Tasya melihat keluar jendela dan di sana nampak sosok yang barusan menghubunginya berdiri melambaikan tangan padanya. Tasya merasa heran dengan kedatangan Desta saat ini dan ia pun meminta satpam untuk membiarkan pria itu masuk ke dalam rumah.
"Kalau suami saya marah maka saya yang akan bertanggung jawab."
Begitulah hal yang Tasya katakan pada satpam saat meminta satpam depan membukakan pintu untuk Desta. Tasya sudah berdiri di teras rumah ketika Desta membawa masuk mobilnya ke dalam halaman rumah ini dan memarkirkannya. Tasya masih melipat kedua tangannya dan menantikan penjelasan dari Desta mengenai apa maksud dan tujuan pria ini datang ke sini.
"Katakan padaku apa yang kamu lakukan di sini."
"Aku datang ke sini membawakan Wikka makanan, dia pasti suka."
Desta memperlihatkan paper bag yang ia bawa keluar dari dalam mobil. Tasya menghela napasnya dan kemudian masuk bersama Desta ke dalam rumah, Wikka sendiri menatap mamanya dan Desta dengan tatapan bingung hingga akhirnya Desta angkat bicara.
"Wikka lupa dengan Om?"
"Tidak, aku ingat Om."
Desta tersenyum bahagia mendengar jawaban anaknya itu, maka Desta kemudian menyodorkan makanan yang sejak tadi ia bawa khusus untuk anaknya ini. Wikka kemudian tanpa sungkan mendekat dan mengambil paper bag itu dan mengucapkan terima kasih pada Desta.
"Terima kasih banyak Om."
"Tidak masalah sayang."
Sejak tadi Tasya hanya diam dan memperhatikan bagaimana interaksi Desta dan Wikka yang sudah mulai terbangun secara alamiah. Wikka seperti nyaman di dekat Desta pun sebaliknya, ikatan batin di antara keduanya sepertinya sangat erat dan Tasya hanya bisa menarik napasnya berat. Entah apa yang ia rasakan saat ini namun ada rasa bahagia karena Wikka nyaman dekat dengan ayah kandungnya namun di sisi lain ada ketakutan di dalam dirinya jika kelak Wikka tahu kebenaran mengenai siapa ayah kandungnya maka sikapnya bisa berubah bahkan pada dirinya sendiri.
"Tasya, kamu kenapa diam saja? Kamu tidak mau makan juga?"
****
Wikka diajak oleh Tasya dan Desta ke taman untuk menghirup udara segar, awalnya Tasya keberatan dengan ide Desta itu namun karena Wikka yang merengek maka Tasya tak ada pilihan lain selain menuruti apa yang Wikka inginkan. Mereka berjalan bertiga beriringan layaknya keluarga pada umumnya namun karena suasana seperti ini malah membuat Tasya menjadi canggung.
"Ehem, sepertinya belakangan ini kamu sibuk kampanye, ya?" ujar Desta membuka obrolan.
"Begitulah namanya musim kampanye untuk memenangkan pilkada kan?" jawab Tasya seadanya.
"Aku tak pernah tahu kalau kamu punya ketertarikan dalam politik."
"Ini semua karena papa dan mertuaku."
"Jadi kamu melakukan semua ini karena keterpaksaan belaka?"
Tasya menjelaskan bahwa ia juga tak yakin kalau dikatakan terpaksa karena ia juga tak merasa ada tekanan di sini. Tasya mengatakan ia hanya mengukuti arus kehidupan saja tanpa berniat untuk menolaknya.
"Lantas bagaimana dengan Wikka? Kalau kamu sudah menang jadi Gubernur maka pasti Wikka akan kesepian karena papa dan mamanya bekerja lebih dari waktu kerja normalmu di butik kan?"
"Itu yang aku pikirkan sejak awal mendaftarkan diri dan sekarang aku sejujurnya merasa agak bersalah karena sudah memilih semua ini namun aku juga tak bisa mundur kan?"
"Bagaimana kalau aku jadi pengasuh Wikka saja selama kamu bekerja? Setidaknya dia tak akan kesepian dan kami bisa memiliki banyak waktu bersama sebagai sarana pengakraban diri?"
