Kehancuran dan kebahagiaan orang tua terletak pada anak-anaknya. Jika anak bahagia orang tua ikut bahagia. Apabila anak menderita orang tua pun juga sama. Terutama seorang ibu, Mau sejelek apapun anak kita, Banyak kekurangan atau bahkan tidak mempunyai kesempurnaan atau ketidaknormalan. Ibu adalah orang pertama yang lebih hancur terlebih dahulu. Namun mereka tetap mempunyai rasa kasih sayang paling tinggi diantara lainnya.
Akan tetap jangan remehkan wanita yang sudah berstatus sebagai seorang ibu. Wanita adalah manusia kuat, Bahkan saking kuatnya wanita berusaha tegar di depan semua orang. Mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja walau hatinya tengah hancur lebur.
Arumi contohnya. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar jika di jalani. Wanita itu mampu menyembunyikan semua kesakitannya dari orang terdekat bahkan di depan seluruh keluarga suaminya.
Dan sebagai seorang ibu, Nimas hanya bisa menangis tergugu melihat satu persatu bekas luka yang berada di tubuh sang putri tercinta.
Dia yang mengandungnya selama sembilan bulan lamanya. Sejak dari dalam kandungan sudah di rawat agar selalu sehat hingga sampai lahir dan melihat dunia. Dari merah sampai dewasa di rawat dengan hati-hati dan penuh kasih sayang.
Tapi kenapa disaat seorang putri di pasrahkan dan di serahkan kepada seorang pria yang harusnya menjadi pengganti orang tuanya. Di berikan dengan Sukarela agar pria tersebut menjaga, Mencintai, menyayangi, Bahkan harusnya memberikan perhatian yang lebih. Tapi nyatanya tidak semua pria seperti itu.
Kalaupun ada, berarti dia adalah pria pilihan yang pasti akan mendarat di hati wanita yang beruntung.
"Ssstt... Sakit bun.." Ringisnya ketika kain hangat itu menyentuh kulitnya. Nimas menghapus air matanya. Sungguh Wanita paruh baya itu tidak bisa menahan kesedihannya.
Ibu mana yang tidak hancur melihat anaknya babak belur seperti ini. Bukan hanya di wajah tapi hampir di sekujur tubuhnya.
"Sejak kapan Damian melakukan semua ini?" Tanya Nimas menatap sang putri dengan lekat. Arumi terdiam dengan menunduk.
Nimas hanya bisa menghela nafas panjang. Di peluklah Arumi yang mulai menangis tersedu di pelukan sang ibu. Sudah lama Arumi tidak mendapatkan pelukan semacam ini. Bukan tidak mendapat pelukan hanya saja Arumi selalu menghindar.
Dan sekarang ingin menghindar pun sudah tidak bisa. Sang bunda sudah mengetahui segalanya. Mungkin benar, Firasat seorang ibu tidak main-main. Ibarat pepatah, Sedalam-dalamnya mengubur bangkai lama-lama pasti akan tercium juga.
Mau serapat apa Arumi mampu menyembunyikan kepahitan hidupnya bersama sang suami. Pasti akan ketahuan juga.
"Sejak awal bunda sudah merasa bahwa kamu tidak bahagia.. Tapi kamu selalu mengelak Arumi... Kenapa kamu tidak jujur selama ini sama bunda nak.." Ya, Sejak awal-awal Arumi menikah dengan Damian. Nimas memang merasa ada yang berbeda. Tatapan mata sepasang suami dan istri itu tidak menyiratkan tatapan penuh dengan cinta layaknya pasangan suami dan istri pada umumnya.
Nimas juga sering kali bertanya kepada sang putri mengenai hubungannya bersama Damian. Bukannya jujur, Arumi selalu mengelak dan mengatakan bahwa hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja. Dan yang lebih parahnya lagi, Arumi selalu berkata bahwa Damian adalah suami yang baik dan penyayang. Jika sudah seperti ini apa masih di katakan pria baik-baik.
"Kamu tenang aja, Bunda bakalan bilang ke ayah tentang semua ini.." Arumi menggelengkan kepalanya.
"Kenapa sayang...
"Jangan bilang apa-apa bun.. Arumi gak apa-apa kok.. Mungkin Mas Damian belum bisa menerima Arumi. Tapi Arumi yakin kok bun.. Suatu saat Mas Damian pasti akan berubah.. "Ya, Arumi yakin itu. Ia percaya dengan adanya Tuhan. Cukup serahkan semua kepada yang maha kuasa dan insya Allah, Allah yang bekerja melalui Dzat nya.
"Belum menerima? Tapi ini sudah dua tahun Arumi.. mau sampai kapan? Ini sudah termasuk ke ranah KDRT ..
"Arumi mohon bun.. Jangan bilang siapa-siapa ya... Apalagi sampai ayah tahu.. Untuk sekarang ini Arum akan bertahan. Selama Mas Damian tidak menyentuh wanita lain, Arumi tetap akan bertahan Bun... Tapi sebaliknya andai mas Damian berhubungan dengan wanita lain di luaran sana. Arumi akan lebih memilih mundur ..
Nimas diam dan tidak mampu berkata. Sepertinya apa yang di bilang sang putri benar. Bertahan sebentar lagi saja.. Siapa tahu Damian mampu berubah. Dan ia sebagai orang tua hanya bisa apa. Jika putrinya masih berkata sanggup itu artinya Arumi masih bisa mengatasi.
.
.
.
Mengetahui Arumi di perlakukan dengan tidak baik oleh suaminya. Nimas berada di rumah sang putri hingga sore menjelang. Semua memang Nimas sengaja lalukan. Ia ingin melihat bagaimana sikap Damian apabila ada dirinya di rumah itu.
Suara deru mobil mulai terdengar. Damian segera turun dari kendaraan roda empatnya dan masuk ke rumah begitu saja.
Damian menaiki anak tangga satu persatu hingga rahangnya mengeras ketika matanya melihat pintu kamarnya terbuka. Dengan langkah cepat dan lebar Damian segera masuk ke kamar tersebut.
Siapa lagi yang akan berani lancang masuk ke kamar pribadinya jika bukan Arumi. Sepertinya wanita itu harus di beri pelajaran yang lebih agar benar-benar jera.
"Arumi kau!!.." Ucapan itu terhenti ketika ada sang mertua yang tengah duduk di atas tempat tidurnya. Kemarahan yang tadi kini mendadak hilang. Dengan senyum manis Damian mendekati sang ibu mertua lalu mencium punggung tangannya.
"Bunda..
"Hm, Baru pulang.. ?" Tanya Nimas dengan tutur kata yang lembut sama seperti biasanya. Ia harus terlihat biasa saja, Nimas tidak mau merubah sikap agar Damian tidak curiga.
"Iya bunda.. E..Sejak kapan bunda datang.. Dan.. kemana Arumi..." Pria itu melihat kesana kemari seolah sedang mencari sang Istri.
"Arumi lagi ke kamar mandi.. Kamu kenapa tadi teriak-teriak begitu?.." Damian terdiam sejenak. Otaknya sedang bekerja memberikan alasan yang masuk akal.
"Owh.. itu, E..tadi Damian..
Ceklek..
Pintu kamar mandi terbuka, Muncullah Arumi dari dalam sana. Wanita itu berdiri mematung di ambang pintu melihat kedatangan sang suami.
"Mas sudah pulang..?" Tanya Arumi bersikap layaknya istri pada umumnya. Walaupun Bundanya sudah mengetahui segalanya. Tetap saja Arumi meminta Nimas bersikap seperti biasa.
Kehadiran Nimas di rumah itu membuat Damian benar-benar berubah. Pria itu juga sangat perhatian terhadap Arumi. Semua itu tak lepas dari pantauan Nimas sebagai seorang ibu..
Walaupun Damian memberikan perhatian palsunya. Tetap saja Nimas bisa membedakan mana yang benar-benar perhatian dan mana yang hanya akting. Terbukti bahwa Damian seperti enggan menyentuh Arumi sama sekali.
"Malam ini Bunda akan menginap disini.. " Damian membulatkan matanya mendengar ucapan sang mertua. Pria itu seperti sangat kaget, Tapi tak lama kemudian Damian tersenyum.
"Wah..Kebetulan sekali Arumi ingin sekali bunda menginap disini..lagipula sudah lama kan? Bunda gak main kesini.. benar kan sayang...
" Iya benar.. " Jawab Arumi menatap sang bunda dengan tatapan yang sulit di artikan. Nimas pun paham akan tatapan itu.
"Meskipun kamu berusaha bertahan.. Bunda tetap akan berusaha membebaskan kamu dari singa ini nak...
.
.
.
Tbc
..... Karena ini kisah Brian.. Jadi untuk saat ini Briannya masih jarang muncul ya.. Nanti kalo mereka udah ketemu lagi.. akan sering ada scen mereka..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Evi Alvian
Ayo bun bebaskan Arumi secepatnya kasian hidupnya menderita mulu..dan bkin Damian menyesali perbuatannya
2024-06-14
1
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
gak tau aja kmu rum klo laki mu tuh lbih sneng mmbayar j*l*ng dri pda menyentuh yg sudh halal gratis pula, suatu saat nnti psti bakla nyesel tuh si damdam
2024-06-14
1
Viena Alfiatur Rohman
Sekarang pura2 baik..awas nnti pas baik bneran Arumi udah gak respeck ya
2024-06-14
1