"Sedang apa kalian berdua?" tiba-tiba suara husky voice membuat kita berdua menoleh ke asal suara.
"Eh, Suga hyung. Kami hanya mengobrol." jawab Jungkook, wajahnya yang periang sama sekali tidak menampakan kecanggungan.
"Iya kan, Tyas-ssi." ucap nya sambil melirik ke arah ku.
"Hm ...." Aku berdehem pelan seraya mengangguk.
"Sampai kapan kamu akan berdiri seperti itu? Aku sudah lapar! Kamu membuatku menunggu." omel Suga dengan aura dingin yang membuatku bergeming.
"Tyas." panggil Jungkook menyandarkan ku."
"Eum ... Iya, ini nasi goreng nya baru jadi." jawabku jujur.
"Kemari!" suruh Suga, aku pun menuruti nya.
Kita berdua berjalan berdampingan ke meja makan. Aku menyajikan satu piring buatanku di hadapan Suga yang baru duduk.
"Mau kemana?" tanya Suga dengan nada datar, saat aku ingin meninggalkan nya.
"Eum ... mengambil air hangat, aku haus." Aku beralibi, padahal aku sengaja menghindari nya agar mood swing ku tidak kambuh.
"Ambilah. Sekalian buatkan aku Americano panas."
Aku mengangguk. "Ne." Aku menyahut, lantas pergi meninggalkan nya.
Saat masuk ke pantry Jungkook tengah menyenderkan tubuh kekarnya di dekat partisi ruangan, dia menatapku sambil menyilangkan kedua tangan nya di dada.
Aku menghindari kontak matanya, lantas berjalan ke arah meja untuk membuat kopi untuk Suga.
"Bisa buat kan aku juga Tyas-ssi?" tanya Jungkook ketika dia menghampiriku.
Aku menolehkan wajah ke arah nya. "Eum ... boleh kan aku memanggilmu seperti itu?" tanya Jungkook, setelah itu terkekeh.
Aku hanya mengangguk pelan, dan fokus kembali ke aktifitas ku.
"Mau kopi juga?" tanya ku seraya menoleh ke arahnya.
Jungkook menggeleng. "Aku ingin banana milk, bisa ambilkan nanti di kulkas."
"Ne."
Hening beberapa saat.
"Jungkook-ssi!"
"Iya?"
"Apa alasan oppa menyukai ku." Pertanyaan ku membuat kita saling bertatapan beberapa saat.
"Eum ... Kamu cantik dan menggemaskan dan hatiku selalu berdebar setiap melihat kamu." Dia menatap ku dalam dan menyunggingkan senyum manisnya.
"Huh?" Aku tak percaya.
"Maaf, kalau aku kesannya seperti menggombal. Tapi, itu yang aku rasakan." jelas Jungkook, membuat aku terdiam.
"Eum ...." Setelah bergumam seperti itu, Aku lantas pergi meninggalkan nya.
"Setelah pulang dari sini, mau kah kamu pergi makan malam denganku?" tanya Jungkook mengikuti ku dari belakang.
Aku menghentikan langkahku menoleh ke arahnya saat kini dia berada tepat di sampingku. Aku menatap dia dengan raut tanda tanya.
"Hanya kita berdua," ucapnya, aku tertegun. Kenapa tiba-tiba? Jungkook oppa memiliki karakter yang to the points.
Kemudian Jungkook melempar senyum seraya melewati ku yang mematung.
***
Hari ini adalah hari terakhir aku bermalam di villa bangtan, rasanya gak mau pergi -- masih betah di sini. Apalagi udara nya yang sejuk membuatku rileks dan nyaman.
Setelah sarapan aku memilih menikmati secangkir teh chamomile di teras, di buatkan oleh Jungkook katanya biar aku lebih rileks menikmati hari. Ah, dia sangat perhatian membuatku tersipu.
Hari ini Bangtan akan syuting BTS in the soop season 2, mereka sedang syuting di halaman dan aku menyaksikan secara langsung dengan jelas. Jungkook diam-diam melempar senyum ke arahku -- aku pun membalas nya tak kalah manis.
Setengah jam berlalu, mereka pun selesai syuting. Aku sengaja masih duduk di tempat, menunggu Jungkook menghampiri ku. Astaga aku sudah mulai ganjen.
Baru saja Jungkook hendak berjalan ke arahku -- Suga dengan tiba-tiba datang mencekal pergelangan tanganku dan membawaku ke dalam rumah.
"Ish ... Suga-ssi, kita mau apa? Lepas kan aku." teriak ku sambil melepas kan diri darinya. Tapi, Suga tetap saja berjalan tak menghiraukan ku dan membawaku menuju lorong ke arah kamar.
"Suga jangan macam-macam, ya." Aku memberontak karena takut oleh pikiran buruk ku.
"Suga-ssi!" Aku terus memangil namanya tapi dia tetap acuh. Astaga ada apa dengan pria yang menyebalkan ini, aku benar-benar tak habis pikir.
Dia menghentikan langkah nya dan berhenti mencekal tanganku, tepat di depan pintu kamar ku.
"Ada apa sih, menarik ku ke sini dengan paksa?" tanya ku ketus, rona wajah ku mulai memerah karena marah.
"Ck, jangan negatif thinking. Sana masuk dan kemasi barang mu, kita akan pulang sekarang."
Aku mengernyit. "Sekarang?" ucapku tak percaya.
"Iya, cepat masuk! Saya tunggu di mobil. Awas jangan lama!" Setelah menegaskan perkataan nya, lantas dia pergi begitu saja meninggalkan ku yang sangat keheranan.
"Mau apa sih pria kutub itu? Membuatku kesal terus." Aku masuk kamar dengan perasaan yang menggerutu.
Karena barang ku tak banyak, beberapa menit saja barang-barang ku sudah terkemas rapih di dalam koper. Aku mematut diri di cermin, setelah barusan berganti baju. Aku memoleskan sedikit lip tin, setelah riasan oke aku bergegas menyambar tas ransel ku dan segera keluar sambil menyeret koper.
Aku menutup pintu sedikit kasar dan berjalan menghentak karena kesal. Di lorong aku berpapasan dengan Jungkook dia menahan langkah ku.
"Mau kemana?" tanya Jungkook seraya memperhatikan penampilanku dan beralih ke koper yang ku tarik.
"Mau pulang, tuan beruang kutub tiba-tiba mengajak pulang." Aku berkata seraya mengerucut kan bibirnya. Jungkook malah terkekeh.
"Aigo, menggemaskan." godanya, aku memutar malas bola mataku, karena aku sedang tidak mood di goda.
"Siapa beruang kutub?" tanya Jungkook, setelah melihat aku terdiam.
"Hyung mu," ucapku kesal. Aku menarik koper ku dan berjalan kembali.
"Eh, tunggu! Buru-buru amat, Nona." Jungkook mencekal tanganku saat aku melewati nya.
"Mau apa Jungkook-ssi?" Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan sebal.
"Astaga, jutek amat. Lagi pms ya?" Dia malah menggoda ku. Aku membuang nafas.
"Jungkook-ssi, aku buru-buru. Tuan beruang bisa ngamuk." Aku menegaskan.
"Astaga, ya udah kamu boleh pergi. Hati-hati di jalan ya cantik." kata Jungkook.
"Hm ... bye." Aku menyahut dan melangkah pergi.
"Jangan lupa hubungi aku." timpal nya, aku tak menjawab.
***
"Lama amat!" omel Suga, saat aku menghampiri nya. Dia sudah menungguku di dalam mobil.
Suga lantas keluar dari mobil, mengambil koper ku dan menyuruh ku masuk. Dengan malas aku masuk kedalam mobil SUV itu di ikuti oleh Suga dengan gerakan cepat.
Mobil pun akhirnya berlaju, di mobil tidak ada yang bersuara. Aku membisu dengan perasaan kesal.
Setelah memasuki jalan raya, kecepatan tinggi membuat aku terkesiap dan berpegangan erat.
"Suga-ssi, terlalu kencang! Aku masih mau hidup." Aku berteriak, Suga tak menanggapi, dia malah fokus dengan pandangan datar ke arah jalan.
"Ya Allah, selamat kan hamba! Hamba tidak ingin mati muda." Aku bergumam pelan seraya memejamkan kedua mata.
Beberapa waktu berlalu, sampai akhirnya mobil SUV ini terasa berhenti.
"Buka matamu, mau sampai kapan seperti itu!" ketus Suga, aku lantas membuka mata perlahan dan menghela nafas lega seraya mengelus jantungku yang ber ritme tak beraturan.
"Loh, ini di mana?" Aku bergumam saat tak mengenali tempat ini. Suatu basemen yang interior nya sangat berbeda dengan apartemen tempat tinggal Suga.
"Kamu tunggu di sini, saya masuk ke dalam sebentar." Kata Suga sambil turun dari mobil.
"Eh, tunggu! Aku ikut!" ucapku seraya ikut turun dari mobil.
"Ck, mau ngapain?" tanya Suga ketus.
"Takut sendirian." ucapku jujur, karena tempat nya asing membuatku takut. Suga menghela nafas dan mengintruksi dengan isyarat. Dengan sigap aku mengikuti nya dari belakang, aku tidak mau di tinggal dan berakhir di jalanan.
Suga berjalan tergesa-gesa, membuat dada ku sesak karena nafas yang tak beraturan. Aku terus melirik kanan-kiri untuk melihat petunjuk keberadaan ku sekarang.
Saat masuk lobby aku kaget, bangunan megah ini seperti rumah sakit. Aku terus memandangi Suga dari belakang dengan raut kebingungan.
"Buat apa Suga pergi ke sini. Orang tua nya sakit?" Aku bergumam.
"Rumah sakit pusat kanker?" Aku terhenyak setelah membaca nama rumah sakit ini. Astaga siapa yang sakit.
Aku mengikuti Suga seraya bertanya-tanya.
"Tunggu di sini." perintah Suga saat kita sudah berhenti di depan ruang inap. Aku mengangguk pelan.
Saat Suga hendak masuk ke dalam kamar inap, ada dokter tampan yang menghampiri nya. Mereka berbincang seperti sudah lama kenal.
"Dia siapanya Suga ya?" Hatiku bertanya-tanya.
Jarak ku yang lumayan dekat dari mereka, membuat aku bisa mencuri dengar dan melihat jelas kepada mereka.
"Hyung, bagaimana keadaan Hera-ya?" tanya Suga, dia tampak khawatir dari raut wajah nya.
"Seperti yang sudah ku katakan, Hera-ya. Dia --." Dokter tampan itu mengjeda ucapan nya. "--- kita hanya bisa menunggu keajaiban." sambungnya memotong kalimat yang dia ucapkan.
Suga terdiam, di matanya tampak berkaca-kaca. "Berapa lama lagi?" tanya Suga.
"3 bulan." ucap Dokter lantas menunduk.
Air mata Suga luruh, dia dengan sigap menghapus air mata nya. Meskipun aku sedang kesal padanya -- ada rasa iba melihat dia menangis seperti itu.
"Tidak ada cara lain buat menyelamatkan Hera?" tanya Suga dengan penuh harap.
Dokter menggeleng lemah. "Tidak! Sudah ku usahakan, tapi tidak berhasil Yoongi-ya.
"Kenapa? Bukan nya Jerman sanggup menangani kasus Hera?" tanya Yoongi dengan tegas seraya air mata yang luruh ruah di pipinya.
Dokter itu lagi-lagi hanya menggeleng. "Tidak. Sudah ku usahakan, tapi mereka tetap tidak sanggup."
Yoongi menangis pilu, dia seperti merasakan rasa sakit yang mendalam mendengar kabar itu.
"Semua nya tidak berguna, buat apa bayar mahal. Sedangkan penyakit nya tak kunjung sembuh!" gerutu Suga, lantas dia pergi meninggalkan dokter tampan itu yang terdiam. Setelah ku amati, dokter itu juga menangis dia pun bergegas pergi dari sana.
"Hera? Siapa Park Hera? Kenapa Yoongi begitu kesakitan ketika mendengar kabar itu. Apa dia kekasih nya yoongi yang di sembunyikan? Atau mungkin tunangan nya yang akan segera menikah." aku bermonolog.
"Lantas, penyakit mematikan seperti apa yang menyerangnya? Duh aku jadi kepo." Aku terus bermonolog tanpa henti.
Karena rasa ingin tahu ku yang begitu tinggi, aku berniat menguping di balik kamar. Tidak apa-apa kan, sekali-kali mencuri dengar. Lagian, aku sangat penasaran seperti apa sosok wanita yang di sayangi yoongi itu.
Aku berjalan perlahan ke arah kamar, lantas menempelkan salah satu daun telingaku ke pintu kamar. Tidak ada percakapan yang ku dengar, hanya gelak tawa mereka saja. Aku menarik kupingku karena tidak ada percakapan lain selain gelak tawa.
Aish! Menyebalkan, tidak ada informasi yang ku dapatkan. Aku pun berniat pergi dari sana, baru saja aku hendak melangkah tiba-tiba -- pintu terbuka begitu saja. Posisiku yang bersender ke daun pintu, membuat aku terjengkang ke belakang.
"Argh!" teriak ku refleks karena kaget. Aku sudah pasrah tubuhku akan jatuh ke lantai. Akan tetapi -- Hap! Kedua tangan kekar Suga berhasil menangkap tubuh ku yang terjengkang.
Aku mematung, menatap Suga dari arah samping begitu juga Suga menatapku tak berkedip.
Sial! Aku terpesona
To be continued ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments