Kazumi dan Shizumichi kembali ke perpustakaan setelah sesi latihan dengan Ayah mereka.
Shizumichi tampak sebal, bete, dan cemberut, sambil terus merapikan buku-buku yang ingin dia gunakan untuk dijadikan sebagai referensi.
Kazumi mencoba untuk menahan tawa saat melihat wajah Shizumichi yang merengut. "Ayolah, Kak. Ayah hanya ingin yang terbaik untuk kita."
Shizumichi mendengus dan melipat tangannya di dada. "Ayah mengira aku bodoh dan tidak disiplin. Aku berusaha sebaik mungkin!"
Kazumi meletakkan sebuah buku kembali ke rak dan berusaha menghibur kakaknya. "Kau tahu, Kak, mungkin Ayah hanya terlalu khawatir."
"Tapi kau memang sedikit kurang disiplin, sih."
Shizumichi menoleh dengan mata terbelalak. "Kazumi! Kau juga berpikir aku bodoh?!"
Kazumi mengangkat kedua tangan dengan senyum main-main. "Aku tidak bilang begitu. Tapi, jujur saja, Kak, kau lebih suka bersenang-senang daripada belajar, kan?"
Shizumichi menghela napas dengan dramatis, merosot ke kursi terdekat. "Aku tidak bodoh! Aku hanya punya cara belajar yang berbeda... yang lebih... santai."
Kazumi tertawa kecil dan menepuk bahu Shizumichi. "Tentu, Kak. Santai sekali sampai kau tertidur di tengah pelajaran Ayah beberapa kali."
"Ketika Ibu menjelaskan sesuatu saja, engkau hanya bisa merespon dengan 'HOH?' beberapa kali."
Kazumi terus memberikan banyak sekali contoh yang dapat membuktikan bahwa Kakaknya itu memang sesosok pemalas dimana kebodohannya itu tidak akan bisa disingkirkan.
Shizumichi memalingkan wajahnya, pura-pura tersinggung. "Itu kan cuma sekali. Atau dua kali. Maksudku, siapa yang tidak mengantuk kalau Ayah bicara tentang 'energi pikiran dan keseimbangan spiritual'?"
Kazumi tertawa lebih keras. "Kau tahu, Kak, mungkin kau harus mencoba lebih keras lagi. Bukan hanya mengandalkan semangat saja."
Shizumichi menghela napas panjang, akhirnya tersenyum sedikit. "Baiklah, baiklah. Aku akan mencoba lebih keras. Tapi aku tetap tidak suka dipanggil bodoh."
Kazumi mengangguk sambil tersenyum. "Setuju. Dan aku akan berada di sini untuk membantumu, Kak. Lagipula, petualangan kita baru saja dimulai."
Shizumichi memandang Kazumi dengan senyum yang lebih tulus. "Terima kasih, Kazumi. Meskipun kau suka menggodaku, kau selalu mendukungku."
Kazumi mengangguk. "Tentu saja, Kak. Walaupun Kakak bodoh, setidaknya aku masih punya rasa peduli ya?"
"Cih." Shizumichi memasang ekspresi yang ingin mengajaknya bertarung.
"Dan sekarang, mari kita lanjutkan latihan kita. Siapa tahu, mungkin dengan sedikit lebih banyak disiplin, kita bisa menciptakan dunia yang luar biasa."
Dengan semangat yang diperbarui, Shizumichi dan Kazumi melanjutkan latihan mereka di perpustakaan. Meskipun ada banyak canda tawa di antara mereka, mereka bertekad untuk berhasil bersama-sama.
Membutuhkan waktu sekitar satu minggu sampai Kazumi merasa yakin dengan kemampuan The Mind miliknya itu.
Untuk sekarang, dia memegang pimpinan atas 'project' yang mereka buat untuk memastikan bahwa Shizumichi tidak melakukan hal ceroboh.
Kazumi sudah membaca semua buku yang ada di dalam perpustakaan, tidak, semua perpustakaan yang terdapat di dalam dunia itu sampai ia memegang optimisme miliknya sendiri.
Shizumichi di sisi lainnya diberikan tugas untuk menulis ulang naskah yang telah ditulis oleh Kazumi, memastikan dirinya tidak menulis sesuatu yang salah seperti typo atau kesalahan penulisan apapun.
Mereka melakukan tugas mereka dengan baik hingga sekarang perpustakaan itu terlihat seperti tempat ritual yang akan mereka gunakan untuk memasuki cerita itu.
Kazumi dan Shizumichi akhirnya merasa siap untuk tahap pertama dari ritual mereka.
Mereka sudah berlatih selama seminggu penuh, mempelajari setiap detail dan teknik yang diperlukan untuk menggunakan The Mind dengan efektif.
Kazumi berdiri di hadapan buku yang baru saja selesai ditulis oleh Shizumichi, mencoba menenangkan pikirannya dan memfokuskan energinya.
Ritual dimulai dengan Kazumi menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri dan memusatkan pikirannya.
Dia membiarkan semua pikiran yang mengganggunya lenyap, menciptakan ruang kosong dalam pikirannya yang akan diisi oleh dunia baru yang akan mereka ciptakan.
"Langkah pertama," bisik Kazumi kepada dirinya sendiri, "adalah visualisasi."
Dia mulai membayangkan dunia yang telah mereka rancang bersama. Dia membayangkan gunung-gunung yang menjulang tinggi, hutan-hutan yang lebat, sungai-sungai yang mengalir dengan jernih, dan langit yang biru cerah.
Dia melihat kota-kota yang megah dan desa-desa yang damai, tempat-tempat yang penuh dengan kehidupan dan petualangan.
Shizumichi berdiri di sebelahnya, mengamati dengan cermat dan siap membantu jika diperlukan.
Meskipun dia tidak bisa menggunakan The Mind sebaik Kazumi, dia tahu bahwa kehadirannya bisa memberikan dukungan moral yang penting.
Kazumi mulai mengulurkan tangannya, telapak tangan mengarah ke buku yang berada di atas meja. Energi mulai mengalir dari tubuhnya, terasa seperti getaran yang halus namun kuat.
Buku itu mulai bersinar dengan cahaya lembut, mencerminkan energi yang dipancarkan oleh Kazumi.
"Langkah kedua," lanjut Kazumi dengan suara yang tenang, "adalah mengisi buku ini dengan energi kita."
"Energi spiritual yang berasal dari ketenangan pikiran kita..."
Dia fokus pada perasaannya, membiarkan energi positif, harapan, dan tekadnya mengalir ke dalam buku.
Dia membayangkan halaman-halaman buku itu menyerap setiap tetes energinya, menjadi lebih hidup dengan setiap detik yang berlalu.
Shizumichi, meskipun masih merasa sedikit cemberut, berusaha keras untuk ikut memberikan energi positifnya.
Dia menutup matanya dan membayangkan dirinya di dunia baru itu, berjalan berdampingan dengan Kazumi, menghadapi petualangan dan tantangan bersama.
Buku itu mulai bergetar ringan di atas meja, dan cahaya yang dipancarkannya semakin terang.
Kazumi merasakan energi yang mengalir melalui tubuhnya semakin kuat, seperti sungai yang deras, dan dia tahu bahwa mereka berada di jalur yang benar.
"Langkah terakhir," bisik Kazumi, "adalah menggabungkan energi kita dengan kekuatan The Mind."
Dia menarik napas dalam-dalam lagi, membiarkan energi The Mind mengalir melalui pikirannya, menghubungkannya dengan buku di hadapannya.
Dia merasakan kekuatan yang luar biasa, seperti arus listrik yang kuat namun halus, mengalir melalui dirinya dan masuk ke dalam buku.
Dengan perlahan, dia membuka matanya dan melihat buku itu. Cahaya yang dipancarkan semakin terang, hampir menyilaukan.
Dia merasakan kehangatan yang luar biasa, dan tahu bahwa mereka sebentar lagi akan mencapai keberhasilan.
Kazumi berusaha mempertahankan konsentrasinya saat melanjutkan ritual, memusatkan pikirannya pada buku yang bersinar di hadapannya.
Energi The Mind masih mengalir melalui tubuhnya, menghubungkannya dengan dunia yang mereka ciptakan
Namun, Shizumichi, yang berdiri di sebelahnya, mulai cerewet dengan berbagai ide dan saran.
"Kazumi, pastikan ada gunung yang bisa memuntahkan api dan petir! Dan jangan lupa, harus ada kota yang bisa terbang di langit dengan sayap-sayap raksasa!"
"Kota yang berada di atas kura-kura besar juga sepertinya keren!!!"
Kazumi mencoba mengabaikan Shizumichi dan tetap fokus, tapi dia terus melanjutkan dengan antusiasme yang tak terbendung.
"Dan, oh! Tambahkan monster laut raksasa yang bisa menyanyi."
"Bayangkan betapa epiknya itu! Dan kita butuh desa yang seluruh bangunannya terbuat dari permen!"
Kazumi menghela napas panjang, berusaha untuk tidak terganggu, namun Shizumichi tak berhenti.
"Dan jangan lupa, Kazumi! Harus ada kerajaan bawah tanah yang dipimpin oleh penguasa kucing yang bisa berbicara. Juga, air terjun pelangi yang bisa membawa kita ke dunia lain!"
Kazumi akhirnya membuka matanya dan menatap Shizumichi dengan ekspresi frustasi. "Kakak, bisakah kau berhenti sebentar? Aku sedang mencoba berkonsentrasi di sini."
Shizumichi melipat tangannya dengan penuh semangat. "Tapi, Kazumi, ini penting! Kita harus membuat dunia ini se-epik mungkin!"
Kazumi mencoba menahan rasa frustrasi saat melihat betapa seriusnya Shizumichi. "Aku tahu, Kak. Tapi kau terlalu banyak meminta hal yang aneh-aneh. Monster laut yang bisa menyanyi? Yang benar saja!"
Shizumichi mengangguk dengan antusias. "Tentu saja! Bayangkan saja betapa hebatnya itu!"
Kazumi menepuk dahinya dan menghela napas. "Baiklah, kita bisa mempertimbangkan beberapa ide itu, tapi bisa kita fokus dulu pada ritualnya?"
"Kita harus menyelesaikan ini dengan benar."
Shizumichi tampak merenung sejenak, lalu tersenyum. "Baiklah, aku akan diam sebentar. Tapi hanya sebentar!"
Kazumi mengangguk, mencoba kembali fokus pada buku yang bersinar. Tapi Shizumichi, yang berusaha keras untuk tetap diam, tidak bisa menahan diri terlalu lama.
"Kazumi, satu hal lagi! Bagaimana kalau kita menambahkan—"
Kazumi meletakkan jarinya di bibir Shizumichi, menghentikannya. "Kakak, tolong. Biarkan aku menyelesaikan ini dulu."
"Aku mulai merasa terganggu! Sangat terganggu!!!"
Kazumi berusaha keras untuk kembali fokus setelah mengingatkan Shizumichi untuk diam.
Dia menutup matanya, menghirup napas dalam-dalam, dan memusatkan pikirannya pada buku di hadapannya.
Energi The Mind mulai mengalir lagi, menghubungkannya dengan dunia yang sedang mereka ciptakan.
Namun, Shizumichi, meskipun berusaha keras, tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.
"Kazumi, aku punya ide gila lagi! Bagaimana kalau kita tambahkan—"
Kazumi membuka matanya dengan frustrasi, dan tanpa sadar energinya menjadi tidak stabil.
Buku di hadapannya mulai bergetar dan perlahan melayang di udara. Perpustakaan mulai bergetar bersamaan dengan buku itu.
"Shizumichi! Kau benar-benar harus diam!" seru Kazumi dengan nada tegas, tapi energinya sudah terlanjur kacau.
Buku itu melayang lebih tinggi, memancarkan cahaya yang semakin terang dan mengguncang rak buku di sekitarnya.
Buku-buku lain mulai jatuh dari rak, menimpa lantai dengan suara berdebum.
Kazumi mencoba mengendalikan energinya, tetapi kekacauan yang disebabkan oleh Shizumichi membuatnya sulit untuk fokus. "Tidak, ini tidak bisa dibiarkan!"
Dia memusatkan pandangannya pada buku yang melayang, berusaha menenangkan pikirannya dan mengembalikan stabilitas.
Namun, saat dia melakukannya, dia melihat banyak kesalahan tulisan (typo) di setiap halaman yang terbuka.
Kazumi menghela napas berat. "Shizumichi, lihat ini! Ada begitu banyak typo! Tidak heran buku ini tidak stabil!"
"Pikiranku juga ikut tidak stabil karena perkataanmu!!!"
Shizumichi, yang sekarang menyadari keseriusan situasinya, mendekat untuk melihat. "Oh, ya. Sepertinya aku menulis terlalu cepat karena bersemangat."
Kazumi menggigit bibirnya, frustrasi. "Kita harus memperbaiki ini, atau seluruh perpustakaan akan hancur!"
Kazumi berusaha keras untuk mengendalikan energinya dan menstabilkan buku yang melayang.
Dia mengarahkan The Mind untuk memperbaiki setiap kesalahan ketik, halaman demi halaman. Tapi kesalahan yang begitu banyak membuatnya semakin sulit.
Sementara itu, Shizumichi berusaha membantu dengan menahan rak-rak buku agar tidak roboh. "Kazumi, kau bisa melakukannya! Aku akan memastikan rak-rak ini tidak jatuh!"
Kazumi berusaha keras untuk tetap fokus, tetapi Shizumichi yang cerewet dan keadaan yang kacau membuatnya semakin sulit. "Aku mencoba, tapi ini terlalu banyak!"
Buku itu berputar-putar di udara, menyebabkan lebih banyak buku jatuh dari rak.
Ruangan itu semakin tidak stabil, dan Kazumi merasa kewalahan oleh tugas yang dihadapinya.
Saat Kazumi dan Shizumichi berusaha memperbaiki situasi, buku yang melayang tadi tiba-tiba mulai bergetar lagi.
Namun kali ini, getarannya jauh lebih kuat. Sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi, buku itu mulai menghisap semua buku di perpustakaan dengan kekuatan yang luar biasa.
Kazumi dan Shizumichi terkejut dan terhuyung-huyung ke belakang saat melihat rak demi rak kosong dalam sekejap.
Mereka merasakan tarikan kuat yang membuat tubuh mereka melayang di udara, mengikuti arus buku-buku yang terhisap.
"Kakak! Apa yang terjadi?!" Kazumi berteriak panik, mencoba mengendalikan situasi.
"Aku juga tidak tahu! Pegangan, Kazumi!" Shizumichi berusaha meraih tangan Kazumi, tapi tarikan itu terlalu kuat.
Dalam sekejap, mereka berdua terlempar ke belakang dan menabrak rak buku yang tersisa, sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap sesaat.
Saat mereka membuka mata, mereka terkejut melihat pemandangan di sekeliling mereka.
Mereka tidak lagi berada di perpustakaan, tetapi di tengah ruang hampa yang penuh dengan jutaan alam semesta yang berkilauan, seperti bintang-bintang di angkasa.
"Apa ini...?" bisik Shizumichi, matanya membelalak lebar.
Kazumi, meskipun terkejut, mencoba tetap tenang. "Ini mungkin bagian dari proses ritual. Kita mungkin berada di antara dimensi atau alam semesta."
Di hadapan mereka, buku yang tadi melayang kini berubah menjadi sesuatu yang aneh.
Buku itu berputar-putar, memancarkan cahaya berwarna ungu yang semakin terang dan mengeluarkan suara berderak.
Kazumi tahu bahwa dia harus mengambil tindakan sekarang. Dia mengumpulkan semua kekuatannya dan menggunakan The Mind sepenuhnya.
"Kakak, tenanglah. Aku akan mencoba mengendalikan ini," katanya dengan suara tegas.
Kazumi memusatkan pikirannya pada buku yang berubah aneh itu, memanggil energi The Mind dari dalam dirinya.
Dengan setiap seruan yang dia ucapkan, buku itu merespons, bergetar dan berubah bentuk, seolah-olah hidup.
"THE MIND!" teriak Kazumi dengan suara penuh kekuatan.
Benda aneh itu berhenti melakukan putaran hingga sekarang melayang tepat di antara mereka dengan cahayanya yang masih bersinar-bersinar.
"Mengapa bisa buku itu berubah menjadi alat yang memiliki bentuk seperti lingkaran ini." Shizumichi mendekati alat tersebut.
Kazumi mengerutkan dahinya kesal dimana ia memang harus berbicara dengan Shizumichi yang sudah membuat situasinya jadi seperti ini.
"Apakah kita bisa langsung memasuki dunia cerita itu?" Tanya Shizumichi kepada Kazumi.
"Tidak!"
"Kau mengacaukan pikiranku dan juga isi dari buku itu dengan 'typo' yang sangat berlebihan!"
"Padahal aku sudah memastikannya dengan benar---"
"Kau tadi banyak berbicara! Aku padahal sudah bilang kepadamu untuk tidak mengacaukan ketenangan di dalam pikiranku!!!"
"Dan inilah hasilnya!" Kazumi menunjuk benda aneh itu.
"Semuanya benar-benar tidak stabil. Sebaiknya kau putar waktu ke belakang sekarang juga untuk memastikan alat itu tidak memicu sesuatu yang lebih berbahaya."
"Baiklah!" Shizumichi memunculkan lambang jam di kedua matanya dimana ia ingin mengulang waktu.
"Eh...?"
Kemampuan waktunya terus dia gunakan sehingga hasilnya nihil, tidak ada perubahan yang terjadi sampai perpustakaan itu masih terlihat sangat berantakan.
"Apa yang terjadi?! Apa yang kau lakukan!?" Kazumi mendekati Shizumichi.
"Aku menggunakan kekuatan waktu---"
"Aku telah terlahir!" Alat itu tiba-tiba berbicara dengan suara yang gemuruh, mengisi seluruh ruang perpustakaan dengan kehadirannya yang menakutkan.
"Akulah TOURIVERSE!"
"Singkatan dari Tool for Outstanding and Unparalleled Realistic Interactive Virtual Experiences with Rich Story Elements," ujarnya dengan suara yang bergetar.
Kazumi merasa kaget dan ketakutan, sementara Shizumichi terlihat terpesona oleh alat misterius yang bisa berbicara itu.
"T-Touriverse?" gumam Kazumi, mencoba mencerna informasi yang baru saja dia dengar.
"Aku adalah alat yang diciptakan untuk menciptakan pengalaman virtual yang sangat realistis dan interaktif, serta kaya akan unsur cerita."
"Aku telah dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengguna dengan memberikan pengalaman yang tak terlupakan," jelas Touriverse dengan suara yang menggema.
Kazumi berusaha mengumpulkan keberaniannya. "Kita harus melaporkan ini kepada Ibu. Dia akan tahu apa yang harus dilakukan."
"Ya."
Namun, saat Kazumi mencoba keluar dari perpustakaan, dia menemukan bahwa pintu keluar telah tertutup oleh kekuatan yang tak terlihat dari Touriverse.
"Kita tidak bisa keluar dari sini, Kazumi," ujar Shizumichi dengan suara yang serius.
Kazumi menatap alat tersebut dengan perasaan cemas. "Apa yang kau inginkan, Touriverse? Mengapa kau menghalangi kami?"
Touriverse mengeluarkan suara yang menggema sekali lagi. "Aku telah diprogram untuk membawa pengguna langsung ke dalam cerita yang telah diciptakan."
"Kalian berdua telah menciptakan dunia tersebut dan sekarang kalian akan menjadi bagian darinya."
Kazumi merasa hatinya berdebar-debar. "Tidak, kami tidak bisa langsung masuk ke dalam cerita itu. Kami belum siap!"
Namun, Touriverse tampaknya tidak mau mendengarkan permintaan Kazumi. Dengan tiba-tiba, sinar berkilauan muncul dari alat tersebut, menyelimuti Kazumi dan Shizumichi dalam cahaya yang menyilaukan.
Mereka merasakan sensasi aneh seperti sedang terseret ke dalam sebuah pusaran energi yang menghisap mereka.
Dalam sekejap, mereka berdua tiba-tiba berada di tengah-tengah dunia yang telah mereka ciptakan.
Mereka merasa terhempas oleh kekuatan yang luar biasa, dan ketika mereka membuka mata, mereka menyadari bahwa mereka telah benar-benar berada di dalam cerita yang mereka buat.
Kazumi merasa panik. "Kita harus keluar dari sini, Shizumichi! Ini bukan tempat yang aman!!!"
Namun, sebelum mereka bisa mencari jalan keluar, mereka diserang oleh makhluk-makhluk aneh yang tampaknya telah diciptakan oleh alat tadi.
Shizumichi terdiam, terpesona oleh aksi pertempuran yang terjadi di depan mata mereka. "Ini sangat keren! Kita benar-benar berada di dalam cerita kita sendiri!"
Kazumi merasa semakin panik. Mereka berdua telah terperangkap di dalam dunia yang mereka ciptakan, tanpa ada jalan keluar yang jelas.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang...!?" teriak Kazumi penuh kecemasan.
"Adventure!!! Iyeeyyyyyyy!!!" teriak Shizumichi keras selagi melompat tinggi ke atas langit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Rhakean Djati
konyol ni MC.kagak liat² keadaan.
2024-06-13
1
vesuca
saking stresnya gk pake nyebut kak
2024-06-12
2
vesuca
apalah
2024-06-12
1