Desta nampak bingung sebenarnya kenapa Kevin ingin bertemu dengannya di sini dan rasanya tak mungkin kalau tak ada masalah penting suami Tasya ini ingin bertemu dengannya maka karena tak mau membuang terlalu banyak waktu, Desta ingin segera Kevin memberitahunya mengenai apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria ini.
"Sepertinya kamu bukanlah orang yang suka basa-basi, ya?"
"Silakan anda katakan saja apa yang ingin anda bicarakan, saya akan mendengarkannya."
Kevin menganggukan kepalanya dan ia pun langsung masuk pada inti pembicaraan sesuai dengan keinginan Desta barusan. Kevin menanyakan perihal banyak hal pada Desta termasuk perasaannya pada Tasya.
"Maaf tapi kenapa anda menanyakan hal itu?"
"Apakah saya salah menanyakan hal itu? Tasya adalah istri saya, saya tak suka kalau ada pria lain yang menaruh hati pada istri saya."
"Oh saya paham, saya tak ada rasa lagi pada istri anda kok."
"Sungguh?"
"Iya tentu saja, memangnya anda tak percaya?"
"Saya bukannya tak percaya hanya saja, kalau saya dengar dari cerita Tasya hubungan kalian sangat dekat sekali dulu bahkan Tasya juga mengatakan bahwa ia sulit sekali melupakan kamu ketika itu."
"Benarkah?"
"Iya namun semuanya berubah kan?"
Desta nampak tersenyum getir dengan ucapan Kevin barusan, Kevin pun tak lana kemudian mengatakan sesuatu hal lain yang membuat Desta terkejut.
"Saya yakin bahwa tak ada lagi hubungan di antara kalian dan kedatanganmu kembali setelah 11 tahun menghilang murni karena ingin menebus kesalahan pada Wikka. Saya tak akan menghalangi anda untuk bertemu Wikka karena anda adalah ayah kandungnya namun satu hal yang perlu anda ketahui, jika anda memiliki rencana mendekati Tasya lewat Wikka maka saya tak akan tinggal diam. Apakah anda bisa mengerti apa yang saya katakan barusan?"
"Tentu saya mengerti."
Kevin nampak tersenyum puas saat mendengar jawaban Desta barusan, sementara perasaan Desta mendadak jadi tak menentu selepas Kevin mengatakan hal tersebut, ia sendiri juga tak paham apa yang sebenarnya terjadi padanya.
****
Bayang-bayang ucapan Kevin yang seolah menuduhnya masih berharap pada Tasya adalah seperti Kevin merasa bahwa Desta menjadi ancaman baginya, walau Kevin mengatakan hal itu dengan tenang namun Desta tahu bahwa Kevin sedang mengancamnya barusan untuk tak melewati batas.
"Sial! Kenapa seolah dia tahu apa yang aku rasakan pada Tasya?"
Walau Desta belum dengan pasti mengakui bahwa ia memang masih memendam rasa pada Tasya namun beberapa kali Desta juga merasakan hal yang sama seperti 11 tahun lalu. Ia masih merasakan degup jantungnya berdegup lebih cepat, ia merasa bahagia menghabiskan waktu dengan Tasya, ia suka melihat senyum Tasya dan barang tentu itu adalah bukti bahwa memang ia masih berharap pada Tasya dan mereka bisa kembali seperti dulu lagi.
"Aku pasti sudah tidak waras, bagaimana bisa aku lancang sekali memikirkan orang lain yang sudah menjadi milik orang lain?"
Desta menggelengkan kepalanya, ia jelas tak mau menjadi duri dalam rumah tangga orang lain namun perasaannya pada Tasya yang masih menggebu seperti di masa lalu adalah sebuah masalah yang harus ia selesaikan sebelum perasaan menggebu ini justru malah menghancurkan segalanya.
"Aku tak mau merusak rumah tangga orang, semua sudah berubah dan kini Tasya sudah memiliki Kevin. Tidak seharusnya aku berharap kami masih bisa bersama kan?"
****
Mayra senang bukan main dengan keputusan Ariel untuk berpisah dengan Berlian walau ia juga dibuat geram dengan cerita Ariel yang memergoki wanita itu tengah main gila dengan pria lain namun setidaknya itu membuktikan bahwa Berlian bukanlah wanita baik-baik dan keputusan yang Ariel buat untuk berpisah dengan Berlian adalah sebuah hal yang baik.
"Menurut Mama ini adalah hal yang benar?"
"Tentu saja, Mama tahu bahwa kamu sangat mencintai Berlian dan masih berharap bahwa semua ini hanya mimpi buruk saja namun inilah kenyataan yang harus kamu hadapi. Istrimu itu sama sekali tak sebaik apa yang kamu pikirkan dan seharusnya kamu itu bersyukur karena Tuhan menunjukan siapa Berlian yang sebenarnya. Andai lebih lama lagi kebusukannya tak terendus maka akan semakin dalam rasa sakit yang kamu alami."
Apa yang mamanya katakan barusan memang benar adanya namun sejujurnya Ariel masih membutuhkan waktu untuk memproses semua rasa sakit yang ia alami saat ini. Siapa sangka niat baik untuk minta maaf dan memulai kembali komunikasi dengan istrinya justru malah membuat dirinya harus menemukan kenyataan pahit yang selama ini tak pernah ia ketahui.
"Mama benar, walaupun semua ini rasanya sangat pahit dan menyakitkan namun inilah kenyataan yang harus aku hadapi. Aku berharap bisa menghadapinya walau tidak mudah."
****
Tasya menyambut Kevin yang baru saja pulang ke rumah, belakangan ini Kevin memang pulang lebih awal dari biasanya. Dan yang menarik perhatian Tasya juga sekarang Kevin seperti lebih banyak tinggal di rumah ini ketimbang rumah Runi.
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
"Apa yang hendak kamu tanyakan memang?"
Sebenarnya Tasya berpikir bahwa ia terlalu ingin tahu masalah orang lain namun kalau ia tak bertanya secara langsung pada Kevin maka kesempatan tak akan datang untuk kedua kalinya maka ia pun kemudian memberanikan diri untuk bertanya pada pria ini perihal apa yang menjadi tanya dalam benaknya.
"Kenapa hanya diam saja? Aku menunggu."
"Oh maafkan aku, aku ingin bertanya mengenai hubunganmu dengan Runi, kalian apakah masih bertengkar?"
"Apa urusanmu menanyakan hal itu?"
"Iya memang tidak ada hanya saja aku penasaran kenapa belakangan ini kamu lebih sering menghabiskan waktu di sini dan bukannya di rumah Runi. Aku tahu bahwa aku lancang sekali menanyakan hal ini padamu namun aku tak bisa hanya diam saja dan bersikap acuh, bagaimanapun juga kan kamu punya Brandon yang merupakan anak kandungmu dengan Runi, kalau kamu terus menghabiskan waktu di sini lantas kapan kamu akan punya waktu untuk Brandon? Dia kan juga butuh kamu sebagai papanya."
****
Kevin nampak tak langsung menjawab pertanyaan Tasya barusan, ia terdiam beberapa saat kemudian mengatakan sesuatu pada Tasya yang membuat dahi wanita itu berkerut heran.
"Aku minta pendapatmu jika Brandon tinggal di sini bersama kita, apakah kamu akan keberatan?"
"Brandon tinggal di sini? Tapi kenapa? Apakah masalahmu dengan Runi belum selesai?"
"Sejujurnya aku mulai berpikir bahwa sepertinya aku tak akan sanggup lebih lama membagi cinta pada dua orang dan oleh sebab itu aku memilih untuk meninggalkan yang satu dan mempertahankan yang lain hingga aku meninggalkan dunia ini."
"Apa?"
"Aku sudah memikirkan ini sejak semalam dan sepertinya aku sampai pada keputusan di mana aku tak akan bisa meninggalkan kamu, Tasya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments