Kevin tiba di rumah dengan wajah yang kusut dan tak seperti biasanya walau ia pulang kerja dan lelah seharian berjibaku dengan pekerjaan kantor namun tak pernah ia menunjukan raut wajah lelahnya. Pemandangan tak biasa itu tentu saja mendapatkan perhatian dari Tasya yang selama 10 tahun hidup bersama Kevin baru kali ini melihat raut wajah suaminya begitu kacau ketika kembali dari tempat bekerja.
"Aku tahu bahwa kamu ingin banyak bertanya mengenai apa yang terjadi padaku namun bisakah tolong kamu jangan menanyakan apa pun dulu sekarang? Aku sedang tak baik-baik saja," ujar Kevin bahkan sebelum Tasya buka suara.
Setelah mendengar apa yang Kevin katakan barusan tentu saja Tasya paham dan ia tak akan buka suara dan membiarkan saja Kevin melakukan apa pun yang ia inginkan. Ia akan menahan semuanya sampai Kevin siap bercerita walau sebenarnya ada rasa penasaran yang sangat menggebu di dalam dirinya mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada sang suami.
"Mandilah, aku akan siapkan baju ganti."
Kevin gegas masuk ke dalam kamar mandi dan Tasya mulai menyiapkan piyama untuk suaminya kenakan. Tasya kemudian kembali ke tempat tidur untuk melanjutkan tidurnya namun sayangnya walau ia sudah berusaha keras untuk lelap ke dalam mimpi nyatanya ia tak bisa juga.
"Astaga, aku nyatanya tak bisa melakukannya."
Tasya melirik ke arah Kevin yang sudah lelap tidur di sebelahnya, Tasya tak tahu apa yang terjadi pada Kevin hari ini namun sepertinya sang suami mengalami hari yang berat. Tasya kemudian memutuskan untuk berbaring kembali dan mencoba untuk memejamkan matanya. Ia menarik napas dan mencoba untuk kembali tidur dan berhasil walau hanya beberapa jam karena ia harus bangun untuk menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi."
Ariel sudah siap di meja makan menyapa sang kakak yang dibantu oleh asisten rumah tangga menyiapkan sarapan di atas meja makan.
"Selamat pagi."
"Wajahmu nampak tak bersemangat pagi ini."
"Sudahlah jangan banyak tanya!"
Hari ini Tasya sedang tak mood untuk beradu argumen dengan Ariel dan hal itu membuat Ariel jadi heran dengan perubahan sikap sang kakak.
****
Tak lama kemudian Kevin menyusul ke meja makan, pria itu sudah jauh lebih baik pagi ini dibandingkan tadi malam atau mungkin Kevin sengaja berpura-pura terlihat baik supaya Tasya tak banyak bertanya? Tasya menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan apa yang barusan ada dalam pikirannya.
"Ariel? Kapan datang?"
"Aku kemarin datang, aku kan menginap semalam di sini."
"Menginap? Tasya tak memberitahuku semalam."
"Bagaimana keadaanmu pagi ini? Sepertinya kamu sudah jauh lebih baik," ujar Tasya angkat bicara.
"Iya aku sudah jauh lebih baik. Terima kasih karena kamu sudah mau bertanya."
Ariel nampak heran dengan hal ini, ia sebenarnya ingin tahu lebih banyak namun demi menjaga etika dan kesopanan maka ia terpaksa menutup mulut dan tak bertanya apa pun walau sebenarnya ia sendiri penasaran setengah mati dengan apa yang terjadi semalam di antara kedua orang ini.
"Aku sudah selesai sarapan, aku berangkat dulu."
Kevin langsung mengenakan jasnya dan berpamitan pada Tasya, Wikka dan Ariel yang kemudian melanjutkan sarapan pagi mereka.
"Wikka sayang, sudah selesai kan sarapannya? Miss Violet tak lama lagi akan datang."
"Iya Ma."
"Belajarlah yang sungguh-sungguh."
Wikka menganggukan kepalanya dan kemudian ia berjalan menuju kamarnya.
