""Member mana yang kamu lihat sedang bertelanjang dada?" tanya Suga. Aku membisu.
"Jawab!"
"K-kamu." ucapku dengan ragu. Lantas berlari terbirit-birit dengan rasa malu.
Aku masuk ke dalam kamar, aura Suga membuatku merinding. Apalagi barusan dia sengaja bertelanjang dada saat menyapaku.
'Ah .... Frustasi aku lama-lama.'
Tak berlangsung lama, suara pintu pun terketuk.
Tok! Tok! Tok!
"Eltyas-ssi?" panggil seseorang di seberang sana. Suaranya mirip Jin.
Aku pun menghela nafas dalam dan panjang sebelum membuka pintu.
Ceklek! suara knop pintu ku putar.
"Ye. Seokjin-ssi." ucapku setelah berhadapan dengannya.
"Kenapa terus mengurung diri di kamar? Kamu tidak bosan?" tanya Seokjin. Aku pun tersenyum kikuk.
"Hehe, bosan sih. Tapi, bingung harus ngapain." aku menyahut pelan sambil menggaruk kepala tak gatal.
Selain bingung, aku juga sengaja mengurung diri di kamar karena tidak ingin berpapasan dengan Suga. Malu rasanya kalau ingat kejadian tadi, meskipun ya bisa di bilang rezeki nomplok. Tapi, akunya ya malu karena sudah terciduk haha. Terus dosa gak sih melihatnya? Selama gak ada syahwat ya gapapa kan? Lagian aurat laki-laki sampe pusar, eh. Wkwkwk.
"Mau bantuin saya masak?"
"Masak?"
"Buat makan siang, kimbab kamu gak bikin kenyang." rajuk Seokjin. "Tapi, enak. " pujinya.
Aku pun terkekeh mendengar penuturan Seokjin yang ekspresi wajahnya itu menggoda sekali, sampai membuat pipiku terasa panas.
"Boleh. Tapi, aku harus izin tuan Suga dulu."
"Suga pasti mengizinkan kok."
"Mengizinkan untuk apa?" tanya Suga tiba-tiba. Dia datang menghampiri kita berdua.
"Bikin makanan, semua member sudah pada lapar." jawab Seokjin.
"Terus kamu setuju?" tanya Suga padaku.
"Eum .... Iya, kalau Suga-ssi mengizinkan." Aku menyahut pelan dan hati-hati.
"Oke, saya izinkan. Jangan terlalu capek, kamu bekerja dengan saya bukan Seokjin." kata Suga. Aku pun mengangguk pelan."Ne, Suga-ssi.
Setelah perbincangan itu, aku dan Seokjin pergi ke dapur untuk memasak. Sedangkan Suga entah pergi kemana, sepertinya menghampiri member yang lain.
"Kita mau masak apa Seokjin-ssi?" tanyaku setelah kita sampai di pantry.
"Eum .... Sepertinya bibimbap enak." ucap nya, setelah tampak berpikir. "Kamu bisa membuat nya kan?" tanya Seokjin.
"Ne, saya sering membuat nya. Tapi, untuk rasanya saya kurang percaya diri -- takut tidak sesuai dengan lidah kalian." Aku menjawab dengan raut wajah ragu.
"Pasti cocok lah, kimbab buatan kamu saja habis tak tersisa." ujar nya. Aku pun merasa cukup lega.
"Ya, udah ayok kita mulai. Kamu cukup bantuin saya saja, untuk rasa biar saya yang check jika kamu masih ragu." Aku pun mengangguk setuju.
Seokjin oppa mulai membuat saus nya, dia mem parut bawang putih dan apel yang sudah dikupas, lalu di campurkan dengan gochujang, doenjang, kecap asin, minyak wijen, kaldu bubuk dan gula.
Sedangkan aku langsung mencuci semua sayuran untuk isiannya serta ayam fillet.
Kemudian aku mengiris wortel, timun jepang, jamur shitake, lalu memotong dadu ayam fillet. Setelah semua selesai, Seokjin oppa mengambil alih -- dia menumis bayam serta bahan sayur lainnya.
Aku terus memperhatikan nya dengan saksama, aku bukan hanya memperhatikan pasakannya tetapi lebih ke wajah tampan nya. Jarak sedekat ini membuatku hanyut dalam pesona Seokjin, meskipun detak jantungku yang sedari tadi mengganggu ku enyahkan saja.
'Aroma parfum yang menguar dari tubuhnya membuatku mabuk kepayang. Ah, sial imanku mulai goyah!'
"Tolong masak telur mata sapi 12 biji." suruh Seokjin padaku.
"Em ... Ne." ucapku cepat, lantas mengerjakan apa yang disuruh kan.
Setelah selesai, aku di suruh nya untuk memasak ayam, aku pun melaksanakan tugas dengan arahan nya dan meminta koreksi rasa padanya.
"Udah enak." puji Seokjin, aku pun tersenyum senang.
Akhirnya semua masakan kita pun selesai lebih cepat daripada memasak sendiri, apalagi keterampilan memasak Seokjin membuatku kagum. Rasanya lezat dan istimewa. 'ah senangnya bisa memasak bareng Seokjin oppa.' batinku girang.
