"Aigo. Kau tidak apa-apa?" ujar Chanyeol tampak khawatir, aku mengangguk pelan. Chanyeol pun membantu ku berdiri tegak, akan tetapi tiba-tiba kakiku terasa sakit.
"Aws." Aku meringis sakit pada kaki ku yang susah ku gerakan.
"Kenapa kaki mu sakit?" Aku mengangguk. Dia pun membantu ku untuk duduk di sisi tangga. Dia berjongkok dan memperhatikan kaki ku dengan seksama.
"Sepertinya kaki mu terkilir, biar aku antar kamu ke rumah sakit."
"T-tapi?"
Chanyeol lantas berbalik badan dengan posisi yang sama. Dia pun menepuk bahu nya. "Ayo naik. Kamu pasti kesulitan berjalan kan? Ayo aku gendong." ujar nya.
Aku malah bergeming, tentu aku sangat gugup. Mana bisa aku tiba-tiba naik ke punggung lebar nya, selain bukan muhrim dan aku merasa gak enak juga.
"Gak apa-apa, naik aja. Lagian, kalau kaki mu di biarkan begitu saja nanti bakal tambah bengkak. Jadi ayo naik, biar aku antar kan kamu ke rumah sakit."
Aku masih saja terdiam. "Ck, ayo!" Dia refleks mengalungkan kedua tangan ku ke pundak nya.
"Eh --." Gerak cepat nya membuatku kaget. Dia pun segera berdiri dan membawa ku di gendongan nya.
"Chanyeol-ssi? Rasanya i-ni berlebihan." ujarku ketika dia kini telah melangkah kan kaki panjangnya.
"Oppa?" panggil ku lagi, karena Chanyeol hanya terdiam.
"Ck, gak usah protes! Aku tidak akan menculik mu."
Aku pun hanya pasrah, membiarkan dirinya membawa ku pergi. Lagian, mau meronta minta turun juga gak bisa, mengingat kondisi ku yang seperti ini.
Mana mungkin juga kan seorang Chanyeol berbuat yang enggak-enggak, secara dia idol dan mana mungkin tertarik pada seseorang seperti aku. Aku pun mengusir semua pikiran buruk, jantung ku yang berdebar kencang membuatku membisu seribu bahasa.
Akhirnya kami pun sampai di mobil nya, aku di masukan ke kursi depan. Setelah memasang kan seat belt untuk ku, Chanyeol berlari kecil menuju pintu kemudi.
Aku terus memperhatikan gerak-gerik nya, rasanya seperti mimpi. Allah begitu banyak memberiku hadiah, apa aku harus senang sekarang? Atau kah khawatir? Bila suatu hari nanti kebahagiaan ini hanya sementara waktu dan pada akhirnya aku di uji lagi?
Kami telah sampai di rumah sakit, dengan gerak cepat Chanyeol membantuku turun dari mobil. Kini Chanyeol telah siap untuk menggendong ku.
"Chanyeol-ssi, aku jalan saja. Gak enak kalau di liatin banyak orang. Kalau di apartemen cukup sepi, sedangkan di sini banyak orang yang berlalu lalang."
"Tidak perlu mengkhawatirkan itu. Yang terpenting sekarang kamu bisa di tangani dengan cepat."
"Tapi -- anda adalah seorang idol, bagaimana kalau ada paparazzi?"
"Tidak akan. Rumah sakit ini sering di datangi oleh para aktris-aktor lain, sistem keamanan nya ketat jadi kamu tidak usah cemas."
"Serius?"
"Hm ... Ayok cepat." Dengan rasa sungkan, aku mau tak mau naik ke atas punggung lebar nya.
Dengan segera aku menutupi wajah ku di balik punggung lebar nya, aku masih khawatir jika nanti ada paparazi dan membuat berita tidak baik pada Chanyeol.
Setelah aku masuk ke rumah sakit, aku langsung di tangani dengan cepat oleh dokter di sana. Kaki ku langsung di kompres oleh air es, setelah itu di perban dan di gantung setinggi pinggul ku.
"Bagaimana, Dok, keadaan nya? Apa cideranya nya parah?"
"Untung nya langsung cepat di tangani, sehingga cidera nya tidak terlalu parah. Cukup istirahat total selama 2-3 hari, maka cidera nya akan membaik. Saya sudah meresepkan obat untuk pereda nyerinya, nanti bisa di tebus di apotek."
"Ne, gamsahabnida uisanim! (Terimakasih dokter!" ujar Chanyeol dan aku.
"Ye. Semoga lekas sembuh. Kalau begitu saya pamit." Setelah kepergian dokter pria itu, kini di ruang inap ini hanya ada kita berdua.
"Eum ... Chanyeol-ssi, Gamsahabnida!"
"Ye, kamu istirahat dulu. Saya tinggal sebentar."
"Eum ... Maaf, apa bisa ruang inap nya di ganti? Ini terlalu mewah?"
"Tidak perlu, ruang inap yang nyaman akan membuat pasien cepat sembuh."
"Benarkah?" Sebenarnya memang iya sih, aku merasa sangat nyaman berada di ruang inap VVIP ini. Tapi, aku cukup tahu diri merasa tidak cocok di istimewa kan oleh seorang Chanyeol. Meskipun aku tahu kalau dia adalah idol kesayangan ku.
Chanyeol mengangguk pelan. "Iya, jadi kamu tidak boleh menolak kebaikan ku."
"Tapi, ini cukup berlebihan. Aku menjadi tidak enak, aku berjanji akan mengganti semua ini."
Chanyeol menyunggingkan senyum."Tidak apa-apa, saya sedari awal berniat menolong kamu."
"Tapi, aku tidak enak hati untuk menerima ini."
"Oke, kalau begitu kamu bisa mentraktir ku dengan secangkir kopi untuk semua ini."
"Secangkir kopi? Itu tidak sebanding." Aku menekuk wajah ku, tidak setuju dengan perkataan nya
"Aku melakukan hal ini dengan ikhlas, jadi jangan merasa terbebani. Jika kamu merasa aku hanyalah orang asing, maka kita bisa mulai berteman. Hal itu mungkin cukup membuatmu cukup nyaman."
Nyaman? Tentu aku sangat nyaman, apalagi dulu kita sering bertukar kabar. Kenapa dia tidak mengenaliku? Apa dia benar-benar sudah melupakan ku?
"Baiklah, aku setuju. Lain kali aku akan mentraktir mu makan enak."
"Setuju." ujar Chanyeol dengan tersenyum lebar.
"Ya sudah, saya pergi ya. Sekalian saya mau beli makanan, kamu mau apa biar sekalian."
"Tidak perlu repot-repot, chanyeol-ssi."
"Saya tidak merasa di report kan, kok." Chanyeol selalu sebaik ini, membuat ku begitu senang. "Nanti kan kamu harus minum obat, otomatis harus makan dulu." ujarnya memberi tahu.
Aku menggeleng pelan. "Tidak perlu repot-repot, nanti aku bisa makan makanan rumah sakit." Aku memilih untuk menolak kebaikan nya, bukan tak suka. Hanya saja aku tidak ingin terus merepotkan nya.
"Yang benar?"
"I-ya."
"Saya belikan saja ya, biar terjamin. Makanan halal kan?" Eh iya, Aku baru teringat kalau ini Korea, aku harus lebih hati-hati untuk menyantap makanan. Aku bersyukur karena Chanyeol sangat perhatian.
"Baiklah, terimakasih banyak Chanyeol-ssi. Maaf selalu merepotkan anda!"
"Tidak masalah." Chanyeol pun pergi meninggalkan aku sendiri.
Setelah kepergian Chanyeol, aku menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. Aku ingin menghubungi Suga tentang keadaan ku, tapi aku takut mengganggunya yang kini pasti tengah latihan.
Jadi aku mengurungkan niat, aku akan kasih kabar ini saat dia menghubungi ku saja, pada akhirnya aku memilih untuk istirahat karena rasa sakit di kaki ku benar-benar mengusikku dan membuatku lemas.
Aku pun terlelap tidur, sampai beberapa waktu berlalu -- bahu ku di tepuk oleh seseorang.
"Hei, bangunlah! Kamu harus makan dan minum obat." suara itu membuatku perlahan membuka mata.
"Eh, Chanyeol-ssi." ucap ku, ketika sosok Chanyeol kini telah duduk di samping brangkar ku.
"Apa aku sudah lama tertidur?" ujarku padanya.
"Cukup lama, sekitar 3 jam an."
"Hah?!" Aku tampak kaget karena sudah tidur cukup lama.
"Maaf aku tidak membangunkan mu, tadi kamu tertidur begitu lelap. Aku jadi tidak enak membangun kan."
"Tidak apa-apa."
"Maaf telah merepotkan mu." ujarku yang kini tengah melihat Chanyeol sibuk menuangkan sup kedalam mangkuk.
"Tidak masalah. Eh, iya kamu di sini tinggal dengan siapa? Apa perlu aku memberi tahu mereka?"
"Aku tinggal dengan majikan ku, tidak apa-apa nanti juga dia akan menghubungi ku."
"Kamu bekerja di Hannam the hill?"
"Ye."
"Siapa majikan mu?"
"Eum ... Itu, dia---." Saat aku ingin jujur tiba-tiba suara handphone ku berdering.
"Sebentar saya ambilkan, sepertinya ada yang menelepon mu."
"Ne, gamsahabnida."
"Ye, hallo." ujarku ketika mengangkat telepon.
"Kamu ada di mana? Kenapa tidak ada di apartemen?"
"Eum ... Aku ada di rumah sakit."
"Ngapain kamu di sana?"
"Kaki ku keseleo, jadi aku di bawa seseorang ke rumah sakit.
"Share lok, saya akan segera ke sana."
"Ne."
setelah panggilan terputus. Aku segera mengirimkan lokasi kepada Suga.
"Siapa? Bos mu?" tanya Chanyeol yang sedari tadi menyimak.
"Hehe. Ne."
"Mau kesini?"
"Iya."
"Oh, ya sudah ayo makan. Biar saya suapi." ujar Chanyeol yang kini telah membawa semangkuk sup di tangan nya.
"Tidak perlu, saya bi --."
"Sini. A ....!"
Dan pada akhirnya, aku mau juga di suapi oleh Chanyeol. Mengingat diriku yang keadaan nya tengah terbaring dan tidak memungkinkan makan sendiri.
Aku pun menghabiskan satu mangkuk sup itu sampai tandas tak tersisa."Gamsabnida."
"Hm ... Oh, iya dari mana kamu tahu namaku?"
"Haha. Tentu saya tahu, kamu kan seorang idol." ujarku dengan tertawa kecil.
"Iya sih. Tapi, wajahmu tampak familiar." Chanyeol menatap ku dengan begitu lekat -- menyelidiki wajahku seperti tampak mengingat sesuatu."
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Chanyeol dengan mata menyelidik.
"Apa anda merasa kenal dengan saya, Chanyeol-sii?" Aku bertanya dengan hati yang berbunga-bunga, aku cukup senang karena Chanyeol mulai mengenaliku.
"Hm ... sepertinya begitu. Coba katakan siapa nama mu?" tanya Chanyeol yang sedari tadi tak beralih pandang dari ku. Hal itu membuat debaran jantung ku begitu kuat.
"Kita memang pernah bertemu beberapa kali dan kita sempat berkomunikasi." Aku mulai jujur padanya. Aku berharap dia benar-benar dapat mengenaliku.
"Wah benarkah, kapan?" Chanyeol tampak penasaran.
"Beberapa tahun yang lalu, saat fanmeeting, konser dan video call."
"Wah benarkah? Siapa nama mu?" Kini Chanyeol tampak antusias.
"Eltyas."
"Eltyas yang dari Indonesia?" ujar nya dengan binar bahagia.
Aku mengangguk pelan.
"Astaga kamu El? Maafkan aku yang tidak mengenali mu dari awal."
"Tidak apa-apa. Aku senang ketika anda mulai mengenali ku lagi." Aku tersenyum manis.
Aku memang sedikit kecewa karena dia baru mengenaliku, tapi ya gapapa sih. Dia kan seorang idol yang fans nya banyak. Aku bisa memaklumi nya.
"Sekali lagi maaf. Penampilan mu berbeda, sehingga aku tidak mengenali mu." Ah, iya aku baru sadar. Kalau saat ini aku telah berhijab.
"Kenapa kamu tidak bilang sejak awal kalau kamu itu El?"
"Hanya ingin tahu saja, anda masih mengenali ku atau tidak. Dan ... saya cukup senang karena sekarang anda mengingat ku." Aku tertawa renyah.
"Aigo, maaf ya. Aku benar-benar lupa. Soalnya akhir-akhir ini aku jadi jarang lihat kamu."
"Kamu kemana saja sih? Sampai gak ada kabar lagi. Sudah sekian lama kita malah di pertemukan dengan penampilan mu yang kini telah berbeda. Kamu begitu cantik dengan hijab mu itu." puji nya.
Aku pun tersenyum malu. "Iya, sejak 3 tahun yang lalu aku memang terlalu fokus bekerja. Jadi, gak sempet nonton konser kalian. Maaf ya, sebagai Exo-L aku memang tidak seroyal itu."
"No problem, aku malah senang ketemu kamu di sini. Ku kira kamu sudah melupakan kami."
"Tentu tidak, aku sudah jadi bagian dari kalian dari 10 tahun. Jadi, mana bisa aku lepas begitu saja. Dan melupakan kalian."
"Ah, aku jadi terharu. Kenapa kalau ada di Korea tidak menghubungi ku?"
"Mana bisa aku menghubungi anda begitu saja. Nomor anda saja aku tidak punya."
"Kok, bisa? Kita sempat video call an kan?"
"Memang, tapi aku tidak berani menghubungi mu lebih awal. Lagi pula, kamu pasti sibuk kan."
"Ya sudah, mari kita bertukar kabar kembali."
"Wah, benarkah?"
"Hm ...."
"Apa tidak masalah?"
"Tentu tidak, selama berkomunikasi dengan wajar. Coba pinjam ponsel mu."
Chanyeol pun melakukan panggilan suara pada handphone nya sendiri.
"Aku sudah menyimpan nya, jadi mari kita saling berkabar."
"Baik lah."
Tak berapa lama, Suga datang dan dia terlihat sangat panik.
"Chanyeol?"
"Hai Suga?"
"Kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Aku yang menolong, El."
"El?" tanya Suga memastikan.
"Eltyas."
"Terimakasih telah menolong karyawan ku."
"Oh, jadi kamu atasan nya, El. Ya, sudah kalau begitu saya pamit, berhubung sudah ada kamu di sini."
"El, aku pulang dulu ya. Semoga lekas sembuh."
"Ne, terimakasih banyak ceye oppa."
"Oke." Chanyeol pun pergi meninggalkan kita berdua.
Setelah Chanyeol pergi, Suga pun berjalan dan duduk di kursi dekat brangkar ku.
"Kenapa kamu begitu teledor?"
"Maaf."
"Lain kali hati-hati."
"Iya."
"Ada hubungan apa dengan Chanyeol?"
"Hanya sebatas idol dan fans."
"Benarkah? Tapi, dari sorot matanya lebih dari itu." sindir Suga dengan wajah yang kini terlihat tidak ramah.
"Apa maksud anda?"
"Tidak perlu di pikiran kan." Aku pun menghela nafas dalam, saat mode kulkas nya balik lagi.
"Kamu jatuh dimana?"
"Dekat taman."
"Kata dokter gimana?"
"Tidak terlalu parah. Hanya perlu istirahat 2-3 hari."
"Sudah makan?"
"Sudah,
"Minum obat?"
"Belum."
"Oke, minum obat dulu." Setelah itu Suga pun memberiku obat.
"Kenapa gak bilang ke saya dari awal."
"Takut ganggu."
"Kamu tanggung jawab saya bukan Chanyeol."
"Iya maaf."
"Setelah kamu sembuh, kamu akan kerja di lab genius."
"Lab genius?" Aku tak menyangka atas keputusan Suga.
"Aku perlu asisten tambahan, karena world tour ku sebentar lagi."
"Baiklah."
"Setelah world tour ku selesai, aku akan menempati janjiku untuk memperkenalkan kamu ke seorang penulis."
"Benarkah?" Aku tampak berkaca-kaca, karena ini benar-benar kabar bahagia.
"Iya, selama aku belum dapat pekerjaan lain. Jadilah asisten ku."
"Asisten atau chef?"
"Dua-duanya."
"Baiklah. Terimakasih."
Aku tersenyum bahagia, rasa sakit ku kini seolah tidak terasa.
BERSAMBUNG....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments