DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh

Ran mengusap wajahnya kasar ketika membaca seluruh surat gugatan yang diberikan oleh Raga. Ia sungguh tidak menyangka bahwa gurunya itu menderita disfungsi ereksi atau kata populernya adalah impoten.

" Ekhem, Pak Raga kan sehat ya. Masa iya sih doi impoten. Apa jangan-jangan ada masalah lain. Tapi nggak mungkin kan istrinya ngegugat dengan mencari-cari alasan yang tidak ada? Sebenarnya ini semua bisa dibuktikan kalau ada keterangan medical check up dari dokter, tapi Pak Raga nggak mau melakukannya."

Ran bergumam pelan sambil membolak-balik kertas itu. Sebagai pengacara ia merasa ada yang janggal dengan ekspresi wajah mantan gurunya itu. Ia pun bertekad untuk kembali menanyakannya kepada Raga.

Ran mengingat beberapa bulan yang lalu, dimana ia dan teman-temannya menghadiri pernikahan Raga dan Rena. Dua orang yang duduk di pelaminan itu terlihat sangat bahagia dan saling mencintai. Wajah sumringah keduanya menampilkan rasa puas karena berhasil hingga tahap pernikahan.

Raga bahkan tidak melepaskan pandangannya dari wajah cantik sang istri. Terlihat sorot mata mereka yang saling memancarkan rona cinta dan kasih sayang. Maka dari itu, Ran merasa amat sangat terkejut mendapati Raga sebagai kliennya.

Ran mencoba melihat akun sosial media milik Raga dan juga istrinya. Pada akun milik Raga, masih ada beberapa foto mereka berdua. Tapi di akun miliki Rena sudah tidak ada satupun. Dan sebuah story dibuat oleh Rena di instagramnya.

" Jika sudah tidak bisa dipertahankan, buat apa? Semua tidak sesuai seperti awal yang dijanjikan. Bukan sekedar materi tapi hal lain juga menentukan sejauh mana bahtera ini akan berlayar."

Meskipun kata-katanya tidak menjelaskan, tapi Ran tentu tahu dan paham maksud yang terkandung di dalamnya. Kalimat yang Ran garis bawahi yakni, ' bukan sekedar materi,' itu benar-benar merujuk pada ketidakmampuan Raga dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang suami di atas raga.

" Arggghhh, why oh why. Kenapa harus impoten sih, dan kenapa harus ,mantan guru gue!" pekik Ran di ruangannya.

" Bu Kieran ada apa Bu? Siapa yang impoten?"

Sorang pria yang bernama Alif melongok ke ruangan Ran karena suara yang Ran munculkan lumayan keras hingga terdengar sampai ke luar. Alif Wicaksono, dia adalah mahasiswa hukum semester 6 yang saat ini magang di kantor hukum miliknya.

" Aah nggak Lif, bukan siapa-siapa. Oh iya Lif, apakah Pak Doni dan Bu Prita belum datang kah?"

" Belum Bu, katanya hari ini mereka bertemu dengan klien dulu baru ke kantor."

Doni Arganta dan Prita Anggia, mereka berdua adalah teman satu kampus Kieran. Bertiga sama-sama menempuh progam magister hukum di Universitas Nusantara dan sepakat untuk mendirikan sebuah firma hukum bersama. Dan dengan kesepakatan itu akhirnya terbentuk lah Firma Hukum Abinawa & Co. Awalnya Kieran menolak menggunakan nama Abinawa, tapi Doni dan Prita mendesak. Bagaimanapun nama Abinawa sudah mempunyai banding yang kuat, jadi akan mempermudah dalam pengoperasian firma hukum yang mereka dirikan.

Dan hal itu terbukti, baru berdiri satu setengah tahun tapi mereka cukup banyak mendapatkan klien. Maka dari itu saat ini Doni dan Prita pun tengah menemui klien mereka di tempat yang mereka sepakati. Biasanya memang di kantor, tapi Ran dan kedua temannya fleksibel juga jika ada yang meminta di luar kantor.

