Ketika pagi menjelang. Arumi sudah berkutat di dapur bersama Bi Muna. Sayangnya untuk pagi ini Bi Muna hanya bisa membantu sebentar saja karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Dan semua itu memang atas permintaan Arumi sendiri. Toh ia bisa jika hanya memasak, Jadi lebih baik bagi tugas saja pikirnya.
"Non mau Bibi bikinin susu gak? " Tanya Bi Muna yang tiba-tiba saja datang sampai Arumi terperanjat kaget.
"Bibi, Ih bikin kaget tauk.. Lagian tiba-tiba nongol.." Ucapnya seraya mengusap dada.
"Non aja kali yang gak tahu kalo Bibi udah dari tadi..
"Masa?
"Iya..Orang pekerjaan Bibi udah selesai kok.. Cuma dari tadi Non Arum lagi ngelamun.. makanya gak tau pas Bibi udah ada disini.. Lagi mikirin apa?
Arumi terdiam dan tidak menjawab atas pertanyaan Bi Muna. Ia juga salah, Tidak seharusnya Arumi melamun di dapur. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak inginkan? Kebakaran misalnya?
Tapi semua itu terus mengganggu pikiran Arumi. Ucapan Damian semalam jelas membuat hati Arumi patah sepatah patahnya. Jika ke Rain saja Damian bisa bercerita sesuka hati. Lalu bagaimana dengan teman yang lainnya? Atau mungkin, Hanya keluarganya saja yang tidak tahu tentang semua ini?
"Arumi gak mikirin apapun kok bi... Yaudah sekarang kita masak lagi yuk, Kayaknya mas Rain udah bangun deh.." Ujar Arumi yang langsung di angguki oleh Bi Muna. Wanita paruh baya itu tidak ingin mengulik lagi walaupun sebenarnya Bi Muna sudah dapat menebak apa yang telah terjadi.
"Pagi semuaaaa..." Sapa Rain yang kini sudah rapi dengan pakaiannya. Pakaian yang si pakai Rain bukanlah setelan kas seperti biasanya. Celana jeans dengan kaos outfit, tidak lupa jaket jeans demin yang ikut membalut tubuh tegapnya. Tentu saja Membuat penampilan Rain lebih tampan dari biasanya.
Sahabat sekaligus asisten pribadi Damian itupun duduk di salah kursi yang berada di ruang makan yang tempatnya memang tidak jauh dari pantri.
"Den Rain mau saya bikinin kopi gak?" Tanya Bi Muna mendekat ke arah pria yang dua tahun lebih muda dari Damian tersebut.
"Wah boleh juga tuh Bi.. Tapi boleh gak? Arumi aja yang buatin. Sekali-kali lah minta buatin minuman sama wanita cantik. Kalo cuma Bi Muna mah sering .. Arum boleh kan? Minta buatin kopi ke kamu?
Arumi tersenyum tipis dan mengangguk. Wanita itupun mulai meracik kopi pesanan Rain. Diam-diam pria itu itupun menatap kagum terhadap Arumi.
Siapa yang tidak tertarik dengan Wanita secantik Arumi? Cantik nya bukan hanya di wajahnya saja hatinya. Bodohnya Damian bila menyi-nyiakan wanita sebaik Arumi.
"Ini mas kopi nya.." Arumi meletakkan secangkir kopi tersebut di atas meja. Rain melirik wanita itu yang menunduk dalam.
"Terima kasih ya?
"Iya.." Setelahnya Arumi kembali membantu Bi Muna untuk menyiapkan berbagai menu sarapan pagi ini.
Sementara Rain, Pria itu menyeruput kopi buatan Arumi yang memang sangat pas di lidahnya.
"Hmm..Kopi buatan kamu enak juga Rum.. Pas banget di lidah.. " Puji laki-laki itu. Rain kembali meminumnya lagi hingga kedatangan Damian membuat suasana Rain menjadi mendung seketika.
Damian meraih cangkir kopi milik Rain dan ikut menikmatinya.
"Damian apaan sih? main seruput aja..." Damian tidak menjawab pria itu masih meminum kopi milik Rain.
"Enak.. Tumben kopi buatan Bi Muna agak beda.." Ucap Damian seraya meletakkan kembali cangkir kopi milik Rain.
"Enak ya kopinya? Jelas lah buatan bini orang emang enak ya.." Alis Damian berkerut mendengar apa yang di ucapkan sahabat nya ini.
"Maksudnya?
"Kopi itu buatan Arumi.."Damian langsung membuang muka membuat Rain yang di sampingnya terkekeh di sertai ejekan.
.
.
.
Menginap di kediaman sang sahabat tentu saja Rain ikut sarapan bersama. Arumi tersenyum senang karena melihat Damian ikut sarapan bersama. Pria itu memang sangat jarang makan di rumah, Terlebih ketika tau bahwa makanan yang di masak adalah hasil olahan tangan Arumi.
Dengan semangat Arumi melayani sang suami, Namun senyum itu seketika luntur saat Damian menolak akan layanannya.
"Tidak perlu, Aku bisa sendiri.. " Ucapnya dengan datar dan dingin seperti biasanya.
Arumi pasrah membiarkan Damian mengambil makanannya sendiri.
"Arumi aku mau dong di layani.."Ujar Rain melirik Damian yang menatapnya tajam. Arumi diam, Wanita itu ikut melirik Damian yang seakan tidak suka dengan permintaan sahabatnya.
"E..Tapi mas Rain..aku..
"Udahlah..Lagian Damian gak mau kan di layani.. Jadi aku saja.." Seakan tidak ada takut-takutnya, Rain menyodorkan piring miliknya di hadapan Arumi tepat di depan mata Damian. Arumi bingung hendak menuruti keinginan Rain atau tidak.
"Ayolah.. Kali ini aku memaksa.." Rain melirik Damian lagi, Pria itu tersenyum mengejek karena akhirnya Arumi melayaninya.
"Terima kasih Arumi.." Rain pun tersenyum manis sembari menerima piring yang sudah penuh dengan nasi serta lauk pauknya.
"Sama-sama mas.." Arumi pun ikut duduk di salah kursi dan ikut sarapan bersama. Walaupun Damian tidak mau ia layani, Setidaknya pria itu mau makan satu meja bersamanya.
"Ohya Arumi.. aku mau ke malang hari ini.. Mau nitip gak? " Tanya Rain yang lagi-lagi melirik Damian yang hanya diam saja.
" Gak usah Mas.. Lagian mau titip apa? Arumi bisa kol beli sendiri.." Sahutnya tanpa melihat ke arah Damian yang seakan tidak suka Arumi menjawab ucapan Rain.
Diam-diam Damian mengeratkan pegangan sendok dan garpunya. Entahlah ada apa dengannya.. Bagaimana bisa ia merasa tidak suka dengan interaksi Arumi dan Rain. Bahkan bisa di lihat dengan jelas tawa Arumi ketika berbicara dengan Sahabat sekaligus asistennya itu.
Cemburu?
" Tidak! Mana mungkin aku cemburu...
.
.
.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Evi Alvian
Damian cemburu apa marah sih..palingan gengsi digedein..biarin aja Arumi dia blm tau arti nyeseo kali..lagian aku gak suka ngeliatnya kalo Arumi masih ama Damian
2024-06-13
1
Viena Alfiatur Rohman
Cemburu.. Gengsi aja sampek Arumi nyaman sama pria lain nnti
2024-06-13
0
Erlangga❤
klo udah ada rasa gak trima.. dan cmburu berarti mulai suka.. Tapi aku gk mau klo Arumi msih tetep sama damian
2024-06-13
0