****
Sementara itu di rumah keluarga Lazuardi nampak Erlita senang bukan main karena ada kesempatan memberikan pelajaran pada istri kedua Kevin itu. Sejak awal memang Erlita sudah tak suka dengan Runi namun karena wanita itu mengandung cucunya maka ia tak bisa berbuat banyak.
"Ada apa Erlita?" tanya Tama.
"Apa maksudmu sayang?"
"Sejak kemarin aku perhatikan kamu senyum-senyum sendiri."
Erlita nampak tertawa untuk meredakan rasa gugupnya saat sang suami mengatakan itu. Erlita berkilah bahwa ia baik-baik saja dan hanya memberikan pelajaran pada Runi.
"Kamu berbuat apa pada wanita itu?"
"Aku hanya memberikannya pelajaran supaya lebih sopan pada suaminya. Asal kamu tahu saja sayang kemarin dia sama sekali tak sopan pada Kevin dan malah langsung memarahinya, aku tak habis pikir dengan kelakuan wanita itu."
"Lalu apa rencanamu?"
"Tentu saja aku mau Kevin menceraikan dia dan ambil hak asuh Brandon. Tak lama lagi kan Tasya akan jadi Gubernur maka aku harus mempersiapkan semuanya suapaya menantu kita itu bisa memiliki citra yang sempurna di depan publik."
Tama menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ketika mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri barusan dan tentu saja Erlita heran dengan sang suami.
"Ada apa sayang? Apakah ada yang salah?"
"Sama sekali tidak."
****
Suryani datang ke rumah Runi seperti biasanya dan wanita itu bersikap seolah menjadi nyonya lagi ketika datang hingga membuat asisten rumah tangga jengah. Runi seharian kemarin mengurung diri di dalam kamar hingga Brandon saja yang mengurus pengasuhnya hingga anak itu berangkat ke sekolah.
"Dia ada di kamarnya?"
"Iya, nyonya masih di kamar."
Suryani melangkahkan kaki menuju kamar Runi dan mencoba membukanya namun sayang kamar itu terkunci dari dalam yang membuatnya jadi tak bisa masuk.
"Runi buka pintunya!" seru Suryani dari luar seraya berdecak kesal.
Suryani mencoba mengetuk pintu kamar hingga sepuluh menit namun Runi tak kunjung membukakan pintu hingga emosi Suryani yang memang setipis tisu itu meledak.
"Buka pintunya! Apakah begini caranya kamu bersikap pada orang tua?!"
Suryani tak mengetuk pintu lagi namun lebih pada menggedor dengan kasar pintu itu hingga tak lama kemudian akhirnya pintu terbuka dan Suryani yang hendak meluapkan amarah menjadi tak jadi karena melihat bagaimana penampakan kamar Runi dan juga keadaan putrinya yang berantakan.
"Astaga, apa yang terjadi padamu?"
Runi tak kuasa menjawab pertanyaan dari sang mama dan kemudian ia hanya bisa menangis saja. Suryani nampak kesal karena Runi bukannya menjawab namun malah menangis namun ia juga tak bisa melakukan apa pun kalau Runi saja tak mengatakan apa yang terjadi.
****
Ariel sengaja mematikan ponselnya sejak kemarin karena ia malas mengangkat telepon dari Berlian yang akan marah-marah padanya. Telinganya masih panas kalau mendengar ocehan dan keluhan Berlian yang seolah tak ada hentinya menjelakan mamanya. Ketika Ariel kembali ke rumah ia menemukan rupanya Berlian belum berangkat kerja atau mungkin istrinya itu sengaja tak berangkat kerja untuk menunggunya pulang ke rumah.
"Bagus sekali, baru pulang jam segini? Dari mana saja kamu semalam? Kenapa ponselnya tak aktif?!"
Namun Ariel tak menggubris pertanyaan Berlian dan malah melengos begitu saja melewati Berlian yang membuat wanita itu naik pitam.
"Aku ini bicara padamu! Kamu sama sekali tak tuli kan?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments