Kampanye Pertama

Ariel tiba di tempat kampanye walau harus agak terlambat dan di sana memang sudah banyak masyarakat dan simpatisan yang tumpah ruah di sebuah lapangan besar di pusat kota. Di tengah lapangan itu ada sebuah panggung yang menjadi tempat orasi politik dan kampanye sang kakak. Ariel dan keluarganya nampak ikut berdiri di panggung menemani Tasya yang begitu memukau memberi orasi politik pertamanya di depan ribuan massa yang berkumpul. Sorak sorai meneriakan nama Tasya sebagai Gubernur berikutnya menggema yang membuat suasana semakin semarak. Beberapa media turut juga meliput kampanye ini dan barang tentu kehadian Ariel sebagai bakal calon wali kota di pilkada ini dalam kampanye sang kakak menimbulkan perhatian lebih. Wartawan langsung mengerubungi Ariel untuk meminta penjelasan namun dengan pengamanan super ketat Ariel hanya tersenyum pada media dan tak memberikan penjelasan apa pun.

"Bagaimana selanjutnya? Kalau media akan memberitakan ini bukannya lawan politikmu akan menggunakan berita ini untuk menjatuhkanmu?" tanya Ariel pada Tasya selepas kampanye selesai dan mereka ada di sebuah restoran yang sudah dipesan khusus untuk mereka dan tim kampanye.

"Tidak bagaimana-bagaimana, aku yakin papa dan papi akan mengurusnya, kamu lupa siapa kita?"

"Apakah ini benar kakakku? Astaga aku tak menyangka kamu bisa mengatakan itu."

"Memangnya kenapa? Itu semua benar, papa dan papi tak akan tinggal diam dan mereka sudah membukakan jalan luas padaku untuk bisa menang pemilihan ini jadi untuk apa aku takut?"

Tasya memang sudah mengubah kepribadiannya setelah memutuskan untuk terjun ke dunia politik yang masih baru untuknya namun tentu dengan sokongan kekayaan keluarga dan mertua maka tak ada yang perlu Tasya takutkan toh ia juga didukung oleh banyak partai pengusung jadi ia yakin tak akan ada gaduh pada parlemen kelak saat ia menjabat.

"Kalian ini sejak tadi sibuk bicara soal politik, ayo nikmati makanannya," ujar Mayra yang menyela percakapan kedua anaknya yang sejak tadi fokus membicarakan politik.

****

Desta melihat rekaman orasi politik Tasya dalam kampanye pertamanya sebagai calon Gubernur yang akan datang. Dengan banyaknya massa yang tumpah ruah di lapangan menandakan bahwa kampanye akbar hari ini berjalan lancar tanpa halangan sedikit pun. Desta bisa bernapas lega melihatnya karena walau bagaimanapun ia juga masih peduli pada Tasya yang merupakan ibu kandung anaknya.

"Apakah aku memang masih ada rasa untuknya?" lirih Desta.

Kenangan 11 tahun lalu terputar kembali di dalam benaknya ketika mereka sedang dalam masa-masa indahnya menjadi pasangan kekasih. Walau harus sembunyi-sembunyi karena orang tua Tasya tak setuju nyatanya jalinan cinta mereka tetap awet hingga Desta memilih menghilang saat Wikka hadir ke dunia ini.

"Jantungku masih berdegup kencang, apakah ini artinya aku masih mencintai dia?"

Desta memegangi dadanya yang mana memang ia merasakan degup jantungnya berdegup kencang ketika mengingat banyak memori indah yang pernah terjadi di antara mereka 11 tahun lalu.

"Apakah masih ada kesempatan kedua untukku?"

Desta terlonjak ketika mendengar suara pintu rumahnya diketuk kasar dari luar, ia gegas menuju pintu untuk melihat siapakah gerangan yang datang dan ketika membukakan pintu ada sosok Andri dan dua pengawalnya yang berbadan tegap dan wajah sangar tengah menatapnya.

"Ada apa malam-malam datang?"

"Saya ada urusan dengan kamu."

****

Andri adalah orang yang sejak dulu menentang hubungan Tasya dengan Desta, Andri tak pernah setuju karena Desta bukanlah berasal dari keluarga kaya raya dan ia khawatir kalau Desta tak bisa membuat Tasya bahagia padahal Tasya sudah berulang kali mengatakan kalau ia tak butuh harta yang ia butuhkan hanyalah Desta namun sebagai seorang ayah tentu saja ia ingin yang terbaik untuk sang putri tercinta.

"Ada apa Pak?"

"11 tahun sudah kamu menghilang dari pandangan Tasya namun sekarang kamu justru kembali, apakah kamu lupa apa yang menjadi pokok perjanjian kita?!"

"Saya paham Pak, Ibu saya sampai saat ini pun juga masih sakit namun saya tak bisa abai untuk tak mengakui Wikka sebagai anak kandung saya."

"Omong kosong! Kamu sudah melakukannya selama ini! Jadi lakukan saja dan lanjutkan apa yang sudah terjadi tak perlu merusak semuanya!"

