Bab 13 - Pundi-pundi Rupiah

Hampir semalam Tamyiz belum bisa memejamkan matanya. Alarm di ponselnya berbunyi sangat keras bertepatan waktu sholat subuh.

Om Telolet Om!

"Om taun!" bentak Tamyiz menutupkan bantal ke wajahnya. Pemuda itu baru bisa tertidur selama 2 jam.

"Abang ... Dilara boleh bicara sebentar," ucap Adiknya pelan sebelum mengetuk pintu kamarnya.

Bruk!

"Kalian ini semuanya menggangguku! enyah," Tamyiz melemparkan bantalnya. Pemuda itu kemudian terduduk di ranjangnya dengan tatapan murung.

Kembali muncul prasangka dalam benaknya yang ia coba untuk tepis jauh-jauh. Perkataan Kenan pada lusa mungkin ada benarnya.

"Anak itu ... pendek, berkulit hitam, berbeda dari ketiga abangnya. Ap-- jangan-jangan penyebab Ayah sifatnya berubah dan menjadi pecandu alkohol karena Ibu ... ah apa yang aku lakukan. Durhaka pada orang tuaku sendiri, sialan!" Tamyiz mencoba untuk menenangkan pikirannya.

Sebagai salah satu tulang punggung keluarga, terlebih karena tinggal di kampung. Tamyiz mempunyai tanggung jawab paling besar di rumah itu. Ponsel miliknya kembali berdering, dia mengangkat panggilan tersebut.

"Kenapa panggilan Alya baru diangkat sekarang, huh aku sudah menelpon berulang kali." terdengar nada kesal dari suaranya.

"Tadi aku sempat bertengkar, jadi belum sempat." Tamyiz merasa risih. Dia tidak ingin diganggu, apalagi hanya untuk sekedar basa-basi.

"Ada keperluan apa menelpon?" lanjut Tamyiz.

"Aku disuruh Ayah untuk membantu Akang Hamdan. Aziz sedang tidak ada di kampung, aku baru pertama kali mendengar ada monyet yang menyerang." jawab Alya.

"Ya itulah beruk dan siamang, kalau tidak diburu maka dapat membahayakan penduduk kampung. Bukan hanya anak-anak ... pekerjaan rumahmu bagaimana? apa Ayahmu tidak marah. Kami kerja kasar nanti bukan duduk besanjo (bersantai) ala-ala kota."

"Aku lebih baik ikut Akang saja, soal pekerjaan rumah biar Ceuceu yang mengerjakannya."

"Baik nanti kau kerjakan yang ringan. Apa mobilnya sudah datang di tempatmu?"

"Kurang tahu kang Tamyiz, nanti tanyakan pada kakak ya."

"Baik aku akan akhiri panggilan." ucap Tamyiz sebelum menutup telponnya. "Wah tidak kusangka dia berani menelpon lebih dahulu. Biasanya seorang gadis akan lebih pemalu. Jeme kuta (Orang kota) betul-betul menyeramkan," batin Tamyiz.

Suasana kampung berbeda dari hari-hari biasanya. Sebagian besar penduduk saat ini sedang ikut serta dalam perburuan siamang besar yang menyerang Samanhudi. Kegiatan itu dipimpin oleh Asnawi, sebagai Kepala Kampung.

Sejak kemarin para penduduk telah bersama-sama mengumpulkan kayu untuk membuat beberapa pos ronda di tempat kemunculan hewan itu.

"Tamyiz kami sudah sampai ajak Firas tidak apa-apa kan?" sahut Hamdan di depan rumahnya. Dia dapat mengendarai mobil.

"Abang aku ikut ya," seru Firas keluar dari mobil dengan senyum ceria.

"Ah satu keluarga ini sifatnya suka semau mereka sendiri. Coba saja kalau ada gadis berdada besar itu pasti ... tapi dia masih sepupuku." batin Tamyiz sembari mengikat sepatunya.

"Nak kau tidak sarapan dulu," ucap Imah mengkhawatirkannya.

"Tidak perlu aku masih kenyang dari makanan tadi malam." ucapannya terkesan dingin.

"Makan sedikit ya nanti sakit ...."

Brak!

Kesabaran Tamyiz sudah di ambang batasnya. Pintu rumahnya ditutup dengan sangat keras. Dia tidak terlalu mempedulikan Hamdan yang memperhatikannya. Gudang di bawah tiang panggung dibuka dan tandan-tandan pisang yang berada pada tempat itu diangkut.

Hamdan, Alya bahkan Firas yang biasanya suka merajuk hanya terdiam sambil membantu pekerjaan Tamyiz. Ketiganya takut akan memperkeruh suasana.

Hampir satu jam telah berlalu dalam perjalanan menuju ke tempat kerja Sarwono. Tamyiz masih terdiam seperti tadi sambil memandang kaca spion mobil. Firas mulai merasa kebosanan dengan jarak tempuh yang sangat lama baginya.

"Lame nian, apa tak pacak (mampu) gancangke lagi," ucap Firas sambil menggeliat di bawah kursi mobil. Dia mencari-cari mainan sejak tadi, tetapi tidak ada.

"Firas ke sini berpangku dengan Ceuceu Alya." ucapnya menggendong anak lelaki bertubuh tinggi dan kurus itu dalam pangkuannya.

"Ah tidak mau aku maunya main, bosan tahu dan Ceuceu itu bahasa darimana?" balasnya sedikit melawan pada awalnya. Anak kecil itu pada akhirnya nyaman dalam dekapannya.

"Coba saja kalau Adikku secantik Mawar ... ah dia lagi. Beruntung sekali dirimu, memiliki adik seperti mereka bang Hamdan," gumam Tamyiz. Muncul sedikit guratan di pipinya.

"Kenapa kau tiba-tiba tersenyum?" ucap Hamdan.

"Oh tadi pagi ada kejadian lucu? nak tahu tak bang?"

"Kunaon?" Hamdan seperti tidak tertarik. Sebagai sesama lelaki, dia sudah paham apa yang mungkin sempat terpintas dalam benak Tamyiz sampai membuatnya tersenyum.

Tamyiz terdiam sejenak, "apa artinya?"

"Kunaon itu maksudnya ap--a sih," sahut Alya.

Pemuda itu mengangguk, "tadi pagi Dilara tidak sengaja menelan lalat saat menguap lebar-lebar haha. Kalian tahu tatapannya itu seperti anak autis ya--," ujar Tamyiz.

"Maaf kalau aku menyela Tam, tetapi tidak baik menjadikan adikmu sendiri sebagai bahan tertawaan. Kakak itu pelindung bagi adik-adiknya, mau seperti apapun tidak pas membawa-bawa saudara untuk bergurau." sanggah Hamdan sedikit agresif.

"Iya bang Hamdan ... sudah lama keluargaku bermasalah termasuk Dilara." pungkas Tamyiz.

Hamdan tidak melanjutkan ucapannya. Baginya yang terpenting, dia sudah memberi pesan tersirat untuk sesama abang kepada Tamyiz.

Mesin mobil dimatikan dan penutup bak dibuka. Pandangan para pedagang pasar yang biasanya tertuju pada Tamyiz kini beralih ke Hamdan.

"Ndhuwur kabeh (Tinggi semua)," ucap salah seorang Ibu penjual ikan. Memperhatikan mereka sedang menata barang.

"Alya, Firas masih belum bangun?" ucap Tamyiz seraya memapah salah satu tandan pisang.

"Belum ... dia masih terlalu kecil. Aku kerja apa kang?" Alya merasa tidak enak hati kalau nanti dibayar, tetapi tidak bekerja.

"Kau temani saja Firas di dalam mobil. Ini pertama kalinya kemari kan? bahaya kalau perempuan keluar di daerah yang kurang familiar. Abang Hamdan nanti khawatir."

Hamdan yang sedang menunggu Tamyiz dari jauh mengangguk senang sementara, Alya mendecakan lidahnya. "Baik," jawab gadis itu singkat.

Sarwono sedang mengamati muatan jeruk yang baru saja diturunkan. Betapa merahnya wajah Tamyiz kala melihat dari jauh bahwa ada 10 mobil pick up sedang menurunkan pisang. Pemuda itu langsung berlari meninggalkan Hamdan di belakangnya.

"Hey Pak Sarwono sialan kau!" teriak Tamyiz. Setelahnya dia meletakan tandan pisang yang dipapahnya pelan-pelan.

"Tam... tenangkan pikiranmu! malu ada orang banyak." sahut Hamdan.

Mendengar keributan di tempat itu, para pedagang mulai berkerumun. Alya langsung keluar dari mobilnya dan mendapati bahwa Tamyiz yang sedang marah jauh lebih berbahaya daripada orang jahat seisi pasar.

"Benar yang dikatakan oleh saudaramu ... jangan salah paham. Aku hanya menjualkan pisang dari desa sebelah tidak lebih," ujar Sarwono meneteskan keringat dingin.

"Ojo wani golek ngeggeri koe (jangan berani cari ribut kamu)," sahut salah seorang preman di sana membela Pak Sarwono.

Para preman itu tampak garang berdiri di belakang Sarwono, tetapi Alya semakin tercengang ketika mendapati ada ketakutan dalam sorot mata mereka

"Kalau kalian memang benar kenapa harus takut!" sahut Alya.

"Gadis kecil diam kau, ini urusan bisnis orang dewa--"

"Hey meneng o (diamlah) goblok! ehem ... bukan aku tidak ingin menjualkannya. Coba angkat pisang itu kemari," sanggah Sarwono. Pria itu tahu cara menenangkan Tamyiz.

"Bukan berarti kau menyalahi perjanjiannya Paman. Ini baru bulan ke-5. Bahkan belum genap setengah tahun," ucapnya melakukan apa yang disarankan. Meski sudah tahu apa jawaban Sarwono nanti.

"Namanya tengkulak ya harus menerima juga barang dari pedagang anyar nak, tolong kami tidak ingin ada yang sampai terluka di sini."

"Hey Paman tidak ada memiliki niatan untuk berkelahi atau saling menyakiti di sini. Aku hanya sekedar memberi peringatan itu saja," ucap Tamyiz wajahnya masih merah.

Sarwono memetik salah satu pisang, mengamati bagian luarnya dengan seksama, menimbangnya lalu memakannya.

"Enak nak pisangnya ... tapi Paman benar-benar minta maaf. Pisang yang tampak itu tidak ada kuningnya sama sekali, sementara pisangmu ada bercak berwarna kuning."

"Buang-buang waktu saja, aku mampu menjualnya sendiri. Satu lagi, jangan sampai ada dari kalian yang mengganggu pundi-pundi rupiahku!" bentak Tamyiz.

Mereka terdiam memandangi ketiganya pergi. Sarwono menghela nafas panjang lalu terduduk sembari mengelus pelan dadanya.

"Untung saja dia cepat pergi. Kalau lebih lama aku bisa kena serangan jantung," gumamnya.

Tamyiz mengambil beberapa nafas panjang. Dia benar-benar sekuat tenaga untuk menahan diri tadi. Setelah merasa cukup tenang, dia berpikir untuk mencari tempat yang sesuai untuk menjual pisangnya.

"Hoahem ... gancang nian," ucap Firas baru terbangun. Anak itu seperti merasa perjalanan hanya berlangsung 10 menit.

Alangkah terkejutnya Firas saat melihat Tamyiz dengan senyum berseri-seri sedang melayani pembelinya. Alya dan Hamdan yang kurang berpengalaman dalam berdagang merasa kewalahan. Anak itu ikut antusias menjual pisang di hadapannya.

"Woho! maxwin," teriak Tamyiz setelah meraup keuntungan 7,5 juta. Dia tahu penjualannya tidak sebanyak kalau menjual kepada Sarwono, tetapi ia merasa sangat senang dapat membalas ucapannya.

"Astagfirullah hal azim." Hamdan merasa kalau perkataannya tadi kurang pantas.

"Akang apa kita akan berjualan lagi besok? lebih dari separuh belum terjual," tanya Alya.

"Memang kalian berdua tidak sekolah, jarak dari sini sampai ke Palembang itu hampir 300km. Pisang sisa ini mungkin akan aku bagikan ke kampung tetangga kita." jawab Tamyiz.

"Wah bang Tamyiz aku ingin jalan-jalan seperti ini lagi."

"Bukan jalan-jalan tapi bekerja." dia menepuk pundak Firas dengan pelan.

Tamyiz memeriksa hasil penjualan yang dicatat oleh Alya. Dia memberikan uang bayaran untuk mereka bertiga.

"Part time-job," ujar Tamyiz.

"Apa kau yakin? 1 juta untuk kerja paruh waktu ... Apa tidak terlalu banyak, di Jakarta saja aku yakin tidak ada yang membayar sampai 1 juta." Hamdan merasa sungkan untuk menerimanya.

"Tidak apa kalau di luar negeri kan ada bonus, anggap saja karena sebagai pemula kalian bertiga sudah bekerja sangat baik. Belum lagi kita ini masih sepupu. Sesama saudara harus saling tolong menolong itu pesan Datuk." papar Tamyiz tersenyum kecil menjadi ingat nasihat Asnawi.

"Uh jahatnya bang ... Firas memang bukan keturunan langsung Buyut Asnawi. Tetapi Kakekku itu masih keponakannya." Firas sedikit kesal karena tidak dianggap sepupu.

"Hehe Akang ginilah kalau dia masalah duit aja baru dia, sok bijak." sahut Alya menirukan cara berbicara orang kota.

"Betul banget guwe aja sampek pusing," lanjut Hamdan.

"Hehe," Tamyiz tertawa kecil. "Oh iya Firas nanti uangnya jangan kau beritahu ibu atau ayahmu. Jangan bilang siapa-siapa langsung simpan ke celenganmu."

"Memangnya kenapa bang, kenapa keluargaku tidak boleh tahu aku dapat 1 juta?" Firas tampak kebingungan.

"Lakukan saja apa yang dikatakan Akang Tamyiz. Dia yang meng--gajimu," sahut Alya kembali mendekapnya dengan kuat.

"Aduh sesak ... ah! nafasku," Firas seperti dikunci tubuhnya.

Sebelum matahari tenggelam, keempatnya telah kembali dari perjalanan jauh. Saat memasuki rumah, Tamyiz memandangi raketnya yang digantung.

"Entah sampai kapan ...," kata-kata di dalam batin Tamyiz.

Kejadian di tempat Sarwono tadi membuatnya tersadar akan satu hal. Tatapan Tamyiz seperti berubah menjadi berapi-api.

—>

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!