" Mengapa bisa sampai disini sepagi ini , Apa kamu tidak sekolah ?" tanya Zo lagi menatap Raisya penuh tanda tanya.
" Baru jam 8 lewat , mengapa tidak masuk sekolah ?" tanya Zo beruntun.
" Kamu cabut ?" tanya Zo lagi pada Raisya yang terus diam .
" Hiks , jangan ditanya terus Aku lagi sedih kak " lirih Raisya meletakkan paper bag yang dibawanya di atas meja kerja Zo lalu berjalan mendekat dan tiba-tiba memeluk Zo .
Zo masih berdiri terdiam saat Raisya memeluknya tanpa Zo balas ataupun ditolaknya.
" Kamu kenapa?" Tanya Zo dengan perlahan tangan nya bergerak mengelus punggung Raisya yang sudah terisak itu .
" Papa Aku pergi susul Mama keluar negri karena ada beberapa masalah di perusahaan Mama. Jadi aku tinggal sendiri sekarang Kak" cerita Raisya yang masih menangis di pelukan Zo , benar-benar mengadu .
" Jadi tadi kamu pergi mengantar Papa kebandara?" tanya Zo mengelus punggung Raisya yang masih menangis .
" Iya, Aku pengen ikut Kak tapi , hiks , Papa nggak mau , bawa Aku " tangis Raisya yang masih sedih karena Papa nya tidak mau membawa kali ini tanpa alasan yang jelas padahal sejak kecil sampai remaja pun Kedua orang tua selalu membawa Raisya jika pergi berdua .
" Mungkin kedua orang tua Kamu ada keperluan mendesak serta mungkin ada potensi bahaya makanya tidak bisa membawa kamu " jelas Zo yang sudah langsung bisa berkesimpulan kenapa Papa tidak membawa Raisya.
Alasan utamanya ya pasti keselamatan.
" Ya justru karena itu Kak , Aku tinggal sama Papa dan Mama aja masih banyak yang mau mencelakai Aku apalagi tinggal sendirian" kata Raisya yang benar-benar murni takut karena sering sekali dijadikan sasaran empuk musuh Papa nya sampai Raisya trauma di buatnya.
" Tenanglah kan banyak bodyguard yang akan menjaga kamu , tidak mungkin Papa kamu akan meninggalkan anaknya tanpa pengawasan yang terjamin " jelas Zo mengambil beberapa helai tisu lalu memberikan pada Raisya saat gadis itu menangis sampai ingus nya keluar .
" Bodyguard aja , kakak nggak ikut jagain Aku?" tanya Raisya yang sedang membersihkan wajahnya yang sudah basah dengan air mata.
" Sanggup bayar Saya berapa kamu ?" tanya Zo kembali duduk di kursi kerjanya mengalihkan perhatian nya dari Raisya, entah kenapa Zo tak tega melihat gadis itu menangis .
Raisya merogok saku rok pendek yang dipakainya.
" 2 ribu " Zo langsung tertawa begitu melihat uang yang Raisya keluarkan dari saku rok nya .
" Ini aja yang tinggal " ucap Raisya mengembang uang nya yang benar-benar tinggal 2 ribu saja uang cash yang dia punya .
" Sisa beli apa itu?" tanya Zo lagi.
" ini " tunjuk Raisya pada paper bag yang tadi dibawanya lalu mengeluarkan sekotak salat buah yang terlihat begitu enak .
" Untuk siapa?" tanya Zo melirik sekotak salat diatas mejanya.
" Ya untuk kakak lah " jawab Raisya apa adanya lalu mendorong kotak salat itu kehadapan Zo yang duduk .
" Kamu membelikan Saya salat dengan uang jajan Kamu dan sekarang tinggal 2 ribu , mau jajan pake apa kamu ?" tanya Zo melirik gadis labil itu , sudah tau uang jajan untuk nya saja tidak cukup malah membelikan makanan untuk orang lain .
" Ya nggak papa nggak jajan, Aku lagi nggak pengen jajan kok Kak" ucap Raisya yang memang lupa tadi minta uang jajan pada Papa saking sedih nya tadi .
" Kamu peduli pada Saya?" tanya Zo menatap gadis yang berdiri disampingnya.
" Iya " jawab Raisya singkat yang membuat Zo langsung memalingkan wajahnya yang hampir tersenyum.
Mungkin kalau untuk Zo harga salat itu memang tidaklah seberapa tapi jika dibandingkan pengorbanan gadis itu yang rela tidak jajan hanya demi membelikan salat untuk Zo itu luar biasa effort nya.
" Aku bolehkan disini sama kakak ?" tanya Raisya yang sangat kesepian akhir-akhir ini apalagi sejak kedua sahabatnya ikut pergi keluar negeri bersama orang tua nya membuat Raisya benar-benar merasa sendirian di dunia ini saat di tinggal Papa nya tadi .
" Enggak-enggak, Mau ganggu Saya kerja kamu " tolak Zo tegas . Bisa mati kutu dia digoda gadis nakal dan nekat itu seharian .
" Enggak kok kak , Aku diam aja disini . Aku cuma takut di jahatin musuh Papa " ucap Raisya dengan lirih dia pergi pada Zo benar-benar murni ingin berlindung.
Raisya tidak tau alasan pasti papanya pergi tidak mau membawanya kali ini , padahal Papa sangat tau bagaimana terancamnya keamanan Raisya saat Papa tidak ada didekatnya bahkan pengawalan ketat tak mengurungkan niat para musuh Papa untuk melenyapkan Raisya.
Ditengah perdebatan nya dengan Raisya Zo mendengar suara keributan di luar .
" Astaga Daddy , Mommy " Zo dengan cepat menyuruh Raisya masuk kebawah kolong meja kerjanya sebelum pintu ruangan nya benar-benar di buka .
" Zo apaan sih Asisten kamu larangan-larangan Mommy masuk " omel Mommy Zo begitu sampai di depan meja kerja Zo menatap sinis asisten Zo yang entah kenapa melarang dia dan suaminya masuk .
" Maafkan Aku Nyonya besar lihatlah tatapan Pak bos padaku . Tadi dia bilang akan membunuhku jika Aku mengizinkan orang masuk lagi keruangan nya karena dia sedang sakit kepala " ucap Brian dengan wajah tertunduk takut dan pas sekali dengan ekspresi Zo yang berdiri itu terlihat campur aduk .
" Jadi karena itu Kamu melarang kami masuk?" tanya Daddy tertawa menepuk pundak anak muda yang mengangguk polos itu .
" Maafkan Aku pak Bos besar " ucap Brian lagi seolah benar-benar ditekan Zo .
" Zo jangan menatapnya seperti itu ihhh" Mommy malah mengomeli Zo yang mempelototi Brian.
" Setiap hari Nyonya Aku ditatap seperti itu, entah dosa apa yang aku lakukan sampai bertemu atasan seperti ini " lirih Brian dengan ekspresi begitu menyedihkan.
" Yaudah Saya pecat kamu " ucap Zo langsung.
" Pak bos besar , lihat lah bos memecat Saya jadi nggak bisa ketemu lagi kita " ucap Brian dengan wajah sedihnya menatap Daddy .
" Tidak dipecat . Kembalilah kemeja kerjamu" ucap Daddy yang membuat Brian langsung berlonjak senang .
" dengar bos saya tidak dipecat " kata Brian masih sempat-sempatnya bercanda dan berjalan keluar rada bergoyang.
" Kamu kenapa sih nak kejam amat sama dia , padahal dia lucu Lo " tawa Mommy yang sejak awal kenal memang sudah suka dengan karakter Brian yang multitalenta.
" Iya lucu kayak anak ular , sampai setiap hari Aku ingin membunuhnya" ucap Zo duduk di kursinya kembali karena kedua orang tuanya tidak mau Zo ajak duduk disofa malah memilih duduk berhadapan dengan Zo di meja kerja .
" Huftt" baru juga duduk di kursinya Zo sudah menarik nafas panjang melihat gadis yang duduk di kolong meja itu sedang bersandar nyaman memainkan kertas .
Zo menggeleng pertanda Raisya tidak boleh memegang apalagi memainkan kertas sampah .
" Ada apa? Tumben sekali Daddy dan Mommy datang ?" ucap Zo menatap kedua orang tuanya bergantian dengan Raisya yang kini malah memainkan tali sepatunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Harris Arrayan
Semoga Ketauan ada Rais dibawah meja...
2024-09-14
0
Sarah Yuniani
aku suka Zain sama Aya .. karena udah Halal dulu ❤️
2024-08-16
3
Fauzia Citonggababeleang
bagus ceritabya thor ngk kalah bagus sma crita ortu ya
2024-07-13
1