Ariel sudah lelah dengan drama yang ditunjukan oleh istrinya belakangan ini dan tujuan utama ia menginap di rumah kakaknya memang menghindari perdebatan seperti ini. Ia pikir ketika pulang ke rumah sudah tak menemukan Berlian lagi namun rupanya ia salah karena istrinya ini masih setia menunggunya.
"Apa maksudmu menanyakan itu?!" seru Ariel yang murka karena ucapan Berlian barusan.
"Dari mana saja kamu? Apakah semalam kamu tidur dengan wanita lain?! Kamu mau coba selingkuh di belakangku?!"
Ariel tertawa sumbang mendengar tuduhan demi tuduhan yang dilontarkan padanya dan tawa sumbang itu nyatanya membuat Berlian jadi panas hati. Wanita itu kini makin membabi buta untuk menuduh Ariel selingkuh semalam tanpa mendengarkan penjelasan Ariel terlebih dahulu hingga tentu saja sikap Berlian yang seperti ini membuat Ariel menjadi lelah sendiri.
"Bagaimana kalau kita berpisah saja?"
Berlian yang mendengar ucapan Ariel barusan sontak terkejut bukan main, ia tak menyangka kalau Ariel akan mengucapkan kata-kata seperti itu padanya padahal ia sama sekali tak ada keinginan berpisah dari sang suami.
"Tidak! Jangan pernah kamu mengatakan hal seperti itu padaku!" seru Berlian seraya menggelengkan kepalanya cepat.
"Apa yang perlu kita pertahankan saat ini? Bukankah fondasi utama dari pernikahan adalah kepercayaan? Kalau memang sudah tak ada kepercayaan di antara kita maka untuk apa masih bersama? Apakah kita ingin menyakiti diri satu sama lain hingga mati?"
"Kenapa tiba-tiba saja kamu mengungkit soal perceraian? Apakah semua tuduhanku tadi benar? Kamu selama ini punya wanita idaman lain di antara kita?!"
Ariel menarik napasnya untuk membuatnya lebih sabar dalam menghadapi Berlian yang sikapnya semakin lama justru semakin menyebalkan saja.
"Jawab aku! Jadi benar bahwa kamu memang memiliki wanita idaman lain?!"
"Kalau semua tuduhanmu itu benar maka silakan buktikan!"
Selepas mengatakan itu Ariel gegas masuk ke dalam kamarnya dan mengabaikan Berlian yang masih saja berteriak meminta penjelasan mengenai dari mana saja semalam dan kenapa baru pulang.
****
Hari ini Tasya ada jadwal kampanye bersama wakilnya menuju sebuah daerah yang memang menjadi basis tertinggi penduduk provinsi ini. Di kota ini adalah kunci bagi siapa pun calon Gubernur jika ingin menang dalam pemilu yang akan datang dan oleh sebab itu maka tim kampanye akan membuat berbagai acara menarik supaya bisa menarik warga memilih calon tertentu. Tasya sendiri sejak semalam mulai berlatih di depan cermin untuk berorasi, ia membayangkan dirinya berada di atas panggung dan mulai berorasi politik di depan pendukungnya dan juga warga yang hadir. Untuk pertama kalinya ia harus menghadapi banyak orang dan menebar janji manis untuk menarik simpati ribuan orang dan memenangkan pemilihan ini.
"Sungguh sulit dipercaya kalau aku harus berlatih seperti ini."
Tasya memang sebelumnya tak pernah melakukan orasi politik di depan banyak orang, ia selalu menjadi pembicara sebagai CEO butik dan brand fashion yang ia kembangkan dan itu pun hanya dalam forum tertutup yang dihadiri sejumlah orang penting saja di dalam ruangan bukan di lapangan seperti yang akan ia lakoni nanti bersama timnya.
"Sepertinya kamu bersemangat sekali akan melakukan kampanye pertama hari ini," ujar Kevin.
"Siapa yang bilang aku bersemangat? Aku hanya sedang mempersiapkan diri sebaik mungkin supaya terlihat natural dan bisa menarik simpati masyarakat yang datang."
"Terserah apa katamu lah."
Tasya kemudian menatap suaminya yang mana Kevin pun menatap baliknya.
"Ada apa?"
****
Berlian mencoba untuk kembali bicara dengan Ariel karena pembicaraan mereka masih jauh dari kata selesai. Ariel sama sekali tak menjawab pertanyaannya padahal ia sama sekali belum mendapatkan jawaban secara resmi dari sang suami.
"Kamu berutang penjelasan padaku! Apakah kamu tak mau menjelaskan semuanya?!"
Namun Ariel sama sekali tak menanggapi apa yang dikatakan oleh Berlian dan suaminya itu masih saja mengurung diri di dalam kamar. Berlian nampak kesal bukan main, sudah berdiri selama satu jam di depan kamar dan menggedor pintu tanpa hasil yang ia inginkan bukanlah hal yang sejak tadi ia harapkan.
"Ariel! Buka pintunya! Jangan jadi pengecut dan tak mau menjelaskan apa pun padaku!"
Berlian masih saja menumpahkan kekesalannya pada sang suami sementara di dalam kamar Ariel menutup telinganya dengan earplug supaya tak mendengar ocehan dan omelan Berlian yang membuat hati dan telinganya panas. Berlian sendiri masih menggedor pintu hingga semua energinya habis namun Ariel sama sekali tak membukakan pintu dan menjelaskan semuanya padanya. Tentu saja hal ini menjadi sebuah hal yang sangat membuat Berlian sangat amat kecewa.
"Jadi begini? Kamu sama sekali tak mau menjelaskan apa pun padaku?!"
****
Suryani mencoba untuk mengorek lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi pada hubungan Runi dan Kevin dan kenapa Runi bisa berakhir begini. Runi pun akhirnya mau menceritakan apa yang ia alami pada Suryani. Runi menceritakan bagaimana Erlita memerlakukannya dengan buruk namun Kevin sama sekali tak melakukan apa pun dan justru seperti sengaja untuk membuat Erlita semakin menyiksanya.
"Aku ini istrinya, bagaimana bisa dia membiarkan aku diperlakukan tidak baik oleh maminya?"
"Kamu cari gara-gara lagi kan?"
"Mama ini bicara apa?"
"Dari ceritamu saja Mama sudah bisa menyimpulkan kamu datang dengan maksud tak baik, wajar saja jika Kevin marah dan akhirnya malah membiarkan maminya bertindak tak baik padamu."
Runi nampak tak percaya dengan apa yang barusan sang mama katakan, Runi pikir Suryani akan membelanya dan menenangkannya dengan apa yang terjadi padanya ini namun rupanya ia sudah salah sangka. Suryani tetap saja menyalahkannya seolah semua kesialan dan keburukan ini bersumber darinya.
"Bagus sekali dan Mama pun pada akhirnya menyalahkan aku juga."
"Memang Mama menyalahkan kamu! Bukankah Mama sudah berulang kali mengatakan bahwa statusmu itu tak lebih tinggi dari Tasya! Dia adalah istri sah Kevin Lazuardi dan ia juga berasal dari keluarga kaya raya, jangan cari gara-gara! Sudah Mama katakan berulang kali namun kamu bebal!"
****
Ariel memutuskan untuk keluar kamar setelah Berlian sepertinya sudah tak ada di rumah karena ia melihat wanita itu sudah pergi dengan mengendarai mobilnya entah ke mana. Ariel kemudian menuju dapur dan mengambil minum di kulkas untuk menyegarkan tenggorokannya. Ketika tengah duduk di kursi meja makan dan menyantap makan siang yang sudah disediakan oleh asisten rumah tangga, ponsel yang ia taruh sejak tadi di atas meja menyala dan memperlihatkan siapakah yang menelponnya saat ini dan rupanya itu adalah sang mama.
"Mama?"
Maka kemudian Ariel pun gegas menjawab telepon dari sang mama.
"Di mana kamu?! Kenapa belum datang juga?!"
"Datang ke mana?"
"Datang ke mana? Hari ini kakakmu akan kampanye dan kita kan harus datang memberikan dukungan!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Uthie
begitulah kira-kira gambaran rumah tangga yg istrinya bersikap egois dan lebih mementingkan karier politiknya yaa....
2024-06-15
0