Bab 15 Terkunci bersama Suga

Aku berusaha membantu Yoongi untuk berbaring di ranjang. Tubuhku yang mungil membuatku kesusahan membantu tubuh Yoongi yang dua kali lipat lebih besar dariku.

"Yungissi, bangunlah, kumohon!" ucapku di sela tangis yang terus tumpah karena cemas. Karena darah dari kepala Yoongi terus mengalir membuatku panik.

Aku berjalan ke luar kamar untuk mencari kotak P3K, dan tak lama aku menemukan nya di lemari obat di dekat ruang keluarga.

Aku mengambil air hangat ke dalam baskom, dengan tergesa-gesa aku lari kecil ke kamar dan mulai mengobati luka yoongi. Kepala Yoongi berakhir aku perban memakai kain kasa.

Aku tidak tahu ruangan ini, tapi sepertinya ini adalah ruangan rahasia yoongi untuk menghabiskan waktu sembari mengingat almarhum kekasih nya. Ruangan ini terawat dengan barang-barang yang memadai.

Karena tak ingin yoongi kenapa-kenapa aku mencari-cari handphone ku untuk menghubungi Jungkook. Akan tetapi, handphone ku tak ada di saku, aku semakin gelisah dan mencari-cari dimana keberadaan handphone ku. Aku pun keluar ruangan ini -- aku yakin handphone ku ada di dalam tas ransel ku tetapi ....

Pintu nya tak bisa ku buka, dengan sekuat tenaga aku menarik handel-nya, tetapi tetap saja tidak ada pergerakan sama sekali dari daun pintu nya.

"Argh ... Bagaimana ini? Kenapa pintunya tidak bisa di buka!" Aku terus berusaha sampai akhirnya aku menyerah dan kembali menangis.

Bagaimana aku bisa terkurung dengan Suga seperti ini, apa yang harus aku perbuat. Aku terus menggedor pintu saat tubuhku luruh bersimpuh di depan daun pintu.

Kruk! Kruk! Perutku mulai meminta jatah dengan berat hati aku berdiri dan berjalan ke dapur untuk mencari makanan.

Aku membuka kulkas di sana masih banyak bahan makanan membuat aku tersenyum lebar.

Aku membuka lemari satu per satu, sampai akhirnya aku merasa senang karena menemukan banyak stok mie di dalam sana. Aku memasak dengan sigap dan menyantap makanan ini dengan rasa syukur.

Setelah selesai makan aku kembali menemui yoongi, wajah yoongi sangat pucat membuat aku langsung mengecek suhu tubuh yoongi dengan cepat.

Dan ternyata Yoongi demam, aku bergegas mencari air hangat untuk mengompres nya.

"Ga jima! Ga jima Yura-ya!" Yoongi melindur dan menyebut-nyebut nama Yura. Aku menghentikan aktifitas ku yang sedang mengompres dahi Suga, kain kompres itu aku pegang dan menatap wajah Suga yang tak sadarkan diri dengan raut iba.

"Aku yakin kamu akan mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Yura, tolong buka lah hati mu untuk menerima wanita lain Yungiya. Karena banyak orang yang menginginkan dan mencintaimu lebih dari Yura. Mereka Army sekte yoongi marry me, termasuk aku salah satu nya." ujarku padanya lantas kembali mengompres nya.

"Jangan terus-terusan membuat dirimu terluka, keluarlah dari keterpurukan ini Yungiya, ku mohon!"

Tes! Air mataku pun menetes tepat jatuh ke wajahnya. Aku langsung mengusap kasar mataku dan hendak meninggalkan Yoongi. Tetapi, tangan ku tiba-tiba di cekal oleh yoongi. Aku menoleh ke arahnya dia telah sadar dan memasang wajah datar padaku.

"Kamu bukan Yura," ujar nya, lantas melepaskan cekalan nya pada lengan ku

.

"Pergilah, aku tidak membutuhkan mu di sini!" usir nya membuatku tersentak. Bagaimana aku tidak kaget, dia tiba-tiba berbicara seperti itu.

"Tinggalkan saya sendiri." ujar nya lagi, kini wajahnya menunduk tapi isak tangis nya kembali terdengar.

"Jangan terlihat sok kuat di depan ku Yoongi-ssi! Anda tidak perlu menutupi dirimu yang rapuh." ujarku.

"Apa kau bilang rapuh? Saya sama sekali tidak rapuh!" ujarnya seraya tertawa kecil.

"Pembohong!" ujarku kesal. "Jangan terus membohongi diri mu sendiri, karena itu akan membuatmu semakin sakit." sambung ku.

"Kau tahu apa dengan rasa sakit ini?" Yoongi menatapku garang.

"Saya sangat tahu karena saya pernah merasakan rasa sakit yang sangat dalam."

"Rasa sakit yang paling dalam? Kau mungkin tidak sesakit saya!" ujarnya sambil meledekku dan menekan telunjuk nya tepat di dada nya.

"Kau tahu apa dengan rasa sakit ku Yoongi-ssi? Semua orang pasti punya rasa sakit yang dalam di kehidupan nya. Kau tidak bisa membandingkan rasa sakit mu dengan rasa sakit orang lain. Jangan pernah meng klaim kalau dirimu lebih kesakitan dari pada orang lain, sebelum kau tahu rasa sakit seperti apa yang di rasakan orang lain itu!" tegas ku dengan air mata yang kembali meluncur bebas.

"Rasa sakit itu tak akan pernah hilang, jika diri kita masih terkurung di masa lalu!" lanjut ku dengan suara lantang.

Setelah aku menegaskan perkataan ku, aku lantas pergi dengan perasaan kesal terhadap laki-laki macam dia.

Dia itu sangat egois, merasa diri paling tersakiti sedangkan meremehkan rasa sakit orang lain. Dia tidak tahu bagaimana rasa sakit ku yang terus ku terima sepanjang hidup.

Aku menangis pilu di meja ruang makan dengan bertumpu tangan. Jujur aku kecewa dengan apa yang yoongi katakan barusan.

"Maaf!" tiba-tiba suara husky voice itu membuat tangisku terhenti. Kalau ruangan ini tidak terkunci, rasanya aku ingin segera lari dari sini.

Aku terdiam -- tidak ingin meladeninya.

"Maaf! Jika saya keterlaluan." ujar nya, terdengar tulus tapi aku masih tidak ingin meladeni nya.

"Jika kamu sudah tidak betah bekerja dengan saya, saya akan membiarkan kamu pergi. Tapi, saya mohon maafkan saya!"

Aku membawa tubuhku duduk dengan benar, lantas mengusap kasar air mataku dan menatapnya.

"Apa kau tidak pernah merasakan apa yang orang lain rasakan?" tegas ku.

Dia mengangguk. "Pernah, tetapi aku tidak mau berempati lagi." ujar nya tampak tak semangat.

"Kau benar-benar egois, Min Yoongi-ssi!" tekan ku dengan tatapan marah pada nya.

"Ya, aku memang egois." ujarnya menunduk. Lantas kembali menatapku."Tapi, aku bisa apa? Aku hanya tidak ingin kehilangan sosok seperti Yura lagi."

"Apa maksud mu?"

"Coba kau tebak kenapa aku tiba-tiba menolong mu dan menawari mu pekerjaan?"

"Karena rasa kemanusiaan?" hanya itu kan yang ingin kau katakan.

"Iya tebakan mu benar, aku menolong mu karena sebuah kemanusiaan. Tetapi, ada perasaan lain yang mendorong ku untuk membantumu mencapai mimpi mu itu."

"Apa dorongan itu?" tanya ku dengan menyelidik ke arah mata nya. Ingin mencari kebohongan yang tersimpan di dalam sana, tapi tidak ada sorot matanya terlihat jujur.

"Rasa bersalah, Yura ingin menjadi seorang penulis terkenal seperti mu. Dan kau bilang itu padaku, perasaan bersalah pada Yura mendorong ku untuk menolong mu."

"Maksud mu, Yura belom mewujudkan cita-cita nya itu?"

Yoongi mengangguk. "Jadi aku akan membantumu dengan kemampuanku untuk mewujudkan mimpi mu itu, Eltyas-ssi."

"Kamu ingin mewujudkan mimpi ku atau mimpi Yura?" tanya ku dengan rasa kesal.

"Mimpi kalian berdua." ujar nya mantap. "Aku tidak ingin gagal lagi seperti dulu. Jadi, izinkan saya untuk menolong mu, Eltyas-ssi."

Aku terdiam sejenak, aku tak ingin salah memutuskan. Tapi, apa boleh buat kan tawaran yoongi begitu menggiurkan, aku benar-benar bisa mencapai mimpiku dengan relasinya.

"Lakukan lah, tapi jangan terus menganggap aku sosok Yura mu. Aku orang yang sangat berbeda dari Yura mu itu." Akhirnya aku memutuskan untuk mengiyakan tawaran nya itu.

"Benarkah?" Yoongi bertanya antusias.

"Hm ...."

"Aku tidak akan menyamakan kalian lagi." ujarnya, lantas mengulas senyum padaku.

Setelah perbincangan itu, aku langsung memasak bubur untuk Suga. Karena tubuh Suga masih deman, sehingga aku menyuruh dia untuk istirahat.

Aku merasa bersyukur telah terkunci bersamanya, karena selama ini aku tidak tahu perasaan yang terpendam dalam diri Suga dan rasa sakit Suga yang terus terkungkung di masa lalu.

Aku masih bertahan dengan Suga dan menerima bantuan nya, aku hanya ingin membantu nya untuk keluar dari bayang-bayang masa lalu yang menyelimuti dirinya dengan rasa sakit yang tak berujung.

To be continued ....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!