Bab 7 - Teknik Dasar Permainan

Anak-anak kecil mulai berkerumun di halaman belakang itu. Aziz yang melihat antusiasme mereka nafasnya semakin memburu. Cengkraman tangannya yang menggenggam gagang raket semakin kuat dan membalas setiap lambungan Alya dengan keras.

Teng!

"Terus bang Aziz! lantak (hancurkan) je ayuk itu!" Seorang anak berusia 4 tahun memberikan dukungannya.

Anak lain pun tidak mau kalah suaranya. Sorak sorai mereka semakin lantang terdengar yang menarik minat penduduk kampung yang kebetulan sedang lewat untuk ikut menonton.

"Hmm ... menarik ramai budak-budak (anak-anak) juga." gumam Kepala Kampung yang kebetulan sedang beranjak pulang setelah memancing bersama kawannya. Tertulis nama Asnawi Mangkualam di belakang kaus sederhana pada punggungnya.

Pria tua yang botak dengan jenggot lebat disemir warna coklat itu telah genap berusia 85 tahun. Setelah ia memarkirkan motor "jangkrik" tuanya yang telah dipakai sejak dari masa Soeharto, ketika ia berjalan menghampiri kerumunan, hampir semua orang berpaling sejenak untuk memperhatikannya.

Tinggi badan pria tua itu 195 cm. Otot-otot besar di tangan dan lehernya tampak jelas, berkulit hitam legam karena pekerjaan kasarnya, postur tubuhnya agak membungkuk. Dokter langganannya dari Kota Lubuklinggau yang rutin melakukan check-up setiap tahun mendiagnosis ada masalah di tulang punggungnya.

"Kenape kalian bertiga tini tidak galak (ingin) bermain?" ujar Asnawi kepada ketiga cicitnya.

"Bukan tak galak bulu tangkis iyek besak (panggilan kepada buyut), tapi kami menunggu giliran kuday (dulu). Sehabis tini aku dan Dan yang main," Jhoenza memaparkan alasan itu kepada Buyutnya.

"Siapa si Dan?" sahut Hamdan merasa agak penasaran.

"Namamu sekarang," jawab Jhoenza.

"Tam tampaknya aku sedikit kecewa padamu, kenapa semangatmu ketika kuday menghilang." Asnawi sudah dapat membaca kalau tidak ada niatan dari salah satu cicitnya itu untuk melanjutkan apa yang telah dirintis sejak kecil.

"Aku hanya perlu waktu iyek," Tamyiz mengucapkannya sambil menunduk. Dia tidak berani menatap buyutnya ataupun Jhoenza dan Hamdan.

"Padahal kabe tinu sudah pernah juare, bahkan juare nasional. Itupun semasa kabe masih 10 tahun bukan? hah ... bukannya bertambah matang dan dewasa malah sebaliknya."

Anak-anak kecil yang berada di tempat itu terperanjat mendengar perkataan dari Kepala Kampung. Mereka seakan tidak percaya kalau abang yang bekerja sebagai petani dan sesekali di luar musim tanam menjadi tukang parkir pasar tempel, adalah seorang jawara dalam lomba bulu tangkis nasional.

"Uwah ... aku tidak sangka bang Tam secalak tinu! (secerdas itu, calak lebih digunakan untuk mendeskripsikan kecerdasan dengan kelicikan)," ucap anak 4 tahun tadi seraya melompat-lompat. Namanya Firas dan dia terkenal sebagai anak yang hiperaktif.

"Haha calak apanya ... tidak ada kemauan seperti tini disebut calak. Sekarang aku yang telah lolos untuk mewakili bulu tangkis dari kampung ini di tingkat kecamatan. Saat SMP aku yakin lolos di kabupaten dan SMA aku akan membawa medali emas PON." sahut seorang anak berusia 10 tahun yang bernama Zola.

Zola pernah menyaksikan kepulangan Tamyiz yang disambut layaknya seorang pahlawan saat berumur 4 tahun.

"Bahkan penggantimu pun sudah ada ... Anakku pikirkanlah matang-matang. Aku ... tidak akan terus ada, untuk menjagamu. Kemarin saja saat ingin datang melihatmu ke Jakarta ... tubuhku sudah legam terbakar matahari." Asnawi mengatakannya dengan tetesan air mata.

"Hey Tamyiz mau sampai kapan kau setengah-setengah seperti ini," balas Jhoenza merasa kesal dengan sikapnya yang suka berlari daripada tantangan.

"Firas, Zola kalian hanya melebih-lebihkan saja. Kemenanganku melawan Antasena hanya sekedar bola untung. Tidak lebih dan tidak kurang, aku tetap berolahraga untuk menjaga tubuhku dan akan ikut seleksi sepak bola."

Semua orang bertanya-tanya dengan keputusan yang diambil Tamyiz. Atas dasar apa menjadi juara kalau pada akhirnya berpindah-pindah olahraga.

"Baiklah anakku ...."

Teng!

Woosh!

Rally di skor 12–7 telah berlangsung selama lebih dari 5 menit lamanya. Beberapa lambungan dan pukulan keras terus dilayangkan oleh Aziz tetapi tidak mampu untuk menembus pertahanan Alya. Latihan jabbing (memukul bola sangat cepat tanpa henti selama 15 menit) yang dia lakukan secara rutin mampu membuatnya menangkis semua bola kok yang datang dengan gerakan minimal.

"Akang sudah lelah belum? minum dulu supaya fokus." ucap Alya setelah memenangkan rally dengan pukulan pelan ke belakang kanan ujung garis.

Aziz mendiamkan saja ejekan itu dan mulai menggunakan cara pernafasan yang ia pelajari di taekwondo. Teknik dalam bernafas adalah salah satu teknik dasar permainan yang harus dikuasai oleh seorang pemain bulu tangkis.

"Permalukan bocah putus sekolah itu Alya!" teriak Hamdan memberikan semangat.

Perhatian Aziz sejenak teralih setelah memberikan servis, Alya memanfaatkan momen itu untuk melesatkan sebuah smash keras ke matanya.

Brak!

"Aduh taun-taun tini (sialan-sialan ini) curang," ucap Aziz kesal dan di dalam benaknya ingin menghajar mereka berdua.

"Kalau kelakuanmu terus seperti itu, 5 menit saja sudah pasti WO (walkout)," balas Alya sambil menjulurkan lidah dan memicingkan salah satu matanya.

"Taun!" dengus Aziz.

"Maju Adikku, this time for afrika!" Hamdan kembali memberi Alya semangat.

Aziz menatap tajam ke arah kanan, dia melambungkan servisnya ke sana yang dapat dengan dibalikan oleh Alya. Aziz melancarkan lambungan bola ke arah kiri kemudian setelah ditangkis melambungkan bola kok ke tengah belakang.

Dia mulai memahami bahwa kalau ingin menang dalam permainan yang terpenting adalah stamina lawan harus dikuras lebih dulu.

"Hebat akang pasti kau pernah ikut suatu beladiri kan? memang hampir mustahil perempuan bisa menang melawan tenaga laki-laki tapi ..."

Woosh!

"Hah!?" Aziz seakan tidak dapat mempercayai rally kembali berakhir di tangan Alya dalam waktu yang singkat. Alya melayangkan tiga pukulan smash disertai lompatan beruntun kembali meruntuhkan pertahanannya.

"Aku tidak mungkin kalah dari seorang amatir!" teriak Alya dengan tatapan yang mengerikan.

"Waduh ... bahaya yang jadi pacarnya nanti," gumam Aziz sedikit berkeringat dingin.

Taktik untuk menguras stamina Alya gagal, gadis itu memainkan permainan dengan ketenangan. Langkah dan pukulannya tampak menawan sedangkan gerakan dari Aziz semakin kaku hingga beberapa kali dia tersandung dan terjatuh.

"Hah ..." keringat bercucuran deras dari wajahnya, dia seakan hanyut oleh ritme permainan Alya yang membuatnya tidak mempunyai celah untuk kembali melambungkan bola. Jarak skor sudah semakin besar yaitu 17–7.

"Setidaknya harus memperbesar keunggulanku. Aku tidak akan rela jadi bahan tertawaan orang lain," guman Aziz mencoba sebuah gaya servis baru yang dapat memberikannya ruang untuk memukulkan bola kok lebih keras.

Dia melempar bola kok ke atas kemudian mengayunkan raket dengan sangat kuatnya menghantam angin.

Hahaha!

Semua orang tertawa dengan tekniknya yang tampak kekanak-kanakan tapi tidak dengan Tamyiz dan Jhoenza yang merasa agak kasihan. Kalaupun servis itu berhasil didaratkan maka terhitung tidak sah oleh wasit.

"Bulu tangkis adalah olahraga yang menuntut ketenangan dan fokus dari pemainnya...," gumam Jhoenza.

Tok!

Alya melakukan sebuah gerakan yang disangka-sangka. Gadis itu membalikan raket yang membuat gagang mengenai bola kok dan melesat ke arah kanan Aziz sehingga rally kembali dimenangkan oleh pemain dengan skor lebih unggul. Hal ini seakan menguatkan argumen dalam benak Jhoenza.

"Ah sudahlah, nanti kau ajari aku kalau sempat besok." Aziz menyerah setelah dipermalukan dengan salah satu trick shot Alya. Dia membaringkan tubuhnya di atas rerumputan. Skor akhir berakhir dengan 27–9.

"Tadi itu pukulan backflip racket ... lain kali kalau mau bermain, main berganda ya. Kekuatanmu jauh di atas rata-rata." Alya mengulurkan tangannya dan membantunya untuk berdiri.

"Kau pikir aku ini siapa? bukan hanya Tamyiz, aku juga pernah bawa medali emas satu kabupaten."

"Itulah penyebab kenapa aku dan Akang Hamdan ingin mempermalukanmu skor afrika," gumam Alya mendiamkannya.

"Malah mendiamkanku dasar taun," lanjut Aziz.

Tepuk Tangan!

Kerumunan itu bersorak meriah saat mereka kembali duduk. Permainan biasa itu mempunyai atmosfir sebagaimana layaknya sebuah turnamen.

"Padahal lawan yang sepadan ... ah tidak bahkan jauh di atasku adalah Tamyiz. Aku ingin mengukur sampai sejauh mana kemampuan sia (saya), akan tetapi justru malah harus mengajari kroco (rendahan) sepertimu." ucap Hamdan sambil berjalan ke lapangan.

"Oh aku pikir kabe hanya bisa diam saja, seekor nyamuk dapat membunuh seseorang dengan mudah hanya dari air liurnya." balas Jhoenza, tidak mungkin membiarkan saja ejekan remeh itu. Dia mengetahui lebih banyak teknik dasar permainan dibandingkan dengan Aziz.

Firas dan Zola segera berlari dan memanjat bambu. Mereka berdua mengambil inisiatif sendiri untuk menjadi wasit.

—>

Terpopuler

Comments

thor

thor

seru Thor, semangat update 💪

2024-06-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!