Bab 4 Galbi untuk Suga

Pagi ini aku sangat bersemangat, karena hari pertama bekerja untuk Suga. Akan tetapi, aku merasa tidak enak karena ponsel pemberian Suga. Aku berniat untuk mengembalikan nya, aku cukup tahu diri--- terlalu malu untuk menerima barang mewah ini. Apalagi keadaan nya aku baru bekerja di sini, upahku pun belum ada otomatis aku belum bisa mengganti nya.

Aku memang ingin sekali menelepon orang tuaku di kampung, tapi terlalu sungkan untuk menggunakannya. Setidaknya aku bisa izin dulu kan kalau Suga pulang, jadi aku mengurungkan niatku dan kembali fokus untuk menyiapkan sarapan.

Pagi ini aku sibuk membuat roti panggang. Aku cukup mahir membuat roti panggang yang lezat, dengan itu aku ingin menyalurkan bakat sekarang. Setelah berkutat cukup lama akhirnya roti panggang buatanku selesai di buat.

Aku duduk rapih menunggu Suga, tapi Suga tak kunjung pulang. Aku yang sudah merasa lapar akhirnya menyantap roti panggang itu sendirian. Setelah cukup kenyang aku kembali fokus ke hal lain, diri yang merasa bosan berinisiatif untuk membereskan rumah. Tapi, tiba-tiba seseorang menekan bel dan ternyata itu adalah maid.

"Pagi Nona." Sapanya padaku dengan ramah.

"Pagi juga." Aku menyapanya tak kalah ramah.

"Dengan Nona siapa?" Dia bertanya kepadaku, dia tampak sungkan.

"Perkenalkan saya Eltyas, ahjuma. Saya koki baru di sini." ucapku dengan senyuman manis yang ramah.

"Oh ... iya, Non. Perkenalkan saya Choi Kang Na. Anda bisa menganggil saya maid Na." terang wanita paruh baya yang masih kelihatan segar bugar di usianya.

Aku mengangguk setuju. "Baik, ahjuma."

"Jangan terlalu formal kepada saya maid Na, saya merasa tidak nyaman." ucapku lagi.

"Tidak apa-apa, ini memang tugas saya. Saya harus bersikap baik terhadap milik Tuan Suga."

"Milik tuan Suga?" Aku tidak paham atas perkataan maid Na.

Dia terkekeh pelan. "Iya milik tuan Suga atau mine nya tuan Suga. Suga ssi dia selalu mengatakan miliknya untuk apapun yang berhubungan dengannya. Termasuk Eltyas ssi, anda adalah orang milik Tuan Suga karena chef pribadinya."

"Oh seperti itu." ucapku. Aku baru saja ingin berandai-andai bahwa aku telah di klaim milik Suga. Ternyata hanya sebatas pekerjaan, aku cukup kecewa karena terlalu berharap.

Setelah percakapan dengan maid Na, aku pun mencoba membantunya untuk membereskan rumah.

"Tidak usah Eltyas-ssi, biar saya saja." Aku menggeleng cepat."Maaf aku tidak patuh untuk hari ini, aku terlalu suntuk untuk duduk. Biarkan aku membantu, ya." ucapku dengan kerlingan.

Maid Na menggeleng pasrah."Jangan berat-berat, nanti saya malah kena omel Tuan Suga."

Aku tersenyum penuh kemenangan. "Siap, laksanakan." Aku menjawab antusias.

Kami pun menyelesaikan pekerjaan rumah bersama-sama. Dari nyapu, ngepel, nyuci kamar mandi, berbenah di kamar Suga dan lain sebagainya. Semuanya terlihat rapi dan kinclong.

"Capek juga membersihkan apartemen sebesar ini, apalagi alat-alat nya cukup berat. Huft ...." Aku melepas nafas dalamku. Duduk di sofa panjang ruang tengah.

"Capek ya, Non?" tanya maid Na, dia menghampiriku lantas memberiku satu botol kaleng minuman dingin.

"Gamsahabnida." ucapku, setelah menerima minuman kaleng itu.

"Iya, Maid Na hebat bisa membersihkan rumah ini sendirian." Pujiku. Dia hanya terkekeh.

"Namanya pekerjaan itu pasti capek, Non. Ya kita cukup happy aja, lagian kita juga butuh uang. Apalagi majikan baik, tambah betah kan?" ucapnya.

Aku mengangguk setuju. "Iya, Suga oppa memang baik." Aku menjawab dengan menyunggingkan bibir.

"Nona juga semoga betah, hanya saja Non tidak boleh menentang perintah nya. Cukup iya'in aja tanpa banyak bertanya." kata Maid Na memberi tahu.

"Baik. Saya malah seneng bisa di pekerjakan di sini." Jelasku dengan raut wajah bahagia.

"Syukur deh kalau kayak gitu."

Setelah saling berbincang cukup lama, Maid Na undur diri. Aku pun kembali ke rasa bosan. Di rasa perut mulai keroncongan, aku pun mulai mencari makanan di dalam kulkas. Ternyata masih ada beberapa buah-buahan di dalamnya, aku mengambil apel dan langsung memakannya.

Kepikiran untuk masak makan malam. Aku mulai mengecek bahan-bahan yang ada di kulkas, di sana ada iga sapi dan beberapa bahan yang lain.

"Sepertinya besok harus belanja, bahan-bahan sudah menipis." gumamku sambil mencari ide untuk membuat makan malam.

"Ah .... Bukan nya Suga suka dengan galbi? Aku bikinkan saja kali ya." Setelah berfikir beberapa saat, akhirnya aku memutuskan untuk membuat galbi untuk Suga.

Korean galbi merupakan sajian panggang ala Korea yang terbuat dari iga sapi serta campuran kecap dan bumbu.

Aku memasukan cuka, air, kecap asin serta minyak wijen ke dalam mangkuk besar. Setelah itu aku tambahkan bawang bombay cincang dan bawang putih cincang, gula pasir, gula merah serta lada hitam. Kemudian semua bahan di aduk rata, lalu aku masukan daging iga sapi yang telah aku potong-potong. Aku tutupi mangkuk itu dengan plastik wrap, setelah itu di masukan ke lemari pendingin. Butuh waktu 7 jam agar dagingnya dapat meresap.

Karena tidak tahu harus apa lagi, aku mencoba keluar apartemen untuk mencari udara segar. Taman adalah tujuanku untuk hari ini.

Waktu sudah menunjukan pukul 3 sore, matahari telah bergeser ke arah barat. Aku duduk termenung di kursi taman sambil memperhatikan tingkah lucu anak-anak di sana.

"Hey, sendirian saja?" tanya seseorang padaku.

"Kamcagiya." Aku terhenyak karena kaget. Refleks menoleh ke asal suara. Wajah tampan itu malah terkekeh.

"Ngagetin aja Jungkook ssi." ucapku ke pria tampan yang kini mengambil duduk tepat di samping kiri ku.

"Kenapa duduk sendirian aja di sini? tanya Jungkook membuka obrolan denganku.

"Ingin saja. Di rumah bosan." Aku menjawab tanpa menoleh ke asal suara, aku fokus memperhatikan anak-anak gemoy di depan.

"Oh .... Memang Suga hyung kemana?" Aku terdiam sesaat. Aku tidak ingin mengatakan nya, karena aku cukup tahu kalau Suga menghabiskan waktunya di genius lab dia pasti tidak ingin di ganggu oleh member lain.

"Aku tidak tahu." ucapku terpaksa berbohong.

"Oh ...." Dia hanya ber oh ria. Lantas fokus ke arah depan, ikut memperhatikan anak-anak.

"Kok Jungkook ssi bisa ada di sini?" tanya ku. Aku sedikit menoleh ke arahnya.

"Mencari udara segar, tadi ke apartemen Suga hyung pada sepi." jawab Jungkook yang tak beralih pandang kepadaku.

"Kamu ingin jalan denganku?" pertanyaan nya sontak membuatku kaget. Kami pun beradu tatapan.

"Ye?" tanyaku memastikan.

"Jalan-jalan mencari udara segar. Seperti nya kamu terlalu suntuk di sini." ujarnya.

Aku hanya menyunggingkan senyuman. Ingin rasanya mengiyakan ajakan Jungkook, tapi posisi nya ini pertama kali aku bekerja. Lagian, aku juga harus meminta izin kepada Suga tidak bisa pergi begitu saja.

"Seperti nya saya harus meminta izin dulu ke Suga oppa." ucapku.

"Ya sudah, biar saya yang minta kan izin."

"Ye?" Aku dibuat tercengang lagi.

"Bukan nya ponselmu hilang?" Aku terdiam beberapa saat.

'Iya juga sih, tapi kan udah di kasih handphone baru oleh Suga oppa.' ucapku dalam hati.

"Gimana? Kamu mau jalan sama saya?" tanya Jungkook. Aku masih terdiam.

'Ya udah deh mending aku pergi aja sama Jungkook oppa, lagian Suga oppa pasti pulang nya malam kan. Nanti aku bisa chat dia atau bilang pas ketemu sama dia. Lumayan kan bisa jalan bareng sama pria tampan ini.'

Aku pun mengangguk setuju. Jungkook oppa pun tersenyum, nyaris membuatku terpaku sesaat. "Ayok." ajaknya, membuat aku mengerjap.

Baru saja kita hendak pergi. Suara deep voice mengangetkan ku.

"Mau kemana?" tanya nya tiba-tiba.

"Kamcagiya." Aku terkejut. Aku menoleh ke asal suara dan itu adalah Suga.

'Kenapa manusia ini kalau datang suka tiba-tiba sih.' ucapku dalam hati.

"Mau kemana Jungkooki?" tanya Suga lagi.

"Em .... Setadinya aku mau ngajak Eltyas pergi?"

"Membawa Eltyas pergi kenapa tidak meminta izin padaku?" tanya Suga.

"Em .... Baru saja mau kok, Hyung." sahut Jungkook membela diri.

"Lain kali izin baru pergi." ucap Suga, kini dia melihat ke arahku, aku hanya memaku.

"Ayo pulang." ajak Suga. Aku merengkuh pamit kepada Jungkook. Segera aku mengekori Suga dari belakang.

****

Di apartemen Hannam the hill

"Mau pergi kemana sama Jungkook?" tanya Suga. Kini kita duduk saling berhadapan di sofa ruang tengah. Suaranya begitu dingin menusuk hati.

"Em ... b-baru mau pergi. B-belum ada rencana." jawabku dengan gugup.

"Kenapa gak izin sama saya? Dan kenapa handphone nya gak di bawa?"

"Em .... M-maaf tadi handphone nya ketinggalan." ucapku jujur.

"Lain kali kemana-mana itu bawa handphone. Tujuan saya ngasih handphone ke kamu itu buat komunikasi." terang Suga.

"M-maaf Suga ssi. Saya tidak akan seperti i-tu lagi." ucapku. Aku menunduk tanpa mau menatap wajahnya.

"Oke, untuk kali ini saya maafkan. Lain kali jangan seperti itu lagi, kamu bikin saya khawatir."

"Ye?" Aku di buat kaget oleh pernyataan nya.

"Kamu itu kerja sama saya, jadi apapun tentang kamu--- saya yang bertanggung jawab. Jadi, kalau kemana-mana itu izin dulu. Kamu kerja sama saya bukan sama Jungkook."

Jleb pernyataan Suga yang terakhir membuat hatiku menceos. Suga mengatakan kata Jungkook begitu dingin. Aku pun mengangguk pelan dengan perasaan yang tidak menentu.

"Saya lapar, kamu sudah masak apa?" Suga pun membuka obrolan baru membuat hatiku sedikit tenang.

"Em ... tadi saya membuat galbi, Yonggi ssi."

"Sudah berapa jam?"

"Sekitar 3 jam an."

"Yasudah, tolong siapkan galbi nya. Saya mandi dulu." Setelah mengatakan itu, suga langsung beranjak pergi.

Aku pun mulai membakar galbi yang ku buat. Dengan waktu 20 menit semua galbi telah terhidang di meja makan. Setelah semuanya selesai aku pergi ke kamarku untuk mandi, rasanya gerah sekali setelah seharian beres-beres dan masak.

"Assalamualaikum, warahmatullahi." Aku mengucapakan salam terakhir dalam shalatku dan pintu kamar ku di ketuk. Segera aku beranjak untuk membukakan pintu dengan masih menggunakan mukena.

"Kita makan bersama." ucap Suga setelah aku membukakan pintu. Kali ini Suga menatapku dalam, setelah beberapa waktu dia selalu memalingkan wajahnya jika kita tak sengaja bertatapan.

Aku pun menundukkan pandangan karena malu, aku pun beristigfar di dalam hati karena sudah terpesona oleh wajah tampan Suga.

"S-saya tunggu di meja." ucap Suga. Aku hanya mematung di tempat.

Kami makan dengan khidmat, tidak ada percakapan di antara kita. Hanya suara dentingan garpu dan pisau saling bersahutan yang mengisi keheningan.

"Lezat, saya suka masakanmu." Puji Suga, membuat aku berbunga-bunga.

"T-terimakasih Min Yoongi-ssi." ucapku. Dia hanya mengangguk.

"Besok kita akan ke villa."

"Ye?" Aku di buat kaget oleh pernyataan nya.

'Ke villa sama Suga. What? Ah ... gak mungkin Suga mau me time sama aku kan?.'

"Villa bangtan, kita kesana sama semua member gak cuman kita. Jangan berpikiran yang aneh-aneh." terang Suga. Aku pun tersenyum kikuk karena tebakan Suga benar.

'Sadar Eltyas! Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh.' rutukku dalam hati. Kami pun saling terdiam beberapa saat, sampai akhirnya Suga selesai makan.

"Masakanmu berkualitas, pertahankan, ya. " ucap Suga. aku pun tersenyum senang. Ah ... tidak sia-sia aku memasak galbi untuk Suga.

To be continued ....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!