Sedari pagi Mawar tidak mau makan dan mengunci rapat-rapat pintu kamarnya. Gadis itu tidak peduli dengan keluarganya yang sedang mengemasi barang kepindahan. Hamdan dan Alya paham kalau si anak kedua adalah saudara mereka yang paling dimanja sang Ayah.
"Nad push! aku ingin farm dulu," ucap Mawar lewat fitur suara gim daring yang dimainkannya.
"Kau itu tidak pernah cocok kalau pilih jungle. War sudah lihat event anyar (baru, kata ini sudah masuk ke dalam daftar KKBI) belum? harga batu gem sedang diskon liar," Nadya mengatakannya sambil melawan sendirian 3 pahlawan musuh.
*Catatan \= batu gem atau sejenisnya bermakna mata uang di dalam permainan video yang dibeli menggunakan uang sungguhan
Hanya sekejap, Nadya dihabisi pahlawan musuh diikuti oleh Mawar yang terlambat menggerakan hero miliknya. Saat karakter yang dimainkan dapat bergerak lagi muncul sebuah pesan yang membuatnya kesal.
"Sayang kenapa kau tidak mau balas pesan. Aku tahu dirimu pindah ke Sumatra. Aku akan ikut kamu ke sana ya, pasti kau akan senang kalau diriku bersamamu."
"Jangan berpura-pura lupa ada banyak memori indah bersama. Kau pasti masih ingat kan saat malam tahun baru itu?"
"Aku sadar aku selama ini telah membuat kesalahan. Maaf ya sudah egois dan tidak perhatian. Kau tahu kan aku bukan orang yang akan ingkar jan--"
Brak!
Mawar tidak peduli kalau layar ponselnya sekarang retak. Orang yang telah mengirimkan pesan itu adalah mantan pacarnya ketika masih duduk di kelas 2 SMP yaitu Zacky. Mereka telah berpacaran selama 1 tahun lamanya sebelum putus, hal itu membuat Mawar sempat mendapat tamparan dan jambakan keras dari sang ayah.
Meski demikian, tetapi Zacky tetap salah di mata Mawar. Zacky tidak dapat menutup mulutnya dan mengolok-olok Sharjah sebagai seorang yang kuno dan menyamakannya dengan stiker kerbau yang dicucuk hidungnya pada grup-grup WA murid.
Tidak ada keuntungan bagi Mawar melanjutkan hubungan dengan anak orang kaya berdarah Sunda itu. Mawar sungguh yakin akan kemampuannya untuk menjadi olahragawati sebentar lagi. Dia memeluk boneka Nobita (salah satu karakter seri Doraemon) dengan erat dan ketika itu pula dalam benaknya muncul sebuah bayangan mereka berdua mesra.
Mawar yang bergidik cepat-cepat pergi keluar kamar untuk membasuh tangannya. "Untung saja aku menolak ajakannya waktu itu? apa yang dia pikirkan, kita masih SMP." gumam Mawar.
Mawar yang merasa haus mulai mengambil posisi untuk menaikan galon ke atas meja. "Pasti Hamdan disuruh Ayah," pikir Mawar karena tanpa disuruh pun pasti galon-galon telah diangkat ke atas olehnya. Mawar lantas mengambil makanan yang telah dipanaskan Alya tadi siang.
Gadis itu merasa kesepian karena tidak ada yang menemaninya tetapi dia masih marah kepada Alya dan Hamdan yang hanya mengangguk-angguk saja.
Teng!
Bunyi yang sangat familiar, Mawar membuka tirai yang menutupi jendela di halaman belakang. Dia mendapati kedua saudaranya bersama beberapa pemuda yang dia tidak kenal sedang memasang batang bambu dan jaring ikan.
—
"Aya-aya wae (ada-ada saja) banyak sekali batang bambu yang kalian pasang," ucap Alya keheranan kenapa lapangan malah dipagari.
"Maaf ya adik ... kami berempat tadi menebang terlalu banyak. Dibuat pagar juga sebagai pembatas agar mirip ruangan," ucap Jhoenza tidak berani menatap matanya.
"Terlalu lama aku bosan menunggu dari tadi, Akang Aziz hayu (ayo) mulai." ucap Alya memulai pemanasan.
"Tam nanti rekam ini, 5 menit saja." Aziz memberikan ponselnya dan menyanggupi tantangan dari gadis yang saat ini sedang memukulkan raketnya ke udara.
"Akang yakin tidak ingin pemanasan dulu? permainan ini 2 ronde 51 skor," ujar Alya.
"Bukankah setiap ronde panjangnya 21 skor?" Aziz merasa bahwa Alya seperti meremehkannya.
Set!
Alya segera memberikan sebuah servis manja kepada Aziz yang dibalas oleh pukulan melambung tinggi. Bola kok mendarat tepat di belakang gadis itu yang membuat Aziz merasa penuh percaya diri. Alya hanya tersenyum, tapi ada makna tersembunyi di balik senyuman ini.
"Haha padahal sudah aku arahkan ke depan wajahmu!" bentak Aziz sembari menjulurkan lidahnya.
"Ehem ... apa nada bicaramu itu tidak bisa diatur," sahut Hamdan mulai emosi.
"Ini pertandingan Hamdan, tentu aku harus bersikap agresif. Nah anak kecil sekarang giliranku!" Aziz segera memberikan sebuah servis keras yang dapat dibalas oleh Alya. Rally itu berlangsung seru sampai Aziz kembali memberikan pukulan lob dan pertahanan Alya meleset.
"Hamdan kau lawan aku saja," sahut Aziz.
"Dengan senang hati!" bentak Hamdan ingin membalas dengan mempermalukannya dalam permainan badminton.
"15 blunder banyaknya, mulai dari tidak pemanasan sampai yang paling fatal adalah tumpuan kakimu." Alya memberi isyarat agar Hamdan tidak mengganggunya.
"Hehe maksudnya apa muridku?" ucap Aziz tersenyum puas karena ketika akan mengirimkan video yang direkam Tamyiz ke pacarnya nanti. Dalam rekaman itu dia pasti terlihat dengan gagahnya sedang mengajari seseorang cara bermain bulu tangkis.
"Kau perlu belajar badminton," ucap Alya memberikan servis keras.
"Hoho adik abang ini mulai tidak sopan rupanya, tenang akan aku beri pelajaran." Aziz melambungkan bola kok seperti sebelumnya.
Ctas!
"Kau belum bisa menangkis pukulan tadi?" Alya melesatkan pukulan smash pertamanya.
"Ah kebetulan saja itu," ucap Aziz masih percaya diri.
Aziz memulai rally berikutnya dari servis pelan diikuti oleh Alya yang memberi lambungan bola tinggi. Pada beberapa pukulan berikutnya, Alya terus melambungkan bola seperti sedang menirukan cara permainannya. Aziz merasa geram karena lawannya saat ini malah meniru cara permainannya.
—>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments