Bab 9 Hentikan, Suga-ssi! Saya malu!

Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, saking asyiknya kami bertelepon dengan mamaku, membuat kami lupa waktu. Setelah telepon berakhir kami pun pergi dari sana dengan berjalan beriringan.

"Ini adalah terakhir saya bersenang-senang, setelah beberapa hari ke depan saya akan sibuk." ujar Suga, di sela perjalanan kita.

"Sibuk untuk persiapan World tour ya?" tanya ku memastikan.

"Iya. Kamu sudah berapa lama menjadi Army?" Dia bertanya sambil melihatku ke bawah. Aku yang 20 cm lebih pendek darinya lantas menengadah kan wajahku ke arah nya. Itu membuatku tak nyaman dan sepertinya dia juga.

"Tepat satu tahun. Bulan Maret tahun 2022 -- aku mulai mengenal BTS dan sekarang sudah Maret 2023. Waktu benar-benar cepat berlalu, gak kerasa udah satu tahun aja aku menyukai kalian." Aku berkata dengan semuringah.

"Apa yang kamu sukai dari kami?"

"Banyak hal, salah satunya aku bisa mencintai diriku sendiri berkat motivasi kalian."

"Memang sebelumya kamu tidak mencintai dirimu sendiri?"

"Cinta, tapi aku lebih mementingkan perasaan orang lain daripada diriku sendiri."

"Sekarang bagaimana?"

"Aku terus belajar untuk mencintai diriku sendiri dengan caraku, meskipun rasa tidak enak pada orang lain itu belum sepenuhnya aku hilangkan."

"Merasa tidak enak boleh, asal jangan berlebihan. Intinya jangan karena kamu merasa tidak enak pada orang lain, kamu mengorbankan perasaan mu sendiri."

"Iya, aku akan terus belajar untuk itu."

"Siapa yang pertama membuat mu menjadi Army?"

"Jungkook oppa dan anda lah yang membuatku tidak bisa keluar dari zona nyaman ini."

"Saya? Kenapa saya?"

"Saya menemukan sesuatu yang berbeda dalam dirimu-- Min Yoongi-ssi. Hari ini pun saya menemukan nya."

"Hal apa yang kamu temukan?"

"Sifat hangatmu dan kepedulian kamu. Mohon maaf sebelumnya! Aku kira kamu sosok dingin yang cuek, ternyata di samping sifat dinginmu itu -- kamu sosok orang yang peduli."

"Kamu belum tahu semua sifatku." ucap nya.

"Seseorang bisa dengan mudah menyembunyikan sifatnya dari publik atau secara terang-terangan memperlihatkan nya. Tetapi, berbeda dengan kepribadian, seseorang bisa di lihat kepribadian nya itu dengan tindakan yang dia lakukan. Walaupun tidak secara mudah untuk meng klaim, tapi kepribadian lebih bisa di amati daripada sifat seseorang. Maka dari itu jangan sampai salah mengira sifat seseorang." terang Suga. Hal itu membuat ku takjub, karena Suga telah mau berbicara panjang lebar padaku.

"Baik Yoongi-ssi saya mengerti."

"Kalau boleh tahu umurmu berapa tahun?" tanya nya lagi. Aku merasa senang, kita mulai mengobrol banyak.

"27 tahun, baru ulang tahun tanggal 9 Maret kemarin." Aku menjawab dengan antusias.

"Tanggal 9? Kok sama kayak saya?"

"Iya, kok bisa sama ya. Tapi, tahun nya yang beda. Aku kelahiran tahun 1997." Aku menjelaskan.

"Eum ... sama kayak, Kokki."

Ke asikan mengobrol, tak terasa kita sudah sampai rumah lagi. Padahal sebelumnya aku merasa kelelahan ketika pergi ke sana, tapi sekarang aku sama sekali tidak cape. Apa itu karena Suga ya? Sepertinya iya, deh. Hehe.

"Aku duluan ya, Yoongi-ssi. Gerah mau mandi." Aku pamit padanya.

"Silahkan."

Baru saja aku hendak pergi dia berkata.

"Tunggu, Eltyas-ssi!" ucap suga sambil melingkarkan jaket nya tepat di pinggang ku. Aku merasa heran.

"Ke --?" Baru saja hendak bicara, dia langsung memotong kalimat.

"--- jangan di lepas sampai ke kamar mu!" Suga memperingatkan.

"Loh ... Ke---?" Lagi-lagi aku ingin berkomentar, dia sudah berlalu pergi begitu saja.

"Suka banget bikin anak orang baper." gumamku seraya memandang punggung lebarnya beberapa saat.

Seketika aku kepikiran kesana, aku pun tampak gelisah. "Apa? Gak mungkin kan kalau a --?" Sebelum aku melanjutkan kalimat, aku langsung lari terbirit-birit menuju kamar ku.

"Eltyas-ssi! Kenapa kamu berlarian?" komen Jungkook yang melihat ku melewati nya.

"Kebelet pipis!" teriak ku. Orang-orang di sana tampak tertawa. 'Duh, bodoh sekali aku. Kenapa aku bilang seperti itu.' gerutu ku tampak menyesal sekaligus malu.

Setelah aku masuk ke dalam kamar, aku langsung mengunci pintu dengan cepat. Dengan tergesa-gesa aku menyimpan ponsel ku di atas nakas, dan sergap masuk ke dalam kamar mandi.

"Astaga!" Aku kaget melihat penampakan di rok ku. Warna cream itu mempunyai corak merah yang melingkar.

"Ah, sial!" gumamku yang tampak frustasi. Setelah melihat noda darah di rok panjangku.

Aku malu setengah mati setelah menemukan fakta bahwa Suga yang melihat itu. Bagaimana aku bisa bertemu dengan Suga setelah ini? ah aku malu bukan main karena merasa diri ini begitu teledor.

Setelah mandi aku masih mengurung diri di kamar, ingin rasanya pergi ke luar. Rasa haus yang sedari tadi ku tahan membuat tenggorokan ku begitu kering. Apalagi, tadi aku sempat menahan jeritan ku, hal itu membuat tenggorokan ku semakin kering dan terasa sakit.

Aku masih bimbang untuk ke luar kamar, tapi rasa haus dan rasa tanggung jawab sebagai chef membuat aku memberanikan diri untuk ke luar.

Saat aku ingin beranjak, dengan tiba-tiba perutku terasa sakit -- membuat aku meringis. Fase sakit perut karena datang bulan ini benar-benar mengusik ku, datangnya benar-benar tidak tepat.

Dengan menahan rasa sakit aku mencoba berjalan ke luar kamar, aku membuka pintu secara perlahan dengan satu tangan karena tangan kiri ku memegang erat perutku yang terasa sakit.

Aku menoleh ke kiri-kanan untuk memastikan tidak ada orang di sini, apalagi suga rasanya aku sama sekali tidak ingin bertemu dengannya.

Tapi, nasib berkata lain. Baru saja aku ingin melangkahkan kaki ku keluar -- Husky voice itu menahan langkahku. Aku langsung mematung di tempat dengan jantung yang mulai tak tentang. 'Malu!' ku tundukan kepalaku dengan cepat.

"Hei!" panggil nya. Aku membisu.

"Kenapa kamu mengendap-endap seperti pencuri?" tanya Suga. Aku masih tak angkat suara. Dia berdiri tepat di depanku. Aku memaku.

"Hei!" panggilnya lagi, dia sekarang tampak kesal karena ku acuhkan.

"Y-ye Yoongi-ssi," aku menyahut dengan bibir bergetar. Gugup dan sakit sekarang kurasakan secara bersamaan. Tubuh ku gemetar karena berusaha keras untuk menyembuhkan rasa sakit ku di depan Suga.

"Kenapa tubuhmu gemetar? Kamu sakit?" tanya Suga. Dia merengkuh kan tubuhnya untuk melihat ke arahku. Aku pun segera memalingkan wajah darinya.

"Kalau di tanya itu jawab!" ucapnya, khas suara dinging nya sekarang mulai terasa.

"Y-ye, Suga-ssi. Maaf aku sedang menahan rasa sakit di perutku." ucapku, sebisa mungkin untuk tidak gugup dan menahan rasa sakit di perutku yang semakin kuat.

Yoongi terdengar menghela nafas dalam.

"Terus kamu mau kemana dengan kondisi mu seperti ini?" tanya Suga.

"Ke dapur untuk mengambil air hangat dan siap-siap memasak untuk kalian."

"Jangan memaksakan diri. Ayok masuk lagi ke kamar." suruhnya padaku.

"Tapi --."

"Ayo, masuk lagi ke dalam, sini biar saya bantu." ajak Suga, dia ingin memapah ku, tapi aku mengelak ketika dia akan menyentuh tanganku.