Seokjin oppa mulai mem plating masakan yang kita buat, dia menyiapkan mangkuk besar, menaruh nasi dan bahan lain di atasnya kecuali telur ceplok buatanku dan saus bibimbap yang tadi dia buat -- semuanya di taruh di tempat terpisah.
"Wow .... Menggiurkan sekali." ucapku kegirangan.
"Jelas, dong. Pasakan saya memang selalu menggiurkan dan lezat." Aku nya begitu percaya diri.
Aku pun memberikan dua jempol padanya. "Kamu memang hebat Seokjin -ssi." pujiku seraya tersenyum.
Dia pun tertawa kecil. "Calon suami idaman kan? Kaya, tampan, pinter masak." Dia berbangga diri, aku pun terkekeh-kekeh. "Yang jadi calon istri Seokjin-ssi pasti beruntung." ucapku.
"Iya dong, sedari tadi kamu selalu memperhatikan saya. "Tertarik ya?" tanya nya sambil menaik-turunkan halisnya yang tebal, aku pun langsung bersemu merah.
"Hehehe, siapa yang tidak tertarik dengan namja worldwide handsome sepertimu." ucapku malu-malu. Dia yang ku puji langsung tertawa dan pipinya memerah.
'Ah ... pria tampan ini ternyata bisa salting juga ' ucapku dalam hati. Dia terus memandangku, membuatku semakin tersipu.
'Ah ... tampan sekali. Tatapan nya seakan ingin mengajak nikah." Aku pun salah tingkah di buat nya.
Aku dan Seokjin sibuk menata makanan di meja makan, Suga pun menghampiri kami menawarkan bantuan.
"Ada lagi yang bisa ku bantu?" tanya Suga pada kami.
"Pil-yoeobs-eo yungiya (Tidak perlu yoongi) Kamu tinggal menikmati saja masakan kita berdua." ucap Seokjin, Yoongi pun langsung mengambil tempat duduk.
"Apa saya panggilkan para member?" tanyaku ke Seokjin.
"Aniyo, biar Suga saja." ucap Suga. "Yungiya, tolong panggil kan yang lain." pinta Seokjin. Suga pun lantas beranjak dengan malas, pergi meninggalkan kami berdua.
"Betah kerja sama Suga?" tanya Seokjin setelah Suga benar-benar tak terlihat.
"Ye, Seokjin-ssi." Aku menjawab dengan antusias.
"Geuleom dahaeng-ida (Syukur kalau begitu)." ucap Seokjin. "Kalau kamu merasa tidak betah, kamu bisa bekerja dengan saya." tuturnya membuat aku langsung menoleh ke arahnya.
"O jeongmal?" tanyaku antusias.
"Hm ... langsung hubungi saya." ucapnya terlihat meyakinkan. Aku pun tersenyum lebar. "Joh-ayo (baiklah)." ucapku sambil terkekeh.
Tak lama setelah itu para member datang bersamaan, raut wajah mereka terlihat senang tapi tidak dengan Suga. Wajahnya tampak tidak bersahabat -- membuatku bertanya-tanya.
"Uwa! Bibimbap." ucap Jungkook antusias. "Siapa yang masak nih, Hyung?" tanya Jungkook pada Seokjin.
"Tentu hyungmu Kokki." ucap Seokjin bangga. "Dan Eltyas." sambungnya sambil melirik ke arahku, membuat aku salting di tatap oleh si tampan.
"Wa, nollabda. Pasti rasanya sangat enak." puji Jungkook dengan melirik ke arah ku seraya melempar senyum. Aku pun di buat semakin salah tingkah.
"Jelas dong, kokki, chef baru Suga Hyung itu berbakat memasak." timpal Taehyung. Kali ini dia memujiku, tidak seperti sebelum nya yang meledekku.
"Sudah, ayo makan. Aku lapar." kata Suga menimpali. Suga pun langsung duduk, di ikuti oleh member yang lain kecuali aku yang masih berdiri. Aku terlalu sungkan untuk makan bersama.
"Sampai kapan kamu akan berdiri seperti itu? Duduk!" titah Suga dengan raut wajah dinginnya. Aku pun segera duduk tepat di kursi di depanku dan posisinya berhadapan dengan Suga.
'Duh, kenapa tatapan Suga dingin sekali sih! Nyampe kena sampai ke ulu hati.' pikirku dalam hati.
Aku langsung mengalihkan fokusku kearah Seokjin yang duduknya tepat di sampingku. Seokjin oppa mulai mencampur bibimbap di dalam mangkuk dengan saus nya, tangannya begitu lihat -- tidak kaku sama sekali. Aku pun tersenyum kagum melihatnya.
'Duh, ngeliat Seokjin oppa jadi ingat kakak sepupuku di kampung. Ya Allah, aku belum menghubungi keluargaku di Indonesia. Ah ... bekerja dengan Suga membuat fokus ku teralihkan.' Aku merutuki diriku sendiri.
'Udah ah, mending aku minta izin aja ke Suga setelah makan siang ini selesai.' pikir ku dalam hati.
"Ayo semuanya mari makan!" seru Seokjin begitu riang. kamu pun menikmati makan siang ini dengan khidmat.
"Em .... Enak!" gumam Jungkook yang tengah menikmati makanan nya. "Gomawo hyung, Eltyas-ssi. " ucap Jungkook pada kami seraya melempar senyum pada kami bergantian.
"Ne, Jungkooki! Makan yang banyak!" kata Seokjin. 'Ah ... sikap ke bapak-bapak an nya keluar.' ucapku dalam hati ketika melihat Seokjin begitu perhatian ke Jungkook.
"Jangan kebanyakan juga Jungkooki! Nanti kami tidak kebagian," ujar Taehyung memperingati.
"Iya, mentang-mentang di suruh Jin Hyung." timpal Jimin.
"Sirik aja kalian ini." kata Jungkook seraya mendelik ke arah Jimin dan Taehyung yang tepat di sampingnya.
"Sudah! Jangan ribut. Makan aja yang benar!" kata Suga dengan husky voice yang menggema, membuat para maknae line itu langsung bungkam.
'Ah ... aura kebapakan Suga yang galak begitu aur-auran.' batinku seraya mencuri pandang ke arah Suga. 'Dia menggemaskan kalau kalau lagi ngomel.' ucapku yang langsung tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum? Makan yang benar!" kata Suga padaku, tatapan membuat aku merinding.
'Baru aja di puji dalam hati, aura menyebalkan nya langsung keluar. Dasar kucing galak.' ledekku dalam hati. Aku tak menjawab pertanyaan Suga, aku langsung makan dengan lahap tanpa menghiraukan tatapannya.
Setelah selesai makan aku langsung merapikan meja, kali ini Suga acuh. Biasanya dia selalu ngomel kalau aku melakukan hal yang bukan tugasku.
"Jangan di bawa piring kotornya Eltyas-ssi. Hari ini tugasku mencuci piring." ucap Taehyung. Aku pun mengangguk pelan. "Ne, Taehyung-ssi."
"Kamu sedang marahan sama Suga hyung?" tanya Taehyung membuat aku mengerutkan dahi. Taehyung bertanya saat semua member telah pergi meninggalkan ruang makan.
"Ya?" tanya nya lagi. Aku menggeleng cepat. "Tidak, kok." jawabku singkat.
"Masa sih? Tadi, Suga hyung terlihat marah kepada kamu." jelas Taehyung, membuat aku penasaran.
"Kapan?" tanya ku memastikan.
"Tadi pas kita baru masuk ke ruang makan." sahut Taehyung. Kini kami berdua berjalan ke arah dapur membawa piring-piring kotor bekas kami makan tadi.
"Aku gak sadar loh." ucapku dengan hati yang sudah tidak tenang.
"Gapapa sih, emang kamu belum kenal kepribadian dia. Dan kenapa aku sangat yakin kalau dia marah ke kamu, itu pas dia ngajak kami makan tapi nadanya kayak ngajak ribut. Dia menekan kan nama kamu begitu tegas, karena aku sudah tahu watak Suga hyung -- jadi aku bisa menebaknya dengan baik." terang Taehyung.
"Oh, gitu ya. Aku gak tau masalahnya apa. Kenapa Suga marah ke aku." tanyaku dengan raut sedih.
"Eum ... Maaf ya sebelumnya, bukan aku ingin ikut campur. Tapi, aku menyarankan agar kamu lebih bijak lagi."
"Maksudnya?" Aku tak mengerti ucapan Taehyung.
"Maksud aku, Suga hyung tidak suka ketika kamu begitu akrab dengan pria lain termasuk kami. Jadi, mending kamu bersikap biasa aja ke kami termasuk Jin hyung." jelas nya.
"Loh ... kenapa? Kok bisa gitu?" Aku semakin di buat bingung oleh perkataan Taehyung.
"Kamu kan kerja sama Suga hyung, otomatis semua hal tentang kamu berkaitan dengan nya. Suga hyung selalu mengklaim bahwa orang di bawa perintah nya adalah miliknya. Jadi, kamu harus bisa jaga jarak dengan kami untuk menjaga perasaannya."
'Aduh, aku baru keingetan oleh perkataan Maid Na. Soal aku adalah milik Suga, ah jadi ini maksud perkataan nya. Ah ... benar-benar tidak masuk akal.' Aku merasa kesal.
"Makasih Taehyung-ssi telah memberi tahuku." ucap ku.
"Sama-sama, semangat ya. Kamu jangan merasa tertekan, meskipun begitu Suga hyung adalah pria yang baik, kok." ucap Taehyung, aku hanya mengulas senyum tipis yang terpaksa.
"Ya udah kamu mending menemui Suga hyung, sebelum dia tambah merajuk." ucap Taehyung. Aku pun mengangguk pasrah.
"Ne. Aku pamit." ucapku lemas.
"Fighting!" seru Taehyung. Aku hanya mengangguk seraya melangkah pergi dengan perasaan tertekan.
To be continued ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments