sore hari sekitar jam 16.36 WIB.
Mark tiba di Rumah Murni yang sepi, Ia memasuki Rumah itu tidak ada siapapun disana.
"Bi!" panggil Mark menggema.
"Pak Zaki?? Pak Agung??" teriaknya lagi namun tak ada sahutan membuat alis Mark bertaut dalam.
"kemana mereka semua?" gumam Mark kebingungan sebab dibilang pindah juga tak mungkin karna masih banyak perabotannya di Rumah itu.
Mark memasuki Kamar Mama nya terlebih dahulu untuk pertama kali setelah sekian lama, saat membuka pintu hal yang pertama dilihat olehnya Foto besar Mark dan Murni yang sedang berpelukan hangat melihat Kamera bahkan Murni tersenyum bahagia saat itu.
DEG??!
"Mama?" lirih Mark lalu melihat Foto besar disampingnya ada Alm. Papa dan Mamanya seperti keluarga Bahagia, Papa Mark memeluk Murni dari belakang sambil mengelus perut buncit Murni yang pasti Mark sebelum lahir.
tes..!!
air mata Mark menetes begitu saja, Ia memasuki kamar Murni yang begitu dingin terlalu jelas Kamar itu tak lagi di huni.
"kenapa kamar mama begitu dingin? biasanya kalau aku kedinginan selalu ke Kamar Mama yang hangat." lirih Mark merasa menyesal telah menyia-nyia kan Ibu kandungnya selama ini hanya demi Lana.
Mark tak pernah mengira dirinya yang selama ini begitu menyombong dengan kepandaian-nya akan merasa terhina telah dipermainkan oleh Lana selama ini bahkan menyebabkan Ia memiliki penyesalan terbesar karna ulahnya Murni meninggal.
dulu Mark, Murni dan Papanya pernah mengalami kecelakaan hebat namun Mark selamat karna di peluk erat dan kuat oleh Murni hingga sebuah kayu runcing mengenai punggungnya melukai jantungnya hingga lemah sedangkan Papanya juga membanting setir seperti sengaja menyelamatkan Murni dan Mark sehingga Papanya meninggal di tempat.
Murni selamat saja sudah sebuah keajaiban namun tak pernah menyinggungnya tentang kejadian itu, Ia memiliki penyakit jantung karna menyelamatkan Mark dan dengan tak tahu dirinya Mark masih menyakiti hati Murni hingga Ia menyesal seperti ini.
"Ma??" Mark berjalan lemah ke ranjang Murni yang begitu dingin dan Ia meringkuk disana sambil terisak.
Mark tertidur di sana sampai pagi, dan di pagi Hari Ia juga tak menemukan siapapun di Rumah itu.
"apa Erika memecat mereka semua?" gumam Mark penasaran lalu menghubungi Erika tapi tidak diangkat.
Mark merasa kesal panggilannya tak dijawab tapi teringat lagi dulu ketika Mark berulang kali tak mengangkat panggilan masuk dari Erika, bagaimana perasaan Erika? sekali saja panggilan nya tak dijawab oleh seseorang malah membuat Mark kesal lalu Erika?
Mark menghela nafas berat lalu mengubah nomor tujuannya yaitu Agung, betapa terkejutnya Ia ternyata Agung dan yang lainnya memilih mengundurkan diri karna tak ada siapapun di Rumah itu juga Erika tak mau tinggal disana.
"kenapa dia nggak mau tinggal disini? lalu dia tinggal dimana?" gumam Mark keheranan setelah mematikan panggilannya dengan Agung.
Mark menggunakan koneksinya untuk mencari Erika yang ternyata tinggal di Kontrakan kecil, Mark heran mengapa Erika tinggal di Rumah kecil sedangkan Rumah Murni kini telah menjadi miliknya.
Mark memberanikan diri mengetuk pintu Rumah Erika, "Ada Orang??" tanya Mark yang mulai jengkel tak ada sahutan.
"Kamu??" Erika terkejut melihat Mark ada di Kontrakannya.
"kenapa Ika?" tanya Martin turun dari motornya dan melihat ke arah tatapan Erika ternyata Mark yang menoleh ke mereka.
Mark menghampiri Erika menatap Erika dan Martin bergantian, "kalian tinggal satu Rumah?" tanya Mark dengan dingin.
"enggak." jawab Erika seketika Erika mengerutkan keningnya, "ngapain kamu disini?" tanya nya heran.
"justru aku yang bertanya, ngapain kamu disini sama dia? bukannya Rumah mama atas namamu? kenapa tinggal di gang sempit ini?" cecar Mark.
Erika melihat kearah Martin yang berdiri disamping Erika, "ya aku tinggal disini karna kemauanku, Rumah itu milik Mama dan aku nggak akan menjualnya. terlalu banyak kenangan di dalamnya, aku udah minta Pengacara Mama untuk menjaga Rumah itu dan kamu bisa tinggal disana kalau Rindu sama Mama." jawabnya serius ke arah Mark namun Ia masih tidak mengerti mengapa Mark mencarinya sampai menemukan tempat tinggalnya.
Mark memegang lengan Erika yang meringis seketika, "ikut aku..!" titah Mark.
"lepaskan Erika.!" Martin menepis tangan Mark dan melindungi Erika dibelakangnya.
"Kauu?? menyingkir kau..! ini urusanku dengan Istriku." usir Mark dengan geram.
"dia bukan lagi Istrimu, Erika udah antarkan surat gugatan cerai kalian dan kau bukan lagi suaminya." kata Martin dengan senyum sinisnya.
"apa maksudmu? aku nggak pernah tanda tangani surat perceraian ku dengannya." bantah Mark tak terima.
Martin berdecih, "setelah mengetahui siapa Lana kau jadi begini?" sinis Martin dengan tatapan meremehkan.
Erika menarik nafas panjang, menghadapi Mark memang harus sabar.
"Mark? kamu lupa udah pernah gugat cerai aku kan? kamu udah tanda tangani surat itu sebelum ke Dubai dan aku menyembunyikannya dari Mama karna nggak mau Mama tahu kita pisah." ujar Erika seketika membuat Mark terkejut.
Mark memang pernah memberikan Erika surat cerai yang Ia sudah tanda tangani tapi karna terlalu marah Ia jadi lupa akan kelakuannya dulu.
Mark dan Erika malah berdebat tentang Perceraian itu tanpa persetujuan Mark malah membuat Erika kesal hingga Martin turut membantu, perkelahian lagi-lagi terjadi antara Mark dan Martin karna Mark tak suka direndahkan oleh Martin.
"kau fikir aku nggak tahu siapa kau hah?" berang Mark.
Martin hanya menatap datar Mark yang membuat Erika panik mencoba melepaskan cengkraman tangan Mark di leher Martin.
"lepaskan Mas Martin, Mark..! lepasin..! jangan sakiti Mas Martin." Erika membela Martin habis-habisan hingga Mark melepaskan cengkraman nya dan hendak membawa pergi Erika namun Erika melawan.
"kita udah cerai Mark..! lepaskan aku..! kamu kejar aja sana Lana, dia butuh kamu." pekik Erika tak terima di bawa paksa oleh Mark.
Mark menggeram marah mendengarnya, "jangan sebut nama wanita itu lagi." teriak Mark marah dan Erika terus meronta-ronta hingga pukulan Martin melayang ke rahangnya dan Mark terjatuh.
Erika masuk ke pelukan Martin dan menangis ketakutan, "Mas? kenapa dia begitu? apa salahku?" lirih Erika.
"kamu akan baik-baik aja Beb, aku menjagamu." bujuk Martin.
Mark melihat ke arah Martin dan Erika yang tampak benar-benar saling mencintai, Ia berdiri juga mengusap rahangnya yang terasa sakit di pukul Martin.
"kalian menganggapku seorang Antagonis ya? baiklah..! aku akan jadi pemeran Antagonis diantara kalian." sinis Mark melangkah mundur sambil menyeringai.
Mark merasa tertantang untuk merebut Erika dari Martin yang ternyata dari Perusahaan Luar Kota dan memata-matainya di Perusahaan entah apa tujuannya tiba-tiba punya hubungan dengan Erika.
semua itu tidaklah merupakan masalah yang sepele dan Mark akan mencari tahu alasan Pria itu memata-matainya di Perusahaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Liana CyNx Lutfi
ini mark yg mersa jd korban hahaha dsar laki2 gendeng
2024-05-30
0