DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga

Raga pamit undur diri, ia mengatakan bahwa sebentar lagi akan mengadakan ulangan harian untuk murid-murid nya jadi ia harus segera sampai disekolah. DIS atau Dewantara Internasional School adalah tempat dimana dia mengajar. Itu juga tempat dimana Ran sekolah dulu mulai dari SD hingga SMA.

" Haah, sepertinya ini akan mudah. Setidaknya ia mendapatkan apa yang diinginkan."

Raga bergumam lirih. Ia lalu menyalakan mobilnya dan segera pergi meninggalkan kantor pengacara milik Ran. Bagi Raga memilih Ran sebagai pengacaranya sepertinya adalah pilihan yang tepat. Ia bisa lebih mudah dalam meminta bantuan.

Tidak sia-sia juga dia mencari tahu soal kantor itu. Nama Abinawa yang ia dapatkan tentu langsung menjadikan sebuah petunjuk. Siapa yang tidak mengenal nama itu, bahkan pemilik sekolah dimana tempat ia bekerja juga memiliki hubungan pertemanan yang baik dengan keluarga Abinawa.

Tapi sebenernya bukan itu masalahnya. Alasan sesungguhnya bagi Araga memilih Kieran sebagai pengacaranya ya karena Ran adalah muridnya dulu. Dia merasa nyaman saja ketika Ran lah yang menangani kasusnya. Terlebih alasan istrinya meminta cerai adalah karena dia impoten.

Rasanya Raga tidak malu saat Ran mengetahui hal tersebut. Dari masa sekolah Ran adalah murid yang baik. Dia juga acuh terhadap urusan orang lain. Dan meskipun keluarganya adalah keluarga kaya, anak itu tetaplah rendah hati dan mau bergaul dengan siapa saja. Ini lah yang membuat Raga yakin mempercayakan kasusnya kepada Ran.

" Impoten? Haah, mengapa juga bisa begitu," gumam Raga lirih sambil melihat kebawah. Melihat benda miliknya yang berada tepat di antara dua paha. Ia menggelengkan kepalanya pelan, rasanya tidak menyangka jika impoten menjadi alasan dirinya akan bercerai.

Araga membuang nafasnya kasar. Ia tidak tahu mengapa dirinya seperti itu. Padahal ia yakin miliknya baik-baik saja. Setiap pagi pun selalu beraksi layaknya pria normal pada umumnya. Tapi ketika melihat tubuh istrinya, benda miliknya itu tidak beraksi apapun. Dan ia sama sekali tidak punya keinginan untuk menyentuh.

" Mas, aku menikah denganmu juga karena ingin mendapatkan nafkah batin. Tapi sampai berbulan-bulan menikah kamu tetap tidak bisa memberikannya. Kenapa mas? Apa ada yang salah dengan mu?"

" Maaf."

Ya, hanya kata itu yang muncul dari bibir Raga saat istrinya menanyakan tentang dirinya yang tidak juga melakukan tugasnya sebagai suami di ranjang. Dan pada akhirnya Rena mengajukan gugatan untuk bercerai. Sekarang wanita itu bahkan sudah pulang ke rumah kedua orang tuanya. Jadi bisa dikatan saat ini mereka sudah pisah rumah.

Raga juga sudah mengembalikan Rena kepada ayah dan ibunya. Karena dulu dia meminta baik-baik maka ia pun mengembalikan dengan cara baik-baik pula.

Kedua orang tua Rena sempat marah kepada Raga, tapi ia hanya diam dan tidak melakukan pembelaan apapun. Biarlah dirinya yang disalahkan atas gagalnya pernikahan ini.

Ckiit

Mobil Raga sudah berada di tempat parkir khusus guru. Ia tersenyum lebar ketika memandang gedung sekolah. Ya, murid-murid adalah salah satu penghiburan buat dia ketika tengah merasa kesuh dengan permasalahan yang ia hadapi.

" Selamat pagi Pak Raga, tumben ini baru datang?" sapa salah satu security.

" Iya Pak, tadi saya ada keperluan, jadi. Izin terlambat. Ya sudah pak saya masuk dulu ya."

Raga membalas sapaan itu dengan ramah, ya dia memang terkenal sangat ramah. Hal tersebut sudah diketahui oleh semua orang yang ada dilingkungan DIS. Apalagi Raga juga lumayan lama mengajar di sana. Ia mulai mengajar di DIS dari umurnya 23 tahun, dan sekarang umurnya sudah 36 tahun jadi Raga sudah berada di sekolah itu selama 13 tahun lamanya. Maka dari itu orang-orang jelas mengenal Raga dengan baik.

" Jadi, apa kamu beneran bakal pisah Ga?"

" Ya begitu lah."

Saat ia baru sampai di ruangannya, seorang rekan guru menghampiri Raga. Tito, dia adalah guru matematika yang lumayan dekat dengan Raga. Meskipun Tito baru 5 tahun bergabung di DIS, hubungan mereka memanglah sangat baik. Keduanya sering melakukan banyak kegiatan bersama salah satunya mendaki. Memiliki hobi yang sama membuat mereka cepat akrab. Usia mereka berdua juga tidak terpaut jauh yakni hanya 3 tahun. Raga lah yang lebih tua dari Tito.

" Apa nggak mau di omongin dulu gitu? Tapi mau apa juga yang diomongin kalau begitu."

" Doi udah nggak mau sama aku. Ya udah, kabulin saja maunya dia. Lagi pula aku beneran nggak bisa ngasih apa yang dia mau."

Tito hanya mendesahkan nafasnya kasar, ia tahu seperti apa temannya itu. Jika memang Raga sudah memiliki keputusan yang pasti, ia pun tidak akan bisa berkata apa-apa. Tapi satu hal yang pasti bahwa ia tahu temannya adalah orang yang baik.

" Aku percaya sama kamu Ga, karena aku tahu siapa kamu."

" Thanks To. Ya udah aku ke kelas. Anak-anak hari ini ulangan."

Tito menganggukkan kepalanya kecil. Tapi setelah Raga menghilang dari kantor guru, ia mengepalkan tangannya erat. Rasanya ia ingin marah sebenarnya terhadap istri Raga. Hanya saja Tito menahannya. Lagi pula itu urusan rumah tangga mereka, yang mana jelas tidak bisa ia campuri.

Ada sedikit rasa sesal dari diri Tito. " Kamu orang baik Ga, kamu pria yang baik. Tapi kenapa harus nikah sama wanita model begitu. Kelihatan aja mukanya kalem tapi beuuh kelakuannya bikin ngelus dada."

Tito bicara sendiri, ia mengusap wajahnya kasar lalu berdecak. Namun detik selanjutnya ia meyakini bahwa apa yang terjadi memang sudah menjadi bagian perjalanan hidup sang teman. Padahal Tito adalah orang yang paling bahagia saat Raga menikah. Tapi ternyata semua tidak sesuai yang dibayangkan.

Toto pun siap menjadi saksi nantinya jika dibutuhkan dalam persidangan, namun Raga menolak, dia hanya ingin pisah secara baik-baik tanpa adanya adu urat. Raga tidak mau hubungan akan menjadi rusak. Jadi biarlah dia yang menjadi objek kesalahan di sini.

" Semoga kamu mendapatkan wanita yang baik Ga. Kau orang baik, jadi aku yakin kau pun akan mendapatkan pendamping yang baik juga. Haaish anak itu, kesal kali aku dibuatnya karena terlalu baik sama orang."

Tito berdoa tulus dalam hati. Ia mengenal Raga dengan sangat baik. Meskipun belum lama, tapi ia selalu mengharapkan Raga memiliki pendamping yang baik nantinya.

TBC

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Itu berarti barang mu tau beda nya barang ory dan barang rongsokan,mungkin kali ya..😄

2024-12-15

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Nikah bukan karena dijodohkan....kok g nafsu...🤔🤔🤔

2024-12-06

0

Lies Atikah

Lies Atikah

kok bisa gak bangun Ga

2024-12-05

0

lihat semua
Episodes
1 DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2 DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3 DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4 DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5 DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6 DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7 DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8 DDI 08: Cantik
9 DDI 09: Kegilaan
10 DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11 DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12 DDI 12: Selesai
13 DDI 13: Semangat Ketemuan
14 DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15 DDI 15: Curhat Bareng Abi
16 DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17 DDI 17: Puncak Bogor
18 DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19 DDI 19: Ada Yang Panas
20 DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21 DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22 DDI 22: Tamu Menyebalkan
23 DDI 23: Ternyata
24 DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25 DDI 25: Maafin Aku, Ga
26 DDI 26: Benzy Danurwendra
27 DDI 27: Aku Nggak Mau
28 DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29 DDI 29: Gue Ditembak?
30 DDI 30: Dua Lawan Enam
31 DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32 DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33 DDI 33: Nengokin Korban
34 DDI 34: Kabar Buruk
35 DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36 DDI 36: Perjuangin Ga!
37 DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38 DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39 DDI 39: Awas Bangun!
40 DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41 DDI 41: Tertangkap
42 DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43 DDI 43: Minta Doanya Ya
44 DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45 DDI 45: Siapa Dia
46 DDI 46: Saingan Ran Kah?
47 DDI 47: Anakmu Pulang
48 DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49 DDI 49: Kegalauan
50 DDI 50: Sebuah Keputusan
51 DDI 51: Rencana Balik Ran
52 DDI 52: Joni Aman Banget
53 DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54 DDI 54: Mari Selesaikan
55 DDI 55: Ultimatum Ran
56 DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57 DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58 DDI 58: Duda Masih Perjaka
59 DDI 59: Yang Sederhana Saja
60 DDI 60: Semoga Bahagia
61 DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62 DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63 DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64 DDI 64: Mancing
65 DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66 DDI 66: Sedikit Ricuh
67 DDI 67: Keminderan Raga
68 DDI 68: Mencari Bukti
69 DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70 DDI 70: Grebek
71 DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72 DDI 72: Pak Guru Suamiku
Episodes

Updated 72 Episodes

1
DDI 01: Hanya Ingin Cerai
2
DDI 02: Kamu Orang Baik, Ga
3
DDI 03: Merasa Ada Yang Aneh
4
DDI 04: Berkamuflase Itu Melelahkan
5
DDI 05: Oh Gitu Ceritanya
6
DDI 06: Apa Ada Jodoh yang Tertunda?
7
DDI 07: Bukan Sambel, Tapi Kamu :D
8
DDI 08: Cantik
9
DDI 09: Kegilaan
10
DDI 10: Gebrakan Raga, apa itu?
11
DDI 11: Jangan Berlagak Paling Menderita
12
DDI 12: Selesai
13
DDI 13: Semangat Ketemuan
14
DDI 14: Selamat Sudah Jadi Duda
15
DDI 15: Curhat Bareng Abi
16
DDI 16: Menjemput Gadis Cantik
17
DDI 17: Puncak Bogor
18
DDI 18: Pesona DuRen MaTeng
19
DDI 19: Ada Yang Panas
20
DDI 20: Panggil Mas Juga Boleh
21
DDI 21: Kira-kira Siapa ya?
22
DDI 22: Tamu Menyebalkan
23
DDI 23: Ternyata
24
DDI 24: Perasaan Apa Ini?
25
DDI 25: Maafin Aku, Ga
26
DDI 26: Benzy Danurwendra
27
DDI 27: Aku Nggak Mau
28
DDI 28: Semuanya Terkejut :D
29
DDI 29: Gue Ditembak?
30
DDI 30: Dua Lawan Enam
31
DDI 31: Sedikit Denial Tapi Akhirnya Panik
32
DDI 32: Dilarikan Ke Rumah Sakit
33
DDI 33: Nengokin Korban
34
DDI 34: Kabar Buruk
35
DDI 35: Ini Bisa Membuktikan Lho
36
DDI 36: Perjuangin Ga!
37
DDI 37: Maaf, Seharunya Kamu Tidak Terlibat
38
DDI 38: Mungkin Raga Nggak Impoten
39
DDI 39: Awas Bangun!
40
DDI 40: Run Raga ... Run!!!
41
DDI 41: Tertangkap
42
DDI 42: Kapan Bawa Orangtua?
43
DDI 43: Minta Doanya Ya
44
DDI 44: Saya Tidak Akan Menyesal
45
DDI 45: Siapa Dia
46
DDI 46: Saingan Ran Kah?
47
DDI 47: Anakmu Pulang
48
DDI 48: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
49
DDI 49: Kegalauan
50
DDI 50: Sebuah Keputusan
51
DDI 51: Rencana Balik Ran
52
DDI 52: Joni Aman Banget
53
DDI 53: Berangkat Ke Jakarta
54
DDI 54: Mari Selesaikan
55
DDI 55: Ultimatum Ran
56
DDI 56: Selamat Datang Bapak Ibu
57
DDI 57: Biar Jadi Kejutan
58
DDI 58: Duda Masih Perjaka
59
DDI 59: Yang Sederhana Saja
60
DDI 60: Semoga Bahagia
61
DDI 61: Bukannya Udah Pernah, Jangan Grogi
62
DDI 62: Siap Bertugas Malam Ini
63
DDI 63: Lanjut Aja, Nanggung
64
DDI 64: Mancing
65
DDI 65: Ada Yang Mau Main-Main
66
DDI 66: Sedikit Ricuh
67
DDI 67: Keminderan Raga
68
DDI 68: Mencari Bukti
69
DDI 69: Menggoda Suami Yang Sedang Insecure
70
DDI 70: Grebek
71
DDI 71: Nikmatilah Waktu Mu
72
DDI 72: Pak Guru Suamiku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!