Bab 8
Kepribadian Suga yang berbeda
Aku berjalan menyusuri rumah megah ini, sesekali aku bertanya kepada member lain akan keberadaan Suga. Tetapi, mereka tidak tahu keberadaan nya. Aku pun mencoba mencari ke kamarnya tapi kosong -- dia tidak ada juga.
'Ih, kemana sih kucing menyebalkan itu. Pake merajuk segala.' gerutu ku dalam hati. 'Untung dia tampan, kalau enggak malas sekali nyariin dia.' omelku dalam hati.
"Kamu sedang mencari siapa Eltyas-ssi?" tanya Jungkook, ketika kami berpapasan di lorong dekat kamar Suga.
"Tuan Suga. Anda tahu dia berada di mana?" tanyaku. Jungkook pun menggeleng.
"Tidak, coba cari di rumah sebelah! Biasanya Suga Hyung suka mengisi luang untuk membuat lagu di ruangan nya." Jungkook memberi saran.
"Baik, saya akan ke sana. Terimakasih sarannya Jungkook-ssi." Jungkook pun tersenyum manis. "Sama-sama." jawabnya. Aku pun pamit pada Jungkook.
Aku pun mencoba menghubungi nya, setelah beberapa kali panggilan tetap saja Suga tidak menjawab membuat aku semakin kesal. Aku pun memutuskan untuk mencari ke rumah sebelah dan sekeliling nya, tapi nihil dia tidak ada.
Setelah aku berputar-putar cukup lama, aku pun menyerah. Aku duduk di dekat pohon rindang yang cukup jauh dari kawasan dua rumah megah itu.
"Ah ... haus lagi. Tapi kucing itu belum ketemu juga." gerutuku yang tak habis-habis.
Aku mengibaskan tangan ke wajahku karena merasa kegerahan.
"Kenapa kamu di sini?"
"Kamcagiya!" Aku berteriak nyaring memegang jantungku yang berdebar kencang karena kaget.
Aku menoleh ke belakangan dan menatap tajam pada pria berkulit putih pucat, yang kini tengah berdiri tepat di samping pohon tempatku bersandar.
"Bisa gak kalau datang itu gak ngagetin?" ucapku dengan raut wajah tak ramah.
"Apa masalahnya sama kamu?" tanya Suga begitu dingin.
"Anda selalu membuat saya sport jantung, Yoongi-ssi." Aku mendelik kesal.
"Makanya olahraga. Biar jantungmu gak lemah."
'Ish. Menyebalkan! Bukan nya minta maaf, malah mengguruiku. Dasar pria dingin, untung dia tampan!' bathinku.
"Hm ...." Aku hanya bergumam pelan.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Suga jutek.
"Ngadem." Aku berkilah.
"Terus kenapa anda di sini Yoongi-ssi?" Aku balik bertanya untuk basa-basi.
"Bukan urusan kamu!" ketus nya, membuat aku langsung membuang nafas kasar.
'Memang bukan urusanku, tapi kamu membuat aku kesusahan mencari-cari kamu.' ucapku pelan sedikit bergumam.
"Saya gak nyuruh kamu nyariin saya." ucap Suga dingin. 'What? Dia mendengar gumaman ku? Pantesan dia di juluki kucing, pendengar nya sangat tajam.' argumenku dalam hati.
Suga pun mulai mengambil duduk tepat di sampingku. Deg! Jantungku mulai tak tenang.
'Kenapa jantungku malah berdebar kencang sih?! Harusnya hatiku kesal dong, marah karena Suga telah membuang tenagaku.' pikir ku.
"Kamu nyariin saya?" tanya Suga penuh percaya diri.
"Iya."
"Mau ngapain?" tanya Suga dengan raut wajah dinginnya.
"Mau ngobrol sesuatu sama kamu." kilahku.
"Penting?"
Aku mengangguk. "Hm ...."
"Kalau gak penting-penting amat nanti saja, aku ingin sebendiri. Tolong pergi!" Dia mengusirku secara halus, membuat aku menghela nafas dalam.
"Saya mau minta maaf Yoongi-ssi, " ucapku pelan dan hati-hati.
"Kenapa tiba-tiba?" Dia bertanya dingin.
"Eum ... Maafin aku jika aku ada salah sama anda. Tapi, tolong kasih tahu salah saya apa biar saya mengerti." pintaku padanya.
Yoongi tampak terdiam lantas menghela nafas dalamnya. Dia menoleh ke arahku."Kamu masih betah kerja dengan saya?" Dia bertanya dengan sorotan dingin membuat aku langsung gugup.
Dengan rasa gugup aku pun mengangguk. "N-ne." ucapku pelan sedikit bergetar.
"Jangan berbohong!" ketus nya lantas memalingkan wajahnya dariku.
"S-serius Yoongi-ssi. Saya tidak berbohong." Aku menjawab jujur.
"Terus kenapa kamu menjawabnya begitu gugup dan ragu seperti itu?" tanya Suga mendelik ke arahku. 'Duh ... aku semakin ketar-ketir di buatnya.'
Aku terdiam beberapa saat, sambil mencari jawaban yang tepat.
"M-maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya gugup melihat raut wajahmu yang tampak begitu dingin Yoongi-ssi. Aku tidak nyaman." Aku berucap dengan bibir gemetar, aku takut Suga tambah kesal. Tetapi, dia hanya terdiam tanpa menjawab sepatah katapun.
"Tidak nyaman bekerja dengan saya? Ya sudah kalau begitu kerja saja sama Jin hyung." ketus Suga, aku langsung mematung. 'Mati aku, Suga pasti salah mendengar percakapan aku dengan Seokjin oppa tadi.'
"Kenapa diam? Jawab!" tanya Suga, dia tidak membentak ku. Tapi, rona wajah nya begitu tampak kesal. Aku pun menelan salivaku dalam dan mencoba mengusir semua rasa takut itu.
Dengan keberanian aku mencoba angkat suara. "M-maaf Suga-ssi sepertinya anda salah paham. Saya nyaman bekerja dengan anda, mungkin anda salah paham mendengar percakapan kami tadi." ucapku dengan hati-hati. Hatiku begitu gelisah, takut Suga tidak menerima alasanku.
"Masa? Tapi, kamu malah setuju ketika Seokjin hyung menawarkan pekerjaan untukmu." kata Suga dengan penuh penekanan.
'Ah! Suga kenapa kamu jadi pribadi yang berbeda sih tidak realistis. Masa kamu tidak memperhatikan raut wajahku yang bersenda gurau.' Aku tak habis pikir dengan monolog Suga.
"Maaf Suga-ssi, aku hanya bercanda untuk menghangatkan suasana saja." ucapku dengan jujur.
"Kalau begitu kamu juga harus seperti itu kepada saya, bukanya terlihat tertekan." jelasnya.
'Mana bisa aku bersenda gurau denganmu, rona wajah mu saja begitu dingin tidak ada hangat-hangat nya sama sekali.' Aku mendumal.
"Ne, aku akan mencobanya." Aku berkilah, setidaknya aku harus menyenangkan hati bos ku ini.
"Saya tidak butuh ucapan tapi tindakan!" tegas nya.
"Ne Suga-ssi." Hanya itu yang bisa ku jawab tanpa ingin jauh ribut dengannya.
Kami pun saling terdiam beberapa saat sambil menikmati sejuknya udara di dekat bukit. Aku melirik Suga yang tengah merilekskan tubuh nya.
"Suga-ssi!" panggil ku membuka obrolan.
"Hm ...." Suga hanya berdehem pelan, dia tampak memperhatikan langit dengan menyandarkan tubuhnya ke batang pohon.
"Boleh tanya sesuatu?" tanyaku ragu-ragu.
"Hm ...." Lagi-lagi dia hanya berdehem.
"Maaf pertanyaannya sedikit menyinggung."
"Iya, bicara saja!"
"Eum ... maaf jika kamu kurang nyaman." ucapku lagi.
"Saya sudah setuju, maka katakan! Jangan banyak bicara." Suga menatap datar padaku, aku hanya menghela nafas.
"Maaf, apa aku boleh tahu alasan kamu yang selalu meng klaim bahwa karyawanmu adalah milikmu?" tanyaku hati-hati. Suga pun menoleh ke arahku.
"Dari siapa kamu tahu tentang itu?" tanya Suga, raut wajah nya tampak dingin dan terlihat tidak suka. Sebisa mungkin aku menjawab dengan benar tanpa menyudutkan siapa pun.
"Tahu saja, saya penasaran kenapa anda seperti itu." Aku berkata seraya menoleh ke arahnya untuk menantikan jawaban.
"Kamu gak perlu tahu alasannya apa. Kamu cukup patuhi saya dan tidak banyak bertanya. Seiring berjalannya waktu kamu pasti akan tahu, tanpa ku kasih tahu." terangnya.
Aku pun mengangguk pelan. "Ne, Suga-ssi. Maaf saya lancang bertanya hal itu." ucapku dengan rasa bersalah. Suga hanya berdehem pelan sebagai tanda mengiyakan. Matanya tertutup rapat seolah-olah ingin beristirahat.
Aku pun ikut melakukan hal yang sama, menyandarkan tubuhku di samping pohon sambil menutup mata. Posisi ku yang seperti ini, semakin merasakan terpaan sejuk nya angin yang berhembus pelan ke ragaku. Aku pun mendengar jelas kicauan burung di atas pohon disertai gemerisik lembut angin sepoi-sepoi di pepohonan.
Kami duduk saling bertolak belakang dalam keheningan suasana siang.
"Suga-ssi!" panggilku, setelah aku terbangun ketika beberapa saat lalu terlelap sebentar.
Ku tolehkan wajahku ke belakang. "Oh ... Dia masih tertidur." gumamku lantas menyunggingkan senyuman. "Tampan." ucapku pelan. Aku pun merubah posisiku untuk saling berhadapan dengannya.
Suga terlihat damai dan nyaman dari posisinya, dia setengah berbaring seraya menyilangkan kedua tangannya di depan sedangkan posisinya tumpang kaki sambil selonjoran.
"Hm ... Dia lebih manis seperti ini daripada sedang bangun." gumamku seraya menopang dagu memandang nya dari jarak lumayan dekat.
'Tumben sekali dia tidak bangun karena gumaman ku.' pikir ku dalam hati.
"Suga-ssi!" panggil ku kemudian. Mencoba membangunkan nya.
"Suga-ssi!" panggil ku lagi. Akhirnya dia menggeliat.
"Hm ... Kenapa manggil-manggil saya?" tanya nya dengan suara serak khas bangun tidur.
Aku terkekeh pelan. "Aku kira kamu pingsan, hehe." ucapku.
Dia pun membuka matanya, menatap aku tanpa berkedip. Aku langsung memalingkan wajah untuk mengindari kontak mata dengan nya.
'Masya Allah. Baru bangun tidur aja, wajah nya masih terlihat tampan. Pantesan sekte 'YMM' (Yoongi Marry Me) banyak sekali anggota nya,' ucapku dalam hati.
"Kenapa kamu membangun kan saya?" tanya nya sambil menelisik mataku.
"Udah mau sore, Yoongi-ssi takut punya keperluan lain. Untuk itu saya membangun kan anda." jelasku.
"Eum ... Saya masih free, bangunkan saja saya 10 menit lagi."
"Ne."
"Oh, Iya. kamu sudah menghubungi keluargamu?" tanya nya.
"Ya Allah aku lupa lagi." gumamku.
"Kamu belum menghubungi mereka?" tanya Suga yang seolah-olah mengerti apa yang aku ucapkan.
"Ye, aku lupa terus."
"Astaga bagaimana kamu ini. Cepat hubungi mereka sekarang, mereka pasti sangat mengkhawatirkan mu."
"Ne Suga-ssi. Apa saya boleh memakai handphone nya?"
"Pakai saja! kenapa harus minta izin segala. Atau jangan-jangan selama ini kamu sengaja tidak menelpon orang tuamu karena sungkan?"
"Hehehe. Ne Suga-ssi." Aku terkekeh pelan, sambil garuk-garuk kepala tak gatal.
"Geuge sasil-ingayo?( Benar kah itu?)"
"Ye, hehe."
"Aigo. Kamu ada-ada saja." Yoongi menggeleng-gelengkan kepalanya seperti tidak habis pikir oleh tingkah ku.
"Sudah telepon sekarang. Jadi, orang itu jangan terlalu sungkan, biasakan!" tegas Yoongi.
"Ne, Yoongi-ssi."
"ihaehasyeossnayo? (Kamu paham?)"
"Ye, Yoongi-ssi."
"Jangan ulangi lagi!"
"Ye, Yoongi-ssi."
"Oke, telepon sekarang! Kamu hapal kan nomor ibumu?"
"Ye,"
"Pakai seluler aja!" suruhnya, aku pun mengangguk.
Aku meronggoh ponsel yang ada di saku rok panjangku. Dengan gerak cepat aku mendial nomor ibuku yang sudah ku hapal di luar kepala.
Aku merasa deg-degan sambil menggigiti ujung kuku ku. Setelah 3 kali berdering, akhirnya telepon ku di angkat juga.
Hallo! sapa seorang wanita di seberang sana. Dari suaranya aku bisa menebak kalau itu adik sepupuku. Aku pun mengigit bibir bawahku, agar isak tangisku tak keluar.
Hallo ini siapa? tanya Dia lagi. Aku masih terdiam, dan mencoba membuka suara. Aku takut dia menutup telepon nya -- di kira telepon dari orang iseng.
"Iya, hallo. Assalamualaikum." sapaku dengan air mata yang telah luruh.
"Dek Tyas?" Suara cempreng itu bergema. Dia seperti terkejut mendengar suaraku. "Kamu -- Dek Tyas?" tanya nya lagi memastikan.
"Iya." Aku menjawab seraya menggangguk cepat. "Aku Tyas, teh." ucapku yang tadi tercekat untuk menahan Isak tangis yang hampir keluar.
"Ya Allah Dede! Dede kemana aja?" ucapnya dengan suara nyaring, aku bisa mendengar dia mulai terisak-isak.
"Siapa Neng?" tanya seorang wanita terdengar samar-samar. Aku dapat mengenali nya, itu adalah suara ibuku.
"Ini Dek Tyas, Mah!" terang Disty.
"Wah, benarkah? Itu adek mu?" tanya mamah memastikan. Aku tak bisa lagi menahan Isak tangisku, sekarang aku menangis tersedu-sedu ketika mendengar suara mamah.
"Ini kamu sayang? Ini Tyas anak mamah?" tanya mamahku dengan suara nyaring dan Isak tangis di sela ucapan nya.
"I-ya mamah. Ini Eltyas." Aku menjawab dengan air mata yang telah luruh sedari tadi.
"Ya Allah, Nak." Hiks! Hiks! hiks! Terdengar isak tangis mamah di seberang sana. Aku semakin terisak.
"Kamu nakal. kenapa kamu baru menghubungi kita huh?! Kamu benar-benar membuat mamah jantungan Tyas." omel mamahku. Aku pun mulai terhenti dari tangisku. Aku menoleh ke arah Suga yang seolah-olah memberi semangat ketika menatapku.
"M-maaf." ucapku dengan suara yang pelan yang bersalah.
"Kamu dimana sekarang? Kamu tinggal saja siapa? kenapa handphone mu sampai tidak bisa di hubungi? Apa yang terjadi sama kamu Eltyas?" Mama memberondong ku dengan banyak pertanyaan. Aku mengelus senyum, aku memang suka kalau mendengar Omelan mamah.
"Maafin Tyas, Mah. Tyas baru bisa menghubungi mamah sekarang. Tapi, mamah jangan cemas. Tyas gapapa kok, di sini Tyas baik-baik saja." ucapku memberi penjelasan.
"Hp aku rusak, jadi aku tidak bisa menghubungi kalian. Maaf, Mah!" Aku berkilah, aku tidak mengatakan yang sejujurnya aku takut mamah semakin mengkhawatirkan ku dan malah menyuruhku pulang.
"Benar kamu baik-baik saja? Terus ini ponsel siapa yang kamu gunakan untuk menelepon mamah?" tanya Mamah, dia terus menyelidiki ku.
Aku melirik ke arah Suga. "Em ... pemberian dari bos aku. Dia ngasih handphone ini agar bisa saling berkomunikasi."
"Bos?!" ucap mamah tampak kaget. "Kamu sudah dapat kerja sayang?" tanya Mamah begitu antusias.
Aku menggangguk pelan dan mengulas sedikit senyuman. "Iya. Jadi mamah gak perlu cemas, aku dapat bos yang baik." ucapku.
"Wah, Alhamdulillah sayang. Mamah senang mendengar nya." Mamah terdengar begitu bahagia.
"Iya, Mamah." ucapku, seraya mencuri pandang ke arah Suga.
"Bos mu ada di sana, Nak?"
"Eum ... kenapa gitu mah?" tanyaku yang ingin tahu.
"Boleh ngobrol dengan nya sebenar?"
"Hah?" Aku tampak kaget.
"Sebentar saja." ucap mamah meyakinkan.
"Sebentar aku minta izin dulu." ucapku, lantas menoleh ke arah Suga cukup lama.
"Kenapa?" tanya Suga.
"Katanya mamah ingin mengobrol sebentar dengan Yoongi-ssi. Boleh?"
"Hm ... aktif kan loud speaker nya."
"Boleh?" tanyaku memastikan.
"Ye. You are my translator!" suruh nya. Aku pun mengangguk antusias. "Ne, Suga-ssi."
"Mah, coba sapa bos ku." Aku memberi instruksi.
"Hai, hallo. Apa kabar?" tanya mamah kepada Suga. Aku langsung menerjemahkan nya pada Suga.
"Bilang! saya baik, bagaimana dengan mamah? semoga selalu sehat di sana."
'Eum ... giliran ngobrol sama mamah ramah banget, sedangkan ke saya sebaliknya. Dasar cowok tukang caper.' ledek ku dalam hati.
Aku pun menjadi seorang translator untuk mereka. Mereka tampak akrab, banyak hal random yang mereka perbicangan. Dan itu membuat ku keheranan dan merasa senang secara bersamaan. Yang bagaimana tidak senang, aku melihat kepribadian Suga yang hangat pada ibuku.
Aku harap itu bukan topeng nya belaka, tapi memang sifat aslinya Suga yang tersembunyi. Aku tampak kagum dengan sosok seperti Suga. '
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments