"Argh!" Aku refleks berteriak, ketika tubuhku terjengkang. Aku sudah pasrah jika tubuhku akan jatuh ke lantai. Aku menutup kedua mataku, tetapi -- Hap! Kedua tangan kekar Suga dengan cepat menangkap tubuh ku yang mungil.
Aku mematung, menatap Suga dari arah samping, begitu juga Suga -- dia menatapku beberapa saat tanpa berkedip. Kami bertatapan cukup lama sampai akhirnya suara khas nya menarik tegak tubuhku.
"Kamu tidak akan bangun?" tanya Suga.
"Eh, i-iya. M-maaf, Suga-ssi." Aku membungkuk meminta maaf.
"Ngapain kamu di belakang pintu?" tanya Suga, nada nya sih datar tapi tatapan nya begitu tajam sampai aku memberengut takut.
"Eum ... anu -- tadi saya mau minta ikut ke kamar mandi." Aku ber alibi.
"Ck! Alasan saja." ujar Suga, yang tak percaya ucapan ku.
"Eonni!" panggil seorang gadis yang memanggilku dengan suara serak. Aku lantas mengedarkan pandangan. Dia sedang berbaring di brankar dengan wajah pucat pasi.
Ya Allah. Apakah dia yang bernama Hera? Gadis kecil ini yang memiliki penyakit mematikan itu? Ya Allah, dia masih kecil tapi sudah menderita. Sembuhkan lah dia ya Allah. Aku membatin menatap iba kepada Hera.
Aku melempar senyum ramah kepada wanita paruh baya yang duduk di dekat brankar Hera."Annyeonghaseyo." Sapaku dengan ramah seraya merengkuh sopan padanya.
"Hallo anak manis," sapaku pada Hera dengan hangat.
"Eonni! Tolong mendekatlah." panggil gadis itu lagi dengan suara yang lembut. Aku lantas mengulas senyum kepadanya. Melirik ke arah Suga seolah meminta izin. Suga mengangguk tanda setuju.
Aku melangkah pelan menuju brankar Hera, dengan melempar manis senyumku pada nya.
"Hai, anak manis." ujar ku, setelah posisiku berada di samping kanan brankar nya.
"Eonni teman nya Yoongi oppa?" tanya gadis itu dengan wajah ramah.
Aku melirik ke arah suga untuk meminta persetujuan, Suga mengangguk setuju.
"Iya, eonni temannya Yoongi oppa. Bagaimana keadaan mu sayang, sudah lebih baik?" tanyaku dengan penuh perhatian.
"Eum ...." Dia mengangguk penuh semangat. "Sekarang aku sudah baikan eonni." ujar nya dengan memperlihatkan deretan gigi susu nya yang putih.
Aku mengelus puncuk rambutnya dengan rasa sayang. "Kamu anak yang kuat." ujar ku memberi semangat. Dia hanya tersenyum.
"Terimakasih, telah menjadi temannya oppa. Oppa tidak akan sedih lagi." ucap Hera. Aku hanya mengulas senyum sedikit mengangguk.
"Oh, iya. Perkenalkan nama aku -- Park Hera. Kalau eonni?"
"Hai, Hera-ya yang cantik, nama eonni -- Eltyas. Kamu bisa menganggil Tyas eonni.
"Senang bertemu dengan eonni. Nama eonni cantik seperti wajah eonni." pujinya, aku tersenyum malu.
"Hehe. Kamu lebih manis dan cantik, Hera-ya." pujiku dengan tulus, dia tersenyum menggemaskan memperlihatkan manik sipitnya yang coklat.
"Eonni boleh aku memeluk mu?" tanya Hera tampak ragu, aku langsung mengangguk setuju tanpa basa-basi.
Aku merenggangkan tanganku dengan lebar. "Sini, biar eonni peluk." ujarku, lantas menghambur kan pelukan pada tubuh kecilnya yang ikut merentangkan tangan mungil nya.
Kami berpelukan beberapa saat, sampai isak tangis Hera terdengar jelas. Aku meleraikan pelukan, lantas menatap lekat wajah cantik yang terlihat pucat itu.
"Kenapa kamu menangis sayang?" tanyaku dengan lembut, seraya menghapus pelan bulir bening yang terus luruh dari maniknya.
"Boleh kah aku memeluk eonni lebih lama?" tanya nya, dengan suara serak tanpa menjawab terlebih dulu pertanyaan ku.
Aku mengangguk setuju dan memeluk kembali tubuh mungil itu.
"Tumpahkan rasa sedihmu sayang! Eonni membersamai mu." ujarku pelan. Tangis gadis itu langsung tumpah ruah di pelukanku.
Setelah cukup lama ia menangis, akhirnya suara tangisan nya mulai mereda. Dia melerai pelukan ku, lantas menatapku begitu lekat.
"Aku merindukan Yura eonni. Maaf telah membuatmu tak nyaman Tyas eonni." Aku menggeleng tidak merasa keberatan. "Tidak apa-apa, sayang tidak perlu merasa sungkan." ujarku, dia lantas tersenyum sumringah.
"Padahal kita baru bertemu, tapi aku merasa hangat di peluk eonni. Terimakasih ya eonni atas pelukan dan perhatian nya."ucap nya terdengar tulus, aku mengangguk senang.
"Kamu sudah makan?" tanya ku padanya. Dia menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak lapar."
"Gak boleh telat makan sayang, kamu harus banyak makan biar tubumu lebih enakan dan sehat. Yura eonni pasti sangat senang." ujarku.
Ucapanku membuat Hera malah terdiam, air matanya mulai luruh kembali. "Sayang? Maaf kalau ucapan ku salah." ujarku padanya.
Aku yang panik lantas melirik ke arah ibu Hera dan yoongi secara bersamaan. Akan tetapi, raut ibu Hera terlihat sendu dan akhirnya menangis juga. Sedangkan, yoongi malah pergi ke luar kamar.
"Ya Allah, apa aku salah berucap?" Hatiku jadi tak tenang dan merasa bersalah.
"Hera-ya!" Panggil ku dengan lembut. "Maaf! Eonni gak sengaja bikin kamu nangis." ucapku tulus dengan rasa bersalah.
Setelah beberapa saat dia terdiam dan terisak, akhirnya dia menoleh kepadaku dengan tatapan sendu. "Eonni tidak salah, aku hanya rindu kakakku yang telah meninggal."
Deg! Aku langsung mematung, meninggal? Jadi -- apakah Hera adalah adik dari kekasih Yoongi? Maka dari itu yoongi begitu sedih dan terlihat sangat terluka? Aku membatin memikirkan hal ini.
Aku masih menatap Hera dengan rasa bingung dan bersalah secara bersamaan.
"Nak, Tyas!" panggil ibu Hera, aku langsung menoleh ke arahnya.
"Ye, Hera eomma!" Aku membalas dengan sopan.
"Apa boleh kita berbicara berdua? hanya sebentar." ujar nya. "Ne." aku menjawab seraya mengangguk.
"Eomma tinggal sebentar ya." Setelah pamit dan dapat izin dari Hera. Kami pergi ke balkon kamar. Hera menginap dia Ruang inap VVIP, sehingga banyak ruangan dan akses untuk kita bersantai.
Sekarang kita berdua tengah duduk di kursi santai berdampingan, sambil menatap pemandangan rumah sakit dari balkon kamar.
"Maafkan perlakuan Hera ya, Nak Tyas." ujar Eomma Hera. Aku menggeleng.
"Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Aku malah senang menghibur Hera." Aku berucap jujur.
"Gamsahabnida Eltyas-ssi, telah mengerti kami."
"Iya, anda tidak perlu sungkan Hera eomma, jika ada yang perlu ku bantu." Aku dengan senang hati menawarkan bantuan.
"Apa boleh saya meminta sesuatu padamu, Nak Tyas?" ujarnya, raut wajahnya terlihat serius. Aku langsung mengangguk setuju. "Tentu, dengan senang hati."
Ibu nya Hera lantas menghadap duduk ke arahku, dia meraih kedua tanganku seraya matanya yang teduh menatap dalam padaku.
"Tolong jaga Nak Suga untuk kami, Eltyas-ssi!" ujar Hera Eomma berkaca-kaca, sedangkan aku menatap nya tak percaya. Aku mematung beberapa saat sembari mencerna dengan baik ucapan nya.
"M-maksud Hera Eomma, bagaimana?" aku menanyakan kembali, aku takut salah mengerti atas ucapan nya tadi.
Hera eomma lantas mengalihkan pandanganya dariku, dia menatap lurus ke depan lantas berkata. "Yoongi adalah anak yang baik dan bertanggung jawab, saya tidak ingin terus menahan dia dari keterpurukan." ujarnya.
Kemudian dia melirik kepadaku sebentar. "Kamu Perempuan baik dengan wajah cantik. Meski baru bertemu melihatmu, hatiku langsung bergetar mengingat Yura." ujarnya, lantas memandang kembali ke depan. Aku semakin di buat bingung oleh pernyataan nya, aku menatap ke arahnya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Sebelum meninggal Yura menitipkan pesan untuk ku, dia bilang jika aku menemukan yang tepat untuk Suga. Aku harus membiarkan dan mendukung mereka untuk bersama, karena Yura ingin melihat Suga bahagia meskipun tanpa dia." sambung nya.
Aku terdiam beberapa saat lantas berkata."Sebelumya saya minta maaf Hera Eomma, kenapa anda memilih saya?" tanyaku dengan keheranan. Dia pun menoleh lagi kepadaku.
"Karena hati saya yang sangat mantap untuk menyatukan kalian berdua. Di dalam diri kamu aku lihat ada kepribadian Yura --- anggun dan lembut tutur katanya." Dia menerangkan membuat hatiku lantas bergetar.
"Hera adalah anak ya introvert dan susah beradaptasi dengan lingkungan, jika dia bertemu dengan orang asing dia akan menutupi dirinya dengan membisu. Sedangkan saat melihat kamu, dia begitu antusias dia bisa mengekspresikan perasaan yang terpendam karena kerinduan pada sang kakak. Dari itu saja sudah bisa dilihat, kalau kamu memang wanita spesial yang akan bersanding dengan Suga."
"Wanita spesial yang bersanding dengan Suga?" Aku membisu seribu bahasa, diriku masih belum menerima dengan benar semua ini.
To be continued ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments