Tepat tengah malam, Arumi tidak dapat memejamkan matanya. Wanita itu bangkit dan pergi ke kamar mandi hanya untuk sekedar membuang air.
Tak lama kemudian, Wanita itu kembali dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Hanya di sinari oleh lampu tidur, Arumi menatap langit-langit kamarnya.
Pikirannya melayang meratapi nasibnya tidak seperti istri-istri yang lain. Ia juga seorang wanita, Sebagai seorang istri ia ingin di perlakukan dengan baik oleh suaminya. Di cinta, Di tatap lekat, Di sayang-sayang dan manja-manja. Tapi ia tidak punya semua itu.
Cinta suaminya bukan untuk dirinya tapi sudah habis di orang yang lama. Tanpa terasa, Air matanya terjatuh menetes begitu saja. Betapa bahagianya Soraya bisa di cintai oleh Pria semacam Damian.
Padahal wanita itu sudah pergi dari kehidupan suaminya, Mungkin sudah bahagia bersama pria pilihannya. Tapi Damian seolah menutup mata bahwa wanita itu telah menyakiti hatinya. Bukannya membenci yang ada rasa Cinta itu semakin besar.
"Soraya. bolehkah aku menjadi dirimu sebentar saja.. Tidak lama, Hanya sehari. Aku ingin juga merasakan cinta dari Damian.. Sama seperti pria itu mencintai dirimu..." Batin Arumi berbicara. Andai ia punya kesempatan dicintai oleh Damian, Ia akan menggunakan kesempatan itu dengan baik. Arumi tidak akan membiarkan pria itu pergi kemanapun.
Tapi? Apa mungkin? Jangankan di tatap penuh cinta, Di lirik saja Damian enggan. Dan anehnya, Arumi masih saja bertahan dengan pria itu. Bukan semata-mata karena cinta, Tapi ada faktor-faktor lain salah satunya keselamatan perusahaan ayahnya.
Bagaimanapun, Tuan Arya punya pengaruh besar atas Perusahaan milik Dendy. Ingin rasanya ia pergi keluar dan mencari tahu apa saja kegiatan suaminya di luar sana. Tapi Arumi tidak punya teman yang bisa di mintai tolong.
"Huuufftt...Arumi..arumi.." Arumi menghapus air matanya yang sempat-sempatnya mengalir tadi. Di lihatnya jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 menit. Arumi yang mendadak haus pun ingin minum namun..
"Yah, Mana kosong lagi.." Arumi pun segera bangkit dan pergi keluar kamar. Saat melewati kamar sebelahnya, Hatinya berdenyut nyeri mengingat apa yang Damian lakukan tadi siang. Pria itu sangat marah dan murka tentunya.
"Come on Arumi.. Kamu kuat kok.. Ya, You a stronger woman.." Gumamnya memberikan semangat pada diri sendiri. Wanita itu menarik nafas sebelum akhirnya Arumi kembali melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
Sampai di pertengahan jalan, Langkah Arumi memelan ketika ia mendengar seseorang yang bicara di ruang tengah. Arumi berdiri di balik pilar mengintip sang suami yang sedang duduk bercengkrama di sana.
Di lihatnya Damian tengah duduk bersama Rain, Sahabat sekaligus asisten pribadi Damian. Sepertinya pria itu tengah menginap mungkin karena besok hari weekend.
"Ini sudah malam, Apa lu gak ingin tidur?" Gelengan di kepala Damian sudah menjadi jawabannya.
Arumi masih berdiri disana, Entah mengapa wanita itu penasaran dengan apa yang kedua pria tampan itu bicarakan.
"Kenapa?
"Gue belum mengantuk..Lagi pula besok libur kerja kan? " Jawab Damian seraya memasukan kacang ke dalam mulutnya.
"Saat libur seperti hari esok.. Lu gak pernah mengajak bini lu pergi.." Tanya Rain. Ia masih penasaran kenapa sampai sekarang Damian masih belum juga membuka hati untuk Arumi.
"Pergi kemana? Pergi dalam kehidupan gue kalau perlu.. loe tahu sendiri kan? Dia itu istri yang hak pernah gue harapkan...
Deg!!
.
.
.
Arumi meremas pakaian di bagian dadanya. Selalu saja hatinya merasa sangat sakit mendengar ucapan itu dari bibir sang suami. Jikapun hanya terlontar di hadapannya, Arumi masih bisa menerima. Tapi ini? Damian dengan terang-terangan mengatakan bahwa pria itu memang tidak pernah mengharapkan dirinya sebagai istri di depan orang lain.
Arumi tahu dan paham, Rain adalah sahabat sekaligus orang terdekat Damian selain keluarganya sendiri. Tetap saja kan? Sebagai orang sudah berumah tangga tidak seharusnya Damian mengatakan tentang masalah hati dan rumah tangganya ke orang lain.
Tak ingin sakit hati lebih lanjut, Arumi mengurungkan niatnya pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Arumi lebih memilih kembali ke kamarnya saja, Daripada semakin menyakitkan apabila di dengarkan.
" Eh gak boleh gitu.. Mau gimanapun, Arumi itu istri lu!! Cinta gak cinta, Lu harus hargai dia sebagai istri. Jangan sampek deh nanti lu nyesel.. Lu gak takut dia nyerah.. ?" Bukan tanpa alasan Rain mengatakan hal tersebut. Dia pernah punya seorang kakak sepupu laki-laki. Dan alur ceritanya plek ketiplek dengan Damian. Mengabaikan sang istri hanya karena tidak mencintainya. Alhasil istrinya sakit karena merasa tertekan. Dan tak lama kemudian, Istrinya meninggal ketika anaknya masih berusia dua bulan.
Hanya tinggal penyesalan saja. Tapi mau bagaimana pun menyesal pun percuma. Istri kakak sepupunya tidak akan kembali lagi. Saking merasa bersalahnya sampai sekarang kakak sepupu Rain tidak punya niatan untuk menikah lagi. Padahal anaknya sudah hampir berusia lima tahun.
Dan sebagai seorang sahabat yang baik, Rain tidak ingin apa yang di alami kakak sepupunya terjadi kepada Damian. Selama masih bersama bisalah untuk memperbaiki semuanya.
"Jangan samain gue sama kakak sepupu loe itu. itu semua gak terjadi dan gue gak bakalan nyesel .." Rain menghela nafas panjang. Ya, Sudahlah.. Terserah di nasehatin gak mau.
"Terserah lah gue kan cuma ngingetin, Inget! di dunia ini kita gak hidup sendiri. Masih ada Tuhan tau gak lo yang harus lu sembah.. Kalo bukan karena kehendaknya, Kalo bukan karena izinnya, Lu gak bakalan bisa duduk disini.. Mungkin sekarang iya lu gak bakalan nyesel. Tapi gimana nanti? Hati lu di balik baru tahu rasa lu! Iya kalo di baliknya sekarang lah kalo nanti saat Arumi udah ogah ke lu?..
"Kalo pun gue nyesel, Itu pasti udah terjadi sedari lama, Kenapa harus nunggu dua tahun?
Rain lagi-lagi hanya bisa menarik nafas. Sudahlah ia lelah dan capek dengan satu orang ini. Percuma saja ia nasehati jika ujungnya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Rain bangkit dan hendak pergi dari sana.
"Mau kemana lo?
"Mau tidur gue.. Capek tahu gak gue nasehatin jin kayak lo.."Ucapnya dengan jengah. Rain pun pergi dari sana menuju ke kamar tamu untuk istirahat meninggalkan Damian yang hanya diam saja. Pria mengedikkan bahunya merasa bodo amat dengan apa yang di ucapkan Rain.
"Sudahlah... Palingan Rain juga gertak doang.. " Merasa sendiri dan tidak ada temannya. Damian pun ikut bangkit. Pria tiga puluh dua tahun tersebut menaiki anak tangga.
Begitu sampai di depan kamarnya, Langkahnya terhenti. Damian menatap kamar Arumi yang tertutup rapat. Entah kenapa ia merasa ada yang berbeda kali ini.
.
.
.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Viena Alfiatur Rohman
Trus yg di harapkan tuh kyak apa Damian.. di kasih istri baik gak maumm Jngan ambil pusing rum.. Tiruin berita yg lagi viral sekarang aja..
2024-06-13
2
Erlangga❤
Awas aja nnti nyeselnya pas Arumi udah ogah.. Biar tahu rasanya gimana.. Greget bnget ma ni orang
2024-06-13
1
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
penjual bensin msih buka rum, contoh bu polwan aja yg bikin "menyala suamiku", 🔥🔥😅😅😅😅✌
2024-06-13
1