Tak Bisa Akur

Berlian menghampiri sang suami dan ia pun menumpahkan kekesalannya pada Mayra yang selalu saja memojokan dirinya dan mengatakan bahwa ia adalah menantu tak tahu diri. Ariel sudah kebal dengan semua rentetan kalimat itu karena setiap kali mereka pergi ke rumah Mayra maka setiap kali pula mamanya itu alan membuat mental Berlian jatuh ketika ditanya kenapa tak kunjung memiliki anak padahal usia mereka sudah tak muda lagi dan siap dalam memiliki anak. Berlian selalu saja beralasan bahwa memiliki anak akan menyita waktunya dan juga bentuk tubuhnya tak akan sempurna seperti saat ini. Ariel bukannya tak pernah membujuk Berlian untuk mengubah pikiran, ia sudah berulang kali berusaha membujuk Berlian namun pada kenyataannya hasilnya nihil. Istrinya ini tetap saja keras kepala dan mau menang sendiri, ia tak mau mendengarkan perkataan siapa pun.

"Aku akan bilang pada mama untuk jangan membahas mengenai hal itu lagi."

"Kamu selalu saja mengatakan itu setelah aku curhat masalah ini namun pada kenyatannya apa? Mama tetap saja mencecarku dengan pertanyaan yang membuat aku risih!"

Ariel hanya bisa menarik napas panjang, telinganya sejak tadi sudah panas mendengar semua rentetan kalimat penuh keluh kesah yang diberikan oleh istrinya ini.

"Lantas memangnya aku bisa apa? Aku kan selalu mengatakan itu pada mama untuk tak bahas masalah itu lagi namun mama kan bebal orangnya."

"Kamu sebagai anak beri pengertian dong! Mamaku saja tak pernah mendesakku dan menodong dengan pertanyaan yang sama seperti yang dilakukan oleh mamamu."

"Baiklah, bisakah kita akhiri perdebatan ini sekarang juga?"

Berlian nampak menghela napas kesal, ia masih marah dan butuh tempat pelampiasan namun ia juga tak mau berangkat terlambat ke kantornya.

"Aku akan pergi ke kantor, sudah terlambat sekarang."

Berlian gegas pergi begitu saja meninggalkan rumah ini dan membuat Ariel menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pemikiran sang istri itu. Lagi-lagi ia diharuskan menjadi penyambung lidah walau ia sudah bosan.

****

Maka sore itu Ariel datang ke rumah orang tuanya sengaja untuk menemui sang mama. Ketika Ariel baru saja tiba di rumah ini nampak sang mama yang sedang membaca majalah di ruang tengah dan langsung saja ia duduk tak jauh dari sang mama.

"Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Mayra seraya menutup majalah yang sejak tadi ia baca.

"Aku dan Lian bertengkar karena ucapan Mama," jawab Ariel tanpa basa-basi.

"Oh jadi dia ngambek gitu karena Mama menanyakan alasan dia tak mau punya anak?"

"Ma, bukankah aku sudah berulang kali mengatakan jangan pernah menanyakan soal hal itu jika bersama Lian? Dia tak nyaman dengan pertanyaan itu."

"Dia marah padamu? Apakah dia mengancam akan bercerai denganmu? Kalau begitu silakan dia lakukan saja."

"Mama! Ini sama sekali tak lucu, kalau aku bercerai dengan Lian sementara tak lama lagi aku akan menjadi wali kota siapa yang akan mendampingi aku? Masa sih aku sendirian saja?"

"Belakangan ini kan banyak wali kota muda yang lajang belum menikah, mereka biasa saja tuh ketika dilantik sendirian."

"Tapi kan mereka bukan aku! Usiaku juga sudah tak muda lagi!"

"Siapa bilang? Kamu baru 38 tahun, belum sampai 40 atau 50 tahun kok. Masih pantas kalau kamu sendirian."

"Mama ini!"

****

Runi nekat datang ke kantor Kevin walau tanpa memberitahu suaminya terlebih dahulu. Ia ingin membuat kejutan untuk sang suami namun binar kebahagiaan yang sejak tadi tercipta di wajahnya seketika harus hilang karena menemukan sang mertua sedang ada di dalam ruangan kerja suaminya. Kevin nampak terkejut menatap Runi yang datang tanpa memberitahunya dulu dan nampak Kevin tak terlalu menyukai hal ini.

"Bukankah aku sudah mengatakan kalau mau datang ke sini kabari dulu?"

"Kenapa aku harus mengabari dulu? Apakah salah seorang istri ingin bertemu dengan suaminya? Apakah kamu takut kalau aku datang kamu sedang bersama wanita lain begitu?"

"Jangan bicara omong kosong! Aku melakukan semua ini supaya kamu dan anak kita aman dari wartawan!"

Runi nampak tertawa mendengar jawaban Kevin barusan, jika Kevin bisa menahan diri namun tidak dengan Erlita, wanita itu langsung menampar wajah Runi dengan keras hingga membuat Runi jatuh terjembab ke lantai.

"Mami."

"Biarkan saja Mami berikan wanita rendahan ini pelajaran. Apakah kamu sama sekali tak pernah belajar etika ketika bicara dengan suamimu?!"

Kevin memijat pelipisnya, drama antara Runi dan Erlita bisa berlangsung lama karena kebencian Erlita memang sudah sejak dulu pada Runi dan ia selalu menunggu momen di mana Runi bisa bersikap seperti ini untuk memberikan pelajaran.

****

Tasya dan Ariel tengah duduk di sofa ruang tengah rumahnya, tadi adiknya mengatakan ingin tidur di rumah ini karena sedang ada masalah dengan istrinya. Tasya awalnya keberatan dan meminta Ariel tidur saja di rumah orang tua mereka namun Ariel memberikan alasan bahwa kalau tidur di sana maka papa mereka akan marah dan menyuruhnya pulang padahal papa mereka saja tak tahu apa pun mengenai apa masalah yang tengah dihadapi.

"Aku tak bisa memutuskan, ini kan rumah Kevin."

"Kevin tak akan keberatan kalau adik iparnya menginap!"

Tasya berdecak kesal mendengar jawaban adiknya barusan. Ariel kemudian mulai menceritakan keluh kesahnya pada sang kakak yang walau kadang mereka sering bertengkar dan berselisih pendapat mengenai beberapa hal sejak kecil namun bisa dikatakan hubungan mereka tetap kompak hingga dewasa. Di depan Tasya, Ariel bisa menjadi sosok anak-anak yang jauh dari kesan berwibawa yang selama ini ia tampilkan di depan publik. Tasya mendengarkan semua keluh kesah sang adik dan membiarkan adiknya merasa lega selepas mengutarakan semua yang ia rasakan.

"Bagaimana? Sudah jauh lebih baik?"

"Iya, maaf kalau telingamu panas kalau mendengarkan ceritaku."

"Tapi ngomong-ngomong, apa yang membuat suasana hatimu baik?" sambung Ariel dengan penuh penasaran.

****

Runi nampak tak percaya kalau Kevin hanya diam saja saat dirinya diperlakukan tak baik oleh Erlita, Kevin sama sekali tak membela bahkan menegur maminya yang sudah keterlaluan barusan bermain kasar padanya. Runi tentu saja kecewa dengan sikap Kevin ini dan ia langsung balik badan meninggalkan Kevin dengan sejuta perasaan kecewa yang ia rasakan.

"Sudahlah, kamu tak perlu memikirkan dia," ujar Erlita berusaha menenangkan putranya saat ini.

"Aku tak berniat untuk tak menolongnya barusan, aku sedang banyak yang harus dikerjakan dan dia datang di saat yang tak tepat hingga memancing amarahku."

"Mami paham."

Maka kemudian Erlita memeluk Kevin dengan penuh kasih sayang namun sebuah seringai tersungging di bibirnya karena rencananya berjalan dengan sempurna.

Episodes
1 Permintaan Sang Suami
2 Tawaran Menggiurkan
3 Pria Dari Masa Lalu
4 Penjelasan yang Dinanti
5 Harus Percaya Siapa?
6 Hanya Seorang Selir
7 Anakku Tak Mengenaliku
8 Pertemuan Resmi Dengan Anak
9 Iri Pada Sang Ratu
10 Masih Tak Dapat Menerima
11 Tak Bisa Akur
12 Apa yang Terjadi Padamu?
13 Tuduhan yang Membuat Hati Panas
14 Kampanye Pertama
15 Drama Dengan Mertua
16 Jangan Bertindak Sembarangan
17 Menyelesaikan Masalah Dan Masalah Lain Datang
18 Menawarkan Diri
19 Aku Muak Padamu
20 Peringatan Secara Halus
21 Keputusan Untuk Berpisah
22 Fakta yang Membuat Terkejut
23 Biasakan Dirimu
24 Bohong Soal Umur?
25 Pertengkaran yang Tak Bisa Terhindarkan
26 Membongkar Aib Orang Tak Tahu Diri
27 Permintaan Terakhir Ibu
28 Merendahkan Diri
29 Kabar Duka Cita
30 Trauma Anak
31 Aku Ingin Memanggil Ayah
32 Papa Angkat Bicara
33 Menolak Untuk Bercerai
34 Mendapatkan Kesempatan Bertemu
35 Aku Tidak Gentar
36 Menjadi Viral Akibat Masa Lalu
37 Aku Mau Ayah
38 Siksaan Dunia
39 Memberitahu Mami yang Sebenarnya
40 Cerita Pada Suami
41 Bermalam Di Rumah Sakit
42 Tak Percaya Cinta
43 Hari Pemungutan Suara
44 Besan Pun Jujur
45 Mengetahui Dari Dua Sisi
46 Mantan Mertua
47 Pelantikan Jabatan
48 Hanya Berkata Jujur
49 Kamu Akan Hancur
50 Melabrak Pelakor Tak Tahu Diri
51 Alibi Sang Wanita Licik
52 Kebusukan yang Terbongkar
53 Ditangkap Pada Akhirnya
54 Kunjungan Kerja
55 Kembali Membuat Viral
56 Tuduhan Di Pesta Ulang Tahun
57 Hoaks yang Membuat Heboh
58 Ditangkapnya Sang Pembuat Onar
59 Rasa Iri Dan Cemburu Pada Mantan
60 Pembicaraan yang Berujung Emosi
61 Aku Masih Cinta
62 Dia Bukan Orang Baik
63 Cinta Itu Masih Ada
64 Mama Mencoba Mengerti
65 Dia Pergi
66 Aku Yakin Karena Kamu
67 Papa Jangan Ikut Campur
68 Memahami Tanpa Menghakimi
69 Curigaku Ternyata Benar
70 Aku Akui Cinta Padamu
71 Frustasi Setelah Tak Ada Kabar
72 Mencoba Membuat Besan Paham
73 Jangan Menyakiti Lebih Dalam Lagi
74 Aku Menyerah
75 Penyesalan Selalu Datang Terlambat
76 Pertemuan Setelah Sekian Lama
77 Bukan Menantu yang Baik
78 Dia Mengaku?
79 Sidang yang Ricuh
80 Putusan Cerai
81 Menuai Karma
82 Penangkapan yang Akhirnya Terjadi
83 Kembali Ke Kota
84 Apakah Akan Menyusul?
85 Aku Akan Selalu Bersamamu
86 Ditetapkan Sebagai Tersangka
87 Sebuah Akhir Cerita
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Permintaan Sang Suami
2
Tawaran Menggiurkan
3
Pria Dari Masa Lalu
4
Penjelasan yang Dinanti
5
Harus Percaya Siapa?
6
Hanya Seorang Selir
7
Anakku Tak Mengenaliku
8
Pertemuan Resmi Dengan Anak
9
Iri Pada Sang Ratu
10
Masih Tak Dapat Menerima
11
Tak Bisa Akur
12
Apa yang Terjadi Padamu?
13
Tuduhan yang Membuat Hati Panas
14
Kampanye Pertama
15
Drama Dengan Mertua
16
Jangan Bertindak Sembarangan
17
Menyelesaikan Masalah Dan Masalah Lain Datang
18
Menawarkan Diri
19
Aku Muak Padamu
20
Peringatan Secara Halus
21
Keputusan Untuk Berpisah
22
Fakta yang Membuat Terkejut
23
Biasakan Dirimu
24
Bohong Soal Umur?
25
Pertengkaran yang Tak Bisa Terhindarkan
26
Membongkar Aib Orang Tak Tahu Diri
27
Permintaan Terakhir Ibu
28
Merendahkan Diri
29
Kabar Duka Cita
30
Trauma Anak
31
Aku Ingin Memanggil Ayah
32
Papa Angkat Bicara
33
Menolak Untuk Bercerai
34
Mendapatkan Kesempatan Bertemu
35
Aku Tidak Gentar
36
Menjadi Viral Akibat Masa Lalu
37
Aku Mau Ayah
38
Siksaan Dunia
39
Memberitahu Mami yang Sebenarnya
40
Cerita Pada Suami
41
Bermalam Di Rumah Sakit
42
Tak Percaya Cinta
43
Hari Pemungutan Suara
44
Besan Pun Jujur
45
Mengetahui Dari Dua Sisi
46
Mantan Mertua
47
Pelantikan Jabatan
48
Hanya Berkata Jujur
49
Kamu Akan Hancur
50
Melabrak Pelakor Tak Tahu Diri
51
Alibi Sang Wanita Licik
52
Kebusukan yang Terbongkar
53
Ditangkap Pada Akhirnya
54
Kunjungan Kerja
55
Kembali Membuat Viral
56
Tuduhan Di Pesta Ulang Tahun
57
Hoaks yang Membuat Heboh
58
Ditangkapnya Sang Pembuat Onar
59
Rasa Iri Dan Cemburu Pada Mantan
60
Pembicaraan yang Berujung Emosi
61
Aku Masih Cinta
62
Dia Bukan Orang Baik
63
Cinta Itu Masih Ada
64
Mama Mencoba Mengerti
65
Dia Pergi
66
Aku Yakin Karena Kamu
67
Papa Jangan Ikut Campur
68
Memahami Tanpa Menghakimi
69
Curigaku Ternyata Benar
70
Aku Akui Cinta Padamu
71
Frustasi Setelah Tak Ada Kabar
72
Mencoba Membuat Besan Paham
73
Jangan Menyakiti Lebih Dalam Lagi
74
Aku Menyerah
75
Penyesalan Selalu Datang Terlambat
76
Pertemuan Setelah Sekian Lama
77
Bukan Menantu yang Baik
78
Dia Mengaku?
79
Sidang yang Ricuh
80
Putusan Cerai
81
Menuai Karma
82
Penangkapan yang Akhirnya Terjadi
83
Kembali Ke Kota
84
Apakah Akan Menyusul?
85
Aku Akan Selalu Bersamamu
86
Ditetapkan Sebagai Tersangka
87
Sebuah Akhir Cerita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!