Bab 14 Tega melukai diri karena cinta yang telah tiada.

"Percayakan semua itu pada hatimu, karena hatimu tidak akan pernah berbohong." ujar Hera eomma.

****

Setelah perbincangan yang membuat fokus dan hatiku terguncang, kami kembali ke dalam kamar. Saat masuk ke dalam aku di kejutkan oleh Suga yang begitu tampak hangat, ketika berceloteh manja sambil menyuapi Hera.

"Wah, anak eomma pintar sekali makan nya." ujar Ibu Hera saat menghampiri putrinya.

"Iya dong harus, kata Tyas eonni aku harus banyak makan biar tambah sehat." celoteh Hera begitu riang, aku yang mendengar nya begitu tergugu haru.

Aku yakin kamu akan sehat, keajaiban Allah itu ada sayang. Aku melempar senyum ke arahnya dan menaikan dua jempol untuk memuji nya.

Hera akhir nya bisa menghabiskan satu mangkuk bubur yang di beli Suga, tentunya bubur yang baik untuk orang sakit.

Setelah merasa dirinya kenyang, Hera merasa sangat mengantuk. Untuk itu dia memintaku untuk membacakan dia sebuah dongeng yang akan mengantarkan tidurnya dengan cepat.

Dengan hati senang aku mulai bercerita, aku bercerita tentang dongeng yang terkenal di Indonesia, seperti kisah buaya dan kancil atau kura-kura dan kuda. Akhirnya, Hera bisa tidur dengan nyenyak setelah aku selesai ber dongeng.

Rasanya masih ingin bersama Hera, bertemu Hera dapat mengobati rasa rinduku pada adik kecilku yang di kampung. Tetapi, Suga ingin segera pulang katanya ingin segera beristirahat. Katanya besok jadwalnya sangat padat, dengan berat hati aku menuruti perkataan nya.

"Hera eomma, aku pamit. Lain kali aku akan berkunjung lagi, eomma di sini jaga kesehatan dengan baik. Jangan lupa tidur dan makan yang teratur, ya." ujarku, dia lantas memeluk ku dengan hangat -- mengelus pelan bahuku dan terdengar terisak sebentar.

"Pikirkan dengan matang perkataan Eomma yang tadi ya?" Aku pun mengangguk. "Jaga diri baik-baik! Semoga kamu selalu dalam lindungan Tuhan." ujar nya seraya memegang kedua bahuku, dia tersenyum hangat sambil mengelus pipiku dengan sayang.

Argh! Aku tersentuh, aku ingin menangis tapi ku tahan beberapa kali karena malu.

Setelah Suga dan aku berpamitan, kami pun pergi dari sana tanpa ada obrolan apapun.

***

Di mobil SUV

Di tengah perjalanan pulang. Saat keadaan hening.

"Suga-ssi! panggilku dengan suara pelan.

"Hm ...." Dia hanya berdehem pelan terlihat sangat tidak bersemangat menjawab panggilan ku.

"Mau makan siang dengan apa?"

"Apa saja, asalkan enak dan bukan racun." Jawabnya datar. Ada-ada saja ini orang, se menyebalkan kamu tidak ada niat sama sekali untuk jadi pembunuh.

"Oke." Hanya itu yang keluar dari mulutku ternyata.

Setelah sampai di apartemen aku langsung berkutat di dapur untuk memasak makan siang. Hari ini aku bikin menu yang simple aja, yaitu capcay kuah dan semoga Yoongi suka. Hanya belasan menit semua nya telah selesai.

Aku melihat Jam tangan ku, waktu sudah menunjukan pukul 13.20 waktu Korea Selatan. Karena aku yang sedang datang bulan merasa lebih tenang karena tidak perlu shalat.

Aku langsung bergegas mencari yoongi untuk mengajak nya makan siang bersama. Aku pun langsung menemui nya ke kamar, karena tadi dia bilang ingin istirahat.

Tok! Tok! Tok!

"Yoongi-ssi! Makanan sudah siap, ayok kita makan siang!" panggilku, tapi belom ada sahutan sama sekali.

"Yoongi-ssi!" panggil ku lagi, tapi masih tidak ada jawaban. Apa dia tidur ya? Tapi masa iya sih, biasanya dia suka langsung bangun. Pendengaran nya kan sangat tajam, aku pun mencoba membuka kamarnya untuk memastikan.

Dan ... "Kosong!" Kemana dia ya, apa aku cari aja di ruang tamu. Aku langsung mencari dia ke ruang tamu tapi tidak ada, aku langsung mencari-cari dia kemana-mana dan masih belom ketemu juga.

Aku mulai panik, karena aku tahu pasti -- kalau yoongi sama sekali tidak keluar rumah. Untuk memastikan, aku mencari handphone dan kunci mobil nya dan ternyata masih ada di atas meja nakas.

Aku semakin panik, dan terus mondar-mandir mencari yoongi. Aku mencari dia seantero apartemen nya, termasuk kamar mandi, balkon dan basemen tapi kehadirannya masih tak di temukan.

Aku berjalan lemas ke dalam rumah, aku takut Yoongi melukai dirinya karena kejadian tadi. Ingin sekali aku meminta bantuan tapi sangat sungkan, dengan percaya diri aku terus mencari yoongi lebih hati-hati dan ... Aku mulai keinget kalau gudang belum ku cari.

Dengan keyakinan hati, aku pergi menuju gudang dengan hati yang sudah gelisah. Aku menemukan daun pintu yang sedikit terbuka, dengan perasaan ragu aku masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.

"Sillyehabnida!" Aku mengucapakan permisi dengan sopan. Dan terus berjalan masuk ke dalam sembari memanggil Yoongi tuan.

"Yoongi-ssi! Yoong-ssi! Apa kamu ada di di sini?" panggilku ber ulang-ulang. Tapi, masih tidak ada jawaban.

Ruangan ini cukup luas dan rapih, tidak seperti gudang pada umumnya. Aku merasa heran, tapi aku terus berjalan ke depan. Karena aku yakin yoongi pasti ada di dalam sini.

Bau miras yang identik menusuk indera penciuman ku, aku sudah berpikiran aneh-aneh dengan perasaan yang tidak tenang. Aku pun mengikuti bau miras yang telah menguar itu, dengan langkah perlahan aku menyusuri tiap ruangan.

Saat aku tiba di ruangan tengah, aroma kuat dari miras semakin tercium kuat. Aku langsung mengedarkan pandangan untuk menemukan sosok Suga. Aku berjalan menyisir ruangan sampai aku melihat pintu terbuka dari sebuah kamar dan ... deg! Aku terkesiap ketika menemukan Suga tergeletak tak berdaya di lantai bersama dengan banyak botol miras yang berserakan.

"Suga-ssi!" Aku berteriak seraya berlari ke arahnya.

"Suga-ssi! Il-eona!" Aku membangunkan Suga dengan nyaring seraya terus menepuk pipi nya yang kini telah memucat.

"Yoongi-ssi! Ayo bangun! Kenapa kamu melakukan ini. Astaga." Aku begitu khawatir dan panik. Yoongi benar-benar tidak berdaya. Aku begitu salah tingkah, aku merasa bingung harus bagaimana.

"Yoongi-ya! Ayok bangun biar ku bantu ke kamar." ucapku pelan sembari menggoyangkan badan nya yang kekar.

Dan akhirnya dia membuka matanya, aku cukup tenang melihat nya. "Ga jima!" Dia merangkul dan memeluk ku secara tiba-tiba. Gerak cepat nya membuatku tidak bisa menghindar.

"Yoongi-ssi, sadar lah!" Aku mencoba melepaskan pelukan nya, tapi rangkulan nya begitu kuat membuat pergerakanku terkunci.

"Ga jima! Ga jima! Yura-ya!" teriak nya begitu histeris dengan tangisan yang telah pecah.

Yura? Dia memangil ku dengan sebutan Yura? Jadi, dia benar-benar telah mabuk dan bisa se kacau ini karena Yura? Berarti cinta dia kepada Yura begitu besar sampai membuat Suga seterluka ini. Meskipun Yura telah meninggal, tapi nama Yura sangat melekat dalam hatinya. Ya Allah Suga.

Nyes! Ada sembilu ya menusuk jantungku, kenapa tiba-tiba aku sesakit ini! Aku mencoba meng enyahkan itu dan lebih fokus ke Suga. Tetapi, rasa sesak di dada membuat tangisku pecah ruah. Aku menangis pilu tersedu-sedu di pelukan Suga, akan tetapi pelukan Suga semakin menguat membuat pelukan kita semakin erat terpaut. Kepalaku yang terbenam di dada bidangnya membuatku tak nyaman, aku berusaha keras untuk melerai tapi tenagaku tak cukup kuat untuk melepas pelukan kuat darinya.

"il-eonaseyo yungissi! kamu tidak boleh seperti ini. Aku bukan Yura! Aku Eltyas! Maka, lepaskan pelukan ini!" ucap ku di sela isakan ku.

"jeongsin-eul chaliseyo! yungissi ileomyeon an dwaeyo. (Sadarlah! Kamu tidak boleh seperti ini, Yoongi tuan." ujarnya memelas, tapi dia tetap tak melepas kan pelukan.

"yungissi, nwajuseyo! (Yoongi tuan, ku mohon lepaskan." Aku terus memberontak untuk melerai pelukan nya. "Aku Eltyas! Bukan Yura mu! Tolong sadarlah!" isak tangisku kembali keluar.

"Tyaseu?" ujarnya tampak kaget, lantas melerai pelukannya padaku. Dia menatap ku begitu lekat dan dalam. "Kamu Eltyas?" ujarnya dengan tatapan sendu, lantas terlihat lesu setelah menyadari itu.

Dia kembali menangis, dia semakin tergugu pilu.

"Kenapa!? Kenapa ... Kamu begitu mirip dengan Yura-ku. Kenapa kamu harus kembali dengan wajah ini, di saat aku ingin benar-benar melepaskan Yura!" Dia histeris, meraung sakit sembari mencengkram bahu ku dengan kuat. Aku meringis sakit sembari mencoba melerai cengkraman nya, tapi nihil tenaga ku masih tak cukup kuat untuk memberontak.

"Kenapa kamu hadir dan seperti sosok Yura!? Sampai akhirnya aku gagal lagi melupakan nya, aku kembali rapuh karena nya. Kenapa? Kenapa Eltyas?!" Dia berteriak frustasi dengan menguncang bahuku dengan kuat, membuatku semakin meringis.

"Aws! Lepaskan yungissi! Cengkraman mu menyakiti bahuku." ujar ku dengan air mata yang kian menderas.

Dia perlahan melerai cengkraman nya seraya menunduk lemah. Aku menatap ke arah nya dengan tatapan sendu dan kecewa.

"Yoongi-ssi!" panggilku dengan nada di tekan. Yoongi lantas medongakkan wajahnya -- ikut menatapku dengan linangan air mata.

"Dengarkan aku dengan baik!" seru ku, dia hanya terdiam tapi masih menatap dalam padaku. "Aku tidak pernah meminta di lahirkan seperti sosok Yura mu. Bahkan apa nya yang sama? jelas-jelas kita sangat berbeda." tekan ku dengan seringaian dan air mata.

"Wajah?" tanyaku tegas seraya melihat jelas ke arah foto besar yang terpajang di dinding. Foto Suga dan wanita nya tengah tersenyum manis padaku seakan meledek. "Dia? Wanitamu itu?" tunjuk ku dengan dagu dengan seringaian, dia lantas menatapku tajam.

"Sama sekali tidak ada kemiripan dengan ku!" tekan ku dengan tatapan nyalang padanya.

"Tutur sapa? Semua orang bisa bersikap demikian. Bukan aku yang salah Yoongi-ssi! Tapi kamu yang sama sekali belum bisa melepaskan masa lalu yang mengungkung mu itu, sampai kau menganggap wanita lain sebagai kekasihmu!" ujarku dengan nada yang nyaring dan penuh penekanan.

"Terus kenapa kamu masuk dalam hidupku!?" tanya Suga terkekeh pelan dengan penuh penekanan, dia meraih daguku dengan kasar.

"Masuk dalam hidupmu?! Bukan aku yang meminta! Tapi kamu sendiri yang membawaku masuk ke dalam hidupmu!" tegas ku dengan suara lantang.

Dia terdiam.

Aku terkekeh mengejek. "Lalu sekarang kamu menyesal telah menolong ku? Kalau begitu kenapa kamu terus mempertahankan aku di sini? Sampai melarang ku untuk tidak dekat dengan pria lain. Apa tujuan mu sebenarnya Yoongi-ssi?! Aku tidak bisa menebak jalan pikiran mu, karena kamu begitu seenaknya terhadap ku." ujarku dengan air mata yang telah menganak sungai.

Dia kembali terguncang dengan air mata yang terus berlinang, dia menunduk pilu dengan tangisan menyayat isi kalbu. Aku ikut merasakan apa yang dia rasakan, tapi dia begitu keterlaluan karena melampiaskan kekacauan nya padaku.

"M-maaf!" ujarnya lemas dan terbata, setelah itu dia berdiri dengan badan yang lunglai. Ingin rasanya membantu nya, tapi hatiku masih sakit dengan perkataan nya.

Aku membuang pandangan tanpa ingin melihatnya, aku membiarkan air mata ku terus luruh dengan rasa sakit yang kian mencuat.

Dan PRANG! BRUK! suara nyaring terdengar dari depan, membuat aku langsung menoleh kan wajah ke sana. Aku menganga setelah melihat Yoongi terjatuh ke lantai dengan kepala bersimbah darah, karena terkena pecahan botol miras yang telah pecah seribu.

"Yoongi!" teriak ku begitu nyaring seraya berlari ke arahnya.

"Ah, yoongi bangun lah!" teriak ku dengan Isak tangis yang pecah ketika yoongi tak sadarkan diri dengan luka di kepalanya.

"Yungissi! aniyo! il-eonaseyo yungissi jebal-yo (Yoongi tuan! Tidak! Kumohon sadarlah Yoongi tuan, ku mohon.)" Aku panik bukan main menatap pilu padanya dengan menangis tersedu-sedu.

"Bodoh! Bodoh sekali kamu. Tega melukai diri karena cinta yang telah tiada!" Aku mengumpat dengan tangis seraya merangkul kepalanya yang berdarah.

"Suga!"

To be continued ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!