Bab 20 Jangan mengkhawatirkan soal itu

Setelah kepergian Suga, aku memikirkan ulang tentang apa yang terjadi padaku, karena saat ini aku malas berpikir -- aku memilih untuk membaca surat yang tadi Jungkook sisipkan saja.

Aku menyembunyikan nya di saku piyama ku. Aku yang kini bisa duduk, menyenderkan punggung ku ke headboard brangkar sembari kedua kaki ku di selonjorkan . Sekarang kondisi kaki ku lebih baik, ini semua berkat Suga yang telah merawat ku begitu telaten.

Aku menghela nafas dalam untuk mengusir sejenak tentang Suga, aku mulai membuka sepucuk surat dari Jungkook. Di surat ini Jungkook mengatakan.

[ Eltyaseu, aku harap kamu lekas sembuh, dan kita bisa melakukan hal-hal menyenangkan.

Eum ... soal confession ku jangan terlalu di pikir kan, tetapi aku sangat berharap setelah kamu membaca surat dariku -- kamu langsung memberikan jawaban.

Soal rumor itu, aku yakin kalau kamu tidak memiliki hubungan dengan Chanyeol hyung. Aku juga yakin kamu bukan mata-mata di antara kita.

karena sejak awal aku tahu, kamu memiliki hati yang tulus dan penyayang. Dan aku ingin menjadi salah satu orang yang spesial bisa mendapatkan ketulusan dan kasih sayang mu.

Hahaha. Maaf jika aku banyak meminta, tapi aku benar-benar tulus mencintai mu, dan aku sangat ingin kamu menjadi bagian terpenting dalam hidupku.

Untuk itu, terima aku setulus hati seperti yang aku lakukan. Bawa hubungan kita ke jenjang yang serius. Aku mengatakan ini dengan sepenuh kesadaran dari lubuk hatiku yang terdalam.

Untuk calon kekasih halalku, Eltyas] Itu adalah kata terakhir dari surat Jungkook. Setelah membaca nya aku menghela nafas panjang, mengusir sejenak rasa haru yang kini menyeruak.

Jungkook memang pria yang gentleman, langsung mengutarakan perasaan dan niatnya tanpa basa-basi. Dia juga adalah pria yang baik, aku tidak ingin mengecewakan dia atas kebaikan nya itu.

Mengingat status ku yang telah menjadi seorang janda, membuat aku begitu insecure pada seorang idol yang memiliki suara merdu ini. Lagi pula, tidak ada hal yang di banggakan dari seorang wanita seperti aku. Entahlah, Jungkook melihat nya dari sudut mana. Tapi, ini benar-benar membuat hatiku bimbang dan malu.

Hatiku dilema, apa Jungkook masih mau menerima ku setalah tahu statusku? Apa dia masih mau berteman denganku setelah tahu aku hanya wanita biasa yang nekat menggapai mimpi sampai ke negeri nya?

Aku tidak kaya, aku juga tidak cantik, apalagi populer. Tapi, kenapa Jungkook malah menyukaiku dan mau berkomitmen untuk ke jenjang serius. Sebenarnya, dia itu terpaksa, pura-pura atau mungkin hanya ingin membuat aku berharap saja?

Aku menjadi berfikir negatif, aku jadi tidak mudah percaya atas perkataan seorang lelaki. Setelah apa yang terjadi di dalam hidupku, membuat aku semakin hati-hati dalam bertindak soal hati.

Daripada aku bingung sendiri, aku memilih untuk tidak memikirkan hal ini sekarang. Suatu saat pasti ada saatnya aku dan Jungkook akan saling bercerita. Baik itu tentang perasaan nya, perasaan ku atau rencana untuk masa depan kita.

Aku bergeming beberapa saat, sampai suara ponselku berdering. Setelah aku ambil, ternyata yang menelepon itu Chanyeol. Aku cukup lega karena sekarang Chanyeol mau menghubungi ku.

(Ne, Chanyeol oppa, bagaimana?) Aku langsung menyapanya saat mengangkat telepon nya.

(Kamu dimana? Di rumah sakit?) Chanyeol terdengar khawatir, membuat aku ikut mengkhawatirkan nya.

(Iya, kenapa ceye oppa?)

(Kamu harus pergi dari sana sekarang!)

(Loh, kenapa?) Aku dibuat bingung oleh perkataan nya, aku mulai cemas.

(Awak media akan ke sana, untuk itu kamu harus pergi dari sana sekarang juga)

(Loh, k-kena --) Sebelum aku melanjutkan perkataan ku, tiba-tiba telepon di akhiri oleh Chanyeol begitu saja.

Aish, kenapa malah di matiin. Aku semakin cemas, saat aku mulai berfikir untuk mencari jalan keluar. Tiba-tiba pintu terbuka, aku sudah panik jika itu adalah salah satu dari para wartawan.

Untung nya bukan, itu adalah Suga. Aku mampu bernafas lega.Tanpa mengatakan apapun, Suga berjalan menghampiri ku dan mengambil ponselku yang berada di atas meja nakas yang tepat di samping ku.

"Suga-ssi?" Aku memanggil nya, tetapi dia mengacuhkan ku. Aku terus memperhatikan gerak-gerik nya, aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba Suga mengambil ponsel ku, apa jangan-jangan dia mau mengambil kembali karena aku sudah berani berdebat dengannya. Aish, sial.

Kemudian, Suga mendorong sedikit kursi roda yang berada tepat di samping brangkar ku untuk membenarkan nya menghadap depan. Apa dia mau membawaku pergi dari si --- belum sempat aku menuntaskan pikiran ku, tiba-tiba Suga menghadap ku dan dengan sergap membawa tubuhku ke pangkuan nya.

"S-sugassi?" aku berkata lirih, sontak membulatkan mata karena pergerakan nya yang begitu cepat ketika menggendong ku.

Tapi, aku sedikit lebih tenang karena Suga mendudukan ku di kursi roda. Aku sudah berfikiran yang tidak-tidak -- karena bisa saja Suga langsung mengendong ku untuk keluar dari sini. Aish! Ngomong apa aku ini.

"K-kita mau kemana Suga-ssi?" Aku bertanya setelah Suga mulai mendorong kursi roda yang aku tumpangi, keluar kamar dengan berjalan tergesa-gesa.

Lagi-lagi Suga hanya terdiam, aku yakin kalau Suga masih marah padaku atas kejadian tadi. Tapi, kenapa Suga bergerak cepat membawa ku keluar dari sini? Tentu saja dia pasti tahu soal para wartawan yang datang untuk menemuiku. Terus kenapa dia perhatian? Bisa saja kan dia meninggalkan ku begitu saja kan? Apalagi, dia yang ingin melakukan konferensi pers. Sebenarnya, apa yang dia inginkan. Aku terus bertanya-tanya dalam hati.

Aku di bawa Suga ke sebuah lorong yang aku tidak tahu, sepertinya ini adalah jalan pintas untuk keluar dari rumah sakit ini. Dan benar saja, jalan ini menuju ke sebuah pintu yang ku taksir itu adalah pintu alternatif menuju keluar dari belakang rumah sakit ini. Akan tetapi, di ujung jalan terdapat tangga yang membuat pergerakan kursi roda ini terpaksa berhenti.

"Suga-ssi, tolong memapah ku." Saat aku berkata seperti itu, Suga malah tampak acuh. Setelah membuka pintu itu dengan anak kunci yang dia bawa. Tampak pikir panjang dia malah menggendongku lagi. Hal itu membuatku aku begitu kaget untuk kedua kalinya.

"S-sugassi?" aku memanggil nya untuk meminta nya menurunkan aku. Tapi, Suga malah tetap berjalan dengan wajah dingin nya yang tampak tak bisa aku tebak dengan jalan pikiran ku.

Untung saja saat kita keluar dari sini, tak ada wartawan sama sekali. Aku di gendong ala bridal style, yang menurut aku ini benar-benar mengguncang jantungku. Jantungku yang berdebar tak tahu diri, benar-benar tak bisa di ajak kompromi.

Tentu, Suga pasti tahu akan suara detak jantungku yang kencang ini, karena jarak kita yang kini begitu dekat. Aku menggigit bibirku dengan pelan untuk mengusir kegugupan ini. Bisa-bisa paru-paru ku sesak di kejar jantungku yang berdetak begitu kencang.

Suga terus mengendong ku sampai menemukan mobil SUV nya, yang kini telah terparkir di sisi jalan yang berjarak cukup dekat dengan pintu belakang.

Saat mau sampai ke samping mobil, aku kembali di kejutan oleh Jungkook yang tiba-tiba membuka kaca mobil di pintu kemudi.

"Astaghfirullah." Reflek aku beristigfar, karena penampakan Jungkook yang tiba-tiba menyembulkan kepalanya ke luar jendela, dengan pergerakan yang cepat dan itu seperti hantu.

"Hyung? Eltyas? Ayok." panggil nya, Suga pun sedikit berlari untuk menuju ke samping mobil.

Aku di duduk kan oleh Suga di kursi belakang, sedangkan Suga berada di jok depan tepat di samping Jungkook yang mengemudi kan mobil.

"Kita sekarang kemana hyung?" Jungkook kini telah bersiap untuk menjalankan mobil.

"Sesuai rencana awal." Setelah Suga mengatakan itu, dengan antusias Jungkook mengatakan oke dan segara meluncur kan pedal gas.

Jungkook memilih jalan yang agak memutar, untuk menjauhi para wartawan yang kini telah berada di depan rumah sakit. Bahkan kata Jungkook, kalau kita telat semenit saja. Kita akan terciduk oleh para wartawan itu di ruang inap ku.

"Kita sekarang mau kemana Jungkook oppa?" Aku keceplosan memangil nya dengan sebutan "Oppa"

Jungkook tampak melirik ke arah Suga. "Rumah orangtuanya Jin hyung."

"Ye?" Aku langsung kaget, kenapa tiba-tiba aku di bawa ke rumah ibunya Seokjin oppa. Apa aku benar-benar akan di sidang? Gawat, aku pasti kena omel di sana.

"Gak perlu takut, kita ke sana untuk mencari perlindungan untuk kamu, kok." jelas Jungkook, hal itu membuatku aku mengerutkan dahi.

"Kenapa harus kesana?" Aku bertanya dengan pelan, tetapi Suga tiba-tiba berkata. "Bisa diam tidak?" NYES! rasanya langsung dingin sampai ke ulu hati.

Pria kulkas ini sudah mulai berkata dingin, apa salahnya coba aku nanya begitu, kenapa harus sewot sekali. Karena tidak ingin berdebat, aku memilih untuk terdiam tanpa melanjutkan percakapan.

Sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan, termasuk kenapa tiba-tiba para wartawan ke sana. Padahal kata Chanyeol, rumah sakit itu di jaga oleh keamanan yang ketat.

Apa jangan-jangan karena ada rumor tentang aku dan Chanyeol? Sehingga wartawan begitu sigap mencari keberadaan ku.

"Coba, kalau kamu setuju untuk melakukan konferensi pers. Kami tidak akan kesusahan seperti ini." Perkataan Suga membuatku aku terdiam, aku menjadi merasa bersalah karena malah membuat mereka kerepotan karena masalah ku.

Aku memilih terdiam, tanpa mengatakan kata maaf terlebih dulu.

****

Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya kita sampai di kediaman Seokjin. Aku bergeming beberapa saat sembari menatap takjub kemegahan mansion mewah yang kini telah berada tepat di depanku.

Tak lama setelah itu, Seokjin keluar rumah untuk menyambut kami. Seokjin tersenyum ramah padaku, aku pun melakukan hal sama. Kami bertiga di ajak pria tampan ini masuk ke dalam rumah.

Aku yang belum bisa berjalan dengan baik, akhirnya di papah oleh kedua pria yang membawaku kemari. Kali ini Suga tidak berani menggendong ku tanpa permisi, karena ini bukan kediaman nya seperti nya dia sungkan.

Aku terus memandang takjub, ketika berjalan menyapu interior rumah ini yang begitu mewah dan indah. Tak heran rumah orang tua Seokjin oppa begitu mewah, orang mereka itu sudah kaya raya dari turunan bangsawan.

Aku menyimpan keterpukauan dalam hati, aku tidak ingin di lihat sebagai seseorang yang begitu katrok. Apalagi, saat ini kami bertiga di ajak Seokjin bertemu dengan kedua orang tua nya.

Kedua orang tua Seokjin menyambut kami begitu ramah, aku merasa senang di perlakukan dengan baik di hari pertemuan pertama ini.

"Omo, Kau cantik sekali, sayang. Siapa namamu, Nak?" Ibu Seokjin berbincang dengan ku dengan antusias. Hatiku menghangat.

Aku tersenyum malu-malu, merasa tersanjung oleh nya. "Bu-in, je ileum-eun eltiaseu-ibnida." (Nyonya, perkenalkan nama saya Eltyas)

"Wa, ileum-i jeongmal aleumdabneyo. ani, geunyang eommahante jeonhwahae." (Wah, namamu sangat cantik. Tidak, panggil saja ibu)

Aku mengangguk pelan seraya tersenyum. " al-ass-eo, gomawoyo, eomma." (Baiklah, terimakasih Ibu)

Setelah berbincang ngalor-ngidul bersama ibu nya Seokjin dan sesekali berbincang dengan ayah nya Seokjin. Aku di persilahkan untuk istirahat, aku di antar oleh beberapa Maid untuk membantu memapahku sampai ke kamar yang telah di persiapkan.

Kamar tamu ini luas dan juga megah, aku merasa tidur di kamar seorang putri. Argh, aku berandai-andai kapan memiliki rumah seperti ini. Setelah cukup menikmati kemewahan kamar ini, aku kepikiran kembali atas apa yang telah terjadi hari ini.

Aku bertanya-tanya kenapa para wartawan pergi ke rumah sakit untuk menemuiku, dan kenapa aku malah di antar ke rumah orang tua Seokjin. Apa ada masalah lain? Aku terus kepikiran, sampai akhirnya aku mencoba mencari tahu di siaran TV. Akan tetapi, aku malah pengen buang air kecil, sial bagaimana ini aku masih kesusahan berjalan.

Ingin meminta bantuan kepada maid tidak enak, meskipun Ibunya Seokjin telah menegaskan kalau apa-apa bisa minta bantuan. Aku yang tidak mau terus-menerus menyusahkan orang, aku berusaha berjalan sendiri meskipun masih ada rasa ngilu di kakiku ketika melangkah.

Untung saja saat aku kesusahan berjalan, seseorang mengetuk pintu. Tanpa menanyakan siapa itu, aku mempersilahkan nya masuk dan tenyata itu adalah Jungkook.

"Eltyaseu? Kau mau ke kamar mandi? kenapa tidak meminta bantuan." Saat pintu itu terbuka, Jungkook melihat aku ketika melangkah kesusahan menuju kamar mandi.

Jungkook segera menawarkan bantuan dan membantu memapahku sampai ke toilet. Jungkook menunggu ku di dalam kamar, jadi setelah aku keluar toilet dengan sigap Jungkook langsung memapah ku.

Aku meminta Jungkook untuk menuntunku duduk di sofa yang telah tersedia di kamar ini, sedari tadi pintu kamar ini terbuka lebar. Jadi, tidak akan ada kesalahpahaman jika seseorang tiba-tiba masuk ke sini.

"Terimakasih, Jungkook-ssi." Aku berterimakasih dengan tulus, Jungkook mengangguk seraya bilang. "Kalau sekiranya butuh bantuan, jangan memaksakan diri. Kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana, jangan bikin khawatir."

Perkataan Jungkook aku angguki, sebagai tanda mengerti dan tidak akan mengulangi nya."Terimakasih, selalu memperhatikan aku Jungkook-ssi." Jungkook tersenyum, dia perlahan mengangkat tangannya lantas mengusap pelan puncak kepalaku yang terhalang hijab.

Aku yang di perlakukan seperti itu lantas menunduk malu, Jungkook dengan sigap membawa tangannya kembali menjauh dariku.

Tiba-tiba di ruangan ini terasa panas, aku yang kegerahan atau aura yang di keluarkan Jungkook yang membuatku panas dingin.

Karena perasaan ku telah berbeda, aku meminta mengobrol di luar kamar. Sekalian aku ingin menanyakan apa yang telah terjadi tadi.

"Jungkook-ssi, apa yang sebenarnya terjadi?" Pertanyaan ku membuat Jungkook langsung terdiam, sepertinya dia enggan untuk menceritakan.

"Aku mohon, tolong ceritakan yang sebenarnya!" Jungkook yang tahu arah perbincangan ku, lantas menatapku pelan. Dia mengulas sedikit senyuman, aku melihat sorot matanya yang mencoba menutupi sesuatu.

"Aku mohon!" pinta ku dengan puppy eyes ku, yang kini aku keluarkan dari sorotan mataku padanya. Dia malah memalingkan tatapan nya dariku, kemudian dia bilang. "Jangan mengkhawatirkan soal itu."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!