Pagi sudah menyapa, setelah menjalankan shalat subuh--- aku hanya berdiam diri di atas ranjang dengan duduk di tekuk. Aku termenung memikirkan kembali akan nasibku.
Semalaman aku tidak bisa tidur, karena terus kepikiran soal ponselku yang hilang. Di ponsel itu terdapat m-banking yang uangnya lumayan besar. Dan semua uang itu aku simpan di sana, aku hanya menukarkan sebagian uangku dan itu pun sudah raib karena di palak oleh para preman.
Aku benar-benar tak berdaya, aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan sekarang. Apalagi kartu ATMnya tidak kutemukan juga, aku semakin pesimis kalau uang di rekening ku bisa raib juga.
Tok ... tok .... Suara pintu terketuk. "Boleh aku masuk?" ucap seseorang di balik pintu. Suara itu bisa ku tebak, suara unik jenis tenor yang indah itu adalah milik Park Jimin.
"Iya, masuklah. Jimin ssi. " sahutku dengan suara yang cukup parau.
Pintu itu pun terbuka, Pria berwajah manis dan cute itu timbul dari balik pintu. Aku pun memasang wajah yang lebih ceria. Aku tidak mau memasang muka sedih ku pada siapapun.
"Hai. Selamat pagi," sapanya lembut.
"Pagi juga Jimin ssi." sapa ku kembali dengan ramah.
"Kau hebat bisa mengenali suara ku," kata Jimin dengan terkekeh kecil.
Aku sedikit menyunggingkan senyuman. "Jelas dong aku tahu, suaramu itu unik Jimin ssi. Semua orang bisa dengan mudah mengenali suara indah mu itu." jelas ku dengan jujur.
Jimin pun tersenyum, senyuman nya manis sekali. Panggilan mochi memang sangatlah cocok dengan wajahnya yang manis dan imut.
"Kamu bisa saja, tenyata kamu pintar gombal, ya." ucapnya, kemudian tertawa kecil.
"Aku gak gombal kok. Ini fakta." jawabku dengan senyuman yang tak kalah manis dari dirinya.
"Ah ... sudahlah, mari kita sarapan. Yang lain sudah menunggu." kata Jimin, pipinya sedikit memerah. Sepertinya dia cukup salah tingkah. Makanya dia langsung mengalihkan pembicaraan.
Aku pun mengulas senyum."Baik, terimakasih Jimin ssi." ucapku dengan anggukan kecil di kepala.
"Ya udah ayok." ajaknya. Aku pun turun dari ranjang. Kami lantas berjalan beriringan ke luar kamar.
Di meja makan sudah ada Taehyung, Jungkook, sedangkan Suga masih sibuk mondar-mandir untuk menyiapkan makanan. Aku pun berjalan ke arahnya dan menawarkan bantuan.
"Ada yang bisa aku bantu, Min Yoongi ssi?" ucapku.
"Tidak perlu, kamu duduk saja." titah nya. Aku sebenarnya merasa tidak enak, aku ingin membantu. Tapi, raut wajah Suga begitu serius jadi aku tidak bisa membantah nya.
"Baik," Aku menjawab dengan suara yang pelan.
Aku pun duduk di kursi dekat Taehyung.
Tak lama kemudian Suga pun ikut duduk di kursi utama, tepat di samping kanan ku. Jadi aku duduk di antara Taehyung dan Suga, sedangkan di depanku ada Jimin dan di sebelahnya Jungkook.
Aku kesannya seperti Putri yang di kelilingi oleh 4 pangeran tampan. Jujur posisi ini membuat aku sangat awkward sekaligus salah tingkah.
Menu sarapan pagi ini adalah nasi goreng kimchi dan telur dadar. Untuk buah-buahan nya ada semangka dan susu pisang sebagai minuman tambahan. Terlihat simple sih, tapi sangat menggugah selera makan ku.
"Mari makan!" ajak Suga seperti meng instruksi. Ketiga dongsaeng nya pun langsung mengambil makanan silih berganti, begitu juga Suga. Sedangkan aku tampak ragu untuk mengambil makanan, aku hanya menelan saliva ku dalam.
"Makanlah, tenang semua makanan yang di pasak Suga hyung itu halal." ucap Jimin memberi tahu. Dia sepertinya memperhatikan raut wajahku yang tampak ragu.
"Iya, kamu gak usah sungkan dan malu pula." Jungkook ikut menimpali.
Aku pun tersenyum kikuk, karena tertangkap basah. Raut wajahku sepertinya begitu kentara di lihat mereka.
Namun aku masih saja bergeming, belum ada keberanian mengambil makanan di depanku. Secara tiba-tiba Suga pun mengambil piringku, dia lantas mengisinya dengan nasi goreng kimchi dan beberapa potong telur dadar.