"Saya sangat paham kalau anda marah dan kecewa dengan keputusan yang saya buat akan tetapi saya benar-benar tak bisa abai soal Wikka, saya mau setidaknya Wikka tahu yang sebenarnya bahwa saya adalah ayah kandungnya."

"Begitukah? Baiklah, kalau begitu saya tak akan memberikan peringatan atau berbaik hati lagi, saya akan menghentikan semua biaya pengobatan ibu kamu dan lihat saja apakah kamu masih sanggup untuk memenuhi kebutuhannya tanpa sepeser pun uang dari saya!"

****

Nyatanya Kevin tak kunjung datang ke rumah selepas kejadian di kantor kala itu padahal ini adalah jadwal Kevin untuk menghabiskan waktu dengannya dan Brandon namun justru Kevin malah tak datang.

"Papa ke mana, Ma? Kenapa Papa tak datang?"

Brandon terus saja rewel dan menanyakan mengenai soal Kevin padanya yang mana saat ini kondisi mental Runi sedang tak baik-baik saja karena ditimpa oleh masalah bertubi-tubi.

"Bisakah kamu diam?! Mama juga tak tahu di mana papamu!" bentak Runi.

Brandon nampak terkejut dan kemudian menangis karena dibentak oleh Runi. Tak lama kemudian pengasuhnya datang dan membawa Brandon pergi menjauh dari Runi yang masih kesal dengan tingkah suaminya.

"Kepalaku rasanya mau meledak saat ini!" geram Runi.

"Apa yang kamu lakukan pada anakmu?" tanya Suryani yang masih menginap di rumah ini dengan alasan menemani Runi yang sendirian karena Kevin tak kunjung datang.

"Aku stres! Dia selalu saja bertanya di mana papanya!"

"Kalau kamu sedang marah pada Kevin, jangan lampiaskan pada anakmu! Dia bahkan tak tahu apa pun mengenai masalah kalian!"

"Jadi Mama sekarang ingin bersikap sok bijak begitu? Apakah Mama pikir sudah menjadi ibu yang baik untukku dan ketiga saudariku?!"

"Runi!"

"Apa? Apakah Mama merasa apa yang aku katakan barusan memang benar adanya?"

****

Berlian kembali ke rumah namun tal juga menemukan keberadaan Ariel, ia tahu bahwa suaminya tadi pergi menghadiri acara kampanye akbar sang kakak ipar namun entah kenapa ia belum juga kembali ke rumah yang mana hal itu barang tentu membuat emosinya makin meledak-ledak.

"Astaga, rasanya aku ingin meledak sekarang!"

Berlian mencoba untuk menghubungi sang suami namun sayangnya sang suami sama sekali tak menjawab panggilan darinya karena lagi-lagi ponselnya tak aktif.

"Apakah dia memang sengaja untuk mematikan ponselnya? Kurang ajar sekali dia."

Berlian kemudian dengan terpaksa menghubungi Mayra untuk menanyakan di mana suaminya berada.

"Apa? Kamu mencari suamimu? Kamu tak perlu tahu di mana dia sekarang!"

