Karawang, Jawa Barat
Seorang pemuda terbangun dalam keadaan sakit kepala di ranjangnya. Ruangan kamarnya sangat luas, tetapi tidak ada pencahayaan di dalamnya. Dia menutup rapat-rapat tirai jendelanya dengan memakunya sekaligus menggunakan selotip untuk menutupinya.
"Mawar ... kenapa kau blokir juga," ucapnya. Kepalanya terasa migraine setelah bangun tidur.
Dia melihat botol kaca kosong bekas sisa mabuknya semalam, tercampak di bawah ranjang. Pemuda itu menggenggam benda haram tersebut.
Brak!
"Mawar ha! ... kenapa!?" teriaknya setelah memecahkan cermin.
*Tok*
Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Terdengar kembali suara ketukan, tetapi pemuda itu masih larut dalam kesedihannya.
"Tuan Zacky maaf mengganggu ini waktunya makan siang. Sarapan tadi pa--," gadis Pelayan itu kembali mengetuk pintu.
"Sudah aku bilang dari kemarin, jangan bawakan makanan. Sekarang apa maumu?" sanggah Zacky membuka pintu. Dia kesal terhadap Maya yang mengabaikan perintahnya dan menganggunya.
"Ah tidak Tuan Zacky ... aku sekedar ingin membawakan makanan. Nanti orang tua anda mengkh--," ucap gadis pelayan berusia 14 tahun itu.
Cklek!
Zacky mengunci pintu kamarnya dan sekali lagi terbaring di ranjangnya. Dia merasa bersedih kenapa Mawar yang tadinya seperti mabuk kepayang kini memblokir nomor ponselnya. Apakah dia kurang tampan, kurang kaya ataupun kurang kekuatan fisiknya.
Sang Tuan Muda tersebut tidak pernah mengerti meski memiliki ketiganya. Dia memperhatikan wajahnya dengan mengambil pecahan kaca dari cermin. Tergambar sosok pemuda berhidung mancung dengan pipi gahar dari pantulan itu.
Tidak heran jika hampir semua gadis yang mengenalnya, setidaknya satu kali mencoba untuk mendapatkan perhatiannya.
"Maya apa Tuan Muda baik-baik saja?" ucap Sebastian, pemuda berdarah Sunda yang satu kelas dengan majikannya.
"Hey Akang kau masih bertanya! Mawar saja yang ada di pikirannya itu, dia anggap kita ... setia ini apa, perutku sakit. Susah payah aku membuatkannya bahan makanan, tetapi tidak dimakan." Maya tidak kuasa menahan tangisannya.
Dia mengerti tentang perasaan Maya, Sebastian sama seperti gadis itu adalah anak yang dibesarkan di panti asuhan. Dalam ingatan sang Pengawal, Ayah kandungnya adalah seorang penjual bakso keliling berhati baik.
Suatu ketika semuanya berubah. Sebuah truk besar menghantam rumah sederhana mereka. Saat dia dan kedua kakaknya baru pulang sekolah, mereka mendapati penghuni rumah telah terbujur kaku. Sang pelaku dapat kabur dengan mudah tanpa bisa diselidiki keberadaannya.
Kerabat-kerabat Sebastian memiliki level ekonomi yang sama, tidak ada dari mereka yang mau membantu anak daripada saudaranya sendiri. Kakek dan Nenek dari Ayah Ibunya telah meninggal. Dia bersama saudaranya didaftarkan ke dalam panti oleh salah seorang Paman ketika berumur 6 tahun.
Sebastian telah bertekad untuk mencari pelaku dan membalas dendam pada kerabat dan kedua kakaknya menggunakan caranya sendirinya. Untuk itu sudah menjadi kewajiban baginya, membalas perbuatan baik orang lain.
"Maya kau itu harus paham masalah tuan kita bukan hanya tentang teman atau sekolah. Dia seorang CEO, bisa jadi ada sesuatu yang terjadi pada perusahaan bukan?"
"Bullshit (omong kosong) bela terus! orang kaya mana ada masalah keuangan."
"Lantas kau menangis kare-- hey aku sedang bicara ini."
"Terserah," ucap Maya tidak peduli. Gadis itu hanya ingin tidur siang. Dia memasuki salah satu satu kamar yang disediakan bagi para pelayan untuk beristirahat.
"Astaga ... Zacky selalu pergi ke klub. Habislah aku kalau Tuan Besar sampai tahu," gumamnya terduduk sembari menutup wajahnya.
—
Ding! Ding! Ding!
Zacky dengan refleksnya beberapa kali mematikan panggilan itu. Akan tetapi ponselnya terus menerus berdering.
"Iya aku dengar kenapa! bukan urusan penting juga kan," bentak Zacky.
"Maaf Tuan Muda ... tapi aku diperintahkan oleh Tuan Besar unt--," gadis itu menjawabnya sedikit takut. Mita adalah salah satu supervisor yang baru lulus dari perkuliahan berusia 22 tahun.
"Aku ini CEO perusahaan, pemimpinnya bernama Zacky Ziyech Kamal bukan Pak Darmawan Kamal. Beliau itu sama saja dengan pemegang saham tapi yang menjalankan operasi siapa Ceuceu? mengerti," balas Zacky perlahan membuat pelan nada bicaranya.
"Masalahnya Tuan sudah hampir seminggu belum masuk ke kantor? Direktur Kedisiplinan pasti ti--"
"Hey bukan urusan Ceu Mita ya, untuk apa pula seorang bos hadir terus setiap hari-hari. Aya-aya wae (ada-ada saja) Ayahku buat aturan. Kalau Paman Tua itu mau mengadu kepada Ayahku silahkan saja. Siapa takut," tukas Zacky menantang Mita.
"Lantas ... apa yang harus saya lakukan Tuan?" ucap Mita bingung.
"Baru sedikit Ceu ini hah ... ikuti saja perintahku."
"Kalau Pak Darmawan berta--."
"Masih tanya juga dasar loading lambat! iya nanti malam atau besok aku akan mengunjungi kantor. Puas kau sialan! orang bodoh sepertimu bisa-bisanya mengaku lulusan Universitas terbaik," setelah kembali membentaknya Zacky mematikan panggilan.
Pemuda itu sejenak menutup wajahnya dengan bantal. Zacky merasa bersalah karena reaksinya terlalu berlebihan.
*Tok*
"Apa lagi ini ...," dengus Zacky membuka pintu kamarnya. Mita membawa alat pel dan ember untuk membersihkan kamar yang hampir seminggu belum dirapihkan.
"Mohon izinnya ya Tuan, oh iya sebentar lagi waktunya makan malam. Akang Zacky Ingin dimasakan apa?" ucap Maya tersenyum manis.
"Ini baru jam 4 belum jam 7 lihat jam bodoh." balas Zacky masih dengan ekspresi cemberutnya.
"Kau ini sedih terus ... sesekali makan makanan kesukaan bukan hal buruk. Akang mau Maya buatkan ketoprak atau bali gingko ala barat." gadis itu menawarkan makanan kesukaannya.
"Tidak perlu kau risaukan Maya. Aku akan makan di luar lagi bersama Bastian seperti kemarin."
"Waduh Tuanku, hati seorang wanita itu bagai sebuah kaca." sahut Sebastian menghampirinya.
"Oh seperti itu pantas saja kau masih jomblo sampai sekarang ya."
"Kejamnya Tuan Zacky jangan bilang jomblo, tetapi lebih tepatnya aku hanya belum menemukan pujaan hati."
"Hoho ... benar karena itu suatu hari nanti akan terpampang kenangan mesraku bersama Mawar dengan pakaian pengantin." Zacky membentuk jarinya seperti bingkai foto.
"Ehem! nanti jadi hari Tuan akan pergi seper--,"
Tanpa mempedulikan Maya yang sedang berbicara, Zacky sudah berjalan menuruni tangga. Sebastian mengangguk sejenak ke arah gadis itu sebelum mengikuti sang Tuan Muda. Supir peribadi segera membuka garasi untuk mengeluarkan Mobil perjalanan berseri cukup mewah.
"Nak Zacky ayo masuk. Untukmu Sebastian jalankan protokol pengamanan. Kunjungan biasa, kau sudah hafal kan berapa pengawalnya dan siapa-siapa yang bertugas." ucap Jajang.
"Siap melaksanakan tugas pak!" sahut Sebastian.
"Suaramu kurang lantang," balas Jajang.
"Siap melaksanakan tugas pak!"
"Sungguh bagus, masuk. Tuan muda sudah menunggu," pungkasnya.
Supir mobil itu bukanlah seperti supir pribadi pada umumnya. Jajang adalah seorang purnawirawan tentara. Meski hanya seorang bintara selama karirnya, pria 55 tahun itu sangat disegani oleh para pengawal Keluarga Kamal.
—>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
anggita
dalam novel suara pintu dibuka atau tutup... bunyinya pasti Ceklek🤔 gak pernah gluuodak, bruaak🤭.
2024-07-22
1