Aku menatap Suga dengan penuh kekaguman, dan ternyata Suga menyadarinya. Seketika aku palingkan wajahku ke lain arah, merasa malu karena kena ciduk si empu. Aku pun merasakan tatapan Suga ke arahku, seketika jantung ku mulai aktif berdetak kencang di dalam sana.
Akan tetapi ....
Drt ... drt ... Handphone Suga pun bergetar, sepertinya dia mendapat panggilan telepon dari seseorang. Aku sedikit lega karena timing nya sangat tepat, tatapan Suga padaku kini teralihkan.
"Sekarang? Oke Aku akan kesana sekarang." Begitulah kira-kira percakapan Suga yang dapat ku dengar.
Sedari tadi aku tetap diam dan memalingkan wajahku yang memerah, karena malu telah terciduk olehnya.
"Saya akan ke gedung Hybe. Kamu mau pulang atau mampir ke tempat lain?"
"P-pulang?" tanyaku yang tidak tahu maksud nya.
"Iya, pulang ke apartemen." ucap Suga menegaskan.
Mendengar penuturan nya membuat aku salting, pulang? Seolah-olah aku sudah tinggal lama bersamanya, seketika hatiku pun tantrum kegirangan.
"Em .... Pulang aja." ucapku, dia hanya tersenyum. Meleleh rasanya melihat senyumnya.
***
Kini kita sudah berada di basemen apartemen Hannam the hill, tepatnya aku masih berada di SUV milik Suga.
"Saya sedang buru-buru. Kamu bisa ke apartment sendiri kan?" tanya Suga. Aku pun mengangguk.
"Ini kunci aksesnya." Suga menyodorkan key card kepadaku. Aku mengambil key card itu dengan rasa sungkan.
"Saya akan tiba nanti malam, untuk cemilan kamu ambil saja di lemari pendingin."
"Em .... Baik, Sugassi. Gamsahabnida. Suga hanya mengangguk, aku pun segera turun dari mobil.
Aku merengkuhkan badan ke arah Yoongi di dalam sana, sampai mobil SUV itu pergi. Setelah itu berjalan menuju ke lift.
"Huft ...." Aku melemparkan badanku ke atas ranjang. Aku tersenyum lebar sambil menatap langit-langit kamar.
"Kok bisa aku sekarang ada di sini? Tinggal di sini bersama Suga BTS? Untung sekali aku ini. Aaa ...." Aku berteriak kegirangan sambil berguling di atas ranjang.
Setelah asyik seperti itu beberapa saat, aku pun beranjak dari ranjang dan berjalan ke arah balkon.
"Wah, daebak. Pemandangan nya indah sekali," ucap ku yang terpukau dengan keindahan sungai Han dari balkon kamar.
Tapi, itu hanya sesaat ketika. Tes! Air mataku menetes tiba-tiba. "Aku rindu mamah." gumam ku dengan air mata yang terus menetes, sedangkan pandanganku masih ke arah sungai Han.
"Mereka pasti khawatir." ucap ku lagi dengan tangisan yang sudah pecah ruah. "Hiks .... Mamah. Dede rindu mamah." ucapku tersedu-sedu.
Aku terus menangis dengan sesak di dada, aku benar-benar cengeng jika ingat mamah di kampung. Hatiku sakit, hampir saja impianku gagal. Aku terus terisak, meraung, tersedu-sedu--- menangisi nasibku yang hampir kacau.
Ting! Tong! Suara bel membuat tangisan ku berhenti.
"Siapa ya?" ucapku dengan suara serak. Aku langsung menghampus kasar sisa-sisa air mataku.
Aku berdiri, berjalan ke luar kamar. Dengan langkah pelan aku menuju ke pintu utama. Aku sedikit memicingkan mataku dengan tanda tanya di hati.
'Bukannya suga oppa bakal pulang malam ya?' aku bertanya dalam hati. ' Ah ... pasti bukan Suga oppa, Suga oppa kan bisa aja langsung masuk dengan password pintu.'
Aku lantas segera mengecek monitor CCTV indoor. Di luar sana ada seorang kurir pesan antar yang sedang menjinjing dua keresek.
"Kok, ada ojol? Aku kan gak pesan makanan? Yaelah, ini kan rumah Suga." gumamku, lalu berjalan untuk membuka pintu.
"Atas nama Nona Eltyas?" tanya ojol itu. Aku hanya mengangguk.
"Ini pesananan nya, Nona. Silahkan di tandatangani!" kata ojol itu, sambil memberikan dua keresek putih padaku dan tanda terima. Aku pun melakukan perintahnya.
"Terimakasih." ucapku. Dia mengangguk ramah dan berlalu pergi.
"Kok atas nama aku? Suga sengaja kali ya?" Aku terus bertanya-tanya pada diri sendiri.
Aku simpan ke dua keresek putih itu di atas meja makan. "Kok, wangi ya. Kayak ayam goreng." Aku pun mengintip sedikit ke dalam keresek putih itu.
"Widih ... ayam goreng kesukaanku." ucapku kegirangan. Aku pun langsung cemberut. "Ini kan pesenan Suga, kenapa aku yang seneng. Ke geeran banget, belum tentu ini buat aku."
Setelah beradu argumen dengan diri sendiri, aku memilih untuk mengambil air dingin.
"Ah ... jauh lebih baik." kataku setelah menegak satu gelas air dingin. Akan tetapi, mataku terus menatap ayam goreng di keresek itu. Refleks aku pun menelan salivaku dalam.
"Ah ayam goreng kenapa kamu minta di eksekusi sih," dumal ku dengan raut wajah memelas.
"Ini yang satu nya apa sih?" Aku merasa penasaran dan ku intip lagi keresek satunya."Omo. Bungeoppang." ucapku dengan riang, tapi lagi-lagi aku cemberut.
"Kenapa harus pesen makanan pas dia nya gak di rumah sih." ucapku kesal. "Masa aku harus nunggu sampai dia pulang, keburu kelaparan dong." Aku terus mendumal.
"Aku kan bukan tipe orang yang selalu makan tanpa izin, apalagi dia udah baik. Aku gak mungkin gak sopan kan, uh ... menyebalkan. Ayolah perut tahan." Aku terus bergumam tanpa henti, sesekali aku menjilati bibirku.
"Makan aja gak usah malu." Aku terperanjat langsung menoleh ke asal suara, dan di sana ada Suga yang menatapku. Pipiku langsung memerah.
"Kenapa diam? Ayok makan, gak akan kenyang cuman dilihatin doang." ucap Suga. Aku masih saja terdiam, jujur aku sangat malu dalam posisi ini. Kenapa aku sampai gak sadar kalau Suga datang.
Suga berjalan ke arah wastafel dan mencuci kedua tangannya dengan sabun. Kemudian dia mengambil dua piring--- aku terus memperhatikan gerak-gerik Suga sampai dia berjalan ke arahku, aku pun segera memalingkan wajah ke lain arah.
Suga menaruh dua bungkus nasi yang dia bawa lantas di taruh ke masing-masing piring, lalu di berikan satu kepadaku.
"Katanya orang Indonesia kalau makan ayam harus pakai nasi ya?" tanya Suga. Aku mengangguk antusias.
"Iya, karena kalau belum makan nasi artinya belum makan." ucapku dengan kekehan. Ternyata Suga juga ikut terkekeh.
Kiyowo sekali melihat gumi smilennya. Aku terdiam beberapa saat.
"Makan, mumpung masih hangat." Suga mengintrufsi. Aku masih saja bergeming.
"Apa perlu saya menyuapimu lagi?" kata Suga membuat aku langsung menggelengkan kepala.
"Em ... t-tidak perlu Sugassi. Aku bisa makan sendiri." aku menjawab dengan wajah terus menunduk.
"Hmm ...." Suga hanya berdehem pelan. Kami pun menyantap makanan dengan keheningan.
"Kamu bisa memasak untuk saya mulai besok." Suga membuka obrolan kembali.
"B-baik Sugassi."
"Malam ini saya akan bermalam di genius lab. Pastikan rumah aman ya, jangan bukain pintu untuk sembarang orang." tegas Suga.
"B-baik Sugassi." ucapku.
"Belajar ya."
"B-baik, saya ... akan belajar memasak dengan baik." ucapku mantap meskipun sedikit gelagapan.
"Bukan itu maksud saya."
"Oh ... b-bukan ya. Hehe." Aku menggaruk kepalaku tak gatal.
"Belajar untuk ngobrol sama saya gak nervous. "
"N-nervous? Hehe. Baik Sugassi, s-saya akan belajar."
"Bagus. Kalau gitu saya pergi dulu." Aku beranjak berdiri dan merengkuh kan badan. "Hati-hati di jalan Sugassi." ucapku.
Suga mengulas sedikit senyuman. Merengkuhkan sedikit badannya dan melangkah pergi. Tak lama dia kembali lagi ke area dapur, aku yang sedang membersihkan sisa makanan lantas menoleh ke arahnya.
"Ada yang bisa saya bantu Min Yoongissi?
Suga memberiku satu paper bag kecil. Aku menatap dengan raut tanda tanya. "Ambil!" suruhnya. Aku pun dengan ragu menerima paper bag itu.
"Gunakan dengan baik." ucapnya lagi. Baru saja aku ingin mengucapkan terimakasih, dia sudah berlalu pergi.
"Duh ... Mr.dingin yang perhatian." Aku berucap dengan tersenyum girang.
Setelah kepergian Suga, aku menyelesaikan aktifitas ku. Lalu, aku pergi ke kamar dengan perasaan yang senang.
"Duh ... Apa ya ini isinya?" gumam ku sambil melihat satu paper bag di hadapanku yang ku simpan di atas ranjang.
Tanpa pikir panjang lagi aku segera membuka isi dari paper bag itu dan seketika aku melebarkan mata. Sebuah handphone keluaran terbaru yang harganya fantastis itu telah aku pegang dengan tangan gemetar.
"Handphone?" Aku menatap haru ponsel pintar di tanganku.
"Terlalu mahal." cicit ku setelah beberapa saat terpaku oleh rasa haru.
"Sepertinya aku akan mengembalikan nya," gumamku. Akan tetapi, rasa penasaran membuat aku membuka layar ponselnya.
"Wah benar-benar bagus dan canggih." ucapku lagi dengan ke antusiasan. Kemudian mencoba ber-selfie.
"Ternyata aku cantik ya?" ucapku yang kini tengah menatap hasil jepretan ku barusan. Baru saja aku ingin menghapus fotonya, panggilan masuk atas nama Suga menyapa fokusku.
"Suga oppa? Jadi nomornya sudah dia save. Aku menghela nafas lantas menggeser dial untuk menerima panggilan.
"Eung, yungissi?" ucapku.
"Tolong ambilkan jaket saya, Eltyas ssi, yang ada di sofa ruang tamu. Saya ada di basemen." titah Yoongi di seberang telpon.
"Ne, saya akan segera ke sana." ucapku. Panggilan telepon pun berakhir.
Aku membawa jaket hitam milik yoongi dengan tergesa-gesa.
"Hati-hati Nona nanti kamu jatuh."
"Ne, gamsahabnida," ucapku tanpa melihat ke asal suara. Dengan gesit aku masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai yang paling bawah.
'Bentar, suara tadi kenapa aku kenal ya. Seperti familiar?' ucapku dalam hati. Aku pun mencoba mengenyahkan.
"Kenapa harus berlari? Santai saja." omel Suga ketika aku sampai di sana.
"M-maaf Sugassi. S-saya kira anda sedang terburu-buru." Aku menjawab dengan nada yang tersendat karena masih sesak setelah berlarian.
"Tarik nafas dalam terus keluarkan secara perlahan." Suga mengintrufsi, aku pun melakukan apa yang dia katakan.
"Huft ...." Helaan nafasku yang dalam.
"Sudah enakan?" Aku mengangguk.
"Lain kali jangan berlarian, santai saja." ucapnya. Aku hanya mengangguk.
"Saya pergi, jaga diri baik-baik di rumah." ucapnya lagi. Lagi-lagi aku hanya mengangguk sebagai tanda mengiyakan.
Suga pun masuk ke dalam mobil, lantas melajukan mobil SUV nya. Aku terus memandangi ke arah SUV Suga yang terus menjauh dari pandanganku.
"Siapa nya Suga?"
"Kamcagiya." ucap ku spontan dengan nada kencang. Ketika suara pria mengagetkan ku. Aku pun membalikan badan ingin menegur siapa lelaki yang mengangetkan ku.
"Seokjin o-oppa?" Aku berucap dengan gugup, setelah menyadari lelaki yang menyapaku adalah lelaki tampan yang berdiri tepat di belakangku.
Seokjin hanya mengulas senyum membuat jantungku berdegup kencang.
'Tampan sangat tampan, pahatan sempurna sang maha kuasa.' Aku bergeming menikmati keindahan yang sempurna di depan mataku.
"Ibwa, gwaenchanh-a?" suara Seokjin membuatku tersadar dari hanyutnya kerterpukauan. Aku pun langsung memalingkan wajahku yang memerah karena malu.
"Hehe. Saya baik-baik saja seokjinssi." ucapku pelan.
"Kamu belum menjawab pertanyaan saya. Kamu siapanya Suga?" tanya Seokjin lagi.
"Em ... Saya chef pribadi nya min-yungi seonsaengnim." jawabku masih dengan degup jantung yang berdemo.
Aku lantas menggeser tubuh ku beberapa meter ke belakang. Aku takut Seokjin oppa mendengar debaran jantungku yang kencang.
Seokjin mengernyitkan dahi nya, karena aku tiba-tiba memberi jarak.
"Tenang, saya tidak akan menculik mu. Jangan terus menundukkan pandanganmu pada saya." ucap Seokjin. Aku hanya terdiam.
"Yeogiyo ...." panggilan Seokjin membuat wajahku terangkat sedikit. Dia berjalan ke arahku membuat aku langsung mendongakkan wajah.
"Y-ye ...." ucapku. Kini aku semakin terpaku Seokjin menatapku dalam.
"Kenapa kamu begitu grogi?" tanya nya. Aku hanya menelan salivaku yang kesusahan.
"Em ... k-kita t-terlalu dekat Seokjinssi." ucapku gugup.
"Kamu cantik. Pantesan Suga memperkerjakan kamu."
"Y-ye?" Aku di buat tercengang dengan ucapan Seokjin. Akan tetapi, Seokjin langsung meninggalkanku mematung di tempat.
"J-jadi suara familiar yang tadi itu suara Seokjin?" ucapku pelan. Mataku tak beralih dari punggung lebar pria tampan yang menyapaku barusan.
To be continued ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Dianapunky
Gak sabar next chapter.
2024-06-20
0