Bab 17 - Kota Kelahiran Muhammad Ahsan

Palembang, Sumatera Selatan

Bus melaju sangat cepat di atas jalan tol yang membentang sepanjang kawasan Indralaya. Tamyiz memandang ke luar memperhatikan kota yang sedang dituju olehnya. Tempat kelahiran dari sang legenda bulu tangkis Indonesia.

Muhammad Ahsan merupakan salah satu idolanya dalam badminton. Sekalipun Tamyiz bukan termasuk pemain bulu tangkis ganda putra. Bersama dengan Bona Septano dan Hendra Setiawan, pemain itu telah berhasil memenangkan banyak kejuaraan dunia.

Namanya disegani oleh hampir semua pemain internasional. Bagaimana tidak? Juara Emas SEA Games 2011, Asian Games 2014, Juara Dunia BWF 2013, 2015 dan 2019. All England Open 2014 dan 2019.

Bahkan di penghujung karir seorang Muhammad Ahsan, citra pemain teknikal yang melekat pada dirinya belum terlalu redup. Dia masih bisa memenangkan banyak medali perak dan perunggu di berbagai kompetisi dunia kelas menengah.

Pencapaian yang luar biasa dari kecil sampai di awal usia 40 tahun, bahkan ketika pemain seangkatannya sudah pensiun di umur 30 tahun. "The Daddies" adalah simbol kemahsyuran bulu tangkis Indonesia sepanjang sejarah.

*Keterangan \= nama julukan pasangan bulu tangkis putra Muhammad Ahsan dan Hendra Setiawan

Idola daripada idola, siapa pemain bulu tangkis di dalam maupun mancanegara yang tidak mengenalnya. Pencapaian pemain bulu tangkis seperti Tamyiz bahkan kurang pantas jika disandingkan dengan pemain junior kelas nasional lain.

Dia baru mendapat masing-masing satu medali perunggu di tingkat Kabupaten, perak di Provinsi dan emas di Nasional. Melampaui para legenda itu adalah impian semua pemain bulu tangkis, tetapi impian hanya sekedar impian apabila tidak diperjuangkan.

Pemuda itu sendiri pun merasa ragu dengan apa yang pernah ia perjuangkan. Tamyiz menengadahkan kepalanya ke langit. Awan-awan berwarna kelabu. Dia berbaring di kursi pada sebuah taman kota setelah turun dari bus.

"Kabe kenape lihatke awan macam jeme gile?" sahut Dino dari kejauhan, mendapati Tamyiz dalam posisi tidur tapi matanya masih terbuka.

Nama lengkapnya adalah Mardiono Alvaro. Sering dipanggil sebagai Dino. Perawakannya agak tinggi yaitu 169 cm. Pemuda itu satu kelas dengannya di tahun ajaran kemarin. Dia dengan Tamyiz masih 1 kabupaten, tetapi berbeda kecamatan.

"Nak besanjo, sanjo je," ujar Tamyiz menawarkannya tempat duduk.

Dino sebenarnya enggan untuk menemani Tamyiz. Hatinya terbakar oleh kedengkian, tetapi dia mengiyakan ajakan itu. Perjalanan dari kampungnya terasa melelahkan dan sebagian besar teman akrabnya masih di rumah mereka.

"Kapan sampai?" Tamyiz membuka percakapan.

"Aku baru di sini ... beda dengan anak mami. Nak rokok tak Tam. Dari konser band Tip-W kemarin, lupa." Dino memantik rokok, kemudian memberikan satu bungkus dari dalam ransel kepadanya.

"Alangkah banyaknya Dino, kau pun tahu kan aku tidak merokok." Tamyiz tegas menolaknya.

"Cobalah satu hisap, pikiran kita jernih seperti kristal kalau melihatnya. Lusa kemarin aku lihat anak mami saja berani beli ini di warung."

Tamyiz mendiamkan Dino, tetapi tetap menerima bungkusan rokok darinya. "Kenapa pengecut sepertinya disenangi semua orang, sialan." gumam Dino menilai sikapnya yang menolak ajakannya menghisap rokoknya.

"Tam gerbang kosnya masih terkunci. Ibu Rosa tadi bilang di ponsel kalau beliau masih di Jambi. Coba kau panjat kuday (dulu), biasanya kunci tambahan di simpan pada bawah pot." Dino memberi suruhan pada Tamyiz.

"Hey dari tadi aku perhatikan kau ini seperti tidak galak (suka) ya," dengus Tamyiz.

"Ah ya baiklah ... tapi lain kali harus kabe ya. Ingat," ketus Dino mengalah. Dia memanjat pagar yang berujung tajam di hadapannya.

Cklek!

Setelahnya mereka berdua pergi ke pintu kamarnya masing-masing. Saat Dino hendak membuka gembok, dia mendapati bahwa kuncinya tertinggal.

"Tamyiz boleh di kamarmu tidak sampai sesok," ucap Dino.

"Boleh tidak ada yang melarang. Dipersilahkan siapapun untuk masuk," balas Tamyiz tersenyum sinis. Senyuman tidak rela itu sudah cukup menggambarkan kekesalan tersiratnya pada Dino.

"Rumput-rumput sudah terlalu lebat, sampah di depan menumpuk. Nanti sore saat aku keluar kau bersihkan ya? jangan hanya tumpang bangik (istilah populer dalam bahasa Lampung)." lanjut Tamyiz sembari memberikannya segelas air.

"Pasti dia mau menggoda cintaku! awas kau ya kalau temanku sudah datang." gumam Dino dalam hati.

Dino berwajah lebih tampan dibandingkan Tamyiz. Menurutnya, sudah sepantasnya laki-laki yang lebih disukai gadis yang disukainya adalah dirinya.

Ketika hari telah beranjak sore, Tamyiz keluar menyusuri gang-gang kecil sambil membawa sepak bola yang sesekali digiring. Sekalipun baru tadi pagi sampai dari perjalanan jauh, pemuda itu tetap menyempatkan diri untuk mengasan fisiknya.

Hiruk pikuk kota saat pekerja kantor baru pulang dari pekerjaan mereka, bersinggungan dengan aktivitas yang sedang dijalani oleh Tamyiz. Pemuda itu berlari secepat-cepatnya saat taman yang dikunjunginya tadi siang semakin dekat.

Tin!

"Nak ke mano?" ucap seorang gadis yang cukup tinggi turun untuk menuntun motornya.

"Ado gawi," balas Tamyiz.

Gadis dengan tinggi badan 167 cm dan berasal daripada Suku Ogan itu dibuat kesal oleh jawaban dinginnya. Dia memarkirkan motornya sebelum mengikuti Tamyiz yang sedang memainkan sepak bola di antara pepohonan.

Tuk!

Bola yang terpantul oleh tendangan Tamyiz secepat mungkin diperangkap menggunakan kaki kanan bagian dalam. Pemuda itu sedang melatih kemampuan First Touch. Salah satu teknik penguasaan atau kontrol bola.

"Duh hampir kena tahu!" teriak Vivian saat bola liar hampir mengenainya. Tamyiz menahannya dengan sundulan terarah.

"Aduh kepalaku," ucap Tamyiz merasa nyeri di bagian kepala. Pertanda staminanya telah mencapai batas.

"Itulah akibat orang yang terlalu cuek." balas Vivian tampak tidak peduli, tetapi terlihat dari sorot matanya kalau dia khawatir.

"Tidak juga Berliana ... fuh, namanya juga olahraga. Dua bulan lagi sudah seleksi kejuaraan tim antar sekolah tingkat provinsi. Kalau aku belum bisa membangun serangan dari belakang dengan baik, akan ada lubang menganga."

"Hey Tamyiz aku ini Vivian bukan Berliana. Apa perlu kubantu bawa ke dokter? bola itu mengenaimu sangat keras tadi."

Diam-diam Dino mendapati keduanya sedang berbincang-bincang dari kamera drone yang ia pinjam. Apabila pemuda itu mengintipnya secara langsung, sudah pasti Tamyiz akan langsung menyadarinya.

"Obatnya itu istirahat dan jangan membuatku risih." ucap Tamyiz membaringkan dirinya di atas rerumputan.

"Tamyiz kau ini selalu saja tidak peka. Pemuda yang baik itu mereka paham apa yang diinginkan pemudi. Ingin dimengerti ... dengar tidak? jangan tiduk ah tempat ramai!"

"Iya lanjutkan Berliana," Tamyiz mengatakannya seperti tidak bersemangat.

"Kau ini memang harus segera dirujuk ke dokter."

"Siapa pemain badminton favoritmu?"

"Kalau aku ... siapa ya? Marin, Carolina Marin betul kan Tamyiz! aku pernah dengar nama itu di sebuah program TV."

"Pekak kuping ini kau keras-keras seperti itu ...."

Tamyiz perlahan berdiri sembari bersandar di sebuah pohon. Matanya memandang tajam pada sebuah drone mencurigakan yang tak kunjung pergi. Dino segera menggerakan tombol remot kontrol. Dia meninggikan posisi benda melayang itu dari pandangan Tamyiz.

"Siapa orang ini berani nian. Kau kenal Vi?" ucap Tamyiz samar-samar drone itu masih belum pergi. Dia masih dapat melihatnya meskipun pandangannya agak berkunang-kunang.

"Apanya Tam ... drone tadi sudah tidak tampak lagi. Jangan bilang aku ini Berliana, hmm." Vivian mengharapkan sesuatu dari pemuda itu.

"Habis wajah kalian berdua mirip. Vi pemain badminton favoritku adalah Muhammad Ahsan. Aku ingin menemuinya dan meminta tanda tangan sekarang juga ... tapi aku malu."

"Membicarakan badminton, tetapi berlatih sepak bola. Kau ini pilih yang mana Tamku?"

Tamyiz terdiam sejenak memandangi bola di depan kakinya. Pemuda itu mengangkat bola menggunakan kaki sebelum membawanya. Matahari semakin tenggelam di ufuk timur. Vivian sempat menawarkannya untuk berboncengan. Akan tetapi dia menolaknya meski rumah dan tempat kosnya satu arah.

Terpopuler

Comments

anggita

anggita

ganda andalan👍💪☝👏👌

2024-07-22

1

yanti Adjaa

yanti Adjaa

Thor tetep semangat

2024-07-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!