Waktu di jam tangan Tamyiz sudah menunjukan pukul hampir 11:00 malam, tetapi pemuda itu sama sekali tidak risau andai Hamdan dan Alya tiba-tiba mengemukakan alasan dari pesan ponsel. Dagangannya hampir habis terjual oleh penonton yang ingin makan cemilan seraya menyaksikan pertandingan bulu tangkis.
Tung!
"Tidak semudah itu Ferguson!" Aziz menahan sebuah pukulan tajam yang mengincar bagian ujung garisnya.
Jhoenza membalas dengan membuat gerakan seperti hendak melakukan pukulan melambung, tetapi saat Aziz mengambil jarak dia tertipu oleh gerakan feint itu. Jhoenza melakukan netting dan mengakhiri round pertama. Skor berakhir dengan hasil 7-21.
Jhoenza!
Aziz memulai round baru dengan servis menyamping yang mengakibatkan kok keluar dari jalur garis. Saat dia kembali memberikan pukulan pertama, Jhoenza melambungkan bola tinggi yang berusaha dibalas oleh Aziz.
Saat hendak meloncat, tali sepatu Aziz tiba-tiba terlepas. Tanpa disadari ia menginjak tali sepatu dan kehilangan keseimbangan. Aziz melakukan sebuah gerakan salto di udara sebelum mendarat dalam posisi push up.
"Luar biasa tapi kenapa kabe kesulitan melakukan cross over tadi," puji Jhoenza sembari mengulurkan tangan.
"Aku pikir gerakan yang kabe ajari tinu (itu) seperti meniru dansa hip-hop," jawab Aziz menerima uluran tangannya.
"Menurutku kau ini sekedar kurang visualisasi saja."
"Aku kurang paham, maksudmu seperti imajinasi itu. Iya kan?"
Para penonton kembali dibuat berseru dengan gerakan akrobatik itu. Akan tetapi tampak antusiasme mereka telah berkurang.
"Hanya ade jualan pisang, variasi makanan tidak ade. panitia tempat ini gawi karuk je (kerja bodoh saja)." dengus salah satu penonton sambil menguap.
"Jangan-jangan kite tini diolahi die sorang bertige wah (kita ini dikerjai/dirundung mereka bertiga wah)." balas teman yang berada di sampingnya.
"Ehem ... selamat malam!" sahut Sharjah keluar dari mobilnya dengan seragam khas.
"Malam Ubak Polisi!" seru salah satu dari para penonton berdatangan untuk menyalaminya. Mereka terkesima dengan pangkat yang berada di bahunya.
Sharjah datang bersama dengan empat mobil di belakangnya. Alya mulai mengeluarkan dan menyiapkan barang dagangan dari dalam bagasi, sementara Hamdan mulai menancapkan penyangga stand. Orang tua Jhoenza dan Aziz ikut membantu keduanya.
"Nanti tolong ajari kedua anakku caranya berjualan ya. Harap maklum, mereka anak kota." ucap Sharjah.
"Ah tidak perlu merendah sampai seperti itu, kami jadi malu. Ubak ada perlu kami pasti tolong," ucap Ayah Aziz, Samanhudi sambil tersenyum kecil.
"Wajar namanya juga masih anak-anak," ujar Fajar, Ayah Jhoenza.
Dari penduduk kampung yang dia ajak untuk melihat pertandingan tengah malam ini, hanya Imah yang membuat alasan. Perempuan itu pun tidak datang ke pengajiannya meskipun Sharjah sendiri yang mengantarkan surat undangan.
Dia sendiri yang mengantarkan surat itu kepada Adik Tamyiz, Dilara. Seorang gadis yang baru mendaftar di SMA dekat kampung. Saat menanyakan keberadaan sang Ayah, Dilara menggelengkan kepala. Tidak ingin berkata lebih jauh.
Tamyiz tampak murung saat Sharjah mendekatinya. Pemuda yang belum akrab dengannya itu langsung berdiri dan menyalaminya.
"Ubak ini silahkan dicoba masih segar," ucap Tamyiz membukakan salah satu pisang.
"Ah tidak, aku ke sini karena kau seperti orang yang bersedih. Semua orang di kampung ini saudaramu. Jangan sungkan kalau kau perlu pertolongan," ujar Sharjah. Dia dengan sangat cepat melahap habis pisang itu.
"Enak pisangnya meski masih terlalu muda. Aku jadi terpikirkan untuk merintis pertokoan baru yang lebih dekat kampung ... ah sabar tunggu proyek dan tunjangan akhir tahun dari Kombes." gumam Sharjah yang sedang menuju ke mobilnya.
"Aduh Nadya!" ujar Mawar kesal dengan permainan temannya itu.
"Kau ini sedang apa? ayo keluar jalan denganku. Katamu kau ingin menjadi pemain bulu tangkis hebat," sahut Sharjah merebut ponselnya dan sedikit memaksa gadis itu untuk mengikutinya.
"Tidak ada hubungannya Ayah, kembalikan ponsel Mawar ada urusan penting," dengus gadis itu.
"Ho apa sepenting itu sampai kau tidak ingin melihat bareudak (anak-anak) lain main bulu tangkis. Kau ini sudah kecanduan ponsel ya?" tegas Sharjah.
Tidak ada pilihan lain bagi Mawar, apabila ponsel itu ingin dikembalikan selain mengikuti peraturan sang Ayah. Sharjah mengetahui di belakangnya, Alya yang sedang bersembunyi. Gadis itu diam-diam mengikutinya sejak tadi.
"Mawar lagi, kenapa harus dia! dasar pilih kasih," gumam Alya. Ingin agar Ayahnya itu setidaknya menemukan keberadaan dirinya, tetapi keduanya berjalan semakin jauh.
—
Tamyiz yang sedang termangu tiba-tiba berubah sorot matanya. Seorang gadis dengan rambut terurai panjang berdiri di depan standnya. Wajahnya cindo apabila dalam bahasa-bahasa Sumatera Selatan kebanyakan, tetapi pandangannya terarah ke tempat lain.
"Kau lihat apa! semua orang di sini berpikiran yang tidak-tidak ya," ketus Mawar. Ini adalah pertemuan pertama mereka karena gadis itu tidak mau dibujuk untuk keluar dari kamarnya.
"Aku melihat ada mainan T-Rex di sana," ucapnya seraya mengambil mainan yang dipenuhi oleh lumpur itu. "Firas pasti suka dengan mainan ini," lanjutnya.
"Pembohong," balasnya menunjuk ke arah Tamyiz.
"Tidak ... oh ya mau beli pisang," tanya pemuda itu.
"Dia ini tidak setampan cowo-cowo (pemuda) dari Karawang." balasnya tiba-tiba memasang tatapan yang sinis.
"Wah aku tidak tahu ... aku kurang pengalaman! ah betul mari coba cara perkenalan," gumam Tamyiz merasa gugup.
"Oh iya kita belum kenalan namaku Tamyiz. Aku kelas 2 SMA, siapa namamu?" Tamyiz baru berbicara setelah diam beberapa saat.
"Kenapa mengajak berkenalan, katamu kau ingin berjualan, ini ... apa namanya?" tanya Mawar masih dengan tatapan sinisnya.
"Itu sisir pisang, satu sisir 50.000." jawab Tamyiz, ada sedikit kelegaan di hatinya. Tampaknya cara untuk mendekati seorang gadis tidak sesulit yang ia kira.
"Kau ini hih jijik lebih suka adik kelas, no ... not bagiku. Aku lebih suka yang setara, ini 150.000 ambil ya pemuda kampung. By the way cari tahu sendiri ya namaku. Nanti hafal sendiri," ucap Mawar sebelum pergi dari hadapannya.
Tamyiz tidak merasa kesal dengan hinaan seperti itu. Entah kenapa ini pertama kali ada seseorang yang merendahkannya, tetapi muncul rasa semangat. "Menantang," kata itu terus terngiang di dalam batin Tamyiz. Meskipun pemuda itu tidak yakin perasaan apa yang dirasakannya saat ini.
Bersamaan dengan itu pertandingan tengah malam itu telah mencapai puncaknya. Rally antara Jhoenza dan Aziz telah berlangsung lebih daripada 5 menit. Hamdan sudah tidak sabar menunggu untuk segera bermain.
Teng!
"Aziz!" seru Jhoenza setelah melambungkan bola kok.
"Apa!" balas Aziz menahan lambungan itu.
"Makan ini!" dari tatapannya, Jhoenza sudah selesai bermain-main. Satu pukulan smash melesat cepat ke area dekat kaki Aziz.
"Curang hoy! aku jadi ...," Aziz terdiam saat Jhoenza terduduk sambil menahan sakit di bagian tangannya.
"Kau serius mau lanjut Jho, biar Tamyiz je yang lawan Hamdan."
"Aku sudah janji, tadi rally ke-7 aku bilang apa? yang menang akan melawan Hamdan."
"Baseng (terserah)," ucapnya singkat sebelum memulai servis.
"Makan ini!" Jhoenza membalasnya dengan lambungan tinggi.
Aziz melompat tinggi, tetapi dia salah dalam membaca pergerakan bola kok sehingga benda itu menyentuh tangannya dan jatuh ke area sendiri.
"Diulang lagi ... Jho muntah kalau maju (makan \= bahasa kasar) terus, sudah kenyang peghut tini (perut ini)." Aziz pura-pura bersendawa sebelum memulai servisnya.
Setelah rally berlangsung 5 pukulan, Jhoenza menyadari permainan Aziz sudah tidak sebagus di awal round.
Teng!
"Kenapa ... katanye kenyang?" Jhoenza mengakhiri rally dengan lambungan yang mendarat di belakangnya.
Bagi seorang pemain bulu tangkis, ada banyak hal yang mempengaruhi performa. Salah satunya dalam situasi ini adalah pertandingan tengah malam. Tubuh secara alami menginginkan istirahatnya; termometer akan menunjukan angka yang lebih rendah apabila mengecek seseorang di waktu tersebut.
Hal itu tetap akan berlaku sekalipun orang itu suka bergadang, termasuk Aziz. Dia terlalu banyak menggunakan gerakan yang menguras stamina.
Tung!
Jhoenza mengakhiri round dengan pukulan smashnya. Aziz harus mengakui keunggulan lawannya dengan skor 14-21. Saat Jhoenza baru saja bersantai, Hamdan telah mempersiapkan diri dengan raketnya. Tamyiz segera menutup stand untuk membantu Jhoenza dalam bertanding.
—>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
luneshan
tidak semudah itu ferguso wkwkwk
2024-07-23
2