Mungkin kebanyakan orang akan menganggap bahwa pertandingan ini hanyalah sebuah permainan biasa. Tidak ada suatu hadiah atau beban bagi yang menang dan kalah di dalamnya, akan tetapi bagi Jhoenza ini saat terakhirnya bermain untuk impian masa kecilnya.
Angka di jam tangan Tamyiz hampir menunjukan pukul 12:00 malam. Dia menyuruh Jhoenza dan Hamdan untuk pemanasan terlebih dulu. Peraturan waktu jeda setelah mendapat 11 poin akan diperpanjang 15 menit agar masing-masing pemain tidak kekurangan aliran oksigen ke otak.
"Loncat cepat bukan loncat tinggi Jho! kau itu pendek," Tamyiz mempercepat bagian gerakan talinya.
"Hey Tamyiz kabe (kau) yakin? nanti staminanya bisa habis duluan," balas Aziz memegang bagian tali yang lain.
"Gancangke (cepatkan) gerakannya Aziz," tatapannya tajam, dia ingin memberikan tekanan pada Jhoenza sebelum bertanding.
"Ah taun kabe (sialan kau) Tamyiz mau membuatku bertambah malu," gumam Jhoenza. Lompat tali dipandang sebagai permainan untuk para perempuan.
Jhoenza melompat lebih cepat, Tamyiz dan Aziz terus mempercepat gerakan tali mereka. Saat melompat-lompat, Jhoenza perlahan hanyut dalam benaknya. Semakin cepat tali berputar hingga dia merasa kaget.
Bruk!
Hahaha!
Gelak tawa menghiasai lapangan. Tamyiz segera mengulurkan tangan kepada Jhoenza yang terjungkal.
"Kenapa kau hanya menyuruhku pemanasan lompat tali, pasti ada sebabnya kan?" Jhoenza tidak marah, ia mencoba untuk membuang prasangka buruknya.
"Haha aku kira kau memasuki mode flow tadi," ucap Tamyiz membantunya berdiri.
"Maksudmu gerakan yang kau lancarkan saat melawan Dororo dulu?"
"Bukan Dororo tapi Antasena dan hampir mustahil bagimu melakukan flow, super excitement atau sejenisnya. Jho kelemahanmu ubahlah menjadi kekuatan. Untuk memenangkan pertandingan ini kau harus bisa memaksanya adu netting. Jangan terlalu banyak melompat apalagi sampai seperti tadi." papar Tamyiz.
Jhoenza mengangguk, "maju!" Tamyiz memberinya aba-aba untuk mengambil bola kok. Hamdan sedikit banyak dapat menerka gaya permainan seperti apa yang direncanakan oleh mereka berdua.
"Servis rendah," dengan tangannya yang panjang dia mampu menjangkau bola yang hampir menyentuh rumput kemudian melambungkan kok tinggi-tinggi.
Tung!
"Karuk! (payah!)" ketus Tamyiz melihat pergerakan Jhoenza.
Bukan maksud Jhoenza mengeyel daripada perkataan Tamyiz, tetapi secara refleks dia melompat ke kok yang menukik di area pertahanannya. Dia melesatkan serangan smash keras yang dapat ditangkis oleh Hamdan.
Lambungan-lambungan tinggi seperti di pertandingan tadi sore mewarnai sepanjang jalan rally perdana. Jam menunjukan pukul 12:20 ketika Hamdan membuat takluk Jhoenza dengan smashnya.
"Nak duel rally panjangnya sampai besok pun, dia yang akan menang. Pakai ini Jho," dengus Tamyiz menunjuk ke kepalanya.
"Maaf," ketus Jhoenza seraya menggigit gerahamnya kuat-kuat. Tatapannya tajam terarah ke lawannya.
"Ingat netting Jho, taktik kita."
"Oh selesai juga rupanya. Kau ini mau main atau menggosip haha," ejek Hamdan.
"Rally ini milikku," balas Jhoenza ingin sekali memukul dengan keras, tetapi dia mengikuti arahan Tamyiz.
"Sudah lelah ya!" sama seperti rally sebelumnya Hamdan melambungkan bola kok. Kok melambung dekat dengan garis jaring. Saat benda tersebut akan mendarat, dia tidak mengayunkan tangannya sehingga kok memantul datar dari area senar.
Twung!
Hamdan yang berada dekat dengan garis belakang, merentangkan tubuhnya sampai terbaring di rumput agar mampu menjangkau bola kok. Saat benda itu kembali melambung, Jhoenza meloncat dan membuat smash yang menukik tajam.
Cici sebagai Ibu Jhoenza tidak dapat menahan tangis kebahagiaan saat Anaknya itu mampu menumbangkan lawan yang bertubuh sangat besar. Fajar memeluk istrinya dan beberapa tetes air mata mengalir ke pipinya.
"Kecil-kecil cabai rawit!" Fajar berdiri dan dengan lantang memberinya semangat.
"Nak! akan Umak buatkan pempek kapal selam (sejenis makanan khas Sumatra Selatan) favoritmu nanti!" Cici tidak luput menyemangati putra mereka.
"Uuuooohhh marvelous!" Aziz melepas baju dan mengayunkannya. Dia merasa euforia tatkala melihat Hamdan tidak berdaya menghentikan lesatan indah daripada Jhoenza.
"Kya Akang! apa yang maneh (kamu) lakukan, ini tempat umum." wajah Alya memerah dan gadis itu menutupinya dengan tangan.
"Kau ini apa tidak malu, ada perempuan di sini!" bentak Mawar kepada Aziz, tetapi perkataan itu hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Jo! Jojo! Jojolion!
"Seperti biasa selera penamaanmu buruk dan ade unsur bau bawangnya Aziz ... yah tidak mengapa," batin Jhoenza.
"Haha semangat Jojolion Brando!" teriak Tamyiz mengejeknya.
"Anak ini lebih bau bawang lagi, aku yakin dia diam-diam menonton banyak anime." timpalnya di dalam hati sembari bersiap untuk bertahan.
Aziz dan beberapa penonton lainnya mulai memberikan dukungan yang meriah. Jhoenza menyampaikan rasa apresiasinya dengan sebuah pukulan mendatar ke arah samping. Kok hampir mendarat ke rumput, tetapi Hamdan mampu menjangkaunya. Bola kok kembali dibuat melambung tinggi
Tung!
"Ingat netting Jho! kabe hantam dengan pukulan keras, tetapi mendatar ke arah samping ... Hamdan akan melakukan lompatan smash, hemat tenagamu. Jam menunjukan pukul 12:35 malam ...," seru Tamyiz mengamati permainan keduanya di atas lapangan.
"Sesuai arahanmu Mr. Koch!" Jhoenza tersenyum kecil.
Trung!
"Hentikan rally! Jhoenza menang," Tamyiz menyadari raket Hamdan sedikit menyentuh net.
"Matanya tajam sekali," gumam Hamdan yang bahkan tidak menyadari blunder yang dia lakukan saat beradu netting.
"Benar tadi aku lihat netnya bergetar. 2 rally beruntun milikku." Jhoenza tersenyum puas sambil mengacungkan kedua jarinya.
"Minimal mawas diri dahulu Jojolion. Samakan kedudukan baru bicara," balas Hamdan sebelum memulai rally berikutnya.
"Kalian ini," dengus Jhoenza bertahan dari lambungannya.
Jhoenza yang merasa kesal karena ejekan itu kehilangan fokusnya dan rally ke-3 direbut oleh Hamdan.
"4 poin di tanganku Jojolion," ucap Hamdan.
"Ada angin saja tadi," balas Jhoenza memulai servisnya.
"Bosan tahu, tempo cepat!" Hamdan berusaha untuk memancing Jhoenza agar mengikuti alur permainannya.
"Bagus Putra Ayah terus hempit dia!" seru Sharjah, detak jantungnya semakin terpompa saat smash keras putranya itu menembus pertahanan Jhoenza.
"Hey nak kenapa kau bawa obor rumah!?" bentak Maysuri saat mendapati Aziz hendak menyalakan flare.
Psshht!
"Ini bukan obor Umak, ini flare. Tanya Tamyiz yang sedang jadi pelatih di sana. Pasti jawabanku dan jawabannya sama." Aziz menyalakan flare dan berjalan lebih dekat ke lapangan untuk memberikan dukungan.
"Kabe nak kemane hah," timpal Maysuri.
"Tidak apa-apa May, dia nak menikmati masa muda." ucap Samanhudi mengizinkan anaknya bermain memakai flare.
"Bagus manjakan saja dia terus, lihat putus sekolah kan?"
"Shht ... ada banyak orang," tegasnya.
Rally semakin seru dan tempo permainan tanpa disadari oleh Jhoenza berjalan semakin cepat. Tamyiz terus memberikan arahan, motivasi dan taktik agar Hamdan tidak mampu mengunggulinya sekalipun dia yang sejak pertengahan round mengendalikan alur dari rally-rally yang berlangsung.
Tung!
"Hoooo!" Jhoenza berselebrasi di akhir round kedua bersama dengan Aziz yang telah menyalakan flare ketiga.
"Masih terlalu awal kita merayakan ayo mulai lagi, besok kita dari pagi harus sudah menjual pisangnya." Tamyiz menolak ajakan tersirat dari mereka berdua.
"Ah kau ini terlalu serius. Pak Sarwono itu yang harus mengikuti kemauan kita. Petani jangan mau dibuat menjadi kadal oleh tengkulak," balas Aziz.
"Benar yang dikatakan Tamyiz ... hoahem mengantuk," alasan Jhoenza setuju pada Tamyiz.
Berbeda dari Jhoenza yang dipenuhi rasa percaya diri, Hamdan tidak berani untuk menatap mata anggota keluarganya saat menghampiri mereka.
"Penampilanku ... memalukan saat menghadapi Tamyiz tadi. Pertandingan biasa ini tidak ada bedanya dari kejuaraan," jelas Hamdan.
"Putraku apapun hasilnya Ayah tidak akan terlalu mempersoalkan dan selalu dukung, tetapi kalau Hamdan menang aku lebih senang. Jadi jangan hilang garang dan patah arang." Sharjah memukul dada Hamdan dengan pelan.
"Betul kang, ini baru 1 round. Akang pasti bisa tidak terkalahkan seperti dulu lagi," ujar Alya.
"Aku terlalu angkuh saja waktu itu Alya, Ayah aku akan mencoba dan Mawar tempat ini hampir tidak ada bedanya dari Karawang. Mau di sini atau sana ataupun daerah lainnya aku akan tetap mendominasi." Hamdan bergegas untuk memulai permainan.
"Baik Akang," jawab Mawar singkat. Dia sebenarnya ingin berucap tadi, tetapi tidak tahu ingin mengucapkan hal apa.
Raksasa!
Penonton mulai bersorak sorai mendukung Hamdan saat rally pertama di awal round terakhir tengah berlangsung. Bagi para penduduk kampung, mungkin pemuda bertubuh sangat tinggi itu hanya dipandang sebagai pendatang dari Sunda. Mawar pun demikian, seperti tidak ada bedanya dari orang Sunda kebanyakan.
Tung!
"Fuh ... terlalu mudah, tidak ada bedanya dari permainan anak-anak," ucap Hamdan setelah memenangkan rally.
"Katakan saja kau frustasi sebab ada Tamyiz di belakangku kan? kau itu tidak akan mau mengakui kemampuanku," balas Jhoenza.
Mawar tertegun melihat Hamdan yang berulang kali terbaring di atas rumput agar dapat menjangkau bola kok. Dia yang berada di tempat asing, menjumpai kebudayaan selain Sunda dan tidak seberapa paham dengan bahasa mereka, berjuang dengan kerasnya ingin membuat bangga keluarganya untuk mengalahkan pemain di belakangnya.
Tung!
"Hah!" seru Hamdan setelah melesatkan smash sambil mengusap keringatnya. Jarak skor antara dirinya dengan Jhoenza mulai melebar.
"Pendapat Ceuceu (panggilan Sunda untuk kakak perempuan) tentang daerah ini apa?" Alya tiba-tiba bertanya.
"Eh? ... untuk saat ini ceuceumu belum dapat menjawabnya," ucap Mawar.
"Anak Ayah ini tiba-tiba," Sharjah mencubit pipi salah satu putrinya.
Alya menampakan sifat yang berbeda dari biasanya. Dia tampak tidak peduli dan hanya memandang ke arah permainan Hamdan.
"Akang padahal kau adalah salah satu pemain terkuat di Kabupaten Karawang ... bagaimana bisa orang-orang kampung ini?" batin Mawar seakan tidak percaya melihat baju jersey kebanggaan Hamdan yang dipenuhi oleh debu.
Rasa sakit di tangan Jhoenza semakin tidak dapat disembunyikan. Hamdan mencoba untuk memanfaatkan kesempatan itu dengan melesatkan lebih banyak pukulan keras, tetapi tatapan Jhoenza bagaikan hewan buas yang kelaparan. Hamdan kembali mengubah gaya permainan seperti di awal.
"Gawat ... meskipun Jhoenza unggul poin tapi tetap saja? sedikit lagi Jho, kekalahanmu adalah kekalahanku juga." gumam Tamyiz merasa gelisah.
Woosh!
"3 Rally lagi dan aku pemenangnya!" sahut Hamdan. Kepercayaan dirinya telah kembali.
"Fokus Jho! netting," Tamyiz berucap dengan lantang.
Servis yang datar kembali dilambungkan oleh Hamdan. Apabila Jhoenza mendapat 1 poin lagi, dia yang akan menang. Pukulan keras berulang kali dilesatkan oleh Hamdan untuk menembus pertahanannya. Dia berhasil memenangkan 2 rally dari Jhoenza.
Salah satu pukulan keras yang harusnya membuat kok melesat cepat justru membuat lambungan. Hamdan tidak sengaja membuat blunder fatal.
Tok!
Bola kok dari tangkisan Hamdan terjatuh mengenai jaring nelayan itu. Ketika dia kalah, pemuda itu baru menyadari pertandingan ini adalah permainan yang sangat sederhana dan mereka berdua bertanding demi sebuah pengakuan. Dia tidak merasa marah pada Jhoenza hanya kesal dengan kelemahan dirinya.
Beban pengakuan yang ditanggung oleh seseorang yang pernah juara memang berat. Hal yang sama juga akan berlaku jika ingin diakui oleh pemain lain.
"Di tempat ini aku mengubur mimpiku. Selamat tinggal," ucap Jhoenza merayakan kemenangannya dengan tertidur sebentar.
Tamyiz pun tidak terlalu mempedulikan lagi jam tangannya. Round 1 berakhir dengan skor 14–21, Round 2 skor 21–15 dan Round 3 21–19.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments