Selama dalam perjalanan, Tidak ada yang di perbincangankan antara sepasang suami dan istri itu. Arumi melamun dengan pikirannya yang melayang kemana-mana. Sementara Damian fokus ke depan. Pria itu tidak peduli dengan sang istri.
Tak lama kemudian, Mobil mewah yang di kendarai Damian terhenti di salah satu restoran mewah. Yang sudah pasti hanya orang kalangan atas saja yang mampu masuk ke sana.
Pria berusia tiga puluh dua tahun itu keluar dari kendaraan roda empatnya. Tidak ada drama membukakan pintu atau semacamnya layaknya pasangan suami dan istri pada umumnya.. Damian keluar seorang diri.
Ketika hendak masuk, Damian menghentikan langkahnya saat menyadari bahwa Arumi masih berada di dalam mobil. Pria itu mendengus kesal melihat Arumi yang hanya diam.
Dag Dag Dag Dag..
Damian mengetuk kaca mobilnya dengan kasar membuat Arumi yang berada di dalam terlonjak kaget.
Arumi yang sejak tadi melamun itu tidak menyadari jika sudah sampai di tempat tujuan. Arumi celinguk celinguk dan ternyata suaminya sudah berada di luar.
Dag Dag Dag!
"Iya mas sebentar.." Arumi akhirnya membuka pintu itu. Arumi menunduk takut saat mata itu menatapnya tajam.
"Kau ini buta atau tuli sih? Sudah tahu sampai tapi tidak keluar!
"Maaf mas..." Lirihnya, Entah mengapa ia tidak sanggup melawan pria itu. Padahal pria itu sudah berulang kali menyakitinya. Bukan itu saja, Damian juga mengabaikan Arumi dan tidak menganggap Arumi sebagai istrinya.
Di anggapnya jika sedang ada acara pertemuan keluarga. Seperti sekarang ini, Damian begitu perhatian terhadap Arumi yang duduk di sampingnya. Bersikap manis dengan tatapan penuh cinta seolah-olah Damian begitu sayang kepada istrinya itu.
Namun semua itu terjadi hanya di depan keluarganya saja. Apabila di belakang siapa yang tau bahwa sikap manis tersebut semua hanya palsu.
"Ayo sayang di makan.." Ucapnya begitu lembut nan manis. Arumi tersenyum, Sebuah senyum palsu yang selalu wanita itu perlihatkan di depan seluruh keluarga suaminya dan keluarganya sendiri.
"Kak Damian kayak sayang banget ya sama kak Arumi... Aku jadi iri deh.." Ucap Selly adik kandung Damian. Selly juga begitu sangat menyayangi Arumi sama seperti kedua orangtuanya. Arumi pun sangat bahagia berada di tengah-tengah keluarga ini.
Tuan Arya begitu menyayangi Arumi seperti putrinya sendiri. Walaupun pernikahan mereka berawal dari pertukaran sebuah saham, Tuan Arya sangat baik. Karena memang pada dasarnya, Tuan Arya sudah sangat tertarik dengan Arumi.
Selain cantik Arumi juga wanita yang sangat baik. Tutur katanya begitu lembut dan mempunyai tatakrama yang memang patut di acungi jempol. Justru itu Tuan Arya ingin menjadikannya seorang menantu.
Walaupun Awalnya Damian menolak. Tapi sekarang melihat sikap Damian yang begitu hangat dan perhatian terhadap Arumi membuat Tuan Arya bahagia.
Tidak tahu saja Tuan Arya apa yang terjadi di belakang. Andai tahu entah apa yang terjadi.
"Kau tahu kan? Kakak sangat menyayangi kakak iparmu ini.." Jawab Damian seraya tersenyum manis.
"Benarkan sayang?" Tanya Damian menoleh ke arah Arumi yang lagi-lagi diam. Damian menggertakan giginya, Dengan kasar Damian menginjak kaki Arumi dengan kakinya.
Arumi yang kaget pun langsung mengangguk dan tersenyum kaku. Arumi menatap Damian sejenak, Pria itu tersenyum sembari merangkul sang istri.
"Kami selalu bahagia.. Dan kami juga saling mencintai satu sama lain..Ya kan?" Ucap Damian sembari mencengkram lengan Arumi.
"I..iya.. kami memang saling mencintai.. " Jawab Arumi menahan rasa sakit di lengannya. Luka di lengannya belum sembuh, Justru itu Arumi meras sangat kesakitan.
"Mama sangat bersyukur jika hubungan kalian selalu baik-baik saja... Jangan lupa ya? Cepat beri kami cucu.." Timpal Mama Linda ibu dari Damian yang memang sangat mengharapkan seorang cucu dari putra dan menantunya tersebut.
.
.
.
"Keluar.. " Ucapnya dingin setelah mobil benar-benar berhenti di depan rumahnya. Arumi menoleh ke arah sang suami yang enggan menatapnya. Jangankan menatap, Melirik pun tidak.
"Mas ini udah malam, Kamu mau kemana lagi? " Tanya Arumi dengan mata berkaca-kaca. Mulai malam pertama mereka menikah, Damian memang sangat jarang berada di rumah. Entah kemana pria itu, Arumi tidak tahu. Setiap bertanya Damian selalu marah.
"Mas! Jawab aku..!! Kamu itu sebenarnya kemana sih kalo malam-malam gini..
Brakkk!!
"Mau kemanapun aku kamu gak perlu tahu! Ngerti!! " Damian menatap nyalang Arumi yang air matanya mulai menggenang disana. Sekali kedip, Cairan bening itu pasti menetes.
"Aku berhak tahu kemanapun kamu pergi mas!! Aku ini istri kamu! Dan aku lah yang lebih berhak bukan siapapun itu!! " Bentak Arumi di depan wajah Damian. Damian terkesiap mendengar suara Arumi yang meninggi seperti itu.
Dari awal mereka menikah, Tidak pernah pria itu melihat Arumi melawannya sedikitpun. Apalagi sampai membentak seperti itu. Tapi malam ini?
PLAAAKK...
"Berani kamu melawan aku ya? BERANI KAMU BENTAK AKU! keluar sekarang juga!
Arumi masih diam dan menetap di dalam tempat duduknya .Arumi tidak mau pergi kemanapun. Ia ingin sang suami tetap disini. Satu kali saja ia ingin sekali merasakan perhatian dari suaminya. Bukan perhatian palsu yang sering pria itu lakukan hanya di depan keluarganya. Tapi memang murni dari pria itu sendiri.
Dia seorang istri tapi berasa orang asing di mata laki-laki itu. Apa salah jika ia mengharapkan semua itu? Tidak kan?
"Mas Aku mohon, Jangan pergi kemanapun...Aku ini istri kamu, Kalaupun kamu tidak mencintai aku, Setidaknya aku butuh pengakuanmu sebagai istri dari kamu mas.. "Air mata Arumi sudah tidak bisa di tahan lagi, Lagi-lagi Arumi menangis namun sayang bukannya peduli, Damian keluar dari mobilnya dan memaksa wanita yang berstatus istrinya tersebut keluar.
"Keluar! Sepertinya cara halus tidak mempan ya.. Apa aku harus melakukan dengan cara kasar lagi.." Di tariklah Arumi hingga wanita itu benar-benar keluar dari kendaraan roda empat itu.
"Keluar! Dan satu lagi.. Jangan pernah ikut campur urusan ku kau mengerti!! Apalagi sok jadi istri.. Karena sampai kapanpun aku tidak pernah menganggapmu istriku.. "Di doronglah tubuh mungil Arumi membuat wanita itu jatuh tersungkur.
Arumi terisak, Matanya menatap nanar sang suami yang pergi tanpa menghiraukannya sama sekali.
"Kenapa kamu tega mas.. Apa salahku ke kamu..hiks..
"Nona!" Seru seorang wanita paruh baya berlari mendekat ke arah sang majikan yang terduduk di teras rumah mewah tersebut.
"Non... Non Arum gapapa.."Arumi menggelengkan kepalanya.
"Non.. " Bi Muna pun sebenarnya merasa Iba. Akan tetap ia tidak mampu melakukan apapun.
"Arum gapapa kok bi, Arum udah terbiasa dengan semua ini.. Arum yakin kok.. Mas Damian pasti nanti berubah. Mungkin belum saatnya aja.."Ya, Begitulah kata-kata yang selalu di Ucapkan Arumi. Iya yakin, Damian pasti bisa berubah suatu saat nanti. Arumi akan menunggu hari itu tiba, Jikapun tidak? Menyerah adalah jalan satu-satunya
.
.
.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Viena Alfiatur Rohman
Nnti Arumi di gondol orang cuma mau nyesel ..Awas aja nntik klo nyesel jngan mnta balik
2024-06-11
1
Erlangga❤
Tinggalin napa sih pria kyak gitu.. Gak bkin bahagia bkin gila iya
2024-06-11
0
Evi Alvian
Damian itu kenapa sih kayaknya benci banget ama arumi..apa alasannya..??
2024-06-11
0