Tasya melihat sosok pria yang berdiri di depan mobilnya dan pria itu memanggil namanya supaya keluar menemuinya. Tentu saja Tasya mengenali siapa pria itu dan ia nampak enggan untuk turun menemuinya namun karena pria itu terus saja memaksanya turun maka ia tentu saja tak memiliki pilihan lain lagi selain menuruti apa yang diperintahkan oleh pria itu.
"Tenang saja Pak."
Tasya kemudian turun dari dalam mobil dan menarik pria itu menuju taman dekat sana dan karena suasana taman sedang sepi maka cocok sekali untuk mereka bicara pagi ini.
"Apa lagi yang kamu inginkan?"
"Kenapa melarangku menemui anakku sendiri?"
"Anak? Apa maksudmu?"
"Wikka, dia anakku!"
"Bukankah kamu tak mau mengakui dia sebagai anakmu! Papanya Wikka adalah Kevin Lazuardi bukan kamu!"
Desta tertawa sumbang mendengar ucapan Tasya barusan, Desta mengatakan bahwa Tasya sudah menipu Wikka dan mengatakan kebohongan pada anak mereka.
"Kevin nyatanya mau menerima Wikka sebagai anaknya tidak sepertimu yang menolak bertanggung jawab dan lari seperti pengecut!"
"Aku minta maaf, aku bisa jelaskan semuanya."
"Baiklah, aku akan atur waktu supaya kita bisa bicara namun mulai detik ini jangan pernah coba menampakan diri lagi di rumah itu!"
"Aku tidak bisa janji, aku rindu Wikka."
"Kalau kamu masih nekat maka aku tak akan memberikan kamu akses menemui Wikka."
Desta menghela napasnya panjang dan pada akhirnya ia menerima syarat yang diajukan oleh Tasya barusan walau dengan berat hati. Tasya kemudian gegas meninggalkan Desta yang masih termenung, Tasya masuk ke dalam mobil dan kendaraan itu melaju meninggalkan lokasi di mana barusan ia dan Desta bertemu. Sementara itu Desta menatap nanar mobil yang membawa Tasya pergi dan kini ia berjalan menuju mobil MPV miliknya dan masuk ke dalamnya.
"Aku harus menjelaskan semuanya."
Desta menyalakan mesin mobil itu namun ia tak berputar arah untuk kembali ke jalan utama melainkan terus menuju rumah mewah di mana Wikka tinggal.
"Tunggu Ayah, Nak. Ayah akan menjelaskan semua pada mamamu supaya kita bisa bertemu lagi."
****
Kehadiran Desta yang tak terduga membuat mood Tasya ambyar pagi ini. Ia sudah tak mood lagi untuk menyentuh pekerjaannya padahal masih ada beberapa design yang harus ia selesaikan. Ingatan Tasya langsung terlempar pada kejadian 11 tahun lalu di mana ia dan Desta begitu dimabuk cinta dan Desta mengatakan akan berjuang mendapatkan restu dari keluarganya namun hingga malam di mana mereka akhirnya tidur bersama akibat nafsu yang menggebu namun setelah Desta tahu bahwa Tasya hamil maka pria itu menghilang bak ditelan bumi.
"11 tahun kamu menghilang dan kamu ingin memperkenalkan dirimu sebagai ayah Wikka? Yang benar saja."
Tasya masih menyimpan rasa benci pada pria yang pernah ia cintai bahkan rela berhubungan di belakang keluarganya tanpa mereka semua ketahui. Ingatan Tasya juga terlempar pada cerita Wikka di mana mamanya Kevin tak mau mengakui Wikka sebagai cucunya dan mengatakan hal yang tak pantas.
"Menyebalkan sekali."
Ponsel yang Tasya taruh di atas meja kerjanya berdering menandakan ada panggilan masuk dan ketika melihat layarnya ada nama Kevin di sana. Segera saja Tasya menjawab panggilan dari Kevin itu.
"Ada apa?"
"Nanti siang papi mau bertemu kamu, ada aku juga di sana jadi kamu tenang saja."
"Papi mau bahas apa?"
"Aku tak tahu."
"Jangan bohong! Apakah ini soal pilkada itu?"
"Aku tak tahu Tasya, sungguh!"
****
Maka ketika jam makan siang, Tasya gegas pergi menuju sebuah restoran mewah yang menjadi lokasi di mana mertuanya ingin bertemu dengannya. Baru saja ia turun dari dalam mobil nampak sang suami sudah menantinya di depan pintu restoran dengan tersenyum yang mana membuat Tasya heran.
"Kenapa tak masuk saja?"
"Tersenyumlah karena ada beberapa media di dalam."
"Media?"
"Pokoknya senyum saja dan gandeng lenganku seperti biasa."
Tasya menghela napasnya panjang, drama kepalsuan ini sungguh membuatnya jengah. Ia harus berperan sebagai istri yang sangat mencintai dan menyayangi suaminya sepenuh hati padahal tentu saja pada kenyataannya tak seperti itu. Kevin setia menggenggam tangan Tasya ketika melewati beberapa media, mereka berdua memang layak mendapatkan nominasi oscar sebagai aktor dan aktris terbaik karena selama 10 tahun belakangan mereka bisa melakukan peran ini dengan baik.
"Kami permisi dulu, papi sudah menunggu di dalam."
Kevin membawa Tasya masuk ke dalam ruangan khusus yang dijaga ketat oleh pengawal keluarga Lazuardi di depannya hingga tentu tak bisa sembarangan orang bisa masuk. Di dalam sana sudah ada sang mertua yang menantinya sejak tadi.
"Tasya, duduklah."
"Iya Pi."
Nampak papi mertuanya ini tengah berbasa-basi dengan Tasya namun sejujurnya Tasya malas meladeninya dan ingin langsung masuk pada intinya saja.
****
Hari sudah sore dan Desta masih belum mendapatkan pesan dari Tasya mengenai kapan pertemuan yang dijanjikan oleh wanita itu.
"Apakah dia berdusta?"
Desta menggelengkan kepalanya dan kemudian gegas menuju mobilnya namun baru saja ia hendak masuk ke dalam mobilnya ada dua orang pria berbadan tegap menghampirinya.
"Siapa kalian?"
"Ikut kami, Tuan ingin bicara."
Desta mengerutkan kening heran karena ia tak paham siapa tuan yang mereka maksud namun kedua orang itu memberikan Desta sebuah isyarat untuk ikut saja mereka. Desta yang paham langsung saja menuruti apa yang diminta oleh mereka dan rupanya ada sebuah mobil mewah yang menunggunya di tepi jalan dan orang itu mempersilakan Desta masuk ke dalam.
"Silakan."
Desta masuk ke dalam dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan sosok yang ingin bertemu dengannya. Desta tentu saja mengenal dengan baik pria ini, dia adalah Andri yang tengah menatap lurus ke depan.
"Apa kabar anda Pak? Lama tak berjumpa."
"Jangan basa-basi."
Desta seketika dia mendengar Andri dengan dinginnya mengatakan itu dan kini pria tua itu menatapnya tajam penuh dengan intimidasi yang membuat Desta agak goyah dan takut.
"Ada apa Pak?"
"Mau apa kamu kembali lagi?!"
****
Tasya dan Kevin berjalan beriringan keluar dari dalam restoran dan masuk ke dalam mobil pria itu. Barusan papi mertuanya memintanya untuk bersedia maju dalam pilkada mendatang dan tentu saja Tasya yang sudah mendengar itu dari Kevin langsung bertanya lebih lanjut mengenai kenapa harus dia dan apakah ia bisa melakukan semua itu.
"Bantulah suamimu ini, bukankah kamu juga tahu bagaimana caranya berbalas budi?"
"Tanpa perlu kamu mengatakannya pun aku tahu bagaimana caranya berbalas budi."
"Jadi kamu setuju?"
"Tentu saja, tapi ...."
"Tapi apa?"
"Mami memerlakukan Wikka dengan tak baik, dia membedakan Wikka dan Brandon. Dia juga mengatakan bahwa Wikka bukan cucunya dan bukan anakmu. Sebagai seorang ibu tentu saja hatiku hancur!"
"Tenanglah, aku akan bicara pada mami mengenai semua ini namun pastikan dulu kamu bersedia maju dalam pemilihan Gubernur."
"Aku kan sudah mengatakan bersedia sejak tadi, kenapa masih bertanya?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments