Bab 10 Pengakuan Jungkook yang tiba-tiba

"Pergi Suga-ssi!" usir ku di tengah tawanya Suga. Suga langsung mengatupkan bibirnya saat mendengar aku mengusirnya secara terang-terangan.

"Kamu mengusir saya?" tanya Suga dengan wajah yang tak ramah, sepertinya dia tersinggung oleh ku.

"Eum ... perut saya lagi sakit, saya sangat terganggu oleh gelak tawamu." Aku menoleh kan sedikit wajahku padanya, guna melihat ekspresi wajahnya sekarang dan raut wajah nya terlihat tidak bersahabat.

"Oke, saya pergi." ucapnya seraya memandang dingin padaku, dia lantas pergi meninggalkan aku seorang diri.

Huft ... Aku melepas nafas panjang dengan kesal. "Menyebalkan sekali pria dingin itu, seenaknya mengejekku terang-terangan. Aku terus memandangi pintu kamar dengan perasaan dongkol.

Sakit ku masih bertahan, membuat fokus ku kini teralihkan. Perut ayo dong bersahabat, jangan membuat ku dongkol! Aku merajuk dengan hati yang sebal. Rasa sakit ini datang di saat yang tidak tepat.

Rasa sakit yang menghentak kuat di perut bawahku, membuat aku terus meringis setiap saat. Sampai akhirnya aku ketiduran dengan menahan rasa sakit yang terus menyerang.

Beberapa jam kemudian aku terbangun, kesadaranku terusik karena rasa lapar yang menyerang. Aku menelisik melihat jam dinding, ternyata sudah pukul 9 malam.

Aku lantas menggeser posisiku untuk setengah terbaring, menyenderkan kepalaku ke head board dengan terus mengelus perutku yang keroncongan.

"Tega banget mereka tidak membangunkan ku untuk makan malam? Huh! Dasar tidak berpunya perasaan." gerutuku dengan rasa dongkol yang menyerang.

Perutku terasa semakin perih tak tertahan, membuatku merutuki diri. Aku ingin sekali menahan diri sampai beberapa jam kemudian -- menunggu malam semakin larut.

Tapi, karena rasa lapar ini terus mengusik ku, aku pun mendengus kesal. Mau tak mau aku harus memaksakan diri mencari makanan ke luar. Aku tidak ingin hilang fokus sampai tak sadarkan diri seperti dulu.

Dengan malas aku beranjak seraya berjalan gontai ke arah pintu. Dengan gerakan slow motion aku memutar kunci pintu kamar, merasa takut bakal terciduk lagi oleh seseorang di luar sana.

Saat aku ingin menarik handel-nya, suara ketukan menghentikan aksi ku. Aku menarik kaki mundur selangkah, seraya memandang ke arah pintu. Menerka-nerka siapa gerangan yang berani mengunjungiku semalam ini.

Tok! Tok! Tok!

"Eltyas! sudah bangun? Aku Jungkook." suara di balik pintu membuat aku mengerutkan dahi.

"Ngapain Jungkook oppa malam-malam datang kesini? Nganterin makan malam? Tega banget baru dateng jam segini." Aku menatap jengkel ke arah pintu, tepatnya kepada orang yang berada di balik pintu itu.

Aku langsung berjalan ke arah ranjang, lantas menjawab panggilan Jungkook -- seolah-olah aku baru bangun.

"Ne, Jungkook-ssi. Tunggu sebentar." teriak ku dengan suara di serak-serak kan, ketika menjawab panggilan nya seraya melangkah pelan ke depan.

KRET! Suara pintu kamar ku buka. Tampaklah Jungkook yang tengah berdiri tegap sambil membawa nampan di sebelah tangan nya. Di wajahnya terbit seulas senyum.

"Aku mengantarkan mu makan malam. Maaf menganggu kamu malam-malam." Kata Jungkook sambil melempar senyuman padaku.

"Oh, iya. Tidak apa-apa, terimakasih Jungkook-ssi." Aku menjawab dengan mendongakkan wajahku ke atas. Memandang wajah Jungkook dengan tersenyum manis di luar dan dongkol di dalam.

