6 tahun kemudian
Kampung Pasemah, Pagar Alam, Sumatera Selatan
Saat fajar mulai menyingsing, seorang pemuda tinggi sekitar 183 cm berusia 16 tahun tampak berlari santai mengelilingi kampung dengan hoodie dan celana olahraga berwarna hitam.
Langkahnya semakin cepat, dia melompati saluran irigasi kecil lalu menapaki jalan setapak di persawahan yang berjarak sekitar 30 dari rumahnya apabila berjalan kaki.
Dia melakukan menu latihan itu hampir setiap pagi, setelah selesai berlari ia mulai melakukan berbagai variasi sikap untuk kelentukan tubuh.
Penduduk kampung yang berpapasan dengan Pemuda itu sebenarnya merasa bahwa sikapnya berlebihan dan 'cari-cari saro' (menyusahkan diri sendiri). Meskipun demikian mereka tetap menghormati Tamyiz.
Setelah menyelesaikan hand stand sebanyak 10 kali, Tamyiz melempar hoodie miliknya ke tangga rumah panggungnya.
"Tamyiz jangan dibaling macam tu, kabe lah dewasa (Tamyiz jangan kau lempar seperti itu, kau sudah besar)." ucap Imah merasa kesal karena ada barang yang ditaruh sembarangan.
Byur!
Pemuda itu tidak sempat mendengarkan nasehat Ibunya. Dia terlebih dahulu telah melompat ke dalam sungai.
"Wah aku nak kemek ini (aduh aku mau pipis ini)" seru Jhoenza yang berada di dekatnya hendak membuang air. Dia adalah teman baik Tamyiz dan memiliki tubuh yang lebih pendek dibandingkan tinggi badan rata-rata anak-anak lainnya.
"Woy taun, jijik nian! (dasar sialan menjijikan sekali)" balas Tamyiz segera naik.
Tanpa menunggu lama terpancar kelegaan dari ekspresi wajahnya. Tamyiz menendangnya pelan di bagian kaki.
"Maaf hehe ... oh iya aku yakin kabe belum dedagh (dengar) khabar empai (baru) tini kampung," Jhoenza tampak penuh semangat.
"Cringey kabe tini," Tamyiz keheranan dengan rasa percaya dirinya yang meninggi.
"Hah ... cri--, kabe harus tahu 2 hari lagi akan ada keluarga dari Jakarta yang pindah ke kampung kita. Anak-anak dari sana pasti bening sebening kaca, aku sudah lihat video-video mereka di tiktok."
"Tapi Jho, aku tidak lihat ade ghumah empai yang dibangun?"
"Tamyiz pantas kabe ini tidak punya pacar. Dia masih satu engkah (generasi ke-5) dengan kita dan ghumah kosong itu diwariskan lalu ingin ditinggali karena mutasi tugas."
"Pasti dia melakukan sesuatu yang membuat atasannya marah," gumam Tamyiz sembari menggosok gigi.
—
Karawang, Jawa Barat
Tek!
Tong!
Sebuah pertandingan bulu tangkis biasa antar putri di dalam bangunan GOR berlangsung dengan sangat sengit. Masing-masing dari keduanya belum bersedia untuk mengakhiri rally dan tetap melayangkan pukulan mereka.
Mawar yang masih kesal dengan keputusan Ayahnya untuk pindah ke wilayah yang dianggapnya terpencil itu, meluapkan semua kekesalannya dengan meloncat tinggi kemudian mendaratkan smash yang membuahkan skor.
Masih ada sisa satu skor lagi sebelum Mawar dapat memenangkan round, tetapi lawannya itu lebih memilih untuk beristirahat.
"Sudah ya Mawar ... apa kau harus benar-benar pindah? kenapa tidak sewa kos saja dan lanjutkan ke SMA di sini." Nadya mengambil air minumnya. Gadis dari suku Sunda dengan tinggi mencapai lebih dari 180 cm itu memberikan handuk kering kepada Mawar.
"Yah seperti itulah orang tuaku Nadya, padahal kualitas sekolahan bagus di sini. Semua tersedia di tempat ini bahkan aku pun tidak mampu berbahasa daerahku sendiri. Jahat ... kenapa," tanpa sadar setetes air matanya jatuh.
Nadya diam sembari mendengarkan keluh kesah Mawar. Gadis itu lahir di Karawang dan sudah hampir 15 tahun tinggal di sana, tiba-tiba dia harus meninggalkan kota kelahirannya. Mawar tidak ingin kehilangan teman bersama dengan kenangan indah di dalamnya.
"Kau tahu aku bisa berbahasa Sunda tapi tidak terlalu paham dengan bahasa halusnya hihi, jadi terkadang canggung kalau berbicara dengan orang tua. Takut dibilang kurang sopan," ujar Nadya.
"Kau malah membahas hal itu, yang penting jangan lupakan aku ya nanti." Mawar mengakhiri keluh kesahnya dengan mengemasi barang-barangnya dan pulang ke rumah bersama Nadya.
Gadis itu mengundang teman-temannya yang lain untuk menginap di rumahnya, besok pagi dia dan keluarganya harus kemas-kemas barang.
Mawar sejenak memperhatikan raketnya yang digantung. Dia merupakan gadis yang memiliki tinggi badan 170 cm, pemain bulu tangkis favoritnya adalah Carolina Marin. Jika dibandingkan dengan pemain favoritnya, dia memiliki tinggi badan yang kurang lebih sama tetapi tipe badan yang berbeda.
Gadis itu mempunyai ukuran buah dada yang jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan teman-teman sepantarannya. Tiba-tiba Mawar merasakan sedikit nyeri di bagian punggung ketika memasak lenggang (varian pempek) untuk sarapan.
"Aduh duh, punggungku sakit lagi ..." dengus Mawar.
"Kau masih kesal ya dengan keputusan Ayah ... dengar nak Ibumu sudah tidak ada. Sudah waktunya bagi Ayah untuk berbakti bagi kampung halaman dan mencari pendamping hidup baru." ujar Sharjah sembari menuangkan cuka ke piringnya.
"Kenapa tidak cari pendamping di sini saja? Ayah aku mohon izinkan aku un--"
"Tidak boleh nanti ada laki-laki jahat yang mengganggumu. Semua orang harus memegang prinsip, misal orang Tiongkok. Mereka menikah dengan sesamanya. Prinsipku serupa dan Ayah sudah meretas ponselmu tadi malam," sanggah Sharjah.
"Ayah ini egois, padahal Ibu saja orang Ogan."
"Iya memangnya kenapa Anakku, lagipula kan serumpun di mana masalahnya?"
"Benar kata Kak Mawar, Ayah tidak baik punya prinsip seperti itu." ucap Alya, anak paling kecil dari tiga bersaudara.
Sharjah tidak mempedulikan kekesalan kedua anaknya itu, suka ataupun tidak suka Hamdan, Mawar dan Alya harus mengikuti kemauan Ayahnya.
—
Pandangan Tamyiz tertuju pada raket yang digantung di ruangan tamu. Benda yang menemaninya dulu ketika menjadi seorang juara nasional. Dia memegang gagang raket itu dan mengusap area senarnya. Terdapat kenangan yang manis maupun pahit di dalamnya.
Di bawah raketnya terdapat piala nasional yang terpampang mengkilap, sertifikat piagam dan foto-fotonya. Dia mengangkat salah satu foto yang memperlihatkan Tamyiz sedang duduk dengan wajah pucat di ranjang rumah sakit bersama keluarga Antasena yang menjenguknya.
"Anakku kabe masih nak main raket?" Imah ingin Tamyiz yang murung kembali ceria.
"Belum Umak, tidak akan ada orang yang bahagia kalau aku menang lagi." Tampak jelas kesedihan di matanya.
"Umak akan selalu ada mendukungmu, nak anjing mengg--"
Belum sempat Imah menyelesaikan perkataannya itu, Tamyiz sudah turun dari tangga. Wajahnya merah padam karena teringat dengan mejadian 6 tahun yang lalu. Dia lebih memilih untuk mewakili ekstrakulikuler sepak bola selama SMA dibanding mengasah lagi kemampuan badmintonnya.
Saat masuk ke dalam gudang untuk mengambil parang, tiba-tiba ia merasakan sakit di bagian kanan kepala dan bersandar sejenak. Tamyiz menunggu selama 30 menit sebelum menelpon Aziz si pengendara truk meskipun sakitnya hanya reda sedikit.
"Seperti biasa Aziz, kita begawe (bekerja) di kebun." suara Tamyiz seperti menahan sesuatu.
"Waduh Tamyiz bisa jadi kesulitan buang air itu akibat kalau kita tidak suka makan sayuran," Aziz segera menghidupkan mesin mobilnya dan segera menuju ke rumah Tamyiz.
Tened!
Klakson khas badut berbunyi, Aziz dan Jhoenza menunggu Tamyiz di depan rumahnya untuk memanen pisang di kebun peninggalan kakeknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Manusia Biasa
agak Bingung baca dialognya.bahasa apa itu kak?
2024-07-31
1
luneshan
berarti pas tanding masih 10 tahun kalo sekarang 16 tahun
2024-07-23
2
Teteh Lia
16 tahun tingginya udah 183 cm. 😱
nenggak aq kalo mau ngomong sama dia...
2024-07-04
1