Bab 19 - Pelajaran Matematika

Tamyiz berjalan menuju ke kelasnya. Pemuda itu mengambil tempat duduk yang berada pada baris pertengahan. Tahun lalu, Reza berbeda kelas dari Tamyiz. Pada tahun ini, mereka berdua akan menjadi teman sekelas.

"Ingat jangan lupa latihan sepak bola. Sebentar lagi kita ku--," ucap Reza membuka pembicaraan.

"Iya paham ... masih pagi malah nak cakap itu lagi. Dak katik-katik kau ni," sanggah Tamyiz, Reza beberapa kali telah membicarakan hal tersebut.

Beberapa kali dalam diamnya, Tamyiz memikirkan bagaimana cara agar dia dapat meringankan biaya rumah sakit keluarga Aziz. Dia setidaknya harus secepatnya mengumpulkan uang sebanyak 5 juta. Dia baru sadar bahwa sikapnya yang selama ini menghindar dari bulu tangkis adalah tindakan paling konyol dalam hidupnya.

Anak kecil berumur 4 tahun sekalipun tentu akan mengambil kesempatan. Apabila mereka diberi bakat atletisme yang dia punya. Sekarang pemuda itu tidak memiliki uang ketika keluarga di kampung sangat memerlukan bantuan finansialnya.

"Kenapa kau dari tadi menatap ke arah kipas angin," ucap Reza melihat temannya kurang bersemangat.

"Yah biasa ... tidak ada yang mau meminjamkanku uang." balas Tamyiz.

"Oh kalau itu maaf aku saja hanya dikasih uang jajan 7 ribu, 4 ribu untuk angkot ini. Hutangku pada Bu Meytanti dari tahun kemarin jarang-jarang ...."

Sempat terpikirkan olehnya untuk meminjam pada Hamdan, tetapi pikiran itu ditepis jauh-jauh. Bagaimana pun keluarga Sharjah mukim belum sampai sebulan di kampung. Rasanya tidak etis jika membebani mereka terlalu banyak.

Dino perlahan menaiki tangga, Wali Kelas 2-C telah sampai lebih dulu di dalam ruangan dan meletakan bahan ajarnya. Dia tetap berjalan lambat, seakan ada rantai pada kedua kakinya. Dino tidak peduli meskipun bapak yang berpapasan dengannya tadi sudah mengabsen anak murid.

"Asmoro Ganang Santana." ucap Bapak Bahrul Miswanto M. Pd. Berumur 52 tahun, sebagian rambutnya telah memutih. Dia mengampu pelajaran matematika untuk seluruh kelas 2.

"Hadir pak!" ucapnya. Namanya tercatat di dalam daftar buku absen paling atas, tetapi duduk paling belakang.

"Masih ada kursi kosong di depan Ganang, ayo rapatkan lagi. Menurut laporan guru-guru sejak kelas 1, kau paling senang di pojokan. Salma dan Inayah bertukar tempat duduk dengan Ganang dan Dino."

"Pak Bahrul, Dino belum masuk," ucap Inayah. Dia memakai kacamata, hidungnya pesek dan sedikit berjerawat di bagian pipi.

"Iya kosongkan dulu, bapak melihatnya tadi. Calvin Vandi ... ada anaknya?"

"Oh ini ... iya hadir pak!" jawabnya baru terbangun dari tidurnya.

"Kebiasaan kau ini hanya rajin di sepak bola saja. Awas ya kalau ada guru yang mengadu pada bapak lagi."

Pak Bahrul lantang membacakan nama-nama di daftar absen dan melontarkan beberapa pertanyaan untuk anak yang disebutkan namanya.

"Mardiono Alvaro!"

"Maaf pak, tadi habis dari kamar mandi." ucap Dino berdiri di pintu ruangan kelas.

"Sepertinya bohong pak dia berpapasan dengan bapak kan?" sahut Inayah.

"Ugh si gadis berdada kecil ini ... lihat ya kau!" gumam Dino, dia tidak sadar menampakan kekesalannya.

"Kau kenapa membuat wajah seperti itu hah! masuk ke sini. Menghadap ke teman-temanmu agak maju." Pak Bahrul bangkit dari kursi gurunya sembari mengambil mistar panjang kayu.

"Tidak apa-apa pak, aku han--."

Brak!

Belum sempat Dino berkilah mistar itu telah mendarat di punggungnya. Dia mendapatkan hukuman setrap sampai pelajaran selesai.

"Assalamualaikum, kalian sudah siap mengikuti pelajaran bapak."

"Waalaikumsalam, siap pak guru!"

"Baik kan kalian sudah pernah diajar sama bapak dulu setengah semester. Tak kenal maka tak sayang jadi nama bapak adalah Bahrul Miswanto M. Pd, mengajar matematika terutama untuk kelas 2. Omong-omong tentang pelajaran di semester sebelumnya ... Tamyiz coba maju ke depan."

"Hahaha habislah kabe Tam," sahut Dino mengejeknya.

"Shut! tidak ada bullying di kelasku, atau mau kupatahkan mistar ini dengan kepalamu?"

Peringatan dari Pak Bahrul membuat semua murid terdiam. Mereka sudah paham dengan tegasnya sosok guru di hadapan mereka sebagai pengajar. Dino pun merasa demikian, bahkan sebenarnya dia yang paling ketakutan.

"Jangan tegang kelas itu ibarat taman bermain. bapak hanya memarahi Dino. Contohlah Tamyiz dia biasa saja, iya kan? trigonometri itu mudah baginya."

"Maaf pak, aku agak kurang paham materinya." jawab Tamyiz setelah menggambar beberapa segitiga dengan bentuk jelek di papan tulis.

Tidak ada di antara murid kelas yang berani menunjukan gelak tawa. Tamyiz meletakan spidol di atas meja.

"Ini pelajaran kelas 10, baru semester kemarin sudah lupa lagi. Sana kau duduk. Pertemuan pertama dan kedua kita akan mengulas ini lagi sampai paham baru ... ke materi yang selanjutnya. Jangan lemas pagi-pagi, tepuk semangat!" Bahrul menepukan tangan.

"Lebih mudah dan seru menghitung hasil ladang." ujar Tamyiz berbicara dengan pelan.

"Benar aku berhasil panen cabai minggu kemarin," balas Reza.

"Tamyiz," ucap Salma tiba-tiba tersenyum manis. Bibirnya merah merona diberi lipstik, hidungnya mancung dan tinggi badannya 163 cm.

"Wow Tam! dak cerito-cerito lagi kabe Tam."

"Salma kenapo pindah tempat duduk? kau kan di depan."

"Tidak apa-apa habis dari tahun kemarin, kau ini selalu sibuk dengan sepak bola. Kita beda kelas jugo."

"Apa hubungannya Salma, sudah ya nanti bapak itu merajuk."

Salma mengangguk pelan, Tamyiz sungguh tidak mengerti sebenarnya apa yang diinginkan olehnya. Mengapa harus sungkan untuk berterus terang sama seperti Vivian.

Tung! 5x

Bunyi nyaring terdengar setelah jam setengah 2. Pertanda bahwa kegiatan belajar mengajar telah berakhir. Tamyiz mengemas buku pelajarannya dan keluar dari ruangan kelasnya untuk menuju ke sasana badminton yang selama ini dihindarinya.

"Tamyiz kau mau ke mana?" Salma menarik tangannya. Dia ingin membeli makanan di kantin terlebih dulu.

"Jangan pegang-pegang aku tidak suka dipaksa." balas Tamyiz merasa risih.

"Kasarnya kau ini." Reza menepuk pundaknya sebelum pergi berlatih sepak bola.

"Jangan kabur lagi, Pak Sutanto menunggumu."

"Aku mau ke sasana tapi nanti. Lapar lagi ini, kau ini main pega--."

Pok!.

"Malas sama Tamyiz selalu tidak peka," dengus Salma setelah menepuk pundaknya dengan keras.

"Nyeri tahu," balasnya.

Tamyiz pergi ke warung langganannya untuk memilih jajanan. Dia membelikan juga makanan dan minuman untuk anggota bulu tangkis yang lain. Tamyiz membawakan berbagai macam makanan dan minuman. Dia langsung membagikan jajanan itu kepada anggota-anggota bulu tangkis.

30 menit sebelum bel pulang berbunyi, Pak Sutanto sudah menunggu di sasana. Dia memiliki kebiasaan datang paling awal apabila menghadiri acara.

"Sudah lama terlambat pula kau ini ... Bapak sudah menunggumu sejak tahun kemarin. Jangan sampai kemampuanmu di lapangan nanti karatan Tamyiz. Pak Daeng akan sangat kecewa."

Hahaha!

Sutanto ikut tertawa, dia mempersilahkan Vivian selaku ketua klub dari kelas 2 untuk mengisi kegiatan. Bulu tangkis di sekolah ini tidak sepopuler olahraga lain, bahkan Hamdan adalah satu-satunya anggota daripada kelas 3.

"Ehem ... baik tadi sudah pembukaan yang dibawakan Kepala Sekolah kita Bapak Sutanto. Beliau adalah penggemar bulu tangkis. Untuk Tamyiz dan Kak Hamdan silahkan bergabung

"Baik!" serempak jawab mereka berdua. Sekilas mereka saling memberi senyuman sinis. Tidak lama lagi pertandingan di antara mereka akan dimulai.

"Intrupsi! boleh bertanya tidak Kak?" Mawar mengangkat tangan.

"Boleh katakan saja, siapa namamu?"

"Namaku Mawar Hannah kak. Kalau yang kelas 3 tidak ada lantas siapa yang dijadikan ketua," tanya Mawar.

"Jhoenza resmi menjadi Ketua Bulu Tangkis sejak pertengahan semester 1. Yah habis dia satu-satunya anggota laki-laki di ekstrakulikuler. Senior kelas 3 yang waktu itu berjumlah 9 orang dan kami yang berjumlah 5 orang memilihnya sebagai ketua."

"Sekolah ini ... tidak ada semangat kompetisi. Bisa-bisanya Ayah menyekolahkan kita bertiga di daerah ini. Karir olahragaku nanti bagaimana? hah ... selesai sudah impianku main di All England." keluh Mawar dalam hatinya.

Vivian mempersingkat sesi perkenalan. Dia menyuruh semua anggota klub untuk memulai pemanasan. Pak Sutanto ingin segera menyaksikan sparring ringan antara Tamyiz dan Hamdan. Dia adalah pria sibuk yang memiliki jadwal padat.

—>

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!