Iya, aku masih kesal karena inisiatif nya begitu telat.

"Maaf ya sekali lagi, tadi aku ke sini beberapa kali. Tapi, kamu tak kunjung membuka pintu, kata Suga hyung katanya kamu sakit ya. Jadi, ku pikir kamu sedang tertidur." kata Jungkook, di wajah nya tampak terlihat khawatir.

Berdosa sekali aku ini, telah suudzon padanya aku membatin.

"Sekarang sudah mendingan?" tanya Jungkook, dari nada suaranya dia tampak masih khawatir.

"Hm. Sudah mendingan, alhamdulilah." Aku berkata seraya mengangguk pelan.

"Syukur lah, aku mengkhawatirkan mu." ucap Jungkook. Aku melirik ke arahnya, mengamati ketulusan dari matanya. Aku bersorak senang dalam hati, Jungkook terlihat begitu tulus.

"Mau makan dimana? Di kamar? Atau di ruang makan?" tanya Jungkook. Aku ingin mengatakan di ruang makan. Tapi, hatiku sanksi, rasanya tidak ingin bertemu dulu dengan seorang Suga yang menyebalkan.

"Member lain ada di mana? Kok, sepi." tanyaku mengalihkan pertanyaan sekaligus ingin tahu keberadaan para member terutama Suga.

"Lagi ngumpul di rumah sebelah, pada main biliar." terangnya, membuatku langsung mengulas senyum lega.

"Oh." Aku hanya ber oh ria. Sebentar, kalau mereka lagi gak ada di sini -- berarti di rumah ini cuman ada kita berdua.

"Ada staf kok di depan, jangan cemas." Kata Jungkook, raut wajahku yang terlihat kentara. Begitu mudah untuk di tebak olehnya.

"Oh, iya." Hanya itu yang keluar dari mulutku, lagian aku bingung harus ngomong apa. Lagian tebakan nya benar, aku gak bisa mengelak.

"Mau makan di ruang makan? Biar aku temani."

"Ye?" Aku mengerjap.

"Sekalian aku mau nge teh. Biar kamu ada temen ngobrol aja." ucap Jungkook begitu hangat. Nyaman sekali di perlakukan seperti ini. Aku pun mengangguk setuju.

Di meja makan aku menyantap makanan dengan tidak fokus, aku terus mencuri pandang ke arah Jungkook yang tengah fokus memainkan ponselnya.

Tampan sekali pria ini, aku membatin dengan terbitnya senyuman ku.

"Kenyang? Mau aku tambah kan lagi makanannya?" tanya Jungkook, setelah melihat makanan di piringku telah habis tak tersisa.

Rasa lapar dan kagum kepada Jungkook, membuat aku sangat lahap menyantap nya sampai aku tidak sadar piring ku telah kosong melompong.

Aku menggeleng cepat. "Tidak perlu Jungkook-ssi." Sebenarnya bukan hanya perutku yang kenyang tapi hatiku juga. Karena mataku yang sedari tadi mencuri pandang terhadap wajah tampan Jungkook yang posisinya tepat di depan ku.

"Mau nge teh?" Jungkook kembali menawari aku minuman.

"Teh apa?" tanya ku, kini melempar pandangan dari nya. Jungkook benar-benar tampan, membuat aku salah tingkah apalagi dia selalu berperilaku hanya padaku. Membuat perutku seolah-olah di kelilingi banyak kupu-kupu.

"Teh chamomile." ucapnya. Aku langsung menoleh padanya. "Mau?" tanya nya lagi. Aku pun segera mengangguk setuju.

Jungkook menyajikan teh chamomile di depan ku dengan melempar senyum manis nya. Aku terpana bukan main, kalau tidak ada dia sekarang rasanya aku akan jingkrak-jingkrak kegirangan.

"Di minum ya, semoga kamu lebih rileks dan tenang." katanya membuat aku melempar senyum hangat.

"Gamsahabnida, Jungkook-ssi."

Aku menatap sekilas punggung lebar Jungkook, sampai dia duduk lagi di depan ku. Aku meminum teh ini dengan cepat untuk meredakan nafasku yang terasa sesak karena begitu terpesona oleh bentuk tubuhnya yang sempurna.

"Hati-hati!" Jungkook meng intrupsi bersamaan dengan suaraku yang meringis karena panas di lidah.

Dengan sigap Jungkook memberiku air dingin, aku menerimanya dengan cepat dan menegak cepat air itu.

"Sudah enakan?" tanya Jungkook di sebelah ku, aku hanya mengangguk. Aku merutuki diriku yang bodoh karena sudah salah tingkah seperti ini.

Jungkook duduk kembali setelah aku mengatakan tidak baik-baik saja.

"Lain kali hati-hati ya cantik!" ujar Jungkook meng intrupsi. Aku hanya nyengir atas kecerobohan yang aku lakukan. Hari ini aku sudah melakukan 2 kesalahan, bodoh sekali aku ini.

Setelah beberapa saat kami saling terdiam, Jungkook membuka obrolan kembali.

"Belum ngantuk?" tanya Jungkook terus memperhatikan wajahku. Aku menggeleng cepat. "Belum. Sepertinya aku terlalu kenyang tidur tadi." Aku menjawab dengan kekehan.

Jungkook ikut terkekeh sebentar setelah itu rona wajah nya berubah terlihat murung. "Aku jadi menghawatirkan mu," kata Jungkook dengan bibir mengerucut.

"Loh kenapa?" Aku merasa heran.

"Kamu tidur sangat pulas, sampai suara besar ku tak mengangguk tidurmu. Bagaimana kalau ada sesuatu yang mengancam mu, aku takut kamu terluka." ucap Jungkook.

Aku terkekeh pelan."Ga papa, kok. Insyaallah tidak akan terjadi hal seperti itu." Aku menanggapi Jungkook dengan guyonan."

"Aku serius." timpal Jungkook, yang tampak kurang suka atas jawaban ku.

"Aku gapapa Jungkook-ssi. Kamu gak perlu khawatir. Iya, aku memang seperti itu kalau sedang tidur.Tapi, aku bakal bangun kok, oleh sentuhan orang." Aku menjelaskan.

"Sentuhan orang?" Jungkook tampak tidak mengerti tutur ku.

"Maksud ku, jika orang lain mengguncang tubuhku, atau mencubit ku atau menampar pelan pipiku. Aku akan langsung terbangun." terang ku.

Jungkook langsung terkekeh-kekeh. "Cukup kasar juga ya untuk membangunkan mu." goda nya sambil menyeringai. Ah Jungkook bikin aku senam jantung, bisa di kantongi gak sih orang seperti dia biar gak bikin baper anak orang.

"Hehe." Aku hanya tersenyum kikuk.

"Tapi, kalau jadi istri aku. Aku akan memperlakukan kamu dengan lembut, tidak akan seperti itu." seru nya membuat jantungku senam aerobik.

"Itu pun kalau kamu mau jadi istriku sih. Tapi, sebelumnya aku akan mengusahakan nya agar kamu mau, tidak sampai menolak." timpalnya, membuat pipiku bak kepiting rebus. Ada apa dengan Jungkook sih, kenapa dia begitu terang-terangan menggodaku. Hati dan pikiran ku mulai tak tenang.

Aku menundukkan pandanganku dari nya, aku merasakan tatapan intens dari mata Jungkook.

"Aku menyukai mu, Eltyas-ssi." Kata-kata Jungkook membuatku langsung memandang ke arahnya. "Aku serius." sambung nya, setelah padangan kita saling bertemu.

Aku melongo tak percaya, begitu speechless rasanya. Aku ingin mencari tatapan candaan darinya tapi itu sama sekali tak ku temukan. Sorotan matanya terlihat jujur dan tulus memandangi ku. Apakah ini mimpi? Aku terus membatin.

"Dari saat kita bertemu, aku menyukaimu dari saat itu juga." aku nya, semakin membuat aku berdebar-debar tak karuan, aku mematung tak percaya dengan omongan dia. Ingin mencari celah tapi tidak ada, aku histeris di tepat.

Bagaimana ini? Aku membatin atas pengakuan Jungkook yang tiba-tiba.

To be continued ....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!