" Alif, kamu nggak kerepotan magang di sini sendiri. Kamu boleh lho kalau mau ajak teman kamu satu lagi." Ran mengatakan itu kepada Alif bukan tanpa alasan. Beberapa klien yang datang ke kantor beberapa waktu terakhir ini, membuat anak itu sedikit kerepotan.

" Apakah boleh Bu? Kalau Boleh saya ada satu teman lagi, dari kemarin dia bingung karena belum dapat tempat magang," sahut Alif antusias.

" Ya, boleh. Hubungi saja temanmu itu."

Wajah Alif langsung sumringah. Pemuda itu bahkan langsung menghubungi sang teman dan memintanya untuk datang besok.

Ran tersenyum melihat Alif yang seperti itu. Meskipun firma mereka baru didirikan, tapi permintaan magang dari beberapa mahasiswa hukum lumayan banyak. Dan Alif salah satu yang beruntung bisa masuk di sana.

Alif adalah mahasiswa yang mendapat beasiswa untuk progam pendidikannya. Maka dari itu Kieran lebih mengutamakan anak itu ketimbang yang lain. Ia selalu ingat kata Abi nya untuk membantu dan memprioritaskan orang yang lebih membutuhkan.

" Baiklah, mari rapikan berkas-berkas dulu. Tapi ngomong-ngomong, ini sudah hampir jam makan siang. Doni sama Prita kok belum balik ya. Mereka juga nggak ngasih kabar."

Sementara itu dua orang yang sedang Ran pikirkan saat ini sedang melakukan akan siang bersama. Doni dan Prita, dia orang itu melepas lelah mereka setelah bergulat dengan klien.

" Huuh, gila. Klien kali ini benar-benar bikin gue pusing," keluh Doni.

" Kenapa emangnya?"

Doni mulai menceritakan perihal orang yang ingin menggunakan jasanya. Sebenarnya ini belum bisa dikatakan klien resmi karena masih sekedar konsultasi. Klien Doni adalah seorang pria yang berusia 35 tahun. Pria itu merupakan seorang anak dari orang kaya. Dia digugat oleh istrinya karena hanya bermalas-malasan di rumah tanpa mau melakukan pekerjaan. Kerjaannya hanya bermain game dan selalu mengandalkan harta dari orang tuanya.

" Jadi maksudmu gimana Don. Tuh laki kagak terima digugat ma bininya?"

" Yoi, gitu Prit. Asli gue males banget kalau ngadepin laki model mokondo gini. Dia ogah di cerai sama bininya. Katanya doi cinta, preeet bener kan tuh laki."

Doni mengomel sepanjang makan siang, sedangkan Prita, ia hanya mendengarkan rekannya itu bicara. Sebenarnya mereka berhak menolak klien jika tidak sesuai dengan hati nurani mereka. Ini salah satu hal yang disepakati oleh Ran, Doni dan Prita. Ketiganya tidak semata-mata mendapatkan uang dalam melakukan pekerjaan, tapi juga harus sesuai dengan hati nurani.

" Mampus kita Don, ini udah lewat jam makan siang dan kita belum ke kantor. Kita juga nggak ngabari Ran lagi."

Plak!

Doni menepuk keningnya kuat. Ia lupa jika Ran termasuk orang yang disiplin. Meskipun mereka berteman, tapi dalam hal pekerjaan mereka harus profesional.

" Buruan balik, sebelum doi melayangkan semburan apinya."

Bukannya takut, tapi memang mereka berdua merasa bersalah. Seharusnya mereka lebih dulu datang ke kantor baru pergi menemui klien. Tapi jika mendesak mereka boleh langsung menemui klien tanpa harus ke kantor asalkan memberi kabar.

Doni dan Prita bergegas untuk kembali ke kantor. Mereka harus siap mendengarkan ceramah panjang dari Kieran Sahna Abinawa.

TBC

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Yaaahhhh.... begitulah dunia.... berbagai macam cerita ada di dalamnya....

2024-12-07

0

Bzaa

Bzaa

hadirrrr

2025-01-03

0

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝒂𝒑𝒂 𝒊𝒔𝒕𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂 𝑹𝒂𝒈𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒈𝒂𝒌 𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒚𝒂 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈𝒏𝒚𝒂 🤔🤔

2024-10-17

0

lihat semua
Episodes
1 DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2 DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3 DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4 DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5 DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6 DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7 DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8 DDI 08: Cantik
9 DDI 09: Kegilaan
10 DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11 DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12 DDI 12: Selesai
13 DDI 13: Semangat Ketemuan
14 DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15 DDI 15: Curhat Bareng Abi
16 DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17 DDI 17: Puncak Bogor
18 DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19 DDI 19: Ada Yang Panas
20 DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21 DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22 DDI 22: Tamu Menyebalkan
23 DDI 23: Ternyata
24 DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25 DDI 25: Maafin Aku, Ga
26 DDI 26: Benzy Danurwendra
27 DDI 27: Aku Nggak Mau
28 DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29 DDI 29: Gue Ditembak?
30 DDI 30: Dua Lawan Enam
31 DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32 DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33 DDI 33: Nengokin Korban
34 DDI 34: Kabar Buruk
35 DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36 DDI 36: Perjuangin Ga!
37 DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38 DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39 DDI 39: Awas Bangun!
40 DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41 DDI 41: Tertangkap
42 DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43 DDI 43: Minta Doanya Ya
44 DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45 DDI 45: Siapa Dia
46 DDI 46: Saingan Ran Kah?
47 DDI 47: Anakmu Pulang
48 DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49 DDI 49: Kegalauan
50 DDI 50: Sebuah Keputusan
51 DDI 51: Rencana Balik Ran
52 DDI 52: Joni Aman Banget
53 DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54 DDI 54: Mari Selesaikan
55 DDI 55: Ultimatum Ran
56 DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57 DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58 DDI 58: Duda Masih Perjaka
59 DDI 59: Yang Sederhana Saja
60 DDI 60: Semoga Bahagia
61 DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62 DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63 DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64 DDI 64: Mancing
65 DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66 DDI 66: Sedikit Ricuh
67 DDI 67: Keminderan Raga
68 DDI 68: Mencari Bukti
69 DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70 DDI 70: Grebek
71 DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72 DDI 72: Pak Guru Suamiku
Episodes

Updated 72 Episodes

1
DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2
DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3
DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4
DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5
DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6
DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7
DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8
DDI 08: Cantik
9
DDI 09: Kegilaan
10
DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11
DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12
DDI 12: Selesai
13
DDI 13: Semangat Ketemuan
14
DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15
DDI 15: Curhat Bareng Abi
16
DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17
DDI 17: Puncak Bogor
18
DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19
DDI 19: Ada Yang Panas
20
DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21
DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22
DDI 22: Tamu Menyebalkan
23
DDI 23: Ternyata
24
DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25
DDI 25: Maafin Aku, Ga
26
DDI 26: Benzy Danurwendra
27
DDI 27: Aku Nggak Mau
28
DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29
DDI 29: Gue Ditembak?
30
DDI 30: Dua Lawan Enam
31
DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32
DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33
DDI 33: Nengokin Korban
34
DDI 34: Kabar Buruk
35
DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36
DDI 36: Perjuangin Ga!
37
DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38
DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39
DDI 39: Awas Bangun!
40
DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41
DDI 41: Tertangkap
42
DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43
DDI 43: Minta Doanya Ya
44
DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45
DDI 45: Siapa Dia
46
DDI 46: Saingan Ran Kah?
47
DDI 47: Anakmu Pulang
48
DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49
DDI 49: Kegalauan
50
DDI 50: Sebuah Keputusan
51
DDI 51: Rencana Balik Ran
52
DDI 52: Joni Aman Banget
53
DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54
DDI 54: Mari Selesaikan
55
DDI 55: Ultimatum Ran
56
DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57
DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58
DDI 58: Duda Masih Perjaka
59
DDI 59: Yang Sederhana Saja
60
DDI 60: Semoga Bahagia
61
DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62
DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63
DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64
DDI 64: Mancing
65
DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66
DDI 66: Sedikit Ricuh
67
DDI 67: Keminderan Raga
68
DDI 68: Mencari Bukti
69
DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70
DDI 70: Grebek
71
DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72
DDI 72: Pak Guru Suamiku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!