Episodes
1 Permintaan Sang Suami
2 Tawaran Menggiurkan
3 Pria Dari Masa Lalu
4 Penjelasan yang Dinanti
5 Harus Percaya Siapa?
6 Hanya Seorang Selir
7 Anakku Tak Mengenaliku
8 Pertemuan Resmi Dengan Anak
9 Iri Pada Sang Ratu
10 Masih Tak Dapat Menerima
11 Tak Bisa Akur
12 Apa yang Terjadi Padamu?
13 Tuduhan yang Membuat Hati Panas
14 Kampanye Pertama
15 Drama Dengan Mertua
16 Jangan Bertindak Sembarangan
17 Menyelesaikan Masalah Dan Masalah Lain Datang
18 Menawarkan Diri
19 Aku Muak Padamu
20 Peringatan Secara Halus
21 Keputusan Untuk Berpisah
22 Fakta yang Membuat Terkejut
23 Biasakan Dirimu
24 Bohong Soal Umur?
25 Pertengkaran yang Tak Bisa Terhindarkan
26 Membongkar Aib Orang Tak Tahu Diri
27 Permintaan Terakhir Ibu
28 Merendahkan Diri
29 Kabar Duka Cita
30 Trauma Anak
31 Aku Ingin Memanggil Ayah
32 Papa Angkat Bicara
33 Menolak Untuk Bercerai
34 Mendapatkan Kesempatan Bertemu
35 Aku Tidak Gentar
36 Menjadi Viral Akibat Masa Lalu
37 Aku Mau Ayah
38 Siksaan Dunia
39 Memberitahu Mami yang Sebenarnya
40 Cerita Pada Suami
41 Bermalam Di Rumah Sakit
42 Tak Percaya Cinta
43 Hari Pemungutan Suara
44 Besan Pun Jujur
45 Mengetahui Dari Dua Sisi
46 Mantan Mertua
47 Pelantikan Jabatan
48 Hanya Berkata Jujur
49 Kamu Akan Hancur
50 Melabrak Pelakor Tak Tahu Diri
51 Alibi Sang Wanita Licik
52 Kebusukan yang Terbongkar
53 Ditangkap Pada Akhirnya
54 Kunjungan Kerja
55 Kembali Membuat Viral
56 Tuduhan Di Pesta Ulang Tahun
57 Hoaks yang Membuat Heboh
58 Ditangkapnya Sang Pembuat Onar
59 Rasa Iri Dan Cemburu Pada Mantan
60 Pembicaraan yang Berujung Emosi
61 Aku Masih Cinta
62 Dia Bukan Orang Baik
63 Cinta Itu Masih Ada
64 Mama Mencoba Mengerti
65 Dia Pergi
66 Aku Yakin Karena Kamu
67 Papa Jangan Ikut Campur
68 Memahami Tanpa Menghakimi
69 Curigaku Ternyata Benar
70 Aku Akui Cinta Padamu
71 Frustasi Setelah Tak Ada Kabar
72 Mencoba Membuat Besan Paham
73 Jangan Menyakiti Lebih Dalam Lagi
74 Aku Menyerah
75 Penyesalan Selalu Datang Terlambat
76 Pertemuan Setelah Sekian Lama
77 Bukan Menantu yang Baik
78 Dia Mengaku?
79 Sidang yang Ricuh
80 Putusan Cerai
81 Menuai Karma
82 Penangkapan yang Akhirnya Terjadi
83 Kembali Ke Kota
84 Apakah Akan Menyusul?
85 Aku Akan Selalu Bersamamu
86 Ditetapkan Sebagai Tersangka
87 Sebuah Akhir Cerita
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Permintaan Sang Suami
2
Tawaran Menggiurkan
3
Pria Dari Masa Lalu
4
Penjelasan yang Dinanti
5
Harus Percaya Siapa?
6
Hanya Seorang Selir
7
Anakku Tak Mengenaliku
8
Pertemuan Resmi Dengan Anak
9
Iri Pada Sang Ratu
10
Masih Tak Dapat Menerima
11
Tak Bisa Akur
12
Apa yang Terjadi Padamu?
13
Tuduhan yang Membuat Hati Panas
14
Kampanye Pertama
15
Drama Dengan Mertua
16
Jangan Bertindak Sembarangan
17
Menyelesaikan Masalah Dan Masalah Lain Datang
18
Menawarkan Diri
19
Aku Muak Padamu
20
Peringatan Secara Halus
21
Keputusan Untuk Berpisah
22
Fakta yang Membuat Terkejut
23
Biasakan Dirimu
24
Bohong Soal Umur?
25
Pertengkaran yang Tak Bisa Terhindarkan
26
Membongkar Aib Orang Tak Tahu Diri
27
Permintaan Terakhir Ibu
28
Merendahkan Diri
29
Kabar Duka Cita
30
Trauma Anak
31
Aku Ingin Memanggil Ayah
32
Papa Angkat Bicara
33
Menolak Untuk Bercerai
34
Mendapatkan Kesempatan Bertemu
35
Aku Tidak Gentar
36
Menjadi Viral Akibat Masa Lalu
37
Aku Mau Ayah
38
Siksaan Dunia
39
Memberitahu Mami yang Sebenarnya
40
Cerita Pada Suami
41
Bermalam Di Rumah Sakit
42
Tak Percaya Cinta
43
Hari Pemungutan Suara
44
Besan Pun Jujur
45
Mengetahui Dari Dua Sisi
46
Mantan Mertua
47
Pelantikan Jabatan
48
Hanya Berkata Jujur
49
Kamu Akan Hancur
50
Melabrak Pelakor Tak Tahu Diri
51
Alibi Sang Wanita Licik
52
Kebusukan yang Terbongkar
53
Ditangkap Pada Akhirnya
54
Kunjungan Kerja
55
Kembali Membuat Viral
56
Tuduhan Di Pesta Ulang Tahun
57
Hoaks yang Membuat Heboh
58
Ditangkapnya Sang Pembuat Onar
59
Rasa Iri Dan Cemburu Pada Mantan
60
Pembicaraan yang Berujung Emosi
61
Aku Masih Cinta
62
Dia Bukan Orang Baik
63
Cinta Itu Masih Ada
64
Mama Mencoba Mengerti
65
Dia Pergi
66
Aku Yakin Karena Kamu
67
Papa Jangan Ikut Campur
68
Memahami Tanpa Menghakimi
69
Curigaku Ternyata Benar
70
Aku Akui Cinta Padamu
71
Frustasi Setelah Tak Ada Kabar
72
Mencoba Membuat Besan Paham
73
Jangan Menyakiti Lebih Dalam Lagi
74
Aku Menyerah
75
Penyesalan Selalu Datang Terlambat
76
Pertemuan Setelah Sekian Lama
77
Bukan Menantu yang Baik
78
Dia Mengaku?
79
Sidang yang Ricuh
80
Putusan Cerai
81
Menuai Karma
82
Penangkapan yang Akhirnya Terjadi
83
Kembali Ke Kota
84
Apakah Akan Menyusul?
85
Aku Akan Selalu Bersamamu
86
Ditetapkan Sebagai Tersangka
87
Sebuah Akhir Cerita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!