"Makan, jangan banyak berpikir." suruh Suga, sambil menyimpan makanan di depanku. Dia pun langsung menyantap makanannya yang sudah di alas tadi.
Aku cukup terkejut dengan yang dilakukan Suga, sikapnya memang tidak bisa di tebak. Dia memang irit bicara, tapi sepertinya dia tidak suka dengan orang yang ngeyel--- seperti aku contohnya barusan. Di tawari beberapa kali, tapi tetap aja terdiam. Aku merasa gak enak, aku memang se introvert ini.
"Min Yoongi ssi, jal meogeo sseoyo!" (Terimakasih makanannya Tuan Min Yoongi)
Aku menundukkan sedikit kepalaku sebagai tanda hormat dan terimakasih padanya.
"Ye." Dia hanya membalas begitu singkat.
Aku pun mulai ber do'a dengan khusuk sambil menadahkan kedua tanganku. Setelah itu ku santap makanan itu dengan khidmat.
________
"Biar aku saja yang mencuci piringnya Min Yoongi ssi." Aku berinisiatif menawarkan bantuan.
"Gak perlu, kamu pergi mandi saja. Kita siap-siap untuk pergi ke Bank. Biar ini semua di bereskan oleh Maid." Dia menginterupsi.
Ternyata dia memenuhi janjinya dan tidak lupa. Aku pun merengkuh lantas pamit pergi dari sana.
Semuanya sudah siap, aku memantulkan diriku di cermin panjang. Hari ini aku memakai kemeja putih dengan long dress tanpa lengan warna kuning. Hijab yang ku pakai pashmina berwarna putih. Gaya OOTD yang meneduhkan dengan pilihan warna putih dan kuning.
Aku memakai outpit seperti ini karena salju sudah jarang turun dan musim dingin mulai beralih ke musim semi. Aku memang sengaja pergi ke negeri ini di pertengahan bulan Maret, agar aku bisa menikmati keindahan bunga sakura yang bermekaran.
Aku memakai make up yang minimalis, namun masih terlihat flawles. Sehingga wajahku terlihat fresh dengan menggunakan lipstik berwarna soft dan riasan mata yang hanya berfokus kepada alis serta bulu mata.
Setelah mematut cukup lama di depan cermin dan merasa penampilanku sudah oke. Aku membawa sling bag ku, lantas pergi dari ruangan ini.
Di ruang tengah Suga sudah menungguku, dia sempat tertegun beberapa saat ketika melihat ku. Entahlah, dia itu kagum atau malah sebaliknya karena, raut wajahnya yang dingin membuat aku susah menebaknya.
Dia pun segera mengajakku pergi dan kita hanya pergi berdua saja, karena ketiga dongsaeng nya itu sudah pulang setelah sarapan. Kami berjalan beriringan menuju lift. Kami berada di lantai sembilan di apartemen Hannam the hill.
Aku sekarang sudah duduk manis di dalam mobil SUV milik Suga. Sungguh hatiku merasa sangat bahagia, aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku bisa berada di posisi ini.
Apalagi saat ini kita hanya berdua, membuat hatiku melambung tinggi ke udara. Tapi, perasaan itu hanya hinggap sesaat di dada. Pikiranku kembali tak tenang, memikirkan ulang nasibku yang belum tuntas. Aku menghela nafas dalam, mencoba menghilangkan segala praduga buruk di benakku.
Mobil SUV ini keluar dari pelataran elite Hannam the Hill. Melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan. Kami hanya saling terdiam sama sekali tidak ada percakapan.
Aku melihat ke atas langit, pagi ini langit begitu cerah--- megah dengan keindahan nya. Di tambah dengan awan-awan putih yang bertahta, ikut melukiskan keindahan yang sempurna. Hatiku yang gundah cukup terobati dengan mahakarya sang Pencipta.
Akhirnya kami sampai di Sejong, setelah menghabiskan perjalanan satu jam setengah dari Hannam dong. Aku masuk ke dalam Bank dengan perasaan resah, aku terus berdoa dalam hati untuk memberi ketenangan.
'Semoga uangku masih dalam keadaan aman,' aku terus berfikir positif. Sedangkan Suga mengikuti ku dari belakang. Seolah-olah ikut memberi semangat.
Kami menunggu cukup lama, akhirnya aku di panggil juga oleh costumer service. Hatiku mulai bergelayutan, aku berjalan ke outlet dengan pikiran yang campur aduk.
"Ada yang perlu saya bantu, Nona?" tanya customer service di depanku dengan ramah dan full senyum.
Aku mengulas sedikit senyuman, lantas memberikan buku tabunganku.
"Aku ingin minta rekening koran."ucapku tak kalah ramah.
"Baik, mohon tunggu sebentar ya, Nona." kata customer service itu. Aku hanya mengangguk pelan sebagai tanda mengiyakan. Aku pun duduk menunggu dengan perasaan yang tidak tenang. Tak butuh waktu lama Customer service itu memberikan buku tabunganku.
Deg! deg! Suara detak jantungku berdegup kencang. Saat memegangi buku kecil itu. Aku pun mulai membuka nya secara perlahan dengan gerakan slow motion.
Dan ... deg! Mataku terbelalak kaget. Aku refleks menutup mulut ku yang menganga, aku menggeleng pelan melihat rentetan angka-angka di kertas putih itu dengan perasaan yang tertekan.
Kosong! Isi rekeningku tak ada uang sama sekali. Aku seperti di tusuk oleh benda yang sangat tajam dan tepat di jantungku. Sakit, rasanya begitu sakit. Air mataku sudah tidak bisa di kendalikan lagi, dia tergerai bebas dari pelupuk mataku.
Otot-otot kaki ku pun mulai melemas, seolah-olah sudah tak sanggup menopang berat tubuhku. Aku mulai hilang fokus, sampai husky voice itu menggema di telinga ku. Memanggil namaku terus-menerus, sampai akhirnya tubuhku di bawa pergi olehnya.
Dadaku terasa sesak membuat nafas ku terengah-engah, sekuat mungkin aku tahan agar isakan ku tak keluar. Jujur aku begitu terpukul, pundi-pundi uang yang ku kumpulkan bertahun-tahun kini telah sirna tak berbekas. Pikiranku kosong dengan semangat yang perlahan hilang. Kerja kerasku seakan sia-sia, semua harapanku telah sirna meninggalkan rasa kecewa yang begitu besar.
Aku terus di bawa entah kemana, pikiran ku benar-benar sedang tidak waras. Aku hanya menatap kosong dengan derai air mata yang tak henti sedari tadi.
"Menangis lah dengan nyaman, keluarkan semua bebanmu." Suga memberiku ruang untuk aku meluapkan semua emosiku. Aku menangis sejadi-jadinya di balik dada bidang suga.
Kami duduk di kursi taman yang tak jauh dari Bank. Aku terus menumpahkan segala rasa sakit dan kecewa ku tanpa memperdulikan siapapun. Tangisanku pun bertahan cukup lama, sampai membuat aku mulai kelelahan dengan suara yang parau.
"Sudah merasa enakan?" tanya Suga. Aku hanya mengangguk pelan dengan terus menyembunyikan wajah berantakan ku di balik dadanya. Meskipun jarak kita dekat, tapi masih ada jarak. Wajahku tidak tenggelam ke dada bidangnya.
Suga pun memberiku sapu tangan miliknya, dengan cepat aku menghapus sisa-sisa air mataku yang basah di area pelupuk mata dan pipiku.
"Tunggu sebentar, aku akan kembali." kata Suga. Aku hanya mengangguk pelan tanpa menjawab secara langsung perkataannya.
Aku menyembunyikan wajahku di balik sapu tangan itu, aku mengintip sedikit ke arah Suga yang melenggang pergi.
Malu! Sungguh malu rasanya. Aku tadi menangis histeris di samping Suga. Meskipun keadaan taman masih lenggang, orang-orang juga hanya sedikit yang berlalu lalang. Tetap saja aku sangat malu, aku malu dengan apa yang aku lakukan tadi.
Aku benar-benar tidak bisa menjaga image ku dengan baik, tapi apa boleh buat. Aku memang serapuh ini, pikiranku benar-benar buntu. Entah apa yang harus ku perbuat sekarang.
Aku tenggelam dalam pikiranku, sampai tidak sadar kalau Suga telah kembali sambil memberi ku satu cup es krim rasa coklat.
"Makanlah, semoga mood mu lebih baik." kata Suga. Dengan rasa sungkan aku menerima es krim itu. "Gamsahabnida," ucapku dengan suara pelan dan parau.
Kami pun menikmati es krim coklat itu dengan keheningan, kami tenggelam dengan pikiran masing-masing.
"Sudah cukup tenang?" tanya Suga membuka keheningan. Aku hanya mengangguk pelan.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Suga membuka obrolan kembali.
Aku menggeleng pelan."Aku tidak tahu, pikiranku masih buntu." Aku menjawab dengan suara yang masih parau.
"Memangnya tujuan kamu ke Korea itu untuk apa?" tanya Suga, dia membuka banyak pertanyaan kali ini.
"Untuk mengejar mimpiku yang tertinggal." ucapku lemah. Rasanya terlalu sesak jika harus membahas nya sekarang.
