Antasena Side Story: Dutch International Youth Open

Akademi Olahraga Suwardi, Jakarta Selatan

Dari ruangan kantin, Antasena berjalan menuju ke ruangan fisioterapis sambil membawa bungkusan gorengan tahu isi kesukaannya. Ada banyak sekali ruangan di gedung besar ini dengan semua kelengkapannya. Dia memencet tombol lift untuk naik ke lantai 5.

Pemuda berdarah Tionghoa itu sudah ditunggu oleh Ahli Fisioterapi Olahraga untuk check up rutin bulanannya.

Tuk!

"Selamat malam dokter," ucapnya masih membawa sisa gorengan di dalam saku celanannya.

"Masuk," ujar dokter baru Akademi, tugasnya adalah memantau kondisi pemain bulu tangkis. Dia adalah seorang dokter muda tampan berusia 28 tahun.

Antasena segera berdiri sambil membusungkan dadanya membelakangi alat pengukur untuk mengukur tinggi badan. Dia dan dokter itu hanya berbeda beberapa centimeter saja. Dokter itu menuliskan hasil yang ia peroleh ke dalam makalah ilmiah.

"Dibanding 1 bulan yang lalu, tinggimu bertambah 3 cm ini luar biasa tapi sikapmu ini sama sekali tidak ada perubahan. Kau terlambat 45 menit dan lagi-lagi makan makanan yang banyak minyak ... apa tidak bisa lebih disiplin, atlet atau bukan?" tertulis nama Dr. M.Fis. Margo Dasno.

"Astaga ... baru saja aku memenangkan gelar Asia Tenggara. Bukannya memberikan pujian," Antasena merasa agak kesal.

"Kau baru saja menang 1 gelar, uang hadiah pun hanya sedikit. Indonesia itu salah satu negara dengan para pemain bulu tangkis terkuat di dunia. Sekarang berbaringlah ... pemain junior kelas menengah sepertimu lebih baik mendengarkan nasehat para senior."

"Iya ya ...," ucapnya tidak peduli saat diperiksa tensinya oleh Dasno.

Selama menjalani pemeriksaan, dia menjadi teringat dengan kekalahannya melawan pemain-pemain dari Akademi Olahraga lain saat seleksi SEA Games. Piala Laos Regional Open yang beberapa hari lalu dimenangkannya dianggap angin lalu oleh para pemenang yang disambut layaknya pahlawan oleh para fans.

"Umurku sudah 16 tahun ... sedangkan ganda putra itu dia hanya satu setengah tahun lebih tua. Sial kalau terus seperti ini aku hanya akan jadi pemain kelas teri sampai tua," batin Antasena.

"Hoy di sini rupanya! sudah berani ya. Kenapa kau tidak mengangkat ponselmu junior sialan, kalau senior menghubungi itu angkat. Paham tidak?" ujar Pratama, empat tahun di atasnya. Akademi olahraga tetap menerima murid apabila seseorang masih berusia dibawah 21 tahun.

"Pelan sedikit lagipula, tidak mungkin aku memandangi ponsel 24/7. Kita harus kurangi kecanduan gawai (gadget) senior," jawab Antasena.

"Alasan saja, sopan santun pada senior itu nomor satu. Cepat kita temui pelatih, dia menunggu kita dari tadi." Antasena sudah paham. Mereka berdua mulai beradu lari melewati tangga menuju ke ruangan latihan.

"Haha kita kau cakap, ringan sekali aku disamakan denganmu. Bakat tidak punya, kerja keras nihil." gumam Antasena jauh mengunggulinya.

Saat telah sampai di lapangan bulu tangkis, dia mendapati temannya telah duduk di barisan rapi dalam posisi siap.

"Kau tidak baca pengumuman di ponsel Antasena?" tanya Pelatih Gun. Pria berdarah Jawa itu masih terbilang muda untuk seorang pelatih yaitu 41 tahun.

"Maaf Pak tadi ponselku tertinggal di kamar saat check up," jawab Antasena sambil menunduk.

"Baik aku maafkan sekarang satu kaki diangkat, jewer kupingmu dan julurkan lidah. Itu yang dinamakan setrap."

Hahaha!

Bagi Antasena hukuman ini lebih parah dibandingkan harus melakukan push up sebanyak 100 kali. Saat Pratama tiba dengan nafas terengah-engah, dia ikut disetrap oleh Pelatih Gun. Gelak tawa di antara para teman mereka kembali terdengar.

"Apa salahku pak, aku datang tepat waktu tadi." Pratama merasa tidak terima dipermalukan.

"Kau terlampau menunjukan kelemahan, aku tidak suka itu. Kalau mau jadi pelawak, ada banyak studio besar di dekat sini. Nanti dikenalkan ya."

"Aku tidak mengerti pak, kenapa tiba-tiba membahas komika lagipula yang aku lakukan ini bukan kesalahan pak. Fisik tubuhku memang agak sedikit lemah tapi ...," lanjut Pratama.

"Baik alasanku memanggil kalian adalah karena Akademi kita mendapat jatah untuk mengirimkan perwakilan dalam 2 kategori: tunggal putra dan ganda putra dalam Dutch International Youth Open." Papar Pelatih Gun menghiraukan ucapan Pratama.

Pratama terdiam dan ekspresi wajahnya dipenuhi oleh kebahagiaan. Dia sangat yakin akan dipilih untuk membawa nama besar akademi mereka di kancah internasional sekaligus merepresentasikan Kabupaten Kediri.

Impian masa kecilnya untuk menjadi pemain bulu tangkis kelas nasional perlahan semakin mendekatinya. Kata mundur tidak ada dalam kamus. Sawah satu-satunya milik kedua orang tuanya telah dijual untuk membiayai pelatihannya.

"Zhou Fang Antasena, Wang Liang Sugiharto dan Dororo Mario Prakoso."

Mendengar nama mereka disebut, Dororo dan Liang berdiri menunjukan semangat yang membara tidak terkecuali dengan Antasena.

"Chama!" Antasena berteriak dengan penuh kebanggaan sambil melompat dan memukul udara.

"Hey Antasena siapa yang menyuruhmu boleh bergerak, lakukan setrap lagi."

"Baik Koch! Amsterdam," ucap Antasena bersemangat.

Tatapan Pratama berubah menjadi kosong, seharusnya dia atau para senior lain yang lebih berhak berangkat.

"Sial aku tertipu Akademi ini ...," ketusnya tanpa suara. Hanya bibirnya yang bergerak.

Amsterdam, Belanda

Sejauh mata memandang, bangunan dengan arsitektur Eropa terhampar. Suhu di awal musim panas Belanda justru lebih dingin dibandingkan saat turun hujan di Indonesia. Mereka bertiga memakai pakaian agak tebal ketika berjalan-jalan yang membuat penduduk pribumi di sana sedikit heran.

"Zo heet en je gebruikt een jas? (sepanas ini kalian pakai jaket?)," ucap seorang Pria Belanda tua bermata hijau menghampiri mereka.

"Sorry we can't speak Dutch (maaf kami tidak bisa berbahasa Belanda)," ucap Dororo, pemuda berdarah campuran Jepang dari Ayah dan Tionghoa dari Ibu. Di antara mereka bertiga, dia yang paling fasih dalam bahasa Inggris.

"I see where you kids come from? (jadi seperti itu anak-anakku kalian berasal darimana?)"

"Indonesia from South Tante eh Om," jawab Liang sebisanya. Meski sejak kecil telah diajak ikut les bahasa Inggeris, dia masih belum lancar. Justru ia fasih dalam bahasa Mandarin.

"Ah kau ini asal zhishi shuo (semaunya ucap) saja," dengus Dororo.

"Kalian berdua ini hanya ingin pamer Mandarin dan English," seru Antasena.

Pria tua itu tertawa terbahak-bahak mendengar percakapan mereka seakan mengerti. Dia mengenalkan diri, Guus adalah nama panggilannya. Ketiganya diajak berkeliling distrik sekitar reguliersgracht dengan berjalan kaki.

"Eh kalian ke sini juga?" ucap Pelatih Gun menyewa perahu untuk menyusuri kanal di sekitar distrik itu bersama dengan Istrinya Tanti.

"Oh vader, je zou niet naar buiten moeten gaan. Je bent nog steeds ziek (Ayahku, janganlah keluar rumah. Istirahat kau masih sakit)." ucap pemandu perahu yang merupakan anak Guus. Wajahnya hampir seperti buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya.

"Maak je geen zorgen Jan, ik wil gewoon wat frisse lucht (tidak perlu khawatir Jan, aku hanya ingin menghirup udara segar)."

Jan merasa khawatir dengan Ayahnya yang mungkin lupa meminum obatnya, dia ingin menepi tapi tiba-tiba terjatuh ke dalam kanal. Tanpa pikir panjang Liang membuka baju dan meloncat untuk menolongnya.

Byur!

"Er is een grens aan roekeloosheid! " spontan bentak Guus sambil menghajar Liang pada saat dia menggigil kedinginan. Dia berterima kasih padanya karena mau menolong anaknya tapi tindakan itu sungguh ceroboh.

Jan memohon maaf dan mengajak mereka untuk makan bersama di kamar apartemennya. Awalnya sungkan, tetapi akhirnya mereka menerima ajakan itu. Sesampainya di sekitar kamar, kelimanya disambut oleh belasan cucu-cucu Guus yang kebetulan sedang berlibur.

Asrama Atlet Bulu Tangkis, Zuidoost

Turnamen akan segera dimulai dalam tiga hari. Ketiganya harus mampu menjaga kebugaran tubuhnya masing-masing tanpa harus menunggu perintah daripada Pelatih Gun. Saat ini mereka sedang lari jog di atas pengisar langkah (treadmill) beberapa saat setelah makan siang.

"Aku jadi terpikirkan Kakek itu ... Kakekku sudah meninggal sebelum aku lahir," ucap Antasena.

"Sedikit-sedikit teringat, kalaupun dia terkena kanker usus memang apa hubungannya dengan kita Antasena. Betul tidak Liang?" balas Dororo.

"Bagiku perkataan itu terlalu kejam Dororo. Aku tidak suka sifatmu yang seperti itu," sahut Liang.

"Kau malah membelanya, yah kita memang bertolak belakang. Ada kaitannya dengan yang namanya chemistry (istilah untuk menyebut kesesuaian partner olahraga)."

"Jadi kau lebih suka berpartner denganku Dororo? tapi aku tidak ada pengalaman di turnamen dalam bermain ganda putra," ujar Antasena.

"Aku juga merasakan hal yang serupa. Mungkin lebih cocok kalau menjadi sainganmu saja di tunggal putra, tetapi apa boleh buat. Sejak kalah melawannya di Semifinal Aseana, tidak ada pelatih yang mempercayaiku lagi."

"Oh Tamyiz Ankara yang keturunan Turki itu ya," Liang teringat saat dia dikalahkan oleh Tamyiz di Perempatfinal Aseana.

"Mau Turki atau Kazakhstan itu tidak penting. Aku sudah lupa." pungkas Dororo.

Tuk!

Tanti membuka pintu ruangan gym. Perempuan itu membawakan beberapa jenis kudapan Belanda. "Aku menemukan banyakan street food di plaza tengah tadi. Ada suikerbrood, stroopwafel dan poffertjes. Boleh dipilih yang kalian suka."

"Hoho suka semuanya Bu Tanti jangan tanya," Antasena mengambil ketiganya. Mencampurnya seperti sedang membuat isi lalu melahapnya. Liang dan Dororo sudah mengetahui kebiasaan itu sejak lama.

"Bagus kreativitasmu Antasena ...," Tanti memberikan acungan jempol.

Hari yang melelahkan perlahan berlalu, kini turnamen akan segera dimulai. Peserta dari berbagai negara dengan warna rambut, kulit dan mata yang berbeda-beda memasuki gelanggang lapangan. Untuk pertama kalinya Antasena merasakan sebuah atmosfir lain.

Hal yang dirasakan Antasena sekarang apabila dibandingkan dengan Vientiane tidak dapat disamakan. Bagi dirinya, ibukota negara Laos itu hampir tidak ada bedanya dengan bertanding di Jakarta.

—>

Terpopuler

Comments

luneshan

luneshan

jadi keinget anime dororo setelah baca namanya

2024-07-23

3

Scorpion's Caesar

Scorpion's Caesar

novel bagus , tapi saya rasa ada yang kurang menarik perhatian reader nih thor. Yaitu pertama Cover novel yg menurutku terlalu sederhana, dan juga judul novel nya yg sama sama sederhana.

inget thor yg dilihat reader pertama kali itu adalah judul sama Cover, novelnya bagus tapi sangat disayangkan kalau novel sebagus ini tidak famous hanya gegara judul dan cover yg terlalu sederhana

2024-07-10

4

anggita

anggita

nasihat yg bijak.

2024-07-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!