Braaak
Buk!
Raga melemparkan tubuhnya di sofa rumah tamu. Ia melihat sekeliling, sebuah foto pernikahan dengan ukuran besar masih terpajang di sana. Raut kebahagiaan menghiasi wajahnya dan Rena. Tapi itu tidak sepenuhnya terlahir dalam hati. Karena ada sebuah hal yang membuat Raga seperti itu.
Sebenarnya ia ingin sekali membatalkan pernikahan punya dengan Rena, tapi ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya malu. Dan dia masih punya hati untuk tidak mencemarkan nama baik Rena dan kedua orang tuanya.
Hari itu, satu minggu sebelum pernikahannya Raga melihat sesuatu yang membuatnya tercengang, terkejut, marah dan sakit hati. Jika biasanya dulu atau di beberapa daerah masih menggunakan adat pingitan untuk calon pengantin agar tidak keluar rumah. Mitosnya akan ada suatu hal yang menghalangi sebuah pernikahan yang dilakukan. Akan tetapi dibeberapa tempat dan anak muda, tidak memercayai hal tersebut. Mereka akan keluar dan bekerja seperti biasa. Salah satunya ya Raga.
Dia sepulang dari mengajar, ingin mampir ke kediaman Rena. Ada sebuah hal yang ingin dia tanyakan terkait seserahan yang masih kurang. Rena menginginkan 13 buah seserahan dan baru terbuat 11, masih ada 2 benda lagi. Maka dari itu Raga datang ke sana untuk kembali menanyakan, pasalnya Rena tidak menjawab ketika dia mengirim pesan dan juga menelpon.
Raga datang tanpa menggunakan mobil, hari itu mobilnya juga jatah masuk bengkel untuk servis. Dia menggunakan jasa ojek online agar lebih cepat. Sesampainya di rumah Rena, itu sekitar pukul setengah empat sore. Raga berjalan dari jalan menuju ke pekarangan rumah. " Ada mobil, tapi kayaknya bukan mobil Rena. Mungkin ada tamu kali ya." Raga bergumam pelan. Dia tidak punya pikiran apapun saat itu dan terus melangkahkan kakinya. Namun ketika sampai di depan pintu ia mendengar suara yang membuat tubuhnya memanas.
" Aaah, hen-hentikan nanti kamu kelepasan lagi."
" Huh, siapa suruh kamu menikah dengan orang itu. Ughhh, hosh hosh hosh."
" Ahhh Jer... Aku jelas memilih ughhhh Raga untuk jadi suami. Dia udah mapan, itu yang jelas. Aaahh, Jer ini geli."
Di luar pintu, meskipun suara itu samar-samar tapi Raga bukanlah pria bodoh yang tidak tahu apa yang wanita itu lakukan di dalam dengan seorang pria tentunya. Ia mengepalkan tangannya erat. Ingin sekali dirinya itu langsung mendobrak pintu dan melabrak sang calon istri, tapi Raga bisa menahan dirinya dengan baik dan melenggang pergi meninggalkan kediaman Rena.
Ia hanya bisa tergugu, bukan pengecut tapi banyak hal yang memang ia pertimbangkan. Raga mencoba untuk menerima, biarlah dikatakan bodoh. Dan setalah kejadian itu pernikahan tetap berlangsung. Wajah bahagia Rena saat bersanding dengan Raga memperlihatkan bahwa dia tidak merasa salah sedikitpun. Padahal Raga menunggunya, menunggu untuk berbicara. Dia bahkan memutuskan untuk menerima meskipun Rena seperti itu.
" Haaah, beneran nggak bisa lagi." Raga mengusap wajahnya kasar ketika mengingat semua itu. Sudah berlalu lama, dan memang setelah menikah Rena tidak lagi menemui pria itu. Ia sekuat hati untuk bisa menerimanya tapi ternyata tetaplah tidak bisa. Itulah penyebab hingga 6 bulan pernikahan Raga sama sekali tidak menyentuh Rena. Bukan tidak mau tapi tidak bisa. Setiap kali ia hendak menyentuh Rena, bayangan suara dan kelakuan Rena yang bercumbu dengan pria lain terus menari di kepala dan pelupuk matanya. Hal itu lah yang membuat miliknya sama sekali tidak bereaksi meskipun Rena bahkan tidak mengenakan sehelai benang pun pada tubuhnya.
" Sudahlah, terserah dia mau apa lah, aku nggak peduli. Mungkin memang cerai adalah jalan paling baik. Dan seharusnya kita emang nggak nikah."
Raga bangkit dari sofa dan menuju ke kamar. Setelah ia pikirkan, rasa-rasanya sidang mediasi pun tidak lah berguna. Karena dia juga tidak ingin mempertahankan pernikahannya. Biarlah pihak sana mengatakan seperti itu, yakni bahwa dirinya impoten. Dengan begitu putusan cerai akan keluar dengan mudah.
Namun, sepertinya pikiran Raga tidak berbanding lurus dengan Rena. Saat ini Rena yang tengah menemui kuasa hukumnya bersikukuh menginginkan sudah mediasi itu.
" Apa? Lho bukannya Anda yang ingin berpisah. Kalau Anda ragu, Anda bisa mencabut gugatannya," ucap kuasa hukum dari Rena. Seorang pria yang berusia sekitar 40 an itu terlihat bingung dengan kliennya kali ini.
" Saya tetap ingin pisah Pak Jhony, tapi ada hal yang ingin saya minta," ucap arena santai.
" Haaah, ya ya ya. Aku paham. Baiklah kalau seperti itu,"
Rena bermaksud meminta semacam ganti rugi kepada Raga, karena dia merasa tertipu. Raga yang menderita impoten-menurut versi Rena- telah membohongi dirinya dan keluarga. Maka dari itu ia akan minta ganti rugi atas hal tersebut.
Tentu saja, dia minta tidak banyak. Sekitar 500 juta, itu dihitung dengan biaya pernikahan dan juga rasa malu serta status janda yang ia akan sandang nanti. Rena merasa itu sudah cukup meskipun tidak sepadan degan status jandanya.
" Apakah benar itu cukup?" tanya Pak Jhony memastikan.
" Apakah bisa lebih, jika ya saya akan minta 1M. Tapi sepertinya itu sudah cukup," sahut Rena cepat. Meskipun Raga memang mengajar di sekolah internasional tapi ia merasa Raga akan kesulitan jika memang ia menuntut ganti rugi sebanyak itu.
" Anda bisa mengajukan ganti rugi sebanyak 1M, tapi biasanya nanti pihak tergugat akan mengajukan keberatan. Dan yang akan Anda terima tidak akan sebanyak itu."
Penjelasan Pak Jhony membuat Rena mengerti. Tapi dia tidak ingin meminta sebanyak itu. Ia rasa 500 juta cukup, ditambah sebuah mobil dan serta mas kawin yang ia terima. Lagi pula selama 6 bulan menikah, Raga memberikan semua gaji yang ia terima kepadanya.
" Tidak Pak, 500 juta sudah cukup untuk meminta ganti rugi. Saya akan sampaikan di sidang mediasi nanti."
Sidang mediasi yang sebenarnya digunakan untuk mempertemukan pasangan yang akan bercerai agar bisa membicarakan lagi tentang keputusan masing-masing, malah akan digunakan oleh Rena meminta sebuah ganti rugi. Dan dia sudah menyusun sebuah skenario agar bisa mendapatkan ganti rugi yang ia inginkan.
" Ini semua salahmu Ga, ngapain kamu menikahi aku jika milikmu nggak bisa bangun begitu. Cih, aku nggak hanya butuh uang. Tapi aku butuh itu untuk. Buat apa menikah kalau nggak bisa melakukan hubungan. Hah, tahu gitu aku nggak akan mau menikah denganmu. Jerez adalah pilihan terbaik, uughh aku tiba-tiba kangen Jerez."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Lies Atikah
udah ketauan cewenya begitu ga kok masih mau menerima alasan orang tua atu sudah gak punya harga diri sebagai lelaki karna terlalu cinta hingga mau menerima sampah rongsokan oh bener 2 ogeb bin oon
2024-12-05
0
Nanik Kusno
Salahmu Raga.....dah tahu model ceweknya kayak gitu masih aja mau nikahin.... dengan alasan apapun...
2024-12-07
0
ning sora
cinta tp gk nafsu, yo susah leh...
2024-11-25
0