Bab 9 - Kualitas Seorang Jhoenza

Jhoenza belum juga berhenti memukulkan kedua tangannya ke tanah. Darah mulai mengalir dari kulit bagian metakarpalnya (tulang yang menonjol saat mengepal) yang terkelupas. Gejolak batin yang dialami oleh pemuda itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada lukanya saat ini.

"Hentikan Jhoenza kau sudah gila ya!? aku tidak ingin siapapun terluka," bentak Hamdan sembari menahan keduanya.

"Terus tahan dia Hamdan!" Tamyiz berlari menghampirinya.

"Uwah da--dareh!" Firas berlari ketakutan setelah melihat ceceran darah.

"Jhoenza kabe ini tidak pernah berubah, memangnya dengan merajuk seperti orang bod--,"

"Bodoh katamu? lihat kan tadi aku sudah membuktikannya! tinggi tidak terlalu berpengaruh," sanggah Jhoenza.

"Pantas saja kau kalah," balas Tamyiz. Jhoenza masih belum menerima sepenuhnya kekurangan di dalam dirinya.

"Lepas!" Jhoenza meradang. Hamdan pun melepaskan kunciannya.

"Sejak dulu aku paham dengan watak Aziz, tetapi aku tidak pernah mengerti jalan pemikiranmu." sahut Tamyiz menatapnya tajam.

"Apa kau pikir permainan bulu tangkisku lebih jelek daripada adiknya karena tubuhku yang pendek ini. Hanya karena itu? kenapa diam saja, cia jawab!"

Brak!

"Ini jawabanku, kau mau melanjutkannya di sini atau membalasku dengan memenangkan pertandingan? Hamdan aku boleh kan berlagak sebagai pelatih," ujar Tamyiz setelah menghajar Jhoenza.

Hamdan mengangguk dia tidak tidak terlalu mempermasalahkannya. "Mau sampai kapan kau merajuk seperti itu," Tamyiz memberi Jhoenza yang sedang duduk termenung memandangi rumput dengan uluran tangannya.

"Masih ada 2 round lagi." Jhoenza kembali mengambil raket.

"Coba saja kabe mulai main dari tadi ... malah mengamuk tak jelas. Pasti sudah paham kan langkah apa yang harus diambil ketika menghadapi lawan yang lebih besar. Ingat Ginting melawan Axelsen," papar Tamyiz sembari memperhatikan Jhoenza memulai servis pertama.

Woosh!

Belum lama rally berlangsung, sebuah lambungan tinggi daripada Hamdan telah meruntuhkan pertahanan Jhoenza.

"Bubar saja besok hari masih bisa," sahut Hamdan mulai jemu. Matahari telah semakin tenggelam dan penonton yang tersisa hanya Aziz dan Alya.

"Aduh tengan (tangan) sakit," Jhoenza merasakan nyeri saat memukul bola kok.

"Itulah gawi karuk (kerja bodoh), masih bisa main atau tidak?" tanya Tamyiz.

"Kita lanjutkan lagi setelah Isya di dekat sawah." ujar Jhoenza, hal yang tabu untuk tetap melanjutkan permainan sementara anak-anak kecil sudah banyak yang berangkat mengaji ke surau.

"Baiklah tapi aku sudah mendapat 2 poin," sahut Hamdan.

"Gurauan macam ape tinu (apa itu)," balas Jhoenza sembari mengembalikan raketnya kepada Hamdan.

Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Azan berkumandang dari surau yang berada tidak jauh dari rumah Sharjah. Pria itu melepaskan seragamnya dan menuju ke meja makan.

"Tadi Ayah keluar lama karena tuntutan pekerjaan, pemaksimalan personil untuk memburu beberapa buronan KPK yang melarikan diri ke daerah ini. Untuk beberapa hari ke depan aku tidak ada di rumah," ucap Sharjah.

"Alya tolong buatkan kopi," ujar Hamdan.

"Tidak perlu nak biar aku seduh sendiri," jawab Sharjah.

"Sudah tahu katakan lebih baik kita bersekolah di Karawang, tetap saja mengeyel mau mutasi di sini, sukarela pula. Kalau orang lain mereka berlomba-lomba untuk dapat pindah ke Jabodetabek yang lebih berperadaban." papar Mawar melampiaskan kekesalannya.

"Oh Mawar kabe sudah keluar kamar, macam mana suasana di kampung kau galak (suka) kan?" tanya Sharjah tersenyum kecil sembari menyeduh kopinya.

"Hmmpphh ...," Mawar mendengus.

"Ah Ayah selalu menanyakan Mawar, giliran Alya tidak pernah diperhatikan. Aku yang memasaknya," balas gadis itu merasa iri.

"Menurut Ayah tetap lebih enak menu buatan Mawar, masakanmu terlalu banyak diberi garam. Nanti para tamu kita?"

"Iya Ayah memang sengaja, tapi hanya sedikit lebih asin karena aku juga menyesuaikan selera Akang Hamdan dan daerah di sini setelah melihat-lihat laman web," balas Alya mengeyel.

"Kabe malah lebih mengeyel daripada ayuknya (panggilan untuk kakak perempuan yang lazim di Sumatera Selatan)," celetuk Sharjah memberi senyuman kecil pada salah satu anak gadisnya.

"Ayah kenapa tiba-tiba gaya berbicaranya jadi berbeda?" tanya Hamdan sembari menuangkan susu kotanya ke dalam gelas.

"Kalau kita di Karawang, bahasa kita Sunda. Karena kita tamu di sana dan mereka pribumi. Berbeda di sini yang memakai bahasa Melayu Pasemah. Di manapun tempat pandai dalam pembawaan diri itu suatu keharusan."

"Ayah bohong, aku dianggap tidak ada bedanya oleh Nadya, Zacky. Mau itu tamu, pendatang ataupun bule sama saja kalau di sana, kita dianggap saudara kalau dekat. Ayah saja yang selalu penakut," balas Mawar.

"Hey Mawar sia (kau) jaga ucapan. Sedikit pun kau tiada niatan mau membantu. Sendirian Alya membantu tetangga memasak di dapur dan menyiapkan pengajian," sahut Hamdan kesal dengan sifat manjanya.

"Bukan urusanku lagipula bela saja terus, kita sekarang berada di hutan ini karena kalian berdua itu seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Memang kapan Akang bela aing (saya), apa pernah?" balas Mawar.

"Bukan kau saja Mawar tapi bukan berarti kita hikikomori (mengurung diri di kamar). Dengarkan nasihat Ayah kita pengala--,"

Klek!

"Wibu!" ketus Mawar membawa makanannya sambil mengunci pintu kamar.

"Hamdan biarkan saja ... mungkin dia masih patah hati sehabis putus dari Zacky. Kalian berdua cepat bergegaslah untuk menyambut tamu."

"Baik Ayah," jawab mereka berdua serempak.

"Kenapa Ayah bisa tahu? padahal Mawar pun tidak pernah curhat masalah itu padaku," gumam Alya bertanya-tanya.

Keadaan tanah lapang dekat persawahan yang berbatasan dengan Kampung Biawak di sebelah kampung mereka, tampak begitu sunyi sebelum derai daripada suara mesin mengisi keheningan. Tanpa adanya penerangan, lampu truk Aziz menjadi satu-satunya sumber cahaya.

Krek!

Aziz memutar kunci truk, "Gelapnya ... aku tak yakin mereka ke sini." ucapnya sembari mengeluarkan menurun pintu bak truk.

Jhoenza membantu Aziz untuk mengangkatnya kemudian menuangkan diesel ke dalam genset yang mereka berdua bawa.

Dari jarak yang sangat jauh, Tamyiz dapat melihat sebuah cahaya kecil tiba-tiba muncul di balik minimnya penerangan.

"Wuih kalian benar-benar merayau (roam/keluyuran) ke sini haha, tapi Hamdan dan saudarenye belum datang. Ini sudah jam setengah 10," ujar Tamyiz sesampainya di tempat, melihat Aziz dan Jhoenza yang sedang bermain.

"Kau ini dari tadi meracau saja! datang hanya sendiri pula dasar no life," seru Aziz menirukan gaya bicaranya.

Tung!

Aziz kembali membuat pukulan melambung saat ia melompat untuk melakukan smash. Dia memperhatikan Jhoenza yang bermain lebih elegan dibandingkan dengan permainannya melawan Hamdan sebelumnya.

"Kalau Jhoenza dulu bermain sebagus ini, mungkin 3–4 kali aku kalah sparring melawannya." Tanyiz bergumam dalam hati.

Teng!

Jhoenza mengakhiri rally itu dengan pukulan smash yang melewati garis. Aziz beruntung dapat memenangkan rally karena tiupan angin.

"Pantas permainan bulu tangkis dimainkan di dalam gedung," ujar Aziz mengembalikan bola koknya.

"Aziz lihat Tamyiz mentraktir kita pisang," ucap Jhoenza merasa lapar.

"Bayar taun ... ini dagangan kita. Hari ini belum ada keuntungan loafer (slang untuk menyebut orang malas dalam bahasa Inggeris)," Tamyiz hendak mendirikan stand mini untuk menjual pisang kepada orang lewat.

"Kau ini kalau masalah uang gancang nian naik darah, jadi saudare tinu (saudara itu) janganlah pelit-pelit. Ingat pesan Ibu Imah dan abang-abangmu," balas Jhoenza sembari mengambil satu sisir pisang.

"Baseng kabe (terserah kau) ...," ketus Tamyiz mulai mendirikan standnya. Dia pun membagi tandan pisang yang ia bawa menjadi beberapa sisir dan menyusunnya.

5 menit kemudian

Tin!

"Wah rezeki ini pelanggan," ucap Tamyiz antusias.

"Pisang semua ya kalau buah lain ade?" tanya pelanggan itu.

Seketika tampak sedikit kecemasan dalam ekspresi wajahnya. Tamyiz hanya menyediakan pisang cavendish untuk stand mininya.

"Belum ada abang maaf ye, tapi pisang jenis ini empai (baru) dan segar ditanam. Lihat hijo galoh (hijau semua) kan?"

"Aku beli 3 sisir ya, tadi lewat sini sehabis pengajian dari Rumah Ubak (Bapak) Sharjah, warna suluh (merah), besak nian." ucap Pembeli dari Kampung Tetangga itu.

"Baik 120.000 ribu ya pak," ucap Tamyiz membungkus pesanannya.

"Eish budak tini (anak ini), 50.000 ribu atau aku pergi." dengusnya kesal karena Tamyiz menetapkan harga yang kurang masuk akal.

"Jadi begini ubak, kami ini vendor acara bulu tangkis. Nanti sebentar lagi lombanya dimulai." Tamyiz mencari-cari alasan agar dapat menjual pisangnya dengan harga 3 kali lipat dari tengkulak pasar.

"Ade lomba badminton? kenapa tak bilang, tetapi harganya mahal nian 60.000 ribu dah dapat ini di pasar." ucapnya menjadi bersemangat.

"80.000 ribu," jawab Tamyiz.

Pembeli dan penjual sepakat di angka 75.000. Dia pun segera pergi dengan wajah berseri-seri. Tamyiz mulai membersihkan rumput di sekitar stand dagangannya. Pemuda itu memperhatikan Jhoenza yang sedang mengajari Aziz latihan.

"Aziz bukan kaku macam tinu, kabe pasti pacak (bisa) split kan? tujuan kedua gerakan itu sama. Bedanya kalau di langkah silang dalam permainan badminton, latihan tini untuk melatih pemain agar dapat menyerang dan bertahan dari lesatan bola samping," jelas Jhoenza.

"Baik seperti ini ya?" Aziz melangkah dengan kaki kanan silang ke dalam tapi kehilangan sedikit keseimbangan.

Jhoenza memperagakan dengan kaki kirinya menyilang terlebih dahulu sebelum kembali ke posisi tegak dan melakukan sebaliknya. Bagi Aziz, dia lebih mirip orang yang sedang mengajarinya cara berdansa.

Tamyiz merasa senang Jhoenza mempraktekan teknik yang ia ajari. Teknik dasar gerakan kaki itu dahulu dipelajarinya semasa mengikuti training camp bersama Mr. Koch sebelum Kejuaraan Nasional. Tamyiz dapat melihat kualitas seorang Jhoenza sebagai pemain bulu tangkis meskipun bertubuh pendek.

—>

Terpopuler

Comments

luneshan

luneshan

wkwkwk di katain wibu

2024-07-23

3

althaf

althaf

Ari sia ambek ambekan🤣

2024-07-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!