggak berkutik."

Kai terdiam sejenak, pengkhianatan itu selalu ada dalam banyak bidang di kehidupan ini. Pengkhianatan dari teman, rekan kerja dan juga pasangan. Kai bukanlah orang yang tidak tahu akan hal itu karena dia juga merupakan korban dari pengkhianatan ayahnya di masa lalu yang mana pernah membuat hidup ibunya sulit.

" Nak, setia itu adalah hal yang sangat berharga. Dan semuanya dimulai dari kita dulu. Berusaha untuk setia terhadap apapun yang ada di sekitar kita. Setia terhadap Tuhan kita itu adalah yang paling utama, lalu setia kepada pasangan dan juga rekan kerja. Jangan pernah mengkhianati orang yang sudah mempercayaimu dengan sepenuh hati karena rasanya sungguh sakit. Kamu tahu kan Abi pernah ngerasain itu, walaupun Kakek udah taubat tapi nyatanya tetap rasa sakit itu amat membekas."

Ran mengangguk cepat. Apa yang dikatakan oleh Abi nya itu tentu ia tahu betul. Dan Raga mungkin juga merasakan bagaimana sakitnya dikhianati. Itu akan membekas sampai kapanpun. Bisa sembuh tapi tetap bekasnya tidak akan hilang.

Sama halnya dengan cerita masa lalu Abinya. Abi Kai, Eyang Sita dan Kakek Dani, Kai dan Sita memang sudah memaafkan perbuatan Dani, tapi bekas pengkhianatan itu sampai sekarang masih ada. Dan Ran tahu itu karena memang Kai menceritakan hal tersebut kepada anak-anaknya. Bukan untuk membuka aib tapi untuk dijadikan sebagai pembelajaran hidup. Karena pengalaman merupakan guru yang terbaik.

" Iya Bi, inysaAllah Ran paham."

Kai mengusap lembut kepala putrinya dan Ran memeluk ayahnya itu dengan erat. Ia mungkin tidak tahu bagaimana keras hidup masa kecil dari sang Abi tapi ia bisa merasakan bahwa Abinya itu adalah orang yang berjiwa besar karena mampu memaafkan dan bahkan membina hubungan baik dengan ayah kandungnya yang bahkan dari kecil tidak pernah merawat dan mengetahuinya.

Ran melerai pelukan Kai dan meminta Abi nya itu untuk segera beristirahat. Dia pun melenggang masuk ke kamar. Ran memeriksa ponselnya dan melihat beberapa pesan yang masuk, dan ternyata salah satunya adalah dari Raga.

" Ran weekend sibuk nggak, mau pergi?"

Seperti itulah isi pesan dari Raga. Setelah mendengar wejangan dari Kai tadi Ran merasa bahwa saat ini Raga tengah terluka dan dia ingin membantu pria itu untuk sembuh dari lukanya.

" Free Pak, boleh. Mau kemana kita?"

TBC

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Raga langsung gasss pollllll.....☺️☺️☺️☺️

2024-12-07

0

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝒔𝒊 𝒅𝒖𝒅𝒂 𝒉𝒐𝒕 𝒍𝒈 𝒑𝒆𝒅𝒆𝒌𝒂𝒕𝒆 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒎𝒂𝒏𝒕𝒂𝒏 𝒎𝒖𝒓𝒊𝒅𝒏𝒚𝒂 𝒏𝒊𝒉 🤭🤭🤭

2024-10-17

1

Pasrah

Pasrah

lanjut

2024-07-18

0

lihat semua
Episodes
1 DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2 DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3 DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4 DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5 DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6 DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7 DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8 DDI 08: Cantik
9 DDI 09: Kegilaan
10 DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11 DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12 DDI 12: Selesai
13 DDI 13: Semangat Ketemuan
14 DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15 DDI 15: Curhat Bareng Abi
16 DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17 DDI 17: Puncak Bogor
18 DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19 DDI 19: Ada Yang Panas
20 DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21 DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22 DDI 22: Tamu Menyebalkan
23 DDI 23: Ternyata
24 DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25 DDI 25: Maafin Aku, Ga
26 DDI 26: Benzy Danurwendra
27 DDI 27: Aku Nggak Mau
28 DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29 DDI 29: Gue Ditembak?
30 DDI 30: Dua Lawan Enam
31 DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32 DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33 DDI 33: Nengokin Korban
34 DDI 34: Kabar Buruk
35 DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36 DDI 36: Perjuangin Ga!
37 DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38 DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39 DDI 39: Awas Bangun!
40 DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41 DDI 41: Tertangkap
42 DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43 DDI 43: Minta Doanya Ya
44 DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45 DDI 45: Siapa Dia
46 DDI 46: Saingan Ran Kah?
47 DDI 47: Anakmu Pulang
48 DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49 DDI 49: Kegalauan
50 DDI 50: Sebuah Keputusan
51 DDI 51: Rencana Balik Ran
52 DDI 52: Joni Aman Banget
53 DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54 DDI 54: Mari Selesaikan
55 DDI 55: Ultimatum Ran
56 DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57 DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58 DDI 58: Duda Masih Perjaka
59 DDI 59: Yang Sederhana Saja
60 DDI 60: Semoga Bahagia
61 DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62 DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63 DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64 DDI 64: Mancing
65 DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66 DDI 66: Sedikit Ricuh
67 DDI 67: Keminderan Raga
68 DDI 68: Mencari Bukti
69 DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70 DDI 70: Grebek
71 DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72 DDI 72: Pak Guru Suamiku
Episodes

Updated 72 Episodes

1
DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2
DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3
DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4
DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5
DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6
DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7
DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8
DDI 08: Cantik
9
DDI 09: Kegilaan
10
DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11
DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12
DDI 12: Selesai
13
DDI 13: Semangat Ketemuan
14
DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15
DDI 15: Curhat Bareng Abi
16
DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17
DDI 17: Puncak Bogor
18
DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19
DDI 19: Ada Yang Panas
20
DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21
DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22
DDI 22: Tamu Menyebalkan
23
DDI 23: Ternyata
24
DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25
DDI 25: Maafin Aku, Ga
26
DDI 26: Benzy Danurwendra
27
DDI 27: Aku Nggak Mau
28
DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29
DDI 29: Gue Ditembak?
30
DDI 30: Dua Lawan Enam
31
DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32
DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33
DDI 33: Nengokin Korban
34
DDI 34: Kabar Buruk
35
DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36
DDI 36: Perjuangin Ga!
37
DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38
DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39
DDI 39: Awas Bangun!
40
DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41
DDI 41: Tertangkap
42
DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43
DDI 43: Minta Doanya Ya
44
DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45
DDI 45: Siapa Dia
46
DDI 46: Saingan Ran Kah?
47
DDI 47: Anakmu Pulang
48
DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49
DDI 49: Kegalauan
50
DDI 50: Sebuah Keputusan
51
DDI 51: Rencana Balik Ran
52
DDI 52: Joni Aman Banget
53
DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54
DDI 54: Mari Selesaikan
55
DDI 55: Ultimatum Ran
56
DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57
DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58
DDI 58: Duda Masih Perjaka
59
DDI 59: Yang Sederhana Saja
60
DDI 60: Semoga Bahagia
61
DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62
DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63
DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64
DDI 64: Mancing
65
DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66
DDI 66: Sedikit Ricuh
67
DDI 67: Keminderan Raga
68
DDI 68: Mencari Bukti
69
DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70
DDI 70: Grebek
71
DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72
DDI 72: Pak Guru Suamiku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!