Ujung tangan Jhoenza secera rileks memegang bagian belakang bulu kok. Raket di tangan sebelahnya telah siap. Dia mengambil satu nafas panjang sebelum menghentak dengan cepat. Sebuah pukulan pelan telah mengarah langsung ke depan wajah Hamdan.
"Eusleum! (umpatan dalam bahasa Sunda) aku tidak boleh terlihat lebih lemah di depan Alya?" dengus Hamdan di dalam hatinya.
Teng!
Servis yang mencemooh itu dibalas dengan sebuah lesatan sangat cepat yang mengarah ke bagian ujung kanan.
"Kau pasti ingin menjadikanku seperti Aziz tadi kan ... maaf saja tidak semudah itu Hamdan!" gumam Jhoenza seraya melompat sampai terbaring dan menghalangi laju jatuhan bola kok.
Bola kok memantul melewati bawah net. Hamdan merasa kurang puas akan pembukaan rally sebab pukulan terkuatnya masih dapat ditangkis. Perbedaan tinggi badan dan jangkauan tangan Jhoenza hampir separuh daripada lawannya.
Jhoenza terdiam dan memandangi bola kok yang baru saja diberikan oleh Hamdan. Tangannya mengepal kuat hingga membuat bulu kok itu rontok, pasti ada sebuah cara bagi si kurcaci untuk menaklukan seorang raksasa sekalipun.
"0-1," Firas berlagak seperti wasit. Anak itu dengan lantangnya mengumumkan kepada para hadirin.
"Seperti yang telah kalian saksikan bung, masih bersama saya Zola. Yak ini dia di menit pertama, rally pertama bagaim--," ucap Zola.
"Euy kalian berdua pergi saja jangan mengganggu," sahut Hamdan merasa bahwa keduanya hanya akan menghalangi lesatan bola kok.
"Ape salah kami bang sampai harus tandak (diusir)," ucap Firas dengan wajah memelas.
Melihat raut wajah Firas yang tampak akan menangis, Hamdan segera luluh dan membiarkan mereka berdua tetap duduk di atas net.
"Bagus ...," gumam Jhoenza merasa santai dengan pertandingan yang tertunda dan kalaupun permainan harus dibubarkan karena matahari yang semakin tenggelam, dia harus mampu mengakhiri round dengan keunggulan skor.
"Maaf para pemirsa sedang ada gangguan teknis! kami akan segera kembali." seru Zola menirukan komentator apabila siaran TV tiba-tiba buram.
Selang beberapa menit berlalu, Jhoenza masih belum memberikan servis. Dia hanya berdiri sembari menyandarkan tubuhnya.
—
Tamyiz tersenyum kecil, ia paham dengan apa yang Jhoenza coba lakukan dan pernah melakukannya saat bermain di kualifikasi turnamen nasional dahulu.
Dia sangat yakin apabila timing dalam mencari-celah celah atau kesalahan musuh daripada Jhoenza tepat, maka dia pun dapat memenangkan pertandingan sebagaimana dulu Tamyiz menghabisi lawan-lawannya dari berbagai kota besar di Sumatera Selatan.
"Jangan buang-buang waktu dasar pengecut!" dengus Alya berdiri memahami hal yang sama dengan Tamyiz.
"Mau bagaimana lagi, bulu koknya tadi rontok. Sabar saja nanti juga mulai lagi. Firas sedang mencarikan kok yang lain," sahut Tamyiz membela Jhoenza.
"Ini hanya pertandingan latihan, harusnya bermain dengan lepas." timpal Alya, kesal dengan Tamyiz yang seperti tidak mendukung sportifitas. Padahal dia adalah atlet yang mempunyai pencapaian jauh melampaui dirinya.
"Aku setuju dengan Alya. Si Jho tini merajuk (marah kecil) macam budak kecik." ujar Aziz bercakap dalam bahasa yang kurang ia mengerti.
"Hoho kalau macam tinu kenapa kalian berdua tidak pacaran saje?" balas Tamyiz bertanya kenapa tiba-tiba Aziz membela Alya.
Alya tersipu malu mendengarnya, sedangkan Aziz merasa bahwa hubungannya dengan Sisil seperti tidak terlalu dihargai.
"Maaf aku hanya bercanda tadi. Kabe hampir lupe ponsel. Kau ini nak enjuk (kasih) ke aku ya haha?" Tamyiz mengembalikan ponselnya.
"Terima kasih tapi tidak ada yang lucu? apa maksudmu bercakak (bergurau) seperti tadi hah! kau pikir aku dan Sisil hanya sekedar bermain-main. Setelah bosan aku tinggalkan dia macam di sinetron. Anak kecil yang tidak paham urusan romantisme sepertimu tahu apa," ketus Aziz.
Alya merasa kecewa mendengar perkataan itu. Tamyiz terdiam karena seperti apa yang dikatakan Aziz barusan, dia tidak tahu apa itu romantisme.
"Darah mude, memang mudah terbakar. Tetapi jangan banyak berbalah. Jaga!" tegas Asnawi merasa khawatir dengan pertengkaran di antara ketiga cicitnya yang berpotensi untuk menimbulkan rasa dendam.
"Siapa yang berbalah Buyut?" serentak jawab mereka bertiga.
"Akang Aziz berbalah itu apa?" tanya Alya.
"Kau tidak pernah pulang kampung, orang Melayu tapi tidak faham makna berbalah." sahut Tamyiz, karena Aziz hanya diam saja. Dari tadi dia tidak terlalu mendengarkan orang lain berbicara karena sibuk menulis pesan chat untuk Sisil.
"Aku bertanya pada kang Aziz ... memangnya ada orang Melayu di daerah ini?" lanjut Alya.
"Inilah akibatnya kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu Cucuku," gumam Asnawi hanya bisa menggelengkan kepala.
—
"Assalamualaikum, boleh pinjam kok?" ujar Firas. Anak itu telah menanyakan hal yang sama ke rumah-rumah.
"Ade juge ye yang nak main bulu tangkis, tunggu." Pria paruh baya itu masuk sebentar kemudian memberikan tabung yang berisi kok pada Firas.
"Apa tidak apa-apa Mang? (panggilan untuk paman, boleh juga encik)."
"Ambik je gratis, tak ade tempat mang yang main lagi. Semangat," ucapnya tersenyum. Tabung itu adalah barang milik almarhum putrinya.
Kedua kaki kecil Firas berusaha untuk melangkah secepat-cepat. Sang wasit harus kembali untuk mengawasi pertandingan, sementara di lapangan Hamdan merasa geram. Firas maupun Zola belum kunjung kembali.
"Kau ini serius tidak ingin bermain!? kenapa kau tidak suruh mereka berdua ambil kok di rumahku," Hamdan tidak dapat menyembunyikan frustasinya.
"Dua r ... r--rius," Jhoenza masih tetap santai meskipun kebanyakan penonton sudah meninggalkan tempat termasuk Asnawi buyut mereka.
"Alya cepat bawa koknya! kenapa kau malah duduk saja dari tadi?"
"Baik kang," Alya segera bergegas ke rumahnya. Kekesalannya tidak dapat disembunyikan dari raut wajahnya.
"Nah kalau begitu mau sampai kapan mengulur-ulur waktu? Tamyiz! ayo maju," sahut Hamdan.
"Maaf bang lawanmu adalah Jhoenza sekarang. Aku akan menerima tantangan abang, apabila bisa menang melawannya." tukas Tamyiz sembari memperhatikan Firas dari kejauhan mendekat dengan mengayuh sepedanya.
Tidak ada orang di tempat itu yang sadar akan keberadaan Firas yang mendekat kecuali Tamyiz. Dia memberi sebuah isyarat pada Jhoenza.
"Hey apa maksudmu Tamyiz! kenapa kau malah ikut campur," sahut Hamdan.
"Aku hanya berlagak seperti seorang coach. Tadi Zola jadi komentator iya kan?"
"Abang ini koknya," ujar Firas melempar salah satu bola kok. Hamdan masih menghadap kepada Tamyiz.
Teng!
"Hamdan! kau memandang ke sebelah mana," sahut Jhoenza sembari memberikan pukulan servis tinggi yang dapat ditangkis dengan sebuah lambungan tinggi oleh Hamdan.
"Jangan menjilat ludah sendiri," ucap Hamdan sudah yakin dia akan memenangi rally kedua.
"Kalau aku mengingkari kata-kataku sendiri ...."
Woosh!
"Jadi pukulan tadi bukan hanya sekedar keberuntungan," ujar Hamdan setelah pukulan smash melaju kencang melewati lehernya.
"Tidak mungkin aku mewakili Indonesia di Asia Tenggara, Jhoenza adalah batu loncatan pertamaku." lanjut Tamyiz, terkesima dengan kecepatan Jhoenza yang telah meningkat sejak duel terakhir mereka.
"Lantas mengapa ...."
Tamyiz hanya diam saja sembari menyaksikan rally ke-3 berlangsung dengan sengit. Alya yang datang membawa bulu kok justru menjadi penyebab kekalahan Hamdan di akhir rally. Pada rally yang ke-4, Hamdan membuat lambungan-lambungan tinggi dengan liar.
Rally berakhir dengan kemenangan Hamdan. Jhoenza memulai servis pendek yang kembali dibalas dengan lambungan tinggi. Jhoenza pun membalas dengan melambungkan kok setinggi-tingginya yang dibalas dengan hal serupa oleh Hamdan.
"Jhoenza ..." gumam Tamyiz.
Teng!
Dari 10 rally yang telah berjalan, Jhoenza hanya mampu memenangi 2 skor. Meskipun telah menutup ruang rapat-rapat dengan kecepatan kakinya, pukulannya hampir tidak mampu untuk menjangkau lambungan tinggi Hamdan.
Baju yang dikenakan Jhoenza mulai berdebu, muncul luka gores di beberapa bagian tubuhnya. Dia memaksakan tubuhnya agar menjangkau bola kok yang melesat ke bagian ujung garis lapangan.
Teng!
"14-20, eh Abang Zola ke mana! kenapa dia belum kembali?" ujar Firas.
"Hah ... aku juga mampu meloncat lalu melakukan smash sepertimu." ujar Jhoenza, mengelap wajahnya kotor dengan baju.
"Jangan eusleum kita memang harus memahami batas, aku akui ...." Hamdan memulai rally.
"Batas apa!?"
Woosh!
"Akui apa!?"
Woosh!
"Karena kau menang, berlagak seperti orang bijak!"
Woosh!
Jhoenza melakukan tiga smash beruntun. Akan tetapi serangan ganasnya belum cukup untuk menembus pertahan Hamdan.
"Round 1, Hamdan menang!"
Kata-kata Firas membuatnya semakin kesal. Jhoenza mengepalkan tangan kemudian memukul tanah sekuat-kuatnya dengan berulang kali. Kurcaci menentang raksasa adalah hal tak terpikirkan oleh kebanyakan orang.
—>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Teteh Lia
ceritanya bagus, kak.. 👍
aq kirim 2 iklan.
2024-07-04
2
anggita
like👍+☝iklan.
2024-07-04
1
althaf
mang Hamdani euy
2024-06-24
1