****
Ariel memasang wajah datar ketika menantikan Berlian dan pria yang tidur bersamanya di lantai bawah. Rencana untuk berbaikan dan meminta maaf atas sikapnya belakangan ini seketika memudar digantikan oleh rasa sakit yang menderanya akibat penghianatan yang dilakukan oleh istrinya sendiri ditambah lagi ia harus melihatnya dengan kedua mata kepalanya sendiri mereka melakukan hal tak pantas di atas ranjang miliknya. Akhirnya yang Ariel tunggu sejak tadi muncul juga, Berlian dan selingkuhannya duduk di sofa dekat dengan Ariel yang masih setia memasang wajah dinginnya.
"Kenapa hanya diam saja? Tidakkah ada sesuatu yang perlu kalian jelaskan," ujar Ariel kesal.
"Apa yang kamu ingin ketahui?" tanya Berlian tenang.
"Apakah karena pria ini alasan kamu tak mau memiliki anak dariku?!" ujar Ariel yang sudah hilang kendali dan berteriak pada Berlian.
"Kamu jangan salahkan dia karena dia sama sekali tak ada hubungannya dengan alasan kenapa aku tak mau punya anak."
"Sejak kapan kalian menjalin hubungan dan bagaimana bisa kamu melakukannya di dalam kamar dan di atas ranjangku?!"
"Aku melakukan semua ini karena kamu juga Ariel! Karena mamamu yang terus menerus memaksaku untuk memiliki anak darimu padahal aku tak mau punya anak maka aku stres dan akhirnya aku melakukan semua ini."
****
Suryani datang ke rumah Runi lagi seperti biasanya untuk mengecek keadaan sang putri dan ketika tiba di sana ia menemukan Runi tengah menangis sesegukan dan Suryani pun gegas saja menghampiri Runi dan bertanya mengenai ada apakah gerangan yang terjadi saat ini.
"Semua ini karena dia! Aku benci dia!"
"Siapa yang sedang kamu bicarakan?"
Namun Runi sama sekali tak menjawab pertanyaan yang barusan Suryani tanyakan dan tentu saja aksi bungkam Runi membuat Suryani jadi bertanya apakah yang dimaksud oleh Runi barusan adalah Tasya dan Runi sama sekali tak menjawab pertanyaan Suryani yang membuat Suryani yakin bahwa Runi tengah marah pada Tasya.
"Astaga, kali ini apa lagi yang kamu lakukan?! Bukankah Mama sudah mengatakan jangan cari perkara dengan Tasya dan keluarganya? Mereka itu bukan orang sembarangan dan posisi kamu ini juga sama sekali tak kuat jadi jangan coba-coba untuk membuat masalah!"
"Kenapa Mama harus selalu mengatakan hal ini?! Apakah Mama tak tahu kalau saat ini aku sedang sedih?!"
"Kalau kamu sedang sedih akibat menyalahkan Tasya dan tak bisa menerima posisimu maka sampai kapan pun kamu akan sedih, lagi pula siapa suruh menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka? Masih untung Tasya menerima kamu dan tak melabrak kamu ketika tahu suaminya selingkuh."
****
Ariel merasa bahwa ia tak bisa menerima alasan yang Berlian katakan barusan, Ariel mengatakan bahwa ia akan segera menggugat cerai Berlian dan ia ingin secepatnya berpisah dari wanita ini. Sontak saja Berlian terkejut bukan main dengan apa yang Ariel katakan, Berlian memohon pada Ariel untuk jangan melakukan gugatan cerai padanya.
"Namun keputusanku ini sudah bulat dan aku tak akan goyah."
"Kalaupun ada yang harusnya menggugat cerai ke pengadilan harusnya aku bukan kamu! Aku tak mau harga diriku jatuh karena kamu yang menggugat ceraiku! Apa kata orang tuaku nantinya kalau mereka tahu aku yang digugat cerai olehmu?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Uthie
Diihh.. dasar cewek egois 😡
2024-06-15
0