Bab 5 - Tandan Pisang

Setelah lebih dari setengah jam perjalanan, mereka baru sampai di kebun. Jarak tempuh ke tempat itu memakan waktu yang lebih lama dari biasanya dikarenakan genangan air yang meluap dan lubang-lubang jalan yang menganga.

"Taun jeme-jeme tinu lah (sialan orang-orang itu). Jauh pula nak servis," Aziz merasa geram karena mobilnya terperosok ke dalam lubang karena berpapasan dengan mobil yang tidak mau mengalah. Akibatnya salah satu ban bagian belakang mengalami kebocoran.

"Apa tidak bisa dipompa saja?" ujar Hamdan.

"Kau ini bodoh atau bagaimana, kalau kita pompa ban ini sekarang nanti belum sampai 5 menit sudah kempis lagi!" bentak Aziz, emosinya meluap-luap.

"Jaga mulutmu Aziz dan kenapa tidak mengikuti perkataanku. Aku sudah bilang tunggu saja sampai mobil tadi lewat. Jangan menyalahkan orang lain karena kecerobohanmu," sahut Tamyiz membela Hamdan.

"Kalian nak belago (hendak bertarung) atau nak gawi (ingin bekerja)," tegas Jhoenza. Dia tidak mempedulikan mereka bertiga dan mulai memotong tandan pisang sendirian. Tangannya dengan terampil menebang setiap pohon yang telah diambil buahnya.

"Kenapa pohon pisangnya ditebang ujang (panggilan Sunda untuk laki-laki yang lebih muda). Apa tidak lebih baik kalau kita menunggu untuk berbuah lagi di waktu panen berikutnya," tanya Hamdan.

"Abang (panggilan untuk laki-laki yang lebih tua, umum dijumpai di berbagai rumpun bahasa Malayik) pohon pisang tidak akan berbuah dua kali, kalau buahnya kembali tumbuh itu karena anak atau tunasnya menghasilkan buah baru. Pohon yang awal akan layu setelah jantungnya terjatuh. Ya bisa dibilang mirip-mirip antara pisang dengan singkong."

"Aku kurang paham kalau masalah pertanian. Tahu sendiri dari kecil sampai besar hanya memandangi bangunan-bangunan besar. Perkenalkan namaku Hamdan Jalaluddin." Tamyiz mengajaknya untuk berjabat tangan.

Tamyiz menjabat tangannya dengan kasar tetapi seraya sebuah senyuman kecil di wajahnya. "Tamyiz Ankara, bang ucapan si Aziz mohon jangan diambil hati. Memang kami semua kesal dengan sifatnya yang membuatku ingin sesekali menghajarnya."

"Tidak apa-apa jang, namanya juga pergaulan. Kalian satu sekolahan?"

"Kalau aku dan Jhoenza iya tapi si Aziz dikeluarkan tahun ini karena sering bela-- ah maksudku bertarung. Nanti perhatikan bang caraku mengambil buah ini." Tamyiz memperagakan cara untuk memanen sebuah pohon pisang.

Hamdan dengan seksama memperhatikan Hamdan mengambil tandan dari salah satu pohon pisang kemudian menebas batangnya setelah selesai.

Brak!

"Coba bang," ucap Tamyiz memberikannya parang.

Pemuda itu memegang parang untuk pertama kalinya, dia menebaskan bagian tumpulnya ke batang dan pohon itu tumbang. Aziz dan Jhoenza berhenti dari pekerjaan mereka karena dibuat kagum oleh kekuatan fisiknya.

"Kecil kemungkinanku bisa menang melawannya, tapi aku tidak takut." gumam Aziz.

"Haha sepertinya aku melakukan kesalahan," ujar Hamdan merasa sedikit malu.

"Abang arahkan bagian tajam ini nanti," ujar Jhoenza mulai mengawasi caranya bekerja.

Setelah cukup banyak tandan pisang yang terkumpul, mereka mulai memisahkan pisang-pisang itu menjadi bagian lebih kecil yang dinamakan sisir. Dalam 1 tandan biasanya akan terdapat 5-6 buah sisir yang bisa dibagi.

"Hah lelahnya ... berapa sisir itu di bak, luas kebun ini 1 hektar kan," Tamyiz membentangkan dedaunan pisang kemudian berbaring.

"Bukan kebun Kakek Tamyiz memanjang 3 hektar sampai ke pembatas di sana lagi, tapi lahan yang ditanami hanya sepersepuluhnya. Kalau 1 hektar saja dimanfaatkan dengan maksimal maka kita bisa mendapatkan 2500 tandan pisang. Akan tetapi itu perhitungan idealnya, memanen tanaman sebanyak itu perlu banyak pacal (pekerja kerah biru) dan kendaraan lebih besar."

"Madaki (yang benar saja) kalau pisang ditanam terlalu rapat akan mudah terinfeksi jamur," sahut Tamyiz tidak setuju dengan ucapannya yang cenderung melebih-lebihkan.

"Solusinya tabur garam selesai," balas Aziz.

Hamdan merasa senang dengan kenalan-kenalan barunya terutama karena salah satu dari mereka mempunyai hobi yang sama dengan dirinya yaitu berolahraga atau badminton. Kampung ini tidak seburuk apa yang teman-temannya yang berada di Karawang sangkakan.

Jhoenza mengambil termos air panas miliknya. Mereka berempat mulai menyeduh teh di dalam gelas masing-masing.

—>

Terpopuler

Comments

luneshan

luneshan

sejak kapan pohon pisang bisa berbuah lebih dari sekali

2024-07-23

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!