"Mimpi apa? Dalam bidang apa? Kamu sudah punya rencana sebelumya?" Suga terus memberondong ku dengan banyak pertanyaan.
Awalnya aku tidak ingin menjawab. Akan tetapi, melihat wajahnya yang tengah menantikan jawabanku, aku pun luluh.
"Aku datang ke Korea untuk menjadi penulis yang sukses dan terkenal. Contohnya seperti penulis Lee Ji Eun. Aku sangat termotivasi oleh nya. Rencana awalku pergi ke Seoul dan mencari pekerjaan sesuai keahlian ku di sini. Tapi, kenyataan nya semuanya sudah kacau." tutur ku. Aku menahan keras agar tidak kembali terisak.
"Kita memang tidak tahu akan sebuah musibah yang melanda kita. Tapi, kamu harus mencoba untuk ikhlas. Di balik masalah yang terjadi pasti ada hikmahnya." ucap Suga memberi pedoman.
"Aku tahu, tapi ini begitu sulit untukku. Apalagi kerja kerasku selama ini sangat sia-sia." ucapku dengan suara yang parau. Aku menunduk lemah meratapi nasibku yang malang.
"Kamu bisa memulainya dari bawah."
"Tidak mudah bagi seseorang seperti aku. Untuk sampai ke tahap ini saja, aku berjuang mati-matian."
"Lalu, kamu akan menyerah begitu saja, begitu?"
Aku menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak ingin menyerah. Tapi, aku juga bisa apa. Semua yang ku punya telah hilang. Aku di sini hanya orang asing yang tidak memiliki sanak saudara. Bagaimana aku bisa bertahan?" Aku mulai terisak lagi, nasib ku benar-benar menyedihkan.
"Aku akan membantumu, jika kamu ingin kembali berjuang." Kata-kata Suga membuat Isak tangisku langsung terhenti seketika.
Aku memasang muka tanda tanya padanya.
"Aku akan membantumu mengejar mimpimu itu." terang Suga. Raut wajahnya datar tapi mata sabit itu menyimpan ketulusan.
Mataku berbinar.
"Benarkah? Aku tidak salah dengar?" tanyaku dengan rasa antusias yang tinggi.
Suga menyungging senyum simpul. "Iya." ucapnya mantap.
Aku refleks menganga tak percaya, mataku melebar saking terkejutnya. Aku speechless, menatap Suga dengan binar bahagia.
Aku lantas berdiri dan merengkuh sopan kepada Suga. Aku begitu kegirangan.
"Terimakasih, terimakasih. Anda benar-benar malaikat penolong saya. Min Yoongi ssi." ucapku dengan suara yang riang.
"Iya-iya. Sudah duduk lagi." jawabnya. Aku pun kembali duduk di sampingnya.
"Tapi, sebelum aku mendapatkan pekerjaan yang cocok, for your field. Kamu bisa bekerja untuk ku."
"Untuk Min Yoongi ssi?" Aku kembali di buat kaget.
"Iya, untukku. Aku butuh koki di rumahku. Kamu bisa masak kan?"
"Eu--- soal itu aku cukup mahir tapi hanya masakan khas Indonesia saja. Kalau soal makanan Korea atau Chinese, hanya sedikit yang aku bisa."
"Tidak apa-apa. Kamu bisa sambil belajar. Lagian, aku hanya butuh orang yang bisa menyediakan makanan untukku. Aku tidak pemilih soal makanan, yang penting rasanya lezat dan halal."
"Kalau begitu aku akan mencoba yang terbaik, Min Yoongi ssi." ucap ku antusias. "Tapi---" Aku mengjeda ucapanku.
"Kalau untuk tempat tinggal, kamu bisa tinggal bersamaku." Dia memotong perkataan ku, seolah-olah dia tahu apa yang ingin aku katakan. Dan tebakan dia memang benar.
"B-bersama anda?" Aku terkejut bukan main. Baru mendengar saja pikiran ku sudah kemana-mana.
"Iya, jangan kayak lihat setan terkejut nya, biasa saja." ucap Suga, raut wajahnya tetap sama datar dan dingin. Aku pun langsung mengatup rapat bibirku.
" ...." Aku pun terdiam beberapa saat. Masih mencerna dengan baik perkataan Suga. Aku benar-benar mendapat Jackpot secara dadakan.
Kesedihan ku yang tadi nyaris hilang begitu saja.
Malah kesedihan itu berganti dengan rasa syukur dan bahagia. Allah benar-benar mampu menyenangkan hamba nya dengan cara-Nya yang sangat tidak terduga. Aku tersenyum haru menatap Suga.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
fianci🍎
Seru banget deh!
2024-06-15
0