"M-maaf saya tidak berniat kurang ajar untuk menyentuhmu." ucap nya, sepertinya dia merasa tidak enak hampir menyentuh ku.

"Tidak apa-apa saya bisa sendiri, Yoongi-ssi." ucapku pelan.

"Ya sudah." aura dingin nya keluar lagi. Dia membiarkan aku berjalan sendiri, aku masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Suga dari belakang. Aku mendudukkan bokong ku ke atas ranjang.

"Tunggu sebentar, biar saya panggilkan dokter." Kata Suga, aku langsung melarangnya.

"Tidak perlu Yoongi-ssi. Saya baik-baik saja."

Yoongi menghela nafasnya sedikit kasar."Bagaimana kamu bilang baik-baik saja? Sedangkan wajahmu begitu pucat." sindir nya dengan wajah kesal.

"Eum ... Ini sakit biasa kok, hanya---" Aku menjeda ucapan ku yang merasa tidak enak bila -- aku bilang tengah datang bulan padanya. Aku malu mengingat hal yang tadi.

"Sakit apa?" tanya Yoongi cepat.

"S-sakit datang b-bulan." Akhirnya aku mengaku juga meskipun hanya berkata lirih.

"Apa?" Yoongi menyipitkan matanya dia terlihat tidak mendengar ucapanku.

"Eum -- anu ... hanya sakit karena datang bulan. Saya sering mengalami nya setiap bulan." Akhirnya aku jujur padanya, meskipun pipiku sekarang terasa terbakar karena malu sekali.

"Oh ... itu." ucap nya pelan, dia tampak mengingat kejadian tadi. Aku benar-benar di buat malu, aku memalingkan wajahku ke lain arah.

"Kamu butuh obat apa? Biar saya ambil kan." tanya nya.

"Tidak perlu Yoongi-ssi. Aku jarang mengkonsumsi obat apapun, cukup air hangat saja dan berbaring. Insyaallah akan mendingan."

"Efektif?" Yoongi tampak ragu dengan ucapan ku.

"Insyaallah efektif, biasanya itu yang saya lakukan setiap kali mengalami nya." Aku berkata jujur.

"Ya, sudah. Istirahat kan diri kamu." suruh nya. "Saya segera kembali." ucap nya lagi. Kemudian dia pergi meninggalkan aku.

Setelah kepergian yoongi aku terus berfikiran kemana saja. Aku tak bisa berfikir jernih saat kondisi ku yang seperti ini.

Tak lama kemudian. KRET! suara pintu terbuka. Aku menoleh ke sana, ternyata Yoongi.

Dia datang sambil membawa nampan berisi segelas air dan buah-buahan. Aku mengerutkan dahi, tampak berfikir kenapa yoongi membawa buah-buahan untuk ku. Hatiku langsung berbunga-bunga.

"Minumlah!" Dia menyodorkan satu gelas air putih hangat, aku langsung menerima nya dengan baik.

"Terimakasih." Setelah mengucapkan itu, aku langsung menegaknya sampai tandas.

"Haus?" tanya nya saat dia mengambil alih gelas di tanganku. Aku hanya nyengir kuda.

Dia menaruh gelas di atas nakas, lantas menggeser kursi rias di belakang nya. Aku terus memperhatikan nya. Dia mengupas apel yang di bawa begitu lihai, setelah itu dia memotong nya berukuran satu suap.

"Mau ku suapin atau kamu makan sendiri? tanya dia sambil menatapku.

"Sendiri saja. Maaf telah merepotkan anda." ucapku yang merasa sungkan dan senang secara bersamaan. Rasanya ingin terus di perhatikan oleh nya seperti ini.

Dia tidak memberiku apel itu atau menyuapiku, dia malah menarik tubuhnya ke dekatku lantas ber bisik. "Lain kali harus lebih hati-hati kalau datang bulan ya cantik!"

Deg! Aku langsung terkejut bukan main. Pipiku sangat terbakar. 'MALU!' Aku langsung menenggelamkan wajahku ke dalam selimut.

Sedangkan Suga dia malah tertawa begitu renyah, dia seperti meledekku habis-habisan.

"Hentikan, Suga-ssi! Saya malu!" Aku berucap sedikit berteriak. Tapi, Suga malah menghiraukan ucapku dengan tertawa semakin nyaring.

Aku kesal dan tertekan secara bersamaan.

To be continued ....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!