Penolakan yang terjadi tadi malam membuat Arumi sakit hati bukan main. Apalagi ketika Wanita itu tidak sengaja melihat sebuah postingan dimana Damian bersenang-senang dengan para teman-temannya.
Dalam postingan tersebut terlihat Damian sedang merayakan hari ulang tahunnya. Entah siapa yang mempostingnya yang jelas semua yang ia lalukan sia-sia. Memang setiap tahun selalu begitu tapi untuk yang kali ini Arumi tidak mampu menahan kesedihannya.
Dari siang ia sudah menyiapkan hadiah dan kue untuk sang suami, Menunggu pria itu pulang sampai larut malam. Bahkan ia sampai ketiduran, Harusnya kan Damian menghargainya kan? Tapi justru sebaliknya, Damian terus terang bahwa baru selesai makan bersama para teman-temannya.
Semalaman Arumi menangis, ia tidak tertahan. Matanya sudah sangat sembab. Terlebih wanita itu menonton video tersebut sampai durasi terakhir dan tentu saja Arumi tahu adegan apa saja yang terjadi di setiap detik dan menitnya.
Sangat terlihat dimana Damian begitu bahagia hari jadinya di rayakan oleh para teman-temannya. Apalagi pria itu sangat terlihat bahagia ketika seorang perempuan cantik menyuapi Damian kue. Bukannya menolak yang ada Damian justru menerimanya dengan sepenuh hati.
Arumi turun dari tangga dengan mata yang sudah tidak bisa di kondisikan. Ingin rasanya ia mengamuk dan menepis habis apa yang ada di dalam rumah ini. Tapi sepertinya Arumi masih mampu bisa menahan dan punya kewarasan.
Seperti niatnya sejak awal, Arumi akan berusaha lepas apabila Damian ketahuan mempunyai hubungan dengan wanita lain di luaran sana.
Arumi menghela nafas panjang. Arumi membuka lemari es dan mengambilkan sesuatu dari dalam sana, Karena bi Muna masih pulang kampung dan Arumi sendiri belum tahu kapan wanita paruh baya itu kembali.
Untuk sementara Arumi lah yang memasak terlebih dahulu. Mau di makan atau tidak Arumi tidak tahu yang penting ia makan hari ini.
Damian turun dengan pakaian yang sudah rapi, Pria itu pergi ke dapur hanya untuk meminum karena haus yang menderanya. Di liriklah Arumi yang hanya diam dengan masakannya.
Tak lama kemudian, Menu nasi goreng seafood telah selesai wanita itu olah. Arumi yang tidak tahu dengan kedatangan Damian jelas saja kaget dengan adanya pria itu yang tiba-tiba berdiri.
" Mas Damian..
Damian tak peduli, dengan tas kerjanya Damian melenggang pergi begitu saja.
" Mas tidak sarapan lebih dulu..Sarapannya sudah siap loh mas.." Damian menghentikan langkahnya, Arumi tersenyum mengira bahwa pria itu akan berbalik badan dan sarapan bersama dirinya pagi ini.
" Selama tidak ada Bi Muna tidak perlu memasak.. " Setelah mengucapkan itu, Damian pergi meninggalkan Arumi hanya lagi-lagi hanya. bisa menangis.
Waktu terus berjalan, Brian yang baru saja selesai melakukan pemotretan hendak keluar dari gedung tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika suara pras menghentikannya.
" Brian..
" Hm? Ada apa?
" Nalendra? Kapan dia pulang?" Brian terdiam seperti sedang berpikir. Pria itu mengedikkan bahunya karena memang tidak tahu.
" Gak tahu..Kemarin telfon katanya masih beberapa hari lagi... Lagian ini baru tiga hari Enda ada disana... Biasalah namanya juga sedang mengejar cinta..Harap maklumi.." Tak ingin mendengar ocehan Pras Brian berlalu pergi.
Entah mengapa pria itu ingin sekali makan di Cafe sang Papi. Sudah lama ia tidak pergi kesana..
Brian mengemudikan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan sedang. Saat tepat di lampu merah, Mata Brian menyipit, Pria itu melihat Arumi yang sedang duduk di bangku taman seorang diri.
Setelah lampu hijau menyala, Brian kembali melajukan kendaraan roda empat mewah miliknya dan menghentikannya di taman tersebut.
Seperti biasa Brian memakai masker, Kacamata hitam tidak lupa topi sebelum Brian benar-benar keluar dari mobil dan menemui Arumi yang sedang duduk sendiri di bangku taman dengan tatapan kosongnya.
Bahkan wanita itu tidak sadar dengan kedatangan Brian yang sudah duduk di samping wanita itu.
"Hey..Sendiri saja.." Sapa Brian sembari menepuk pelan pundak Arumi membuat wanita itu terperanjat di buatnya.
.
.
.
" Brian!! Huuufftt..Aku kira siapa? Kau selalu mengagetkanku.." Arumu mengelus dadanya karena merasa kaget yang luar biasa.
" Sedang apa disini? Sendirian pula..?." Tanya Brian basa basi. Arumi diam dan kembali menghadap ke depan. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut wanita itu.
"Sepertinya kau sedang tidak baik-baik saja..?"Tanya Brian Lagi. Entah mengapa Brian merasa nyaman berada di dekat wanita ini. Wanita yang sangat jarang sekali tersenyum. Hanya raut wajah sedih yang selalu Brian lihat.
Tapi hari ini Brian merasa ada yang aneh. Sepertinya Wanita itu sedang bersedih. Terbukti dari matanya yang sangat sembab.
"Aku memang tidak pernah baik-baik saja Brian.. " Jawabnya, Arumi menatap Brian sejenak.
Brian mengalihkan Pandangannya ke kue yang terletak di tengah-tengah mereka. Jika di lihat dari penampilannya, Kue tersebut masih utuh hanya memang sudah sedikit acak-acakan.
"Kue siapa ini? Kenapa mendadak ada disini? kau yang membawanya kah?
Arumi ikut mengalihkan Pandangannya ke arah kue itu. Tak lama kemudian, Arumi mengangguk sebagai jawaban.
"Apa ini adalah kue ulang tahun suamimu? Kenapa ada disini? Bukannya sudah habis di makan ya.." Orangnya bicara tapi tangannya memotong kue itu, Karena memang kebetulan masih ada pisau kuenya. Alhasil, Brian memotong kue itu lalu memasukannya ke dalam mulutnya.
"Eeuumm.. Enak..
"Brian! Apa yang kau lakukan!? Kue ini sudah sejak kemarin, Dan tidak termakan. Semalam aku menyimpannya di dalam lemari es dan sekarang aku berniat ingin membuangnya..Tapi kenapa justru kau mak..Hap.." Ucapan Arumi terhenti saat Brian tiba-tiba memasukan kue itu ke mulut Arumi.
" Bagaimana? Masih enak kan?" Perlahan Arumi mengunyah kue tersebut dan rasanya memang masih enak dan bikin nagih tentunya.
" Selama tidak basi atau masih bisa di makan..Kenapa harus di buang. Sayang kan?" Brian kembali memotong-Motong kue itu dan menikmatinya, Ya karena memang masih enak. Lagipula apa yang tidak enak jika sudah masuk ke mulut Brian.
"Ayo makan lagi... Kita makan bersama-sama.." Arumi tersenyum dan mengangguk. Wanita itu kembali mengambil kuenya dan memakanya. Sesekali Arumi menatap Brian yang sangat menikmati makanan yang identik dengan kata manis itu. Andai Pria di depannya ini adalah Damian pasti ia sangat merasa bahagia.
"Kata Oma ku.. mubadzir apabila makanan di buang. Selama masih bisa di makan tidak apa-apa..Ingat..Bukan makanan yang butuh kita.. Tapi kita yang butuh makanan.. Dan lagi, Oma ku juga pernah mengatakan. Barang rusak selagi masih layak di pakai untuk apa beli lagi.." Ucapnya membuat Arumi mendengar apa yang pria itu tuturkan.
Arumi yang menikmati kue itu mendadak menangis. Mulutnya mengunyah dan mengatakan enak tapi matanya mengeluarkan air mata cukup deras. Brian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan dari sana.
"Hapuslah air matamu.. " Arumi menerima kain segi empat itu dan melakukan apa yang Brian katakan.
" Andai suamiku mau memakan kue ini..Pasti aku sangat bahagia..." Ujarnya tanpa terasa mengungkapkan isi hatinya. Brian terdiam mencoba mendengarkan apa yang hendak di ucapkan Arumi lagi.
"Tapi dia tidak pernah mau memakan apapun yang aku masak.. Dak dia juga.."Tanpa sadar Arumi menceritakan sebagian kisah hidupnya selama berumah tangga bersama Damian. Entah keinginan Arumi sendiri atau faktor karena wanita itu butuh teman untuk menumpahkan segala unek-uneknya.
Tapi untuk saat ini Arumi hanya bisa menangis. Sebagai pendengar yang baik Brian hanya bisa diam tanpa menyela.
" Maaf ya.. Aku jadi curhat..Harusnya aku gak..
" Setiap orang itu butuh teman Arumi.. Tidak semua masalah bisa kamu pikul sendiri. Ada kalanya kamu bisa berbagi dengan orang lain.." Arumi menoleh. Di tataplah wajah tampan itu. Apa yang di katakan Brian memang benar ia butuh teman untuk bersandar dan mengeluhkan isi hatinya. Arumi tidak punya teman selama ini, Ingin cerita kepada sang Bunda rasanya tidaklah mungkin.
Tapi bukan berarti Arumi bisa menceritakan semuanya. Arumi akan bertahan selama ia masih kuat.
"Boleh aku pinjam ponselmu..?
" Untuk apa?
" Hanya pinjam sebentar.." Arumi meraih benda pipih itu dan di serahkan kepada Brian. Tampaknya Brian mengotak atik benda elektronik itu sebentar dan tak lama kemudian pria tersebut mengembalikan nya kepada sang pemilik.
"Nabila? " Gumam Arumi heran dengan nama kontak barunya yang bernama Nabila.
" Itu nomor ponselku.. Hubungi aku bila kau butuh teman curhat.."Arumi terkekeh bisa-bisanya Brian menamai kontak namanya menjadi nama seorang perempuan.
"Baiklah..aku akan hubungi kau nanti..Kau tenang saja aku.." Ucapan itu terhenti, Arumi tiba-tiba berdiri saat matanya seperti menangkap sesuatu.
" Arumi ada apa?
" Itu..Aku lihat mas Damian
keluar dari toko aksesori bersama seorang perempuan.." Brian ikut berdiri mengarahkan Pandangannya ke arah yang di tuju.
"Dia..
"Brian bisa kau bantu aku mengejar mobil itu..Aku..aku..
"Sudah ayo!!!" Tanpa basa basi lagi Brian menarik pergelangan tangan Arumi menuju ke arah mobilnya.
.
.
.
TBC
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
brian x kk bukn damian
2024-06-20
1
Evi Alvian
Bentar lagi Arumi bakal melepas Damian nih kalo tau suaminya selingkuh..udahlah Arumi mending cerain aja tuh suami durhaka trus nikah deh ama Brian
2024-06-20
1
Viena Alfiatur Rohman
Apa yg di katakan Brisn bnr gak semua masalah bisa di tanggung sendiri
2024-06-20
1