Bab 5 Pria dingin yang moodnya selalu berubah

Setelah makan malam kami langsung ke kamar masing-masing, tak ada percakapan lain setelah membahas soal villa. Besok memang weekend sehingga para member ingin menghabiskan waktu di villa, sambil merehat kan diri dari padatnya pekerjaan mereka.

Aku masih tak percaya kalau sekarang aku ada di antara mereka, pertemuan-pertemuan singkat dari para member Bangtan membuat hatiku berbunga-bunga. Awal pertemuan aku sudah di pertemukan dengan 3 maknae BTS plus cowok sejuta umat--- Suga.

Di tambah kemarin lusa aku di sapa oleh Seokjin--- Hyung tertua mereka. Ah ... Aku tak bisa membayangkan bagaimana canggung dan bahagia nya aku besok pas ketemu semua member.

"J-Hope, Rm. I'm coming." teriaku dalam hati dengan kegirangan.

Setelah shalat Maghrib aku ingin menyapa Suga di luar kamar. Tadi kami makan siang terlalu sore, takut nya Suga ingin di buatkan makanan untuk nanti malam.

Aku keluar kamar celingukan, mencari keberadaan Suga. Aku berjalan ke arah pantry--- menerka-nerka bahwa Suga ada di sana. Ternyata benar Suga tengah membuat kopi di sana, aku pun berjalan menghampiri nya.

"Suga-ssi." Aku menyapa dengan ramah.

"Kenapa gak menyuruh aku." ucapku basa basi. Sebenarnya gak enak juga melihat bos malah membuat kopi sendiri, padahal jelas-jelas aku di sini pelayanan nya eh enggak chef nya.

Suga hanya mengulas senyum tipis. "Tidak apa-apa, saya bisa sendiri. Kamu mau saya buatkan juga?" ucap Suga menawarkan. Aku hanya tersenyum kikuk, rasanya tidak enak kalau mengiyakan.

"Em ... tidak usah Suga-ssi. Biar saya saja yang buat." ucapku kemudian.

"Kalau kamu mau, biar sekalian saya yang buat. Gak perlu sungkan." ucap Suga. Aku menjadi semakin tidak enak kepadanya. Dia dingin tapi begitu perhatian, duh jadi meleyot dong hatiku.

Dengan rasa sungkan aku pun mengiyakan."Terimakasih banyak Suga-ssi." ucapku. "Boleh duduk?" tanyaku.

"Hm ...." Suga berdehem pelan sebagai tanda mengiyakan. Aku pun duduk di kursi depan mini bar.

"Em .... Apa anda ingin memakan sesuatu untuk makan malam?" tanyaku membuka obrolan kembali.

Suga pun tampak berpikir sekejap. "Tteokbokki--- saya ingin memakannya."

"Oh, Ne. Nanti saya buatkan." ucapku. "Eh, sepertinya bahan-bahan nya sudah habis." ucapku kemudian setelah ingat.

"Setelah ini kita bisa belanja bulanan, sekalian beli bahan makanan untuk bekal ke villa besok." terang Suga. Suga pun menyajikan satu cangkir kopi untukku.

"Gamsahabnida." ucapku. Suga pun mengambil duduk di sebelahku.

Deg! Ritme jantungku mulai tak stabil. Posisinya dekat--- dekat sekali rasanya aku sesak di buatnya.

"Eltyas-ssi?" panggil Suga.

"Eh, Ye." Aku menjawab cepat.

"Kamu mengerti ucapan saya?" tanya Suga. Sepertinya dia sadar aku terpaku beberapa saat.

Aku pun mengangguk. "Ne, Suga-ssi. Mau jam berapa berangkat nya?" tanyaku, aku menyambung kembali obrolan yang tadi tersendat.

"Nanti, setelah shalat mu selesai." ucapnya lagi.

'Duh kenapa jantungku semakin dag dig dug ser ya, ketika Suga ngomong shalat. Serasa di ingatkan imam gitu.' batinku.

"Ne, Suga-ssi." ucapku kemudian.

Aku pun menegak perlahan kopi buatan Suga, dan rasanya enak. Seperti coffe ala cafe.

Aku menoleh ke arah Suga, Suga sedang meneguk secangkir kopi itu dengan khidmat. Jakun nya terlihat jelas naik turun ketika air kopi itu turun ke tenggorokannya, seketika aku menelan salivaku dalam.

'Wadidaw seksinya. 'Ah ....' Aku histeris dalam hati. Untuk kali ini tatapanku tak beralih padanya dan bertahan beberapa saat sampai husky voice itu menggema di telingaku.

"Wae?" Mendengar penuturan Suga aku pun mengerjapkan mata.

"Ye?" Aku menatap cengo padanya.

"Kenapa?" tanya Suga lagi.

"Ye." Aku masih menjawab hal yang sama, otakku masih belum terkoneksi.

"Saya tanya kenapa? Kenapa kamu melihat saya seperti itu?" tanya nya. Dia menatapku dalam, mata kami pun saling bersitatap.

Dengan cepat ku tundukan pandanganku, jujur aku tidak kuat menatap wajah tampan nya dengan jarak sedekat ini. Jantungku yang sedari tadi berpacu cepat seakan ingin meloncat dari tempatnya, saking terpesona nya aku oleh wajah tampan Suga.

"Kamu menyukai saya?" Seketika aku langsung terbatuk-batuk ketika mendengar pertanyaannya itu.

'Bodoh sekali kamu Eltyas. Kenapa sangat susah untuk mengalihkan pesona nya Suga. Jika sudah seperti ini apa yang akan kamu jawab? Ah ....' gerutu ku dalam hati merasa tertekan.

Suga pun menyeringai menatapku ketika aku mengintip sedikit dari ujung mataku.

"Saya tahu saya tampan. Tapi, biasa saja tatapannya." ucapnya lagi. Aku pun masih terdiam. Pipiku terasa panas, aku benar-benar salah tingkah sekarang.

"Hei, kamu mengerti ucapan saya kan?" timpal Suga, dia terdengar kesal karena sedari tadi aku hanya terdiam. Aku pun mencoba memberanikan diri untuk menjawab, aku takut bila pria dingin ini malah marah.

Aku mendongakkan wajahku ke arah Suga lantas kembali mendudukan kepala. "M-maaf." ucapku cepat dan hanya itu yang keluar dari mulutku.

"Haha ...." Suga malah tertawa nyaring, membuatku keheranan dan semakin tertekan.

Setelah beberapa saat ruangan pantry itu bergema karena gelak tawa Suga, akhirnya kembali hening.

"Maaf saya jadi tertawa." Kata Suga, setelah beberapa saat tawanya terhenti.

"A-aniyo. S-saya yang minta maaf karena membuat anda risih." ucapku pelan dengan wajah menunduk.

Suga pun terdiam beberapa saat. Aku masih dalam posisi yang sama tidak berani untuk mendongakkan wajahku, jujur aku begitu malu telah terciduk oleh nya.

"Saya tidak risih kok di pandang begitu oleh kamu. Hanya saja wajahmu itu terlalu ekspresif--- sehingga emosi dalam dirimu mudah di tebak oleh orang lain." terangnya.

"Maaf aku tidak bisa menahan gelak tawaku karena kamu terlalu menggemaskan."

Jleb! Kalimat terakhirnya membuat aku speechless.

'Menggemaskan? Dia bilang aku terlalu menggemaskan? Ah ... kenapa Suga harus ngomong dalam posisi sekarang.' Aku menjerit histeris dalam hati, hatiku terasa melambung tinggi.

"Sudah jangan di pikirkan soal omongan saya barusan. Sudah waktu shalat isya belum? Mending kamu sekarang shalat dulu, setelah itu kita otw ke super market biar gak kemalaman. Saya akan tunggu di depan."

Setelah mengatakan itu, Suga beranjak dari tempat duduknya. Aku terus melihat Suga dari ekor mata, dia berlalu pergi meningalkan aku dengan perasaan yang tak karuan.

'Menggemaskan?' Kata-kata itu terngiang di kepalaku.

"Ah sudah lah dia pasti hanya gombal atau menghiburku saja." gumamku. Aku mencoba mengenyahkan itu dan beranjak pergi dari Pantry ke kamarku.

Di mobil kami saling terdiam--- canggung, rasanya awkward sekali. Padahal obrolan tadi kalau menurut orang lain mungkin hanya obrolan biasa. Tapi, menurut aku itu begitu mengusik hati dan pikiranku. Bagaimana bisa aku mengenyahkan perkataan Suga yang ku dengar begitu meyakinkan dan menusuk jantungku.

Ah sebelumya aku tidak seperti ini, tapi kenapa saat Suga yang ngomong aku begitu terbawa perasaan. Dia baru mengatakan 'kamu terlalu menggemaskan' belum mengatakan 'Kamu sangat cantik' atau bahkan 'Will you marry me' tapi hatiku sudah melambung tinggi. Menyebalkan sekali. Lemah! Mentalku benar-benar lemah, hanya omongan begitu saja aku hanyut dalam perasaan.

Setiba nya di super market, Suga langsung berkeliling mencari satu persatu bahan makanan dan kebutuhan lainnya. Aku hanya mengekori dia dari belakang, dan sesekali menjawab seperlunya ketika dia bertanya.

Tak butuh waktu lama akhirnya kegiatan kita pun selesai. Super market di sini kawasan elite, sehingga yang berbelanja di sana merasa nyaman dan aman. Suga, tidak menjadi objek paparazi, membuat aku tenang.

Setelah pulang kembali ke apartemen, aku langsung ke dapur untuk memasak tteokbokki. Tadi, di jalan Suga bilang ingin menyantapnya ketika pulang.

"Sudah selesai?" tanya Suga, dia menghampiriku ke dapur ketika aku sedang menuangkan tteokbokki itu ke dalam wadah.

Aku hanya menganggukkan kepala.

Suga segera mengambil tempat duduk di meja makan, aku pun menyajikan tteokbokki itu ke atas meja.

"Selamat menikmati Min Yoongi ssi!" ucapku pelan dengan sopan.

"Kamu tidak makan bersama?" tanya Suga karena aku hanya menyuguhkan satu mangkuk tteokbokki kepada Suga.

Aku menggeleng. "Tidak. Aku masih kenyang." ucapku.

Sebenarnya aku berkilah, bukan masih kenyang tetapi aku tidak dekat-dekat dulu dengan Suga sampai keadaan hatiku tenang.

"Kalau begitu temani saya disini." suruh Suga. Aku pun terhenyak. "Ye?" ucapku.

"Duduk lah. Saya ingin ditemani makan oleh kamu." ucapnya lagi. Dengan ragu aku pun mengambil tempat duduk tepat di samping Suga hanya terhalang satu kursi saja.

"Kenapa di beri jarak, biasanya juga dekat-dekat."

"Y-ye?" ucapku spontan.

"Jangan terlihat canggung begitu, saya tidak nyaman. Seperti biasa saja." Kata Suga, dia menatapku sebentar kemudian kembali fokus menyantap makanannya.

"M-maaf." ucapku.

"Dan jangan keterusan meminta maaf saya tidak suka." jelasnya.

"Ne, Suga-ssi." Tanpa menjawab ucapanku, Suga malah beranjak dari tempat duduk. Dia melangkah pergi ke dapur, aku terus memperhatikan nya.

Aku terdiam di tempat, jujur aku tidak mengerti kenapa Suga terlihat berbeda sekarang. Setelah beberapa menit Suga kembali ke ruang makan dengan membawa satu mangkuk tteokbokki yang aromanya tercium kuat.

Aku menatap Suga dengan tanda tanya. "Makan! Jangan biarkan asam lambungmu kambuh lagi." ucap Suga sambil menyimpan mangkuk berisi tteokbokki itu tepat meja di depanku.

Aku masih tak berkutik, aku masih melihat ke arah Suga.

"Kalau cuman ngeliatin saya doang gak akan kenyang, makan saja!" terang Suga. Lagi-lagi aku tertangkap basah.

Aku pun mengalihkan pandangan ke arah tteokbokki di depan ku, perlahan aku memakannya. Rasanya sama kayak yang aku buat, karena tteokbokki yang kita pasak tteokbokki instan.

Setelah makan malam bersama dengan satu mangkuk tteokbokki, aku langsung membereskan tempat makan kita. Dan ternyata Suga masih menungguku sambil berdiri tak jauh dari posisiku, memperhatikan aku mencuci piring.

"Kenapa kamu melakukan sesuatu yang bukan tugasmu." ucapnya. Aku pun langsung menoleh ke arahnya.

"Ye?" tanyaku tak mengerti.

"Siapa yang nyuruh kamu membersihkan rumah?"

"Ye?"

"Lain kali lakukan saja tugasmu, jangan mengambil alih tugas orang lain. Saya tidak suka melihat orang yang melewati batas." Setelah berbicara seperti itu padaku dia berlalu pergi.

Aku masih bergeming, masih tidak mengerti apa yang di bicarakan Suga. Dan beberapa saat aku baru sadar, ternyata yang di maksud Suga adalah berbenah di rumah.

Aku pun menepuk pelan jidatku. "Bodoh sekali aku ini! Kenapa baru kepikiran kesana." gumamku.

Setelah selesai mencuci piring aku segera pergi ke kamar, saat aku melewati ruang keluarga Suga tengah fokus pada layar ponselnya. Dengan ragu aku pun menyapanya, aku tidak ingin di sebut melewati batas lagi.

"Maaf Suga-ssi, apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanyaku pelan dan sopan.

"Tidak. Kembali saja ke kamar dan istirahat." Dia menjawab tanpa melihat ke arahku.

"Ne. Gamsahabnida." ucapku. "Saya permisi ke kamar." ucapku lagi.

"Ye. Silahkan." Setelah mendengar jawaban Suga aku segera pergi dari sana.

Saat sampai ke kamar aku langsung membaringkan diri di atas kasur, meregangkan otot-otot ku yang terasa tegang.

"Huft jadi begini rasanya bekerja dengan pria dingin yang mood selalu berubah. Sangat menarik." gumamku.

Aku menenggelamkan kepala ke atas bantal, hari ini aku sudah melihat perubahan suasana hati dari sosok Suga dan itu mencengangkan. Aku pun mulai menutup mata mengenyahkan dulu pikiran tentang Suga, akhirnya aku pun terlelap menjemput mimpi.

To be continued ....

Terpopuler

Comments

SakiDino🍡😚.BTS ♡

SakiDino🍡😚.BTS ♡

Aku setia menunggu, please jangan membuatku menunggu terlalu lama.

2